NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras, namun panas di hati Awan jauh lebih membara daripada petir yang menyambar di langit. Ia menginjak rem dengan kasar, memarkirkan mobil sport-nya secara asal tepat di depan pintu masuk sebuah club malam eksklusif. Tanpa mempedulikan valet yang ternganga, Awan keluar dengan langkah lebar, rahangnya mengeras, dan tatapannya sedingin es.

Di dalam, di tengah dentuman musik yang memekakkan telinga dan aroma alkohol yang menyengat, ia menemukan Celine. Gadis itu sedang tertawa bersama teman-temannya, seolah kejadian pagi tadi—kejadian di mana ia hampir melenyapkan nyawa calon keponakan Awan—hanyalah lelucon kecil.

Awan mencengkeram lengan Celine, menariknya menjauh dari kerumunan ke sudut yang lebih sepi.

"Awan? Kamu ke sini mau minta maaf ya karena udah nampar aku?" Celine tersenyum miring, mencoba mengalungkan tangannya di leher Awan.

Awan menepis tangan itu dengan jijik. "Kita putus."

Senyum Celine membeku. Musik di latar belakang seolah lenyap bagi pendengarannya. "Kamu bercanda kan? Cuma gara-gara janda itu? Wan, kita udah dua tahun!"

"Dua tahun yang sia-sia karena gue pacaran sama iblis," desis Awan. Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal dari balik jasnya dan melemparkannya ke dada Celine. "Itu uang buat bayar semua tas dan kemewahan yang lo dapet dari gue. Anggap itu pesangon. Jangan pernah injakkan kaki lo di rumah gue, di kantor gue, atau di depan Jasmine lagi. Kalau lo berani muncul..." Awan mendekatkan wajahnya, suaranya rendah namun mematikan. "Gue sendiri yang bakal bikin lo lenyap dari kota ini."

Celine gemetar karena amarah dan malu. Saat Awan berbalik pergi tanpa menoleh sedikit pun, Celine berteriak histeris, suaranya melengking menembus kebisingan club.

"Aku bakal pastiin hidup kamu sama Jasmine menderita, Awan! Liat aja! Aku nggak bakal biarin kalian bahagia di atas penderitaan aku!"

Awan terus berjalan. Ancaman itu masuk ke telinga kiri dan keluar ke telinga kanan. Baginya, prioritasnya sudah bergeser secara permanen.

Keesokan paginya, suasana di rumah terasa jauh lebih steril. Seorang perawat bernama Suster Lastri sudah berada di sana, memastikan Jasmine meminum vitaminnya tepat waktu dan tidak banyak bergerak. Jasmine duduk di sofa ruang tengah, menatap sebuah brosur dari pusat kebugaran khusus ibu hamil.

Wajahnya tampak muram. Hari ini adalah jadwal yoga bumil pertamanya—sesuatu yang sudah direncanakan Hero jauh-jauh hari. Di brosur itu tertulis dengan jelas: “Partner Yoga: Support system dari suami sangat dibutuhkan.”

Jasmine mengusap perutnya. Ia teringat bagaimana antusiasnya Hero saat mendaftarkan kelas ini. "Nanti aku yang jadi sandaran kamu ya, Jas. Aku mau anak kita tahu kalau ayahnya selalu ada di belakang bundanya," kenang Jasmine akan ucapan suaminya. Air matanya hampir jatuh jika saja suara pintu depan tidak terbuka.

Awan masuk dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Ia menatap Jasmine yang tampak bengong memandangi brosur.

"Kenapa lo? Muka lo bingung?" tanya Awan sambil meletakkan kunci mobil di meja.

Jasmine tersentak. "Emmm itu... anu sebenarnya..."

Awan mengernyitkan dahi. Ia tidak suka basa-basi. "Ngomong yang jelas kenapa? Lo mual lagi? Atau ada yang sakit?"

"Bukan, Kak. Ini... aku ada jadwal yoga bumil hari ini. Tapi... di kelas itu harus ditemenin suami buat gerakan berpasangan. Tapi kan Mas Hero..." suara Jasmine mengecil di akhir kalimat.

Awan terdiam sejenak. Ia melihat brosur di tangan Jasmine. Matanya menangkap tulisan Partner Yoga.

"Gue temenin."

Mata Jasmine membelalak. "Hah? Ja-jangan Kak... mending nggak usah. Aku bisa batalin aja kok. Lagian Kak Awan pasti sibuk di kantor."

"Gue nggak suka diulang, Jasmine," potong Awan telak. "Gue udah batalin semua rapat hari ini. Lagian, lo baru pendarahan kemarin. Gue nggak mau lo jatuh lagi di matras cuma gara-gara nggak ada yang jagain di belakang lo. Ganti baju lo sekarang. Gue tunggu di mobil."

Setibanya di pusat yoga, suasana menjadi sangat canggung. Ruangan itu penuh dengan pasangan suami istri yang tampak mesra. Para suami mengelus perut istri mereka, berbisik lembut, dan tertawa kecil.

Lalu ada Awan. Pria itu berdiri kaku dengan kaus olahraga hitam dan celana training bermerek. Wajahnya judes, tangannya bersedekap, dan auranya seolah mengatakan "Jangan ada yang berani mendekat". Beberapa ibu hamil di sana berbisik-bisik melihat ketampanan Awan yang dingin.

"Baik, Bapak-Ibu, sekarang posisi berpasangan ya. Sang ayah silakan duduk di belakang istrinya, biarkan sang istri bersandar di dada Bapak agar tulang punggungnya rileks," instruksi sang instruktur yoga.

Jasmine menoleh ke arah Awan dengan ragu. "Kak, kalau nggak mau, nggak apa-apa..."

Tanpa bicara, Awan duduk di belakang Jasmine. Ia membuka kakinya lebar agar Jasmine bisa duduk di tengahnya. Saat punggung Jasmine bersentuhan dengan dada bidang Awan, Jasmine bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ini bukan Hero. Napas Awan lebih berat, tubuhnya lebih keras, dan auranya lebih dominan.

"Jangan tegang. Lo bikin gue susah napas," ketus Awan di dekat telinga Jasmine.

Instruktur kemudian meminta para suami untuk memegang perut sang istri dan mengikuti gerakan pernapasan. Awan dengan ragu melingkarkan lengannya di perut Jasmine. Jari-jarinya yang panjang menyentuh kulit Jasmine yang tertutup kaus tipis.

Untuk sesaat, Awan merasakan sebuah gerakan kecil dari dalam perut Jasmine. Sebuah tendangan halus.

Mata Awan melebar. Ia tertegun. "Dia... nendang?" bisik Awan pelan, kehilangan sifat judesnya untuk sesaat.

Jasmine tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca. "Iya, Kak. Dia kayaknya tahu kalau ada Om-nya di sini."

Awan terdiam. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di hatinya. Rasa tanggung jawab yang tadinya terasa seperti beban, perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih mendalam. Ia mempererat pelukannya pada Jasmine—bukan sebagai suami, tapi sebagai perisai.

"Lo nggak usah mikirin omongan Celine atau siapa pun," ucap Awan tiba-tiba di tengah keheningan kelas yoga. "Mulai sekarang, gue yang bakal jadi sandaran lo. Meskipun gue bukan Hero, gue nggak akan biarin lo jatuh."

Jasmine memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di bahu Awan. Meskipun ia masih sangat merindukan Hero, kehadiran Awan yang kaku namun nyata di belakangnya memberinya sedikit kekuatan untuk bertahan hidup.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!