Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu dengan tubuh sedikit membungkuk. Rambutnya sudah mulai memutih di beberapa bagian, wajahnya tampak pucat, dan langkahnya tidak lagi setegap dulu. Namun sorot matanya—mata yang selama ini selalu memandang Arsy dengan penuh kasih, kini dipenuhi kebingungan. Pria paruh baya itu tak lain adalah ayah Arsy.
Pak Rahman Syahira.
Sejak tadi, dari dalam rumah, ia mendengar suara pertengkaran. Awalnya ia mengira hanya kesalahpahaman kecil. Namun satu kalimat yang diucapkan Radit barusan, yang ingin membatalkan pernikahannya dengan Arsy terdengar terlalu jelas untuk diabaikan oleh pak Rahman.
“Ada apa ini?” tanya pak Rahman yang suaranya terdengar lemah, tapi tegas.
Semua mata termasuk para tetangga yang sejak tadi pura-pura sibuk langsung tertuju padanya. Arsy membeku.
“Ayah…” lirihnya. Suaranya bergetar hebat.
Pak Rahman melangkah turun dari teras. Pandangannya beralih dari Arsy ke Radit, lalu ke Nadira yang berdiri sedikit di belakang Radit. Wajah Nadira tampak panik, sementara Radit justru memasang ekspresi datar seperti sebelumnya.
Pak Rahman berhenti tepat di depan Radit.
“Apa yang barusan kamu katakan, Radit?” tanya pak Rahman pelan, namun penuh tekanan. “Ayah dengar kamu bilang ingin membatalkan pernikahan?”
Radit tidak langsung menjawab. Ia menoleh sebentar ke arah Arsy, lalu kembali menatap Pak Rahman.
“Iya, Pak,” jawab Radit akhirnya. “Saya mau membatalkan pernikahan saya dengan Arsy.”
Pak Rahman merasakan tenggorokannya tercekat setelah mendengar sendiri permintaan Radit yang ingin membatalkan pernikahannya dengan Arsy.
“Radit, apa yang kamu katakan ini? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?” tanya pak Rahman yang kali ini sedikit lebih keras. “Pernikahan itu bukan main-main. Apalagi pernikahan kalian tinggal hitungan hari. Undangan sudah disebar. Keluarga besar sudah tahu.”
Radit menghela napas, seperti orang yang sedang dijatuhi nasihat yang menurutnya tidak lagi penting.
“Saya sadar apa yang saya katakan ini, pak.”
Pak Rahman menggeleng pelan, mencoba mencerna semua yang ia dengar.
“Apa alasannya?”
Arsy menatap ayahnya dengan matanya yang basah. Hatinya menjerit ingin menghentikan semua ini. Ia tidak sanggup melihat ayahnya berdiri di tengah keributan seperti ini, ayah yang seharusnya ia jaga, bukan ia lukai. Namun Radit justru membuka mulutnya lagi.
“Saya sudah nggak menginginkan pernikahan ini, Pak.”
Pak Rahman terdiam beberapa detik.
“Kamu… kamu pasti bercanda, kan?” tanyanya pelan. “Radit tolong katakan padaku kalau semua ini tidak benar?”
Radit menggeleng.
“Tidak pak, saya tidak sedang bercanda.”
“Kamu ini calon suami Arsy,” suara Pak Rahman mulai bergetar. “Anak saya. Kamu datang ke rumah ini, melamar dengan baik-baik. Kamu berjanji akan menjaga dan menikahi dia.”
Radit menoleh sebentar ke arah Nadira, lalu kembali menatap Pak Rahman.
“Tolong maafkan saya, Pak. Saya nggak pernah mencintai Arsy.”
Kalimat itu membuat Arsy menutup mulutnya dengan tangan. Tangisnya pecah tanpa suara. Sementara pak Rahman membeku.
“Apa…?” suaranya nyaris tak terdengar.
“Saya menerima pernikahan ini dulu karena permintaan orang tua saya,” lanjut Radit tanpa ragu. “Bukan karena saya mencintai Arsy.”
Wajah Pak Rahman semakin pucat.
“Lalu sekarang?” tanyanya lirih.
“Saya mencintai perempuan lain,” jawab Radit. “Dan perempuan itu adalah Nadira.”
Nama itu jatuh seperti palu godam di dada pak Rahman. Pak Rahman tanpa sadar mundur selangkah ke belakang. Dadanya terasa sesak. Napasnya mendadak pendek. Ia menoleh ke arah Nadira—perempuan yang selama ini sering datang ke rumahnya, yang sering ia sambut dengan ramah karena mengira dia sahabat baik putrinya.
“Kamu?” gumam Pak Rahman, nyaris tak percaya.
Nadira menunduk. Tangisnya pecah setelah bertemu dengan pak Rahman.
“Maafkan saya, Om…”
Pak Rahman menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dunia di sekitarnya seperti berputar. Ia lalu menoleh ke arah Arsy, putrinya. Arsy berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya basah oleh air mata, bahunya naik turun menahan tangis. Tatapan Arsy kosong, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sakit hingga akhirnya kehabisan tenaga.
Dan semua itu disaksikan oleh tetangga-tetangga mereka. Pak Rahman merasa dadanya seperti diremas kuat-kuat.
“Arsy…” panggilnya lirih.
Arsy menoleh dan membuat mata mereka bertemu. Di mata putrinya, Pak Rahman melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, kehancuran. Dan saat itu, rasa sakit di dadanya tiba-tiba datang tanpa peringatan.
“Ah—”
Pak Rahman refleks memegangi dada kirinya.
Napasnya terhenti sesaat. Pandangannya menggelap.
“Ayah?” Arsy panik.
Pak Rahman mencoba berdiri tegak, tapi lututnya melemah. Rasa nyeri itu semakin kuat, menjalar hingga ke lengan dan rahangnya.
“Ayah, kenapa?” suara Arsy mulai meninggi.
Pak Rahman terhuyung.
“Pak Rahman!” teriak salah satu tetangga yang saat ini tengah menghampiri pak Rahman.
Namun tubuh Pak Rahman sudah lebih dulu ambruk ke tanah.
“AYAH!”
Arsy berlari secepat yang ia bisa. Ia berlutut di samping ayahnya dan memeluk tubuh pria itu yang kini terbaring tak bergerak.
“Ayah bangun, Ayah… tolong bangun…” tangis Arsy pecah. “Ayah jangan buat Arsy takut, Ayah… Arsy mohon…”
Tangan Arsy gemetar saat mengguncang bahu ayahnya. Sekeliling mereka mendadak riuh. Tetangga-tetangga berteriak panik. Seseorang menyuruh memanggil ambulans. Yang lain berlari masuk ke rumah untuk mengambil minyak kayu putih untuk diberikan kepada pak Rahman. Sementara Radit berdiri terpaku di tempatnya.
Keributan di depan rumah itu belum sepenuhnya reda ketika tubuh Pak Rahman sudah terbaring tak sadarkan diri di atas tanah yang masih basah oleh sisa hujan. Arsy masih berlutut di samping ayahnya, kedua tangannya menggenggam erat tubuh pria yang sejak kecil menjadi dunianya itu.
“Ayah… Ayah dengar Arsy, kan?” panggil Arsy dengan parau. Dadanya naik turun tak beraturan. “Ayah jangan gini, Ayah… tolong…”
Namun Pak Rahman tetap diam. Matanya terpejam. Wajahnya semakin pucat, bahkan bibirnya terlihat kebiruan. Rasa panik mulai menjalar di dada Arsy seperti api yang membakar pelan tapi pasti. Tangannya terlihat gemetar saat memeriksa detak jantung ayahnya. Tapi yang ia rasakan hanya rasa dingin yang perlahan menjalar.
“Kenapa ambulansnya belum datang?” teriak seseorang di antara kerumunan tetangga.
“Sudah ditelepon! Katanya lagi di jalan!” sahut yang lain.
Arsy sudah tidak peduli lagi pada suara-suara itu. Dunia saat itu seperti menyempit hanya berisi dirinya dan ayahnya yang tergeletak lemah. Lalu, di tengah kekacauan itu, Arsy teringat satu hal. Radit.
Dengan napas tersengal, Arsy mengangkat kepalanya. Matanya yang basah langsung menemukan sosok Radit yang masih berdiri tak jauh dari mereka. Lelaki itu berdiri dengan tangan terlipat di dada, ekspresinya datar, seolah semua yang terjadi bukan urusannya. Dan di sampingnya ada Nadira, Sahabat yang dulu sering berbagi suka dan duka bersamanya. Sesuatu di dalam dada Arsy pecah.
Ia bangkit berdiri dengan gerakan kasar, meninggalkan ayahnya yang kini dijaga oleh beberapa tetangga. Langkahnya goyah, tapi kemarahan menopang tubuhnya.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit