NovelToon NovelToon
Perjalanan Menjadi Dewa Terkuat

Perjalanan Menjadi Dewa Terkuat

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sang_Imajinasi

JUARA 3 YOU ARE A WRITER 2025 (KATEGORI IV)

Terlahir kembali sebagai Tian Feng di Desa Batu Angin yang terpencil, ia merasakan keputusasaan total.

Mantan Dewa Langit, kini terperangkap dalam tubuh lemah tanpa Dou Qi, menjadi sasaran cemoohan.

Titik baliknya adalah penemuan batu hitam misterius yang ternyata menjadi wadah bagi Yao Ling, seorang ahli Dou Zun yang disegel.

Di bawah bimbingannya, Tian Feng tidak hanya melatih Dou Qi dari nol, tetapi juga melatih kembali jiwanya untuk menerima kondisi fananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 29

Keheningan yang melanda arena setelah kemenangan Tian Feng di babak penyisihan jauh lebih berat daripada sorak-sorai yang paling riuh sekalipun. Sembilan petarung terkuat dari arena lain para finalis lainnya—kini menatap Tian Feng bukan lagi sebagai saingan, tetapi sebagai bencana alam yang harus mereka hadapi.

Selama jeda singkat sebelum babak final, para tetua yang mengawasi turnamen terlibat dalam perdebatan sengit.

"Bagaimana kita melanjutkan ini? Kesenjangan kekuatannya terlalu besar!"

"Ini adalah perintah dari Tetua Huo. Kita tidak bisa mendiskualifikasinya. Biarkan saja berlanjut."

"Aku kasihan pada anak-anak lain. Ambisi mereka dihancurkan bahkan sebelum mereka sempat bertarung."

Di bangku penonton, Ling Yue hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Aku tahu dia monster, tapi aku tidak menyangka dia semalas ini. Dia bahkan tidak mau repot-repot berkeringat."

Han Xue, di sampingnya, menatap panggung dengan tatapan membara. "Itu bukan kemalasan," koreksinya. "Itu adalah efisiensi. Setiap gerakannya memiliki tujuan yang tepat. Tidak ada energi yang terbuang. Kontrolnya... menakutkan." Sebagai seorang jenius petarung, ia melihat kedalaman yang tidak dilihat oleh orang lain.

Babak final diumumkan: sebuah turnamen sistem gugur satu lawan satu. Sepuluh finalis akan diundi untuk menentukan lawan mereka.

Saat undian diumumkan, lawan pertama Tian Feng adalah seorang pemuda kekar yang dikenal karena kekuatan fisiknya. Saat nama mereka dipanggil, pemuda itu berjalan ke atas panggung dengan langkah berat, wajahnya pucat.

Ia menatap Tian Feng yang berjalan dengan tenang dari sisi lain panggung. Ia melihat aura panas yang tak terlihat beriak di sekitar Tian Feng. Ia teringat bagaimana sembilan orang dikalahkan dalam waktu kurang dari setengah menit. Ia mengepalkan tangannya, gemetar, lalu menghela napas panjang.

"Wasit," katanya dengan suara keras, "Saya... saya menyerah."

Seluruh arena kembali terdiam, lalu riuh rendah. Menyerah bahkan sebelum bertarung? Ini adalah hal yang memalukan, tetapi semua orang di sana mengerti. Melawan monster itu sama saja dengan meminta untuk dipermalukan.

Tian Feng bahkan tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Ia hanya mengangguk pada lawannya dan berjalan turun dari panggung.

Pertandingan keduanya berjalan serupa. Lawannya, seorang gadis yang lincah, mencoba melancarkan serangan kejutan tercepatnya begitu pertandingan dimulai. Tian Feng hanya berdiri diam. Serangan gadis itu, yang berupa tendangan berputar yang kuat, berhenti satu inci dari sisi kepala Tian Feng, dihalangi oleh dinding Dou Qi yang tak terlihat namun kokoh.

Mata gadis itu melebar ngeri saat merasakan kekuatannya diserap sepenuhnya.

Tian Feng menatapnya. "Sudah selesai?" tanyanya dengan tenang.

Gadis itu mendarat kembali di tanah, wajahnya pucat. Ia membungkuk dalam-dalam. "Saya mengaku kalah."

Satu per satu, lawan-lawannya dikalahkan dengan cara yang hampir sama. Beberapa menyerah, yang lain mencoba menyerang dan dipatahkan semangatnya oleh pertahanan Tian Feng yang tak tertembus. Ia melaju ke babak final tanpa pernah melancarkan satu pukulan pun.

Lawan terakhirnya adalah murid yang memimpin aliansi untuk menyerangnya di babak penyisihan, Wang Chen. Ia adalah murid luar nomor satu sebelum hari ini, seorang Dou Zhe Bintang Satu puncak yang bangga.

"Kau tidak akan menyerah, kan?" tanya Tian Feng saat mereka berdiri berhadapan di panggung final.

Wang Chen tersenyum pahit. "Aku mungkin bodoh, tapi aku punya harga diri. Aku tahu aku akan kalah. Tapi aku ingin melihat... seberapa besar jarak di antara kita."

Tian Feng menatapnya dan untuk pertama kalinya, ia menunjukkan sedikit rasa hormat. "Baiklah."

Saat pertandingan dimulai, Wang Chen meraung. Ia mengerahkan seluruh Dou Qi di tubuhnya, tidak menahan apa pun. Ia melancarkan teknik terkuatnya, "Tinju Harimau Gila Menuruni Gunung!" Seluruh tubuhnya diselimuti aura harimau ilusi saat ia menerjang maju.

Melihat kegigihan di mata lawannya, Tian Feng memutuskan untuk memberinya pertarungan yang layak.

Ia mengangkat tangan kanannya. Api keemasan pucat yang tenang menyala di kepalan tangannya, membentuk seekor burung kecil yang tampak hidup. Tinju Api Roh Langit.

Ia tidak memukul ke arah Wang Chen.

Saat Wang Chen hanya berjarak dua meter darinya, Tian Feng dengan santai melontarkan pukulannya ke udara di samping Wang Chen.

Burung api keemasan itu melesat melewati Wang Chen. Tidak ada suara ledakan. Wang Chen tidak merasakan kontak fisik apa pun. Tetapi, gelombang panas yang murni dan menakutkan menyapu dirinya. Rambut di lengannya hangus seketika, alisnya sedikit keriting, dan napasnya tersedot keluar dari paru-parunya.

Ia menoleh ke belakang dengan ngeri. Di tempat api itu menghantam lantai batu panggung, sebuah lingkaran seukuran kepalan tangan telah meleleh, berubah menjadi genangan lava kecil yang menggelegak sebelum mendingin menjadi kaca hitam yang mengkilap.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Wang Chen. Aura harimau ilusinya lenyap. Ia berdiri membeku.

Jika pukulan itu mengenai dirinya... ia tidak akan hanya terluka. Ia akan menjadi abu.

Ia menatap Tian Feng, yang telah menurunkan tangannya seolah tidak terjadi apa-apa. Rasa hormat dan ketakutan yang mendalam memenuhi hatinya. Ia mengambil napas dalam-dalam, berjalan ke depan, dan membungkuk 90 derajat.

"Saya... kalah telak."

Wasit, yang juga terpana, akhirnya sadar. "Pemenang Turnamen Peringkat Akhir Tahun... Tian Feng!"

Seluruh arena meledak dalam sorak-sorai yang campur aduk antara kekaguman dan ketakutan. Tetua murid luar yang tertinggi secara pribadi naik ke panggung dan menyerahkan token juara kepada Tian Feng—sebuah medali emas dan sebuah kantong berisi seratus ribu Poin Kontribusi.

Tian Feng menerima hadiah itu tanpa menunjukkan emosi. Ia hanya melirik token juara di tangannya, benda yang menjadi tujuan akhir dari semua murid luar, lalu memasukkannya ke dalam kantongnya.

Ia berbalik dan berjalan turun dari panggung, meninggalkan kerumunan yang memujanya, lawan yang menghormatinya, dan sebuah legenda baru yang baru saja lahir.

Saat ia berjalan menjauh dari arena yang riuh, pikirannya hanya satu.

Tugas selesai. Saatnya kembali bekerja.

1
Aswantio Wasito
mulai seru
Ramli
musuhnya di biarkan lari, untuk memperpanjang cerita, namun berputar-putar disitu saja.
Yas Yas
menarik ini
Yas Yas
sangat bagus lanjut
Yas Yas
oke thor
Yas Yas
agak kurang menarik🤭
Ramli
parah gak novel toon ni, kurang bermutu sekarang.......
Nink Kim
cerita bangke terlalu ber belit belit dan putar putar hanya untuk memperbanyak charter...ujung ujung nya ending ngak bagus sma sekali.
Nink Kim
cerita bangka...ending nya membosankan..dibikin bertele tele.
ujung ujung nya musuh melarikan diri.
Yas Yas
mulai jelas jln critanya
Yas Yas
harus tetap hidup tianfeng utk balas dendam
Yas Yas
trus explor cari token
Yas Yas
sheep
Yas Yas
cerita mulai seru👍
Yas Yas
sayang sekali tian feng masih anak anak walaupun reinkarnasi dewa langit,
Yas Yas
🤣😍
Yas Yas
sikecil yg berani
Yas Yas
bagus thor
Yas Yas
oke mantap
Yas Yas
okelah👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!