Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di dalam rumah Adrian dan via chat memberi kabar
Udara siang itu terasa sangat menyengat. Aku dan Puji duduk selonjoran di lantai rumah Adrian, mencoba mengusir rasa lelah yang luar biasa setelah berjam-jam berkeliling mencari Johan. Adrian, meskipun wajahnya masih pucat karena sakit, mencoba duduk menyandar untuk menemani kami mengobrol.
"Gimana ya, Dri? Dari tadi keliling Ambarawa, si Johan kayak ditelan bumi," keluhku sambil mengusap keringat di dahi.
"Aku sudah bingung mau cari ke mana lagi. Mana kaki udah nggak bisa diajak kompromi.." Puji hanya tertunduk lesu di sampingku.
"Sabar, mbak puji... Mas johan itu nggak mungkin pergi jauh tanpa alasan. Mungkin dia lagi berusaha di tempat lain." Adrian berdehem pelan sebelum menyahut,
Tepat saat kata-kata itu keluar dari mulut Adrian, terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah depan. Pintu terbuka, dan sesosok pria dengan napas terengah-engah muncul. Itu Johan.
Puji langsung berdiri, wajahnya antara kaget dan marah. "Mas Johan! Dari mana saja kamu? Kita cariin sampai keliling-keliling!"
Johan tidak langsung menjawab. Dia mengatur napasnya sejenak, lalu merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang diikat. Dia meletakkannya di atas meja di depan kami.
"Ini ada dua juta," kata Johan dengan napas yang masih memburu. "Pakai buat ongkos kalian nanti sore. Maaf aku nggak kasih kabar, aku harus ngurus ini dulu supaya perjalanan kamu dan yani tenang."
Aku dan mbak puji terdiam, kami saling lirik, karena tidak menyangka Johan akan muncul membawa uang sebanyak itu, di saat kami sudah hampir menyerah.
Aku menatap tumpukan uang di meja, lalu beralih menatap Johan yang masih tampak kelelahan. Rasa lega luar biasa langsung menyergapku.
"Mas Johan, makasih banyak ya," kataku tulus sambil menepuk bahunya. "Jujur kami tadi sudah bingung banget cari Mas ke mana-mana, tapi ternyata Mas malah sudah siapin ongkos buat nanti sore."
Johan mengangguk pelan, mulai bisa mengatur napasnya. "Iya, maaf ya bikin kalian muter-muter cari aku."
Puji yang tadi sempat tegang kini mulai tenang. Ia membereskan barang-barangnya ke dalam tas. "Ya sudah, karena uangnya sudah ada, ayo kita balik sekarang supaya bisa siap-siap."
Kami bertiga kemudian menoleh ke arah Adrian yang masih bersandar di tempat tidurnya.
"Dri, kita pamit pulang ke kos dulu ya," ucapku sambil menjabat tangan Adrian. "Makasih sudah boleh istirahat di sini. Kamu fokus sembuh, jangan banyak pikiran dulu."
"Iya, Dri, cepat sembuh ya. Maaf ya kami malah jadi repot di sini," tambah Puji sambil tersenyum tipis.
"Santai saja. Hati-hati di jalan ya kalian," sahut Adrian dengan suara lemah namun ramah.
Kami pun keluar ke halaman. Johan segera menyalakan motornya sendiri, sementara aku bergegas naik ke atas motor bersama Mbak Puji.
"Aku di depan ya, Mas Johan!" seruku dari atas motor.
"Oke, pelan-pelan saja jalan duluan, aku ngikut di belakang," jawab Johan sambil mengenakan helemnya. Sedangkan aku dan mbak puji tidak mengenakan helem
Mesin motor menderu pelan meninggalkan rumah Adrian, membelah panas siang itu menuju ke kosan, untuk persiapan keberangkatan kami nanti sore.
****
Begitu sampai di kos Mbak Puji, aku tidak lagi memedulikan hal lain. Tubuhku rasanya hampir rontok. Aku langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur, membiarkan punggungku bertemu kasur yang empuk meski hanya sebentar.
Sambil mengatur napas, aku merogoh ponsel dari saku celana. Aku harus memberi kabar ke orang-orang rumah. Aku segera membuka grup WhatsApp keluarga yang isinya ada aku, Tiya, Mas Yadi, dan Adi adik iparku.
"Halo semua, mau kasih kabar. Nanti sore aku fix berangkat. Ini mau jalan ke Terminal Ambarawa dulu, terus lanjut bus ke arah Jakarta." Pesanku
Tidak sampai satu menit, ponselku bergetar bertubi-tubi. Tiya dan Mas Yadi membalas hampir bersamaan, tapi isinya membuatku mengernyitkan dahi.
"Mbak, nanti ke bandaranya naik apa? Terus turun di terminal mana?" Balas dari tiya
"Iya, bener kata Tiya. Kamu nanti ke bandara naik apa, Dek?" Balas dari mas yadi
Aku terkekeh pelan sambil masih berbaring.
Tanganku dengan cepat mengetik balasan sambil sesekali memejamkan mata karena sisa kantuk dan lelah.
"Naik taxi dari terminal ke Soekarno-Hatta, Mas, Tiya. Doakan ya semoga lancar perjalanannya." Jawabku
"Siap Mbak, hati-hati di jalan. Yang penting sampai terminal Jakarta dulu, baru sat-set ke bandara." Balas adi
...
Sore Hari – Di Kos Mbak Puji
Selesai membalas chat group, aku pun merebahkan badan, mbak puji pun keluar sambil meminggirkan kedua kopernya.
"Mandilah dulu," kata Mbak Puji sambil menyodorkan handuk bersih. "Badanmu sudah lengket begitu karena seharian keliling. Nanti di bus malah nggak nyaman kalau nggak mandi sekarang."
Aku menurut. Air dingin di kamar mandi kos itu sedikit banyak membantu mengusir rasa penat di kepalaku. Sambil mengguyur badan, aku membayangkan perjalanan jauh yang menanti di depan mata.
Setelah segar kembali, aku keluar dan mendapati dua koper ukuran sedang sudah berjajar rapi di depan pintu. Koper-koper itu sudah kutitipkan di kos Mbak Puji sejak beberapa hari lalu, menunggu momen keberangkatan ini. Isinya sudah penuh sesak dengan segala keperluanku untuk di Pekanbaru nanti.
Sementara itu, Johan tidak tinggal diam. Dia tahu membawa dua koper sedang dengan motor akan sangat repot dan berbahaya.
"Tunggu sebentar, aku coba pinjam mobil teman dulu!" teriak Johan dari halaman.
"Nggak mungkin kita bawa koper-koper ini pakai motor, apalagi kalian harus sampai terminal tepat waktu."
Aku dan Mbak Puji menunggu dengan cemas di teras. Puji sesekali mengecek jam tangannya, sementara aku memastikan kembali isi tas kecilku. Tak lama kemudian, sebuah mobil tua namun tampak masih kuat masuk ke halaman kos. Johan melongokkan kepalanya dari jendela mobil sambil tersenyum lebar.
"Ayo cepat masukkan kopernya!" seru Johan semangat. "Mobilnya sudah siap. Kita langsung ke terminal sekarang sebelum jalanan makin macet!"
Aku dan Mbak Puji segera mengangkat koper-koper itu ke bagasi. Rasa syukur kembali mengalir di hatiku. Setelah drama seharian mencari Johan, ternyata dia benar-benar mengusahakan segalanya agar aku bisa berangkat dengan tenang menuju Pulo Gadung sore ini.
Sesampainya di terminal
Sambil menunggu bus, kami bertiga duduk di bangku panjang terminal. Johan mulai bercerita tentang kejadian lucu saat ia meminjam mobil tadi, tentang temannya yang hampir tidak mengenalnya, karena ia datang dengan wajah sangat panik.
"Kalian harus lihat muka temanku tadi," kata Johan sambil memeragakan wajah melongo. "Dia pikir aku mau kabur dari penagih hutang, padahal cuma mau antar kalian ke terminal!"
Kami tertawa lepas. Suara tawa kami bersaing dengan deru mesin bus-bus lain. Puji sampai memegangi perutnya, sejenak melupakan ketegangan yang kami alami sejak pagi. Rasanya beban seberat apa pun jadi terasa ringan kalau sudah tertawa bersama.
Namun, kegembiraan itu terhenti saat sebuah bus besar perlahan masuk ke jalur kami. Debu terminal beterbangan saat bus itu mengerem tepat di depan kami. Petugas terminal mulai berteriak, "Jakarta! Jakarta! Pulo Gadung!"
Aku dan Mbak Puji saling pandang, lalu beralih menatap Johan. Ini saatnya.
"Mas Johan, makasih banyak ya buat semuanya," ucapku sambil menjabat tangannya dengan erat. "Uangnya, mobilnya, bantuannya hari ini... aku nggak tahu gimana jadinya kalau Mas nggak datang tadi."
"Iya, Mas. Makasih sudah diusahakan sampai dapat mobil," tambah Mbak Puji, matanya sedikit berkaca-kaca namun tetap berusaha tersenyum.
Johan mengangguk mantap, menepuk bahu kami bergantian. "Sudah, jangan dipikirkan. Yang penting kalian selamat sampai tujuan. Uangnya dijaga baik-baik, jangan ditaruh di tempat yang gampang terlihat."
Ia membantu kami mengangkat koper-koper ke dalam bagasi bus yang besar. Setelah memastikan semuanya aman, Johan berdiri di pinggir pintu bus.
"Hati-hati ya di jalan! Kabari kalau sudah sampai Pulo Gadung!" teriak Johan di tengah kebisingan terminal.
Kami melambaikan tangan dari tangga bus. "Dada, Mas Johan! Sehat-sehat di sini!"
Bus perlahan mulai bergerak, meninggalkan sosok Johan yang berdiri sendirian di terminal. Perjalanan panjang menuju Jakarta, dan akhirnya bandara lalu, ke Pekanbaru benar-benar dimulai dari putaran roda bus juga pesawat nanti..
Bersambung...