Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Hampir Sampai
Bus kembali berjalan. Kini Arisa dan Ogi kembali duduk bersebelahan. Arisa tampak sibuk bermain ponsel, sedangkan Ogi memejamkan mata.
Satu jam berlalu, bus akhirnya sampai di terminal. Ogi segera mengajak Arisa turun.
"Kang! Aku mau pipis. Temenin ke toilet," pinta Arisa.
"Ya udah, ayo, Neng..." Ogi lantas menemani Arisa ke toilet. Dia akan menunggu di depan selagi Arisa masuk.
Namun baru saja masuk, Arisa langsung kembali keluar. Wajah gadis itu tampak tegang.
"Kenapa? Ada apa, Neng?" tanya Ogi cemas.
"Itu... Wc-nya jongkok..." jawab Arisa.
"Apa? Wc-nya jongkok? Wc-nya hidup, Neng?" tanggap Ogi kaget.
"Bukan gitu, Kang! Wc-nya tuh tipe yang jongkok. Aku kan terbiasa pakai wc duduk," jelas Arisa.
"Kan tinggal jongkok aja atuh, Neng... Apa susahnya? Dari pada kena batu ginjal Eneng yang susah," sahut Ogi, berusaha menenangkan.
Arisa seketika terdiam. Dia mendengus kasar sambil memasang raut wajah cemberut. Dengan terpaksa dia kembali masuk ke dalam toilet.
Usai buang air kecil, Arisa dan Ogi duduk di bangku terminal. Tak lama menunggu Abdi yang merupakan kenalan Ogi datang menjemput.
"Kenalkan, Neng. Ini Kang Abdi," ujar Ogi memperkenalkan. "Dan Kang Abdi, ini Arisa. Pamajikan urang! (Istriku!)" lanjutnya.
Abdi terpana melihat Arisa. Mengingat gadis itu memang memiliki paras yang cantik. “Ya ampun, pamajikan anjeun geulis pisan euy. Indit sakeudeung ka kota, kalah meunang pamajikan. Hebat pisan anjeun atuh, Gi! (Ya ampun, istrimu cantik sekali. Pergi sebentar ke kota malah dapat istri. Hebat sekali kau, Gi!)"
"Hatur nuhun, Kang. Alhamdulillah... Lamon jodo moal kamana atuh, (Makasih, Kang. Kalau jodoh nggak kemana)" sahut Ogi.
Mendengar itu, Arisa langsung menyenggol Ogi dengan siku. "Apa katanya?" tanyanya.
"Kata Kang Abdi, kau cantik pisan atuh, Neng..." jawab Ogi.
Arisa tak bisa menahan senyum. Pujian itu membuat hatinya melambung tinggi sejenak. "Aku emang cantik sejak lahir sih. Jadi aku nggak bisa membantah," ujarnya.
Ogi ikut tersenyum saat melihat Arisa senang. Dia dan gadis itu segera masuk ke kendaraan berupa truk kecil.
"Ya ampun... Kita naik ini?" tanya Arisa.
"Sudah naik aja atuh, Neng. Adanya ya kendaraan ini," tanggap Ogi.
Arisa mengangguk dan segera masuk ke dalam truk kecil. Dia dan Ogi duduk di sebelah sopir.
"Kang Abdi setiap ada pesanan kerupuk akan pergi ke kota untuk ngantar pesananannya. Dan biasanya truk kecil begini muatannya lebih banyak, Neng..." jelas Ogi.
Namun Arisa tak menanggapi. Setelah dilihat, ternyata gadis itu tertidur lelap. Kepalanya menyandar ke jendela.
Dug...
Dug...
Kepala Arisa terus terbentur jendela. Melihat itu, Ogi pun menyandarkan kepala Arisa di pundaknya.
"Romantis pisan euy! Peuting kahijina pasti panas nih, nya? (Romantis banget euy! Malam pertamanya pasti panas nih ya?)" goda Abdi.
“Muhun, panas pisan. Meureun engké ranjang urang bisa pegat, (Iya panas banget. Mungkin nanti tempat tidur kami bisa patah)" balas Ogi. Ucapannya itu sontak membuat Abdi tertawa.
Truk kecil itu membawa mereka masuk lebih dalam ke jalan menuju desa. Jalan yang mulanya mulus, mulai berubah jadi tanah dan bebatuan. Sehingga truk kecil tersebut sesekali berguncang. Membuat Arisa terkejut dan bangun dari tidurnya.
"Eh, ada apa ini? Kayak gempa!" seru Arisa yang langsung mengucek matanya.
"Jalannya memang begini atuh, Neng!" ujar Ogi.
Arisa melihat keluar jendela. Dia hanya bisa melihat sekelilingnya adalah hutan. "Kok kita masuk ke area hutan? Kita mau kemana?!" tanyanya panik.