Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan
Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banjir
Hujan tanpa henti mengalir deras dari malam hingga ke pagi hari.Aluza seketika terbangun ketika mendengar bunyi alarm.
"sudah pagi..." gumam Aluza sambil menggeser selimutnya perlahan, tubuhnya masih terasa lelah akibat tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Dia segera meraih ponsel di sisi ranjang untuk mematikan alarm yang masih berbunyi berulang kali di tengah deraian hujan luar.
Setelah alarm dimatikan, suara hujan yang mengguyur atap masih terdengar sangat jelas – bahkan makin deras seolah ingin mencuci bersih semua masalah yang terjadi belakangan ini. Aluza yang masih setengah sadar mulai menurunkan kakinya ke bawah ranjang namun sesuatu yang basah seperti genangan air menerpa kulit membuat Aluza yang masih setengah sadar itu membuka matanya sepenuhnya.
"APA INI? teriak Aluza segera menarik kaki nya kembali ke atas ranjang. Dia melihat dengan jelas bagaimana air sudah menggenang di lantai kamar nya hingga mencapai tinggi beberapa sentimeter, menyentuh bagian bawah tempat tidur yang rendah.
Tanpa berlama-lama lagi, dia berdiri dengan tergesa-gesa dan mulai memeriksa setiap sudut kamar. Air mengalir deras dari bawah pintu kamar dan juga dari celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat akibat angin kencang semalaman.
"Bagaimana bisa begini?!" gumamnya dengan hati yang mulai berdebar kencang. Dia melihat ke arah arah kamar mandi dan ruang tamu yang juga sudah tergenang air hujan deras yang turun sepanjang malam ternyata telah menyebabkan banjir di kontrakan nya.
Aluza segera keluar dari Kontrakannya dan melihat di depan kontrakan nya juga telah di kelilingi banjir.
Aluza menutup mulutnya dengan tangan, tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya jalanan di depan kontrakan sudah benar-benar terendam air hingga setinggi mata kaki, sementara beberapa tetangga lain juga keluar dengan wajah penuh kekhawatiran. Beberapa orang sedang mencoba membangun tanggul darurat dari pasir dan batu untuk menghentikan air masuk ke dalam kontrakan mereka.
"Aduh, hujan yang begini memang sudah terjadi sebelumnya!" teriak salah satu tetangga yang sedang membawa ember untuk menyiram air keluar dari rumahnya. "Kontrakan kita memang berada di lokasi yang rendah, jadi setiap ada hujan deras pasti bakal tergenang seperti ini!"
“Maaf Bu kira-kira apa banjir ini akan tinggi lagi yah?"Tanya Aluza pada mereka.
“Iya mbak, bahkan bisa sampai ke pinggang!"Ujar ibu-ibu tersebut Seketika membuat aluza semakin takut jika banjir ini akan merendam motor kerjanya.
...****************...
"Sampai kapan lagi kita harus menunggu, Pak?" tanya awak pertama Bara dengan suara yang sedikit tergesa-gesa, sambil memeriksa kembali data cuaca yang baru saja diterima.
Bara menghela napas panjang sambil melihat keluar dari kaca kokpit langit yang seharusnya sudah mulai menerangi pagi hari masih tertutup oleh awan gelap yang pekat, sementara gerimis masih terus menerpa permukaan pesawat. "Tim meteorologi bilang hujan akan mulai mereda sekitar pukul 7 pagi, tapi kita masih perlu menunggu setidaknya 30 menit lagi untuk memastikan landasan pacu aman digunakan," jawabnya dengan suara yang tetap tenang.
Sebagai pilot berpengalaman, Bara sangat memahami bahwa kesabaran adalah bagian penting dari profesinya. Dia segera menghubungi awak kabin melalui saluran komunikasi dalam pesawat. "Halo seluruh awak kabin, ini Bara. Penerbangan masih tertunda sementara akibat kondisi cuaca yang belum mendukung. Silakan beritahu penumpang dengan sopan dan pastikan mereka merasa nyaman ya."
Setelah itu, Bara kembali fokus memeriksa checklist sistem pesawat untuk yang ketiga kalinya. Mesin sudah dalam kondisi prima, sistem navigasi dan komunikasi berjalan stabil, namun dia tidak ingin mengambil sedikit pun risiko sebelum semua kondisi memenuhi standar keamanan.
"Kita sudah memberitahu penumpang mengenai penundaan, Kapten," lapor salah satu awak kabin melalui radio. "Sebagian dari mereka sudah mulai bertanya kapan bisa terbang, tapi semuanya tetap tenang setelah kami menjelaskan alasan penundaan."
Bara mengangguk puas. "Bagus. Pastikan juga untuk memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi ya. Jika ada yang membutuhkan obat atau bantuan khusus, segera beri tahu kami di kokpit."
Tak lama kemudian, petugas kontrol bandara menghubungi melalui radio. "Kapten Bara, kondisi cuaca mulai menunjukkan perbaikan. Visibilitas sudah mencapai standar minimum, dan landasan pacu sudah dalam proses pengeringan. Perkiraan siap untuk lepas landas sekitar pukul 6.45 pagi."
Bara menarik napas lega dan melihat ke arah awak pertama dengan senyum ringan. "Baiklah, mari kita persiapkan segala sesuatunya dengan matang. Kita akan segera terbang begitu semua kondisi siap – pastikan setiap penumpang dan awak sudah dalam posisi aman sebelum kita mulai proses lepas landas."
Co-pilot Irwan yang berada di samping Bara mengatakan jika rumah-rumahan atau kontrakan di belakang bandara banjir.
Bara segera memalingkan wajahnya ke arah yang pilot Irwan, mata menyala melihat hamparan air yang membentang luas di kejauhan melalui ponsel Co-pilot Irwan. "Itu benar-benar banjir ya?" tanya Bara dengan suara yang sedikit serak, sementara tangan kanannya tetap erat meraih tuas kemudi.
"Iya Kapten, bahkan bisa dilihat beberapa orang sedang berusaha mengungsi dengan perahu kecil darurat," jawab Irwan sambil menunjuk ke arah kontrakan yang terletak tidak jauh dari area bandara. "Kelihatannya banjirnya cukup tinggi, mungkin sampai setinggi pinggang atau lebih."
Ada sesuatu yang menggangu pikiran Bara, dalam hati dia merasa bahwa dia mengenali salah satu kontrakan yang tergenang air itu.
"Bukankah itu kontrakan tempat Aluza tinggal?" pikirnya dengan hati yang mulai berdebar kencang.
...****************...
Aluza mengemasi barang-barangnya yang penting-penting saja termasuk beberapa pakaian, air minum,piring, dan juga alat pemasak nasi ia meletakan semua itu di atas lemari, dan dia juga berjanji setelah banjir Redah ia pasti akan cari tempat tinggal yang lebih layak.perlahan aluza sudah mengendong sebuah tas besar,dan barang-barang kecil.
Aluza menghela napas perlahan saat mengendong tas besar di pundaknya, langkahnya hati-hati menghindari genangan air yang semakin luas. Dia segera menuju arah garasi tempat motornya disimpan, syukurlah sebelum hujan deras datang, dia sudah berhasil memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi di belakang kontrakan.
"Semoga motornya masih bisa menyala dengan baik," bisiknya sambil membuka kunci gerobak besi yang menjadi tempat penyimpanan. Dengan hati-hati dia menarik motor keluar, memeriksa bagian mesin dan jok yang masih kering karena terlindungi dengan baik.
Tanpa berlama-lama, Aluza meletakkan barang-barang kecil di jok belakang motor dengan hati-hati, memastikan barang-barangnya tidak akan jatuh saat berkendara. Dia kemudian memasang helmnya dengan cermat dan mencoba menghidupkan mesin – suara mesin menyala dengan stabil, membuatnya sedikit lega.
"Aku harus segera pergi dari sini sebelum air naik lebih tinggi lagi," gumam Aluza sambil menyesuaikan posisi tubuh di atas jok. Dia melihat ke arah kontrakan-kontrakan yang sudah tergenang air, merasa sedih namun tidak punya pilihan lain selain mencari tempat yang lebih aman.
Sebelum mulai berkendara, dia mengeluarkan ponselnya untuk mencoba menghubungi Diana. Namun sinyal di daerah itu sudah sangat lemah akibat cuaca buruk dan banjir yang melanda. "Sudahlah, mungkin aku harus pergi dulu ke cafe siapa tau saja Reyhan dan Mira bisa membantu masalah ku"ucapnya sendiri sebelum menekan tuas gas perlahan.
Motor mulai bergerak lambat di atas jalanan yang tergenang air setinggi pergelangan kaki. Aluza fokus penuh pada jalanan di depannya, menghindari genangan yang terlalu dalam dan area yang mungkin ada longsoran kecil akibat hujan deras.