Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbuhnya Benih Cinta
Agashtya yang sudah tidak bisa menahan perasaannya, memutuskan untuk menemui Kaniya di ruangannya saat jam istirahat. Dia mengambil napas dalam-dalam, dan menuju ke ruang Kaniya.
Kaniya yang sedang menata dokumen yang telah ia buat itu pun terkejut melihat Agashtya datang.
"Pak Agas, ada apa?" tanyanya penasaran
Agashtya tersenyum, dengan mata yang berbinar, "Aku ingin mengajak kamu makan siang, Kaniya. Ada cafe baru di dekat PT Wijaya New Era Group, aku ingin mencobanya bersamamu..."
Kaniya memandang Agashtya, dengan senyum yang manis, "Ok Pak Agashtya. Saya juga sudah lama ingin mencoba makan dicafe itu tapi belum sempat, selain itu biayanya mahal..." jawabnya setengah berdusta
Agashtya tersenyum, dengan rasa yang campur aduk, "Bagus, aku akan tunggu kamu di lobby..."
Kaniya yang masih duduk di ruangannya, tidak bisa menahan diri untuk tidak memeriksa ponselnya. Dia melihat ada pesan dari Agashtya yang masuk beberapa menit yang lalu.
"[Aku sudah di lobby, Kaniya. Aku tunggu kamu...😊]" tulis Agashtya
Kaniya tersenyum, dengan mata yang berbinar, "Aku akan segera turun, Pak Agas..." jawabnya, sambil mengetik pesan balasan
Dia pun kemudian menutup laptopnya, dan mengambil tasnya. Dengan hati yang berdebar, dia menuju ke lobby untuk menemui Agashtya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan tentang makan siang bersama Agashtya, dan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat Kaniya tiba di lobby, dia melihat Agashtya yang sudah menunggu dengan senyum yang manis. Mereka berdua saling menatap, dengan suasana yang semakin hangat. Agashtya kemudian melangkah maju, dan menawarkan tangan kanannya kepada Kaniya.
"Aku siap, Kaniya. Mau ke cafe denganku?" tanya Agashtya, dengan mata yang berbinar
Kaniya tersenyum, dengan mata yang berbinar, "Saya siap, Pak Agas..." jawabnya, sambil menerima tawaran tangan Agashtya
Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari gedung, menuju ke cafe yang terletak di dekat PT Wijaya New Era Group. Cuaca yang cerah dan suasana yang hangat membuat mereka berdua semakin nyaman.
Alex dan Bintang yang baru saja tiba di lobby, melihat punggung Agashtya dan Kaniya yang berjalan keluar kantor menuju mobil Agashtya. Alex yang sudah lama mencurigai perasaan Agashtya, tidak bisa menahan diri untuk tidak berbisik kepada Bintang.
"Wah, sepertinya Pak Agashtya kita sudah benar-benar jatuh, mas Bintang..." bisik Alex tersenyum nakal
Bintang yang juga memperhatikan, tersenyum dan mengangguk, "Gue tahu, Lex. Gue udah bilang kan? Cewek itu cocok untuk kak Agas..."
Alex mengangguk lagi, dengan mata yang berbinar, "Saya setuju, mas Bin, Pak Agas dan bu Kaniya itu pasangan yang sempurna..."
Mereka berdua kemudian saling menatap, dengan senyum yang manis. Mereka berdua tahu bahwa Agashtya dan Kaniya akan menjadi pasangan yang sangat bahagia.
Acara makan siang Agashtya dan Kaniya semakin romantis. Saat mereka duduk di meja, Agashtya mengambil sebuah buket bunga segar dari tasnya dan memberikannya kepada Kaniya.
"Untuk kamu, Kaniya. Semoga hari ini menjadi lebih indah..." ucap Agashtya, dengan mata yang berbinar
Kaniya terkejut, menerima buket bunga itu dengan senyum yang manis, "Wah, Pak Agas. Anda terlalu manis..." ucapnya, dengan mata yang berbinar
Mereka berdua kemudian saling menatap, dengan suasana yang semakin hangat. Pelayan datang untuk mengambil pesanan, tapi mereka berdua tidak bisa melepaskan pandangan dari satu sama lain.
Kaniya yang masih memegang buket bunga itu, tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas perasaan Agashtya. Dia mengambil napas dalam-dalam, dan memandang Agashtya dengan mata yang berbinar.
"Pak Agas, saya juga ingin membuat hari ini menjadi lebih indah untuk anda..." ucapnya, dengan senyum yang manis
Agashtya terkejut, memandang Kaniya dengan mata yang lebar.
"Benar? Apa itu?" tanyanya, dengan rasa yang campur aduk
Kaniya tersenyum, dan mengambil tangan Agashtya, "Saya ingin kita bisa memiliki lebih banyak momen seperti ini, Pak Agas. Makan siang, jalan-jalan, dan berbagi cerita. Mengenai jawaban saya mengenai perasaan saya pada bapak......." ucapnya, dengan mata yang berbinar
Agashtya yang merasa hatinya berdetak lebih cepat, memandang Kaniya dengan mata yang berbinar.
"Aku juga ingin itu, Kaniya. Aku ingin kita bisa memiliki lebih banyak waktu bersama dan apa jawabanmu itu Kaniya?" ucapnya, dengan senyum yang manis
Agashtya yang masih memegang tangan Kaniya, memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Kami akan ambil dua nasi goreng seafood spesial, dan satu es teh manis, satu es jeruk, dan menu spesial yang dipromosikan di cafe ini..." ucapnya dengan senyum ramah
Pelayan mengangguk dan mencatat pesanan mereka. Setelah pelayan pergi, Agashtya memandang Kaniya dengan mata yang berbinar.
"Aku tahu kamu suka nasi goreng seafood spesial di sini," ucapnya, dengan senyum yang manis
Kaniya tersenyum, dengan mata yang berbinar, "Anda selalu tahu apa yang saya suka, Pak Agas..."
Tiba-tiba saja Agashtya menyentuh bibir Kaniya dengan jari telunjuknya sehingga membuat Kaniya reflek merasa terkejut.
"Jangan lagi panggil aku pak, panggil saja aku Agas atau kak Agas..." ucapnya lembut
Kaniya pun menjadi salah tingkah dibuatnya, "Ok kak Agashtya. Maaf..." ucapnya serasa sedikit canggung
...****************...
Beberapa menit kemudian, waitress cafe datang dengan semua pesanan mereka. Dia meletakkan nasi goreng spesial, es teh manis, es jeruk, mufin coklat pasta stroberi, dessert dan kentang goreng, di depan mereka.
Tapi, saat Kaniya melihat makanan yang disajikan, dia tiba-tiba merasa perutnya muak seperti sedang tidak enak badan. Dia memegang perutnya dan wajahnya menjadi pucat seketika.
"Huek..."
"Kak Agas...kayaknya aku gak enak badan," ucapnya, dengan suara yang lemah tiba-tiba saja
Agashtya terkejut, langsung berdiri dan memegang tangan Kaniya. Pasalnya tadi tidak terjadi apa-apa kenapa tiba-tiba saja Kaniya berubah.
"Apa yang terjadi, Kaniya? Kamu gak apa-apa kan?" tanyanya, dengan rasa yang campur aduk
Kaniya menggelakkan kepalanya, dengan mata yang mulai berkunang-kunang, "Aku gak tahu...aku ngerasa mual tiba-tiba..." ucapnya, sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri
Agashtya membantu Kaniya duduk kembali dan menyuruhnya untuk makan terlebih dahulu agar kondisinya memulih. Kaniya yang masih merasa lemah, menurutinya dan mulai makan nasi goreng spesial yang sudah disajikan.
Tapi, yang lebih aneh, Kaniya mulai makan dengan nafsu yang besar, bahkan lebih besar daripada biasanya. Agashtya yang melihatnya pun merasa heran.
"Kaniya, apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Agashtya, dengan mata yang melebar
Kaniya yang masih sibuk makan, hanya menggelakkan kepalanya dan terus makan. Agashtya yang melihatnya, pun tersenyum bahkan ia menjadi ikut merasa kenyang melihat perubahan nafsu makan Kaniya saat ini.
"Sepertinya kamu memang sangat lapar, ya?" ucapnya, dengan senyum manis
...****************...
Setelah makan siang bersama, Agashtya dan Kaniya kembali ke kantor. Tapi, Kaniya masih merasa tidak enak badan, kepalanya masih sangat terasa berdenyut hebat dan merasa lemah.
Agashtya khawatir, memanggil adiknya, Bintang, yang berprofesi sebagai dokter, untuk memeriksa Kaniya. Bintang yang datang, langsung memeriksa Kaniya dengan teliti. Setelah beberapa menit, Bintang memandang Agashtya dengan mata yang serius.
"Bhai, aku perlu bicara empat mata denganmu," ucapnya, dengan rendah
Agashtya yang merasa ada sesuatu yang tidak beres, memandang Bintang dengan rasa yang campur aduk, Mereka pun berjalan menuju ke ruang kerja Agashtya.
"Apa itu, Bin?" tanya Agashtya dengan suara yang rendah
Bintang mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya mengatakan, "Kaniya...dia hamil..." ucapnya setengah berbisik
Agashtya yang terkejut, memandang Bintang dengan mata yang melebar, "Ha...hamil? Apa kamu yakin, Bin?" tanyanya, dengan suara yang hampir tidak terdengar
Bintang mengangguk dengan serius, "Aku yakin, bhai... Kaniya memang hamil, usia kandungannya masih muda baru sekitar 12 minggu. Sekarang pertanyaannya, apa dirimu siap bhai?" ucapnya, dengan mata yang menatap Agashtya dengan serius
Agashtya masih merasa shock, tidak bisa menjawab pertanyaan Bintang. Dia hanya memandang Kaniya yang masih berbaring lemas dan terlelap di sofa, dengan rasa yang campur aduk. Agashtya yang masih merasa shock, berjalan mondar-mondar di ruangan, mencoba memproses informasi yang baru saja dia terima.
"Tidak mungkin...aku tidak percaya, aa...aku...Bin....aku...." ucapnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar dan tubuhnya perlahan merosot lemah
Bintang yang melihat Agashtya seperti itu, mencoba menenangkannya, "Bhai, aku tahu ini gak mudah, tapi kita harus menghadapi ini bersama," ucapnya, dengan suara lembut sembari mengusap bahu kanan Agashtya
Tapi, Bintang sendiri juga merasa terkejut ketika dia menyadari sesuatu, "Bhai...Kaniya itu...dia kan?" ucapnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar
Agashtya yang masih sibuk dengan pikirannya, tidak menyadari apa yang dikatakan oleh Bintang, "Apa? Apa yang kamu maksud?" tanyanya, dengan rasa campur aduk
Bintang yang masih mencoba menjaga rahasia, hanya menggelakkan kepalanya, "Oh...gak, gak apa-apa. Bhai, kita harus fokus pada Kaniya sekarang, rileks semua pasti ada jalan terbaik untuk kalian bhai. Aku janji akan bantu dirimu agar bisa lepas dari perjodohan..." ucapnya, dengan senyum yang dipaksakan
Tiba-tiba Alex datang ke ruangan Agashtya untuk meminta tanda tangan kontrak kerja. Dia terkejut melihat Kaniya yang tertidur pulas di sofa santai ruangan Agashtya, juga melihat Agashtya dan Bintang yang tampak kacau sekali.
"A...apa yang terjadi?" tanya Alex, dengan rasa yang campur aduk, sambil menutup pintu ruangan dengan hati-hati
Agashtya yang masih sibuk dengan pikirannya, memandang Alex dengan mata yang kosong, "Ah, Alex... gak ada apa-apa. Kaniya hanya...sedikit capek, yah...dia kecapekan..." ucapnya, dengan suara lembut
Bintang yang melihat Alex, langsung memberikan kode untuk tidak mengatakan apa-apa. Alex yang tidak tahu apa-apa, hanya mengangguk dan memberikan kontrak kerja kepada Agashtya.
"Pak, ini kontrak kerja yang harus ditandatangani," ucapnya, dengan suara lembut
Agashtya mengambil kontrak kerja dari Alex dan menandatanganinya dengan tangan yang sedikit bergetar sehingga membuat Alex merasa semakin penasaran dengan apa yang tengah terjadi.
"Oh...iya Lex. Loe tolong, jangan katakan apa-apa tentang ini ke siapa pun, ya?" ucapnya, dengan mata yang memohon
Alex yang masih bingung, mengangguk dengan serius. "Tentu, mas boss. Aku gak akan bocor, eh...tapi tunggu dulu memangnya apa yang harus di rahasiakan? " ucapnya menelisik
Setelah Alex meninggalkan ruangan, Agashtya memandang Bintang dengan mata yang serius.
"Bin, aku harus bicara dengan Alex tentang ini," ucapnya, dengan suara yang merendah
Bintang mengangguk dengan serius, "Aku tahu, bhai. Tapi, mungkin kamu harus bicara dengan Kaniya dulu sebelumnya," ucapnya, sambil memandang Kaniya yang masih tertidur pulas di sofa
Agashtya mengangguk, lalu memanggil Alex kembali ke ruangan, "Alex, tunggu," sahutnya, dengan suara yang serius
Alex yang sudah hampir keluar dari ruangan, kembali masuk dan memandang Agashtya dengan rasa yang campur aduk.
"Ada apalagi, mas bosss..." tanyanya, dengan suara yang rendah agar tak membangunkan Kaniya
Agashtya mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya mengatakan, "Kaniya...dia hamil. Soal rahasia ini cuma loe yang tahu kejadian malam itu, tolong jangan sampe bocor..." ucapnya lirih
Alex pun terkejut dengan kabar itu, matanya melebar dan mulut yang sedikit ternganga.
"Ha-hamil?!" beonya, dengan suara yang hampir tidak terdengar
Agashtya mengangguk dengan serius, "Ya, Lex. gue belum tahu gimana harus kasih tahu ini ke Kaniya," ucapnya, dengan suara merendah
Bintang yang melihat Alex, memberikan kode untuk tidak mengatakan apa-apa. Alex yang masih shock, mengangguk dengan cepat.
"Aku gak akan bocor, tuan. Aku janji," ucapnya, dengan serius
Bintang pun memberikan vitamin ibu hamil, tablet tambah darah, tablet anti mual, dan tablet kalsium untuk diberikan pada Kaniya nantinya. Setelah itu, secara tiba-tiba saja Bintang berpamitan pada Agashtya.
"Bhai, aku ada urusan penting mendadak. Tolong berikan semua ini ke Kaniya, ya? Kalau ada apa-apa kabarin aja. Oh ya satu lagi kalau dia tanya dia sakit apa bilang aja anemia dan aslam naik..." ucapnya, dengan cepat
Agashtya mengangguk dengan serius, "Ok, Bin, thanks yah my little brother... Hati-hati di jalan," ucapnya, sambil menerima beberapa bungkusan obat yang diberikan oleh Bintang
Bintang mengangguk, lalu dengan cepat meninggalkan ruangan, meninggalkan Agashtya yang kini sendirian dengan Kaniya yang masih tertidur pulas di sofa. Agashtya berlutut di hadapan Kaniya yang tertidur di sofa panjang ruangan Agashtya, kalimat yang selalu di ucapkan oleh Agashtya tak lain hanyalah kata maaf pada Kaniya.
"Maaf, Kaniya...maaf," ucapnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar dan berurai kristal bening dari pelupuk matanya yang kini membasahi kedua pipinya
Kaniya pun akhirnya terbangun karena mendengar isak tangis Agashtya dengan kata maaf yang diulang-ulang terus menerus padanya. Kaniya membuka mata, melihat Agashtya berlutut di depannya dengan wajah yang penuh penyesalan.
"Kak Agashtya...apa yang terjadi?" tanya Kaniya, dengan suara lembut, sambil mencoba menghapus air mata Agashtya
Kaniya terus menghapus air mata Agashtya dengan lembut, sambil mencoba menenangkannya. "Kak Agashtya, apa yang terjadi? Kenapa kamu nangis dan maaf soal apa?" tanyanya lagi, dengan suara yang lebih lembut daripada sebelumnya
Agashtya tidak bisa menahan emosinya, dia memeluk Kaniya erat-erat, "Maaf, Kaniya...aku salah. Aku gak seharusnya melakukan itu," ucapnya terisak-isak, seperti anak kecil yang menangis di pelukan ibunya
Kaniya membalas pelukan Agashtya, sambil mencoba menenangkannya, "Apa yang kakak maksud? Apa yang kamu lakukan?" tanyanya rasa penasaran yang semakin besar
Agashtya menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya mengatakan, "Aku...aku gak tahu apa yang terjadi padaku, Kaniya. Aku gak bisa mengontrol diriku sendiri waktu itu, maaaf Kaniya....maaf..."
Kaniya yang masih bingung dengan ungkapan kata maaf yang diulang-ulang oleh Agashtya itu pun hanya bisa terdiam sembari masih tetap memeluk erat Agashtya.
Bersambooo dulu... 🙏🤭🌹