" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal
Sinar matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah ventilasi saat suara gedoran pintu yang brutal menghancurkan ketenangan pagi Nana.
TOK!TOK!TOK!
Nana yang masih mengenakan piyama kaos kebesaran dengan rambut singa yang berantakan, mengerang frustasi. Ia melirik jam di atas meja. Baru pukul enam pagi!
"Siapa sih?!" gerutu Nana kesal. Ia berjalan gontai, mengucek matanya yang masih terasa berat. lalu membuka kunci pintu dengan sentakan kasar.
Begitu pintu terbuka, jantung Nana nyaris melompat keluar. Di depannya berdiri seorang pria dengan setelan kemeja yang sudah rapi, aroma parfum mahal yang menusuk hidung, dan wajah judes yang sudah sangat ia hafal.
"Bapak?! Ngapain ke sini? Kok bisa masuk?!" pekik Nana terkejut, mencoba menutupi rambut berantakannya dengan tangan. "Ini area kosan khusus perempuan, Pak!"
Abian menatap Nana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang khas.
"Ya bisalah. Penjaga di depan saya kasih uang kopi sedikit juga langsung bukain gerbang," jawabnya santai seolah itu hal yang legal.
Abian melirik jam tangannya dengan gestur tidak sabaran. "Saya tunggu dua puluh menit," ucapnya singkat.
"Ngapain?!" tanya Nana dengan nada tinggi, masih tidak habis pikir bosnya muncul di depan pintu kamarnya sepagi ini.
Abian menatap Nana lurus-lurus, senyum tipis yang menyebalkan muncul di sudut bibirnya. "Ke kantor, Nana sayang. Cepat mandi sebelum saya sendiri yang mandiin kamu."
"Bapak beneran udah gila ya!" seru Nana sambil membanting pintu di depan wajah Abian, meski pada akhirnya ia tetap berlari kencang menuju kamar mandi karena tahu Abian tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Sekitar 40 menit berlalu, pintu kos akhirnya terbuka kembali. Nana keluar dengan pakaian yang sudah rapi, meskipun wajahnya tampak masih menyimpan sisa-sisa kantuk dan kekesalan. Ia menatap Abian yang sedang bersandar di dinding koridor sambil melipat tangan di dada.
Abian melirik jam tangannya, lalu menatap Nana dengan tatapan tajam yang menghakimi.
"Kamu terlambat dua puluh menit," ucapnya dingin, menekankan setiap kata.
Nana mendengus keras, ia mengunci pintu kamarnya dengan sentakan kasar sebelum berbalik menantang bosnya itu.
"Ya siapa suruh tungguin saya? Saya kan nggak minta Bapak datang ke sini sepagi ini!" balas Nana tak kalah ketus.
Abian hanya menaikkan satu alisnya, tidak terkesan dengan pembelaan Nana. "Saya tidak suka menunggu, Haruna. Waktu saya itu uang."
"Kalau gitu Bapak pergi aja sendiri, repot banget!" Nana memutar bola matanya, lalu berjalan mendahului Abian menuju tangga.
"Ya udah, ayok! Katanya tadi mau ke kantor, buruan sebelum saya berubah pikiran terus balik tidur lagi!"
Abian hanya menggeleng pelan melihat punggung asistennya yang berjalan dengan langkah cepat itu.
Mobil meluncur membelah jalanan pagi yang mulai padat. Perut Nana tiba-tiba berbunyi cukup nyaring, membuatnya merutuk dalam hati karena terburu-buru tadi.
"Duh, laper lagi. Saya belum sarapan gara-gara Bapak gedor-gedor pintu kayak mau nagih hutang," keluh Nana sambil memegangi perutnya.
Abian tetap fokus ke jalanan, namun tangan kirinya meraih sebuah kotak makan premium dari kursi belakang dan meletakkannya di pangkuan Nana.
"Tenang saja, saya bawa bekal itu," ucap Abian singkat.
Nana menatap kotak makan itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap Abian dengan curiga.
"Hah, bawa bekal? Tumben banget? Bapak beli di mana?"
"Buka saja," perintah Abian.
Begitu Nana membuka tutupnya, aroma nasi goreng mentega dengan topping telur yang rapi menyeruak di dalam mobil. Tampilannya sangat cantik, jauh lebih rapi dari masakan Nana sendiri.
"Saya tahu kamu belum sarapan. Dan yang paling spesial, saya yang masak sendiri. Khusus untuk kamu," lanjut Abian tanpa menoleh, namun ada nada bangga yang terselip di suara judesnya itu.
Nana melongo. Ia menatap nasi goreng itu dan Abian secara bergantian.
"Bapak... masak? Bapak bisa masak? Saya pikir Bapak cuma bisa makan di restoran bintang lima atau nyuruh-nyuruh saya pesen makan lewat aplikasi."
Nana menyuapkan satu sendok ke mulutnya. Matanya membelalak. Sial, rasanya benar-benar enak.
"Oke, saya akui ini enak. Tapi jangan harap saya nggak jadi resign cuma gara-gara nasi goreng ya, Pak!"
Nana baru saja mengunyah suapan pertamanya ketika ia tersadar bahwa hanya ada satu kotak makan di pangkuannya. Ia melirik Abian yang masih fokus menyetir dengan wajah seriusnya.
"Bapak udah sarapan?" tanya Nana sambil memegang sendoknya yang masih menggantung di udara.
Abian menjawab singkat tanpa menoleh sedikit pun, "Belum."
Nana mengernyitkan dahi. "Terus kenapa Bapak kasih semuanya ke saya? Katanya Bapak punya maag kalau telat makan?"
"Tadi saya bilang kan, saya bawa bekal itu untuk kamu. Kalau saya makan sekarang, siapa yang nyetir? Kamu mau kita masuk selokan?" sahut Abian.
Nana terdiam sejenak. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul, tapi tertutup oleh gengsinya yang setinggi langit. Ia melihat porsi nasi goreng itu cukup banyak untuk mereka berdua.
"Ya sudah, sini... Bapak buka mulut," gumam Nana pelan, hampir tak terdengar.
Abian melirik sekilas, satu alisnya terangkat. "Apa?"
"Buka mulutnya, Pak! Katanya tadi belum sarapan. Saya nggak mau ya disalahin kalau tiba-tiba Bapak pingsan di jalan gara-gara maag, terus kita kecelakaan," ucap Nana.
"Satu suapan saja," jawab Abian akhirnya, sambil membuka mulutnya saat lampu merah menyala.
🤣😭
update nya jangan lama" dunk
apa yang dijodohkan sama Sofia temannya Abian🤔🤔🤔