"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
"Kesempatan kedua sering kali menjadi ujian terakhir bagi harga diri seorang pria. Di episode ini, Bima berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sisa-sisa kejayaannya, sementara sang parasit mulai merasakan tajamnya duri yang ia tanam sendiri. Namun, saat Bima berjuang di atas tumpukan dokumen, di belahan bumi lain, Hana sedang melangkah menuju puncak kebahagiaan yang tak pernah Bima berikan. Mari saksikan bagaimana takdir mulai menuliskan akhir yang kontras bagi mereka yang setia dan mereka yang mengkhianati."
.
.
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Jakarta, namun Bima sudah berdiri di depan cermin besar dengan setelan jas charcoal yang kaku.
Matanya yang sembab dan merah akibat alkohol semalam kini memancarkan sorot yang berbeda, sorot penuh keputusasaan yang dibalut ambisi.
Ia tahu, kesempatan yang diberikan Bu Sarah adalah seutas tali tipis di atas jurang kehancuran.
"Aku tidak akan membiarkan Erlangga Group jatuh, dan aku tidak akan membiarkan Hana pergi," gumamnya, meskipun hatinya sendiri ragu mana yang lebih ia prioritaskan.
Tepat pukul 07.30, Bima melangkah masuk ke lobi Erlangga Group dengan langkah lebar. Atmosfer di kantor terasa mencekam.
Para karyawan berbisik-bisik, menatap sang CEO dengan pandangan ragu. Bima tidak peduli. Ia langsung menuju ruangannya dan menekan interkom.
"Panji! Siska! Ke ruangan saya sekarang. Bawa semua laporan audit internal dan daftar piutang vendor yang macet!" perintahnya tanpa basa-basi.
Hanya dalam hitungan menit, meja kerja Bima yang biasanya bersih kini tertimbun tumpukan dokumen. Siska, sekretarisnya, tampak cemas sementara Panji berdiri tegang.
"Pak, beberapa vendor dari proyek Kalimantan sudah mengajukan somasi," lapor Siska pelan.
"Abaikan somasinya untuk sementara. Cari tahu siapa di jajaran direksi yang membocorkan data ke PT. Wijaya. Aku tahu Clarissa tidak bekerja sendirian," sahut Bima sambil mencoret-coret berkas dengan kasar. "Kita akan melakukan restrukturisasi. Potong biaya operasional yang tidak perlu, batalkan semua perjalanan dinas mewah, dan hubungi Bank Artha. Katakan saya ingin bertemu direkturnya siang ini juga untuk negosiasi ulang tenor pinjaman."
Bima bekerja bagai orang kesurupan. Ia tidak berhenti untuk makan siang, bahkan kopi di mejanya sudah mendingin tanpa disentuh. Ia mencoba membuktikan pada ibunya, bahwa ia masih mampu memimpin.
~~
Sementara itu, di sebuah hotel berbintang di pusat kota, suasana jauh dari kata profesional. Clarissa terbangun dengan gedoran keras di pintu kamar suite-nya.
Ia menguap, melangkah dengan malas mengenakan robe sutranya, membayangkan pelayan hotel membawakannya sarapan mewah.
Namun, saat pintu terbuka, yang berdiri di sana adalah manajer hotel dengan dua petugas keamanan.
"Maaf, Nona Clarissa. Kami baru saja menerima pemberitahuan bahwa kartu kredit Anda atas nama Erlangga Group telah ditolak secara permanen. Pembayaran kamar Anda untuk malam terakhir gagal diproses," ucap sang manajer dengan nada yang sangat formal namun merendahkan.
Clarissa terbelalak. "Apa? Itu tidak mungkin! Coba lagi! Mungkin mesin kalian yang rusak!"
"Kami sudah mencoba lima kali, Nona. Dan kami juga menerima instruksi bahwa unit apartemen Anda sedang dikosongkan atas perintah pemilik sah. Kami mohon Anda segera melunasi tagihan secara tunai atau kami terpaksa meminta Anda meninggalkan hotel sekarang juga."
Wajah Clarissa memucat. Ia mencoba menghubungi Bima, namun nomornya telah diblokir.
Panik, ia segera mencari kontak pria yang selama ini menjadi sekutu gelapnya di PT. Wijaya, pria yang memberinya kemewahan sebagai imbalan atas bocoran data perusahaan Bima.
**Tut... tut... tut**...
Panggilan pertama tidak diangkat. Clarissa mencoba lagi dengan tangan gemetar. Saat panggilan kedua masuk, suara operator yang dingin menyahut bahwa nomor tersebut sudah tidak dapat dihubungi.
Ia mencoba mengecek media sosial pria itu, dan jantungnya seolah berhenti saat menyadari bahwa akunnya telah menghilang dan nomornya telah memblokir Clarissa.
"Berengsek! Dia membuangku setelah mendapatkan apa yang dia mau!" teriak Clarissa histeris. Ia kini sadar, bagi PT. Wijaya, dia hanyalah pion murah yang sudah tidak berguna setelah Bima jatuh.
Dengan penuh kehinaan, Clarissa dipaksa mengemasi barang-barangnya ke dalam koper yang ia beli dengan uang Bima, lalu diseret keluar dari lobi hotel di bawah tatapan sinis para tamu.
Ia berdiri di pinggir jalan dengan tiga koper besar, tanpa uang tunai, tanpa tempat tinggal, dan tanpa pria yang bisa ia peras lagi.
~~
Berbeda dengan hiruk-pikuk kehancuran di Jakarta, Sukamaju sedang merayakan ketenangan. Di depan ruko Anindita Pastry, sebuah mobil sedan putih terparkir rapi.
Adrian keluar dengan wajah berseri, membawa sebuah amplop cokelat besar dan buket bunga lili putih kesukaan Hana.
Hana yang sedang merapikan pajangan roti menoleh dan tersenyum. "Mas Adrian? Tumben sekali jam segini sudah ke sini. Pasien di klinik sedang sepi?"
Adrian mendekat, mengecup dahi Hana dengan lembut, sebuah perlakuan yang selalu membuat Hana merasa dihargai sebagai wanita, bukan sekadar pelayan rumah tangga.
"Hana, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu," ucap Adrian penuh rahasia.
Ia mengajak Hana duduk di meja pojok, sementara Saka sedang tertidur pulas di dalam ruko yang dijaga oleh asisten Hana.
Adrian mengeluarkan sebuah map dari amplop cokelat itu. Di sana tertera akta jual beli sebuah bangunan di area perumahan asri, tidak jauh dari pusat kota namun tetap tenang.
"Ini... ini apa, Mas?" tanya Hana bingung.
"Ini rumah kita, Hana," jawab Adrian mantap. "Aku sudah melunasinya kemarin. Aku ingin setelah kita menikah bulan depan, kamu dan Saka tidak perlu lagi tinggal di ruko ini. Aku ingin Saka punya halaman luas untuk bermain, dan kamu punya dapur impian yang besar untuk mengembangkan bisnismu."
Hana menutup mulutnya dengan tangan, air matanya menetes seketika. Bukan karena kemewahan rumah itu, tapi karena perhatian Adrian yang begitu detail.
Bima dulu memberinya rumah mewah, tapi rumah itu selalu terasa seperti penjara karena Bima tidak pernah mengizinkan Hana mengembangkan diri.
"Mas, ini terlalu banyak... aku..."
"Ssst," Adrian menghapus air mata Hana dengan ibu jarinya. "Ini bukan tentang jumlahnya. Ini tentang masa depan. Aku ingin membangun rumah tangga yang sehat denganmu. Di rumah ini, tidak akan ada teriakan, tidak akan ada pengkhianatan. Hanya ada aku, kamu, dan Saka."
Hana memeluk Adrian erat, menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Di Sukamaju, ia menemukan apa yang tidak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun di Jakarta.
~~
Malam harinya, di kantor Erlangga Group, Bima masih berkutat dengan layar laptopnya. Panji masuk dengan wajah lelah.
"Pak, ini informasi yang Anda minta. Pernikahan Ibu Hana dan Dokter Adrian akan dilangsungkan satu minggu lagi di Masjid Agung Sukamaju. Sederhana, tapi sepertinya seluruh warga desa diundang," lapor Panji.
Bima terdiam. Ia melihat semua detail laporan yang diberikan asistennya. Ia merasa seperti di sambar petir.
"Satu minggu..." desis Bima. Matanya menatap tajam ke arah kalender. "Dalam satu minggu aku harus menstabilkan perusahaan ini, dan setelah itu... aku akan menggagalkan pernikahan mereka. Hana tidak boleh menikah dengan pria itu. Hana harus kembali ke rumah Erlangga."
Bima tidak menyadari, bahwa di luar sana, Clarissa yang penuh dendam sedang berjalan menuju sebuah kantor media besar, siap menjual skandal 'Perselingkuhan' sebagai peluru terakhir untuk menghancurkan Bima.
Akankah Bima berhasil menstabilkan perusahaan sebelum hari pernikahan Hana tiba?
Ikuti terus kelanjutannya!
...----------------...
**To Be Continue** ....
Bima semangat 🔥💪🥰