NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Predator Dingin

Obsesi Sang Predator Dingin

Status: tamat
Genre:Obsesi / Beda Usia / Mafia / Enemy to Lovers / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:186.6k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Mentari pagi merayap masuk melalui celah gorden sutra yang sedikit tersingkap, memancarkan garis-garis cahaya keemasan yang menyoroti debu-debu halus yang menari di udara kamar utama. Di atas ranjang king size yang berantakan dengan sprei yang setengah terlepas dari sudutnya, Alana terbaring tak berdaya. Tubuhnya terasa seberat timah, setiap serat ototnya seolah menjerit memprotes setiap gerakan sekecil apa pun.

Pagi ini, Alana benar-benar tidak bisa bangun. Kombinasi dari rezim latihan militer Valerie yang tanpa ampun selama berjam-jam kemarin, ditambah dengan gempuran hasrat Dante yang beringas semalam, telah melumpuhkan sistem sarafnya. Ia mencoba menggerakkan lengannya untuk sekadar menarik selimut, namun rasa nyeri yang tajam menjalar dari bahu hingga ke ujung jemarinya. Otot paha dan panggulnya terasa seperti terbakar, meninggalkan sensasi kaku yang membuatnya bahkan tidak sanggup untuk sekadar merapatkan kedua kakinya yang masih terasa berdenyut.

"Ugh..." Alana merintih lirih, suaranya serak dan hampir hilang. Tenggorokannya terasa kering, sisa dari erangan dan teriakan yang ia keluarkan sepanjang malam di bawah kungkungan suaminya.

Dante Volkov, yang sudah terjaga sejak fajar menyingsing, berdiri di sisi ranjang sambil mengenakan celana kain hitamnya. Ia sedang mengancingkan kemeja putihnya dengan gerakan yang santai namun penuh wibawa. Saat mendengar rintihan Alana, ia berbalik. Sebuah seringai kepuasan—yang lebih menyerupai senyum predator yang baru saja melahap mangsa paling lezat—terukir jelas di wajah tampannya yang dingin.

"Masih belum sanggup membuka matamu, little girl?" suara bariton Dante menggema, terdengar sangat segar dan penuh energi, sangat kontras dengan kondisi Alana yang hancur lebur.

Dante melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang sehingga kasur itu amblas di bawah berat tubuhnya yang masif. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan kasar mengusap pipi Alana yang masih tampak pucat namun memiliki rona merah sisa gairah semalam.

"T-tubuhku... tidak bisa digerakkan, Dante..." bisik Alana dengan mata yang setengah tertutup. "Sakit... semuanya sakit."

Dante terkekeh rendah, suara geraman halus yang penuh rasa bangga. Ia menarik selimut yang menutupi bahu Alana, memperlihatkan tanda-tanda keunguan yang tersebar di kulit putih susu itu—karya seninya yang ia torehkan dengan bibir dan gigi semalam. Baginya, pemandangan Alana yang tak berdaya di atas ranjangnya adalah pencapaian tertinggi. Ini adalah bukti dominasi mutlaknya; bahwa ia telah berhasil menundukkan gadis itu secara fisik, mental, dan biologis.

"Itu tandanya latihan Valerie mulai bekerja, dan aku... aku baru saja menguji batas ketahananmu," ucap Dante dengan nada posesif yang kental. "Aku bangga padamu, Alana. Kau bertahan lebih lama dari yang kubayangkan semalam. Otot-ototmu... mereka memberikan perlawanan yang sangat nikmat saat aku berada di dalammu."

Alana memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya memanas karena malu mendengar pujian yang begitu vulgar. "Kau... kau keterlaluan. Kau benar-benar ingin membunuhku."

"Membunuhmu? Tidak," Dante mencondongkan tubuh, mencium kening Alana dengan lembut namun terasa seperti sebuah klaim. "Aku justru sedang membuatmu 'hidup'. Aku sedang mempersiapkan tubuhmu agar bisa menampung segala hal yang ingin kulakukan padamu di masa depan. Aku tidak mau istriku rusak hanya karena aku sedikit lebih bersemangat, bukan?"

Dante bangkit berdiri, merapikan kemejanya. Ia menatap Alana yang masih meringkuk lemah dengan tatapan yang sulit diartikan—ada campuran antara gairah yang belum tuntas dan rasa kepemilikan yang sangat dalam.

"Hari ini, aku akan memberi instruksi pada Valerie untuk meliburkan latihanmu. Kau punya waktu dua belas jam untuk memulihkan tenagamu di atas ranjang ini," ucap Dante sambil menyambar jam tangan mewahnya. "Tapi jangan berpikir kau bisa bersantai. Arthur akan membawakan makanan berprotein tinggi dan vitamin. Aku ingin saat aku pulang nanti malam, kau sudah cukup kuat untuk setidaknya... berlutut di depanku."

Alana terbelalak, menatap punggung lebar Dante yang kini berjalan menuju pintu. "Dante! Kau tidak serius, kan? Aku benar-benar tidak bisa!"

Dante berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit dengan tatapan biru esnya yang tajam. "Kau tahu aku tidak pernah bercanda tentang apa yang aku inginkan dari tubuhmu, Alana. Beristirahatlah dengan baik. Gunakan waktu ini untuk merindukan sentuhanku, karena malam nanti... aku tidak akan selembut semalam."

Brak.

Pintu tertutup dengan bunyi yang solid, meninggalkan Alana dalam keheningan kamar yang luas. Ia menghela napas panjang, air mata lelah hampir jatuh di sudut matanya. Ia merasa seperti boneka yang sedang dipahat ulang; perlahan tapi pasti, Dante sedang menghancurkan jati diri lamanya dan membangun sosok baru yang hanya berfungsi untuk memuaskan sang Predator Volkov.

Di bawah selimut sutra itu, Alana menyentuh perut bawahnya yang masih terasa berdenyut hangat. Ia tidak menyadari bahwa di luar sana, musuh-musuh Dante—termasuk Julian Vane—sedang mengintai, mencari celah pada sang predator yang kini tampak begitu terlena dengan mawar kecilnya yang baru saja ia "patahkan" di atas ranjang.

***

Sekitar satu jam setelah kepergian Dante, ketukan pelan dan berirama terdengar di pintu kamar. Alana, yang masih bergelung di balik selimut dengan tubuh yang terasa remuk, hanya mampu bergumam lirih mengizinkan masuk.

Arthur melangkah masuk dengan nampan perak berisi menu sarapan yang jauh lebih berat dari biasanya: daging steak wagyu yang dipotong kecil-kecil, telur apung, jus bit segar, dan berbagai suplemen cair. Aroma makanan itu memenuhi ruangan, namun Alana hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

"Tuan Dante berpesan agar Anda menghabiskan semuanya, Nyonya," ucap Arthur lembut sambil meletakkan nampan di meja lipat di atas ranjang Alana.

Arthur memperhatikan bagaimana Alana meringis kesakitan saat mencoba sedikit bergeser untuk duduk. Mata pria tua itu menangkap jejak kemerahan di leher dan tulang selangka Alana yang tidak tertutup selimut. Sebagai orang yang telah mengabdi pada keluarga Volkov selama puluhan tahun, ia tahu persis apa yang terjadi di kamar ini semalam.

"Aku tidak lapar, Arthur... tubuhku hanya ingin tidur selamanya," bisik Alana lemah.

Arthur terdiam sejenak, lalu ia menarik kursi dan duduk di dekat ranjang—sebuah tindakan yang jarang ia lakukan jika tidak ada hal penting. "Nyonya, bolehkah saya bicara jujur sebagai orang yang telah melihat Tuan Dante tumbuh?"

Alana menoleh perlahan, menatap mata bijak Arthur. "Katakanlah."

"Tuan Dante... dia adalah pria yang tidak pernah memiliki apa pun yang ia cintai tanpa harus menghancurkannya terlebih dahulu," Arthur memulai dengan suara rendah, seolah takut dinding kamar ini memiliki telinga. "Di dunia yang ia tinggali, memiliki perasaan adalah kelemahan. Jadi, ketika ia mulai terobsesi pada Anda, ia tidak tahu cara mengungkapkannya selain dengan mendominasi dan mengendalikan Anda sepenuhnya."

Alana tertegun. "Tapi ini menyiksaku, Arthur. Dia memperlakukanku seperti properti, bukan manusia."

"Benar," Arthur mengangguk kecil. "Itulah sebabnya Anda harus belajar cara 'menjinakkan' badai itu. Jika Anda terus melawan dengan kekerasan, ia akan membalas dengan kekuatan yang lebih besar. Sifat obsesif pria seperti Tuan Dante adalah seperti api; jika Anda menyiramnya dengan bensin, ia akan membakar Anda. Namun, jika Anda belajar mengikuti alurnya, Anda bisa mengarahkannya."

Arthur mencondongkan tubuh sedikit. "Jangan biarkan dia merasa Anda ingin lari. Semakin Anda terlihat ingin pergi, semakin ia akan merantai Anda. Berikan dia 'kemenangan' yang ia inginkan di tempat tidur atau di meja makan, namun simpanlah pikiran Anda tetap jernih. Tuan Dante butuh merasa bahwa ia telah memiliki Anda seutuhnya agar ia bisa sedikit melonggarkan cengkeramannya."

Nasihat itu terasa seperti racun sekaligus obat bagi Alana. Arthur sedang memintanya untuk bersandiwara, untuk berpura-pura tunduk agar ia bisa bertahan hidup.

"Dia pria yang sangat kesepian di puncak kekuasaannya, Nyonya. Dan Anda adalah satu-satunya hal yang murni dalam hidupnya yang kotor," lanjut Arthur sambil berdiri. "Makanlah. Anda butuh kekuatan fisik untuk menghadapi apa yang akan datang. Karena di luar sana, musuh-musuh Tuan sudah mulai menyadari bahwa sang Predator kini memiliki jantung yang berdetak di luar tubuhnya—yaitu Anda."

Arthur membungkuk hormat dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. "Dan satu hal lagi... Tuan Dante sangat membenci rahasia. Jika suatu saat Anda menemukan sesuatu yang mengancam Anda, bicaralah padanya. Dia lebih suka menghancurkan dunia untuk Anda daripada melihat Anda menyembunyikan sesuatu darinya."

Setelah Arthur pergi, Alana terdiam menatap makanan di depannya. Kata-kata Arthur terngiang di telinganya. Menjinakkan badai. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menjadi Alana yang polos dan pasif. Jika ia ingin selamat di dalam sangkar emas ini, ia harus belajar bermain dalam permainan gila suaminya.

Alana mengambil sendoknya dan mulai makan, meski setiap suapan terasa berat. Ia harus kuat. Bukan hanya untuk memuaskan gairah Dante nanti malam, tapi untuk memastikan ia tetap hidup saat badai yang lebih besar—yang diperingatkan Arthur—benar-benar datang menerjang.

1
Anonymous
👍👍👍
Trimuntari Darwin
jd ikut2an horni thorr
luv-buqswiins
ini terlalu gilaa buat di baca 🤭
Trimuntari Darwin
ya ampun segitunya seorang predator mau mlm pertama. kek cacing kepanasan
Trimuntari Darwin
dasar bocil blmn tau dia enakke koyo opo
Anonymous
a
Bunda silvia
Sama kaya bosku sering aq titipin beli pembalut 😄😄
Nurul
hadir thor
Yusmaniar
cerita nya menarik, Tpi ending gk pas.
karena tak seperti yg di harap kan. tidak bahagia TPI kesedihan.
MOMSAFIFA
Ceritany bagus tp ga happy ending😢
arienta fitriani
yaahhh
kok sad end sehhh ..GK asikk ahh otornya.../Whimper/
nyeseell pwoll bacanya /Brokenheart/
MOMSAFIFA
Mampir lagi... 😍
Meysia Meyy
cerita nya bagus, awal nya bikin greget akhirnya mewek juga
Asih Prawawati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣...
mrs. IR
hampa bgt endingnya. sma kayak perasaan dante
Liesdiana Malindu
biasanya sebelum membaca, saya baca sinopsis dulu, baru baca ulasan, setelah itu baru di putuskan mau lanjut baca atau tidak, untuk cerita ini saya Tdk melakukan itu Krn sebelum nya sudah baca cerita pertama author g menurut saya bagus. pas sampai part 19 , sya iseng lompat ke part akhir dan waw,, ternyata sad ending, terpaksa bacanya di akhiri, Krn sya tipe orang yg suka yg happy2 apapun alasannya, meskipun di dunia nyata tidak melulu bahagia itu di dapat, pasti ada sedihnya, begitu pun dgn cerita halu, tapi yaaaa,,,,mau gimana lagi, wong saya org Tdk tegaan, makanya sukanya yg happy ending aja. utk author,, semangat nulisnya, next cerita selanjutnya sesuai dgn keinginan AQ 😄💪.
Ruk Mini
nyebelin kau thor..masa end si mm sm debay y..aq sdh mewek" sdh Bahagia..eee sedih lgi, ga Hppy ending donk😭😭😭, kira in ada keajaiban..ternyata slh prediksi, y ah suka" kau lh thor, but tq bgt sgt bgs🙏👍👍👍
Ruk Mini
cerdasss, yok bini Mafia hrs tangguh nenk
Ruk Mini
tambah seruuuuu
Ruk Mini
tuh udh ade benih" ksh syg sm buah hati bank💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!