Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Brak!
Alan menggebrak meja makan cukup keras, membuat semua orang tersentak. Ia yang diam sejak awal, tiba-tiba naik pitam mendengar permintaan Shopia. Suasana berubah menjadi tegang, senyum dan tawa canda yang menghiasi acara makan malam lenyap begitu saja.
"Kau harus tahu batasanmu, Shopia! Jangan keterlaluan!" tegurnya pelan, tapi penuh dengan penekanan.
Shopia mengkerut di lengan ibu angkatnya. Garis wajah yang sumringah berganti ketegangan dan ketakutan. Untuk seumur hidup, Alan baru pertama kali benar-benar marah kepadanya. Ethan dan ayahnya pun terperangah dengan sikap tiba-tiba Alan.
"Bu ... kenapa Kakak tiba-tiba marah?" adu Shopia dengan lirih dan bergetar. Ia kira masih menjadi adik kesayangan di hati Alan, sang pewaris keluarga Haysa.
Nyonya Haysa menepuk-nepuk lengan Shopia, menenangkan gadis itu. Lalu, ia menatap putra sulungnya dengan kesal.
"Ada apa denganmu, Alan? Kenapa kau membentak Shopia? Kau menakutinya," tukas sang ibu tak senang.
Shopia menangis sesenggukan di pelukan sang ibu, ia tak berani menatap sepasang mata Alan yang tajam menghujam.
"Kak, kenapa tiba-tiba kau marah seperti itu? Shopia hanya mengajukan permintaan, kau tidak perlu sekeras itu kepadanya," tambah Ethan ikut membela Shopia.
"Kau keterlaluan, Alan! Bukankah dia telah dirugikan di sini? Kenapa kau marah? Kau membuatku kesal." Wanita tua itu pun turut berbicara, hanya Tuan Haysa yang terdiam gelisah dan bimbang.
"Apa kalian lupa? Villa itu peninggalan nenek untuk Hana. Sesuatu yang berharga yang dia miliki. Shopia meminta villa itu sebagai kompensasi itu sungguh keterlaluan! Dia sudah melewati batas, dan kalian terus membelanya. Kau sudah merebut tunangannya sekarang kau mau merebut warisan yang ditinggalkan nenek untuk Hana! Aku curiga selama ini benarkah Hana yang berbuat jahat kepadamu, ataukah sebaliknya?" geram Alan melirik Shopia dengan tajam seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Semua orang terlihat gugup, Tuan Falcon dapat membaca situasi yang sedang terjadi di meja makan itu. Semua orang membela Shopia dan mengucilkan Hana.
"Tidak, Kakak! Sungguh, aku tidak melakukan itu. Aku tidak tahu jika villa itu peninggalan nenek untuk Hana. Jika aku tahu, aku tidak akan memintanya. Aku ... aku tidak menginginkannya lagi. Sungguh! Tolong, jangan marah seperti itu kepadaku, Kak," ucap Shopia terisak-isak mencari pembelaan.
"Alan, kenapa kau berbicara seperti itu? Bukankah kita melihat sendiri bagaimana Shopia tumbuh. Dia tumbuh di bawah pengawasan kita semua. Bagaimana Shopia ... kita yang lebih tahu," ujar sang ibu tetap membela Shopia.
Alan mengepalkan tangan, rahangnya ikut mengeras. Muak dengan sikap lemah Shopia yang hanya bisa menangis dan mengadu menyalahkan Hana.
"Kakak dengar? Shopia bahkan tidak tahu jika itu peninggalan nenek untuknya. Sudahlah, jangan marah seperti itu. Lagi pula hanya sebuah villa, apa salahnya memberikan itu kepada Shopia? Kita bisa membelikan Hana rumah baru yang lebih besar, bukan?" ujar Ethan tanpa rasa bersalah sama sekali.
Plak!
Alan menampar wajah Ethan dengan sangat keras hingga terjungkal dari kursi. Semua orang terperanjat, Nyonya Haysa bergegas membantu anaknya untuk bangkit.
"Kak! Kau ...!" Ethan tak dapat berkata-kata saat mata Alan menatap tajam padanya.
Jika Alan marah maka semua fasilitas bisa ditarik dan ia tak bisa bersenang-senang lagi.
"Jika kau tidak mengerti apa-apa, tutup mulutmu!" hardik Alan tidak main-main.
"Alan, kau sudah keterlaluan!" bentak sang ibu tak membuat Alan merasa bersalah.
"Kau boleh meminta apapun, tapi jangan harap bisa mendapatkan villa itu! Jika kau berani memaksa Ayah dan Ibu untuk memberimu villa itu, maka aku tidak akan segan mengusirmu dari keluarga Haysa!" ancam Alan seraya memukul meja sebelum berbalik dan pergi meninggalkan ruang makan itu.
Tuan Falcon diam menilai, ia bahkan mencegah sang istri yang hendak ikut campur dalam perdebatan itu. Beruntung, Evan mengerti tatapannya sehingga menahan diri untuk tidak membuka mulut.
"Sungguh keterlaluan! Dia sampai berani memukul saudaranya hanya demi membela gadis desa itu!" kesal Nenek.
"Nyonya Tua Haysa, bukankah gadis desa itu adalah cucu kandungmu yang sebenarnya?" sarkas Tuan Falcon membuat wanita tua di sana tertegun malu.
"Aku hanya mengakui Shopia sebagai cucuku," katanya seraya memalingkan wajah.
Tuan Falcon tersenyum sinis, semakin tahu bagaimana karakter keluarga Haysa.
"Seharusnya aku tidak meminta villa itu. Seharusnya aku lebih tahu diri, aku hanyalah anak angkat. Aku ... semua ini salahku. Jika aku tidak meminta sembarangan, kak Alan tidak akan memukul Kak Ethan, maafkan aku," ucap Shopia menangis dengan kepala tertunduk.
Tuan Haysa menghela napas panjang, melirik Ethan yang mengusap-usap pipinya yang memerah. Melirik Shopia yang menangis sesenggukan.
"Sudah, jangan menangis. Ayah akan berusaha mendapatkan villa itu untukmu," ucap Tuan Haysa selepas Alan pergi.
"Iya, Hana pasti mau mendengarkan Ayah. Jangan menangis lagi," tambah sang ibu membuat Shopia merasa menjadi pemenang.
Prok-prok-prok!
Tuan Falcon bertepuk tangan seraya berdiri dari kursi. Semua orang menoleh, mengernyit melihat sikap sang besan.
"Kalian sungguh luar biasa! Aku tidak menyangka keluarga terhormat seperti kalian bisa melakukan ini. Lebih menyayangi anak angkat dari pada anak kandung sendiri. Sungguh luar biasa! Aku tidak bisa berlama-lama berada di dalam keluarga seperti ini!" ujar Tuan Falcon seraya menarik tangan sang istri untuk pergi.
"Pulang!" Matanya melotot saat bertatapan dengan Evan.
Eh?
Kepergian mereka sungguh tak dapat dicegah.
Hana, tunggu saja! Karena dirimu kak Alan marah besar kepadaku. Aku tidak akan memaafkanmu!
Shopia mengancam di dalam hati. Matanya memancarkan dendam yang membara.
hai jalang gk tau diri lo