Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Sakit
Sementara itu di sebuah rumah sakit. Bibi Erma yang semakin mengkhawatirkan kondisi anaknya. Segera membawa Sarah ke rumah sakit.
Sore itu ruang periksa poli umum cukup tenang. Bau antiseptik tipis bercampur suara pendingin ruangan yang mendesing pelan. Sarah duduk di tepi ranjang periksa, wajahnya pucat, kedua tangannya saling menggenggam. Bibi Erma berdiri di sampingnya, tak lepas menatap wajah anaknya dengan cemas.
Dokter yang bertugas di dalam ruangan itu membuka data diri yang sudah diisi oleh perawat jaga yang ada di luar ruangan sebelumnya.
Dokter mengangguk, lalu menatap Sarah lebih saksama.
"Keluhannya apa yang paling terasa?"
Sarah sempat diam, seperti menimbang-nimbang jawaban.
"Sering pusing, mual juga. Badan rasanya lemas, dan kadang dada juga sesak!"
"Sudah berapa lama?" tanya dokter itu dengan ekspresi wajah lebih serius.
"Beberapa hari ini." jawab Sarah. Bibi Erma yang mendampingi Sarah juga terus memperhatikan.
Dokter mencatat. Ia lalu bertanya tentang pola makan, jam tidur, dan aktivitas. Ketika ditanya soal makan, Sarah terlihat ragu.
"Makannya teratur?" tanya dokter itu.
Sarah tidak langsung menjawab. Bibi Erma lebih dulu menyela,
"Akhir-akhir ini memang sering telat makan, Dok!" jawab bibi Erma.
Masalah Rafa saja, sudah membuat anaknya itu menjadi lebih kurus. Di tambah, sekarang Fandi juga sudah mulai tidak perduli pada Sarah. Makin tidak berselera saja Sarah mau makan.
Dokter mengangguk kecil. Dalam hati ia mencatat kemungkinan gangguan lambung ringan atau kelelahan.
"Baik, sekarang saya periksa dulu ya."
Ia mencuci tangan, lalu mendekat. Termometer ditempelkan, tensimeter dililitkan di lengan Sarah. Bunyi velcro terdengar jelas di ruangan yang hening.
"Coba rileks, jangan tegang," ujar dokter saat memompa alat pengukur tekanan darah.
Sarah menarik napas dalam, tapi bahunya tetap terlihat kaku.
Dokter membaca hasilnya.
"Tekanan darahnya sedikit rendah, tapi masih batas wajar."
Ia kemudian memeriksa pupil mata dengan senter kecil.
"Lihat ke arah saya… iya, bagus. Sekarang ke atas."
Sarah mengikuti instruksi dengan patuh.
Stetoskop ditempelkan ke dada dan punggungnya.
"Tarik napas dalam, tahan… keluarkan perlahan."
Suara napas Sarah terdengar bersih. Tidak ada bunyi tambahan yang mencurigakan. Dokter juga menekan perlahan bagian perutnya.
"Di sini sakit?" tanya dokter itu.
"Sedikit, Dok," jawab Sarah sambil meringis tipis.
"Bagian ulu hati ya. Sering perih?" tanya dokter itu lagi.
Sarah mengangguk pelan.
Dokter kemudian kembali duduk di kursinya. Ia menyilangkan jari di atas meja, memandang Sarah dengan ekspresi lebih serius namun tetap hangat.
"Dari pemeriksaan fisik, tidak ada tanda penyakit serius," jelasnya.
Ia mengatakan bahwa jantung, paru, dan tekanan darah Sarah relatif baik.
"Keluhannya lebih mengarah ke kelelahan, pola makan tidak teratur, dan bisa juga karena banyak pikiran." jelas dokter itu.
Sarah langsung menunduk. Bibi Erma yang mengangguk perlahan. Karena sejak awal dia juga merasa bahwa anaknya itu pasti kebanyakan pikiran.
Dokter menangkap perubahan ekspresi itu. "Akhir-akhir ini ada masalah yang cukup membebani?" tanya dokter itu dengan pelan.
Sarah cepat-cepat menggeleng.
"Nggak ada, Dok. Cuma capek aja."
Nada suaranya terdengar terlalu cepat, seolah ingin menutup pembicaraan.
Dokter tidak memaksa, tapi ia tahu sering kali keluhan fisik pada usia muda berkaitan dengan stres. Ia lalu menyarankan langkah lanjutan.
"Untuk memastikan, saya sarankan untuk melakukan tes darah dan pemeriksaan radiologi sederhana. Bukan karena saya curiga ada yang berat, tapi supaya kita benar-benar yakin."
Bibi Erma terlihat cemas.
"Radiologi itu rontgen ya, Dok?"
"Iya, rontgen dada saja. Dan tes darah untuk lihat kadar hemoglobin, gula darah, dan fungsi dasar tubuh." sahut dokter itu dengan cepat.
Sarah langsung mengangkat wajahnya. "Nggak usah, Dok. Saya cuma minta obat aja. Nanti juga sembuh." katanya yang memang tidak ingin membuat dia punya khawatir dengan melakukan tes-tes seperti itu.
Dokter menatapnya beberapa detik. Ia melihat ketegangan di mata gadis itu, bukan sekadar takut jarum, tapi seperti ingin segera pergi dari tempat itu. Tapi, sebagai seorang dokter dia tidak punya kewajiban untuk mengharuskan.
Karena dari tanda-tanda fisik juga bukan kriteria orang yang memiliki penyakit yang cukup serius. Karena memang, cara kerja racun yang diberikan secara perlahan lebih mematikan sebenarnya daripada racun yang diberikan secara langsung dalam jumlah tertentu.
Karena racun yang diberikan dalam jumlah tertentu dan langsung akan terdeteksi dengan cepat. Sementara racun yang diberikan secara perlahan dengan dosis yang begitu kecil, akan menyatu di dalam aliran darah. Dan juga tidak melalui serangkaian tes dan pemeriksaan menyeluruh, tidak akan ketahuan.
Bibi Erma tampak bimbang. Tapi, setahu dan seingat bibi Erma, anaknya itu memang tidak memiliki riwayat penyakit serius sejak kecil. Maka dia juga tidak bisa memaksa Sarah untuk melakukan serangkaian tes yang disarankan oleh dokter yang memeriksanya itu.
Dokter akhirnya mengambil jalan tengah. Ia menjelaskan risiko dan manfaat dengan tenang. Ia mengatakan bahwa jika dalam beberapa hari keluhan tidak membaik, pusing bertambah, muntah hebat, atau demam, maka pemeriksaan lanjutan wajib dilakukan.
"Untuk sementara saya beri obat lambung, vitamin, dan obat anti-mual ringan," ujarnya sambil menulis resep.
Sarah mengangguk cepat.
"Tapi pola makan harus diperbaiki. Tiga kali sehari, jangan ditunda. Istirahat cukup."
"Iya dok!"
Dokter itu menatap Sarah lagi.
"Dan kalau memang ada yang mengganggu pikiranmu, jangan dipendam sendiri. Terkadang segala penyakit itu awalnya memang dari pikiran. Cobalah untuk berkonsultasi kepada yang lebih paham!"
Sarah hanya mengangguk pelan.
Dalam hati, dokter menyimpulkan bahwa kondisi fisik Sarah tidak mengkhawatirkan, namun beban mentalnya tampak jelas.
Bibi Erma menerima resep dengan perasaan setengah lega, setengah ragu.
Sebelum keluar, dokter kembali mengingatkan,
"Kalau tiga hari tidak membaik, langsung kembali. Jangan tunggu parah."
"Iya, Dok. Terima kasih," jawab Bibi Erma.
Sarah berdiri perlahan. Wajahnya masih pucat, tapi ada keinginan kuat untuk segera pulang.
"Ibu akan ambil resep dulu, kamu mau ikut atau tunggu di sini?" tanya bibi Erma pada Sarah.
"Aku tunggu di sini saja Bu!" kata Sarah yang tubuhnya cukup lemas.
Jadi, ia memilih untuk menunggu di ruang tunggu yang ada dekat lift.
"Ya sudah, jangan kemana-mana ya. Ibu ambil resep dulu!"
Bibi Erma meninggalkan Sarah. Sarah duduk dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi besi di samping lift sambil memejamkan mata.
Ting
Suara pintu lift terbuka,
"Mas, kalau ternyata aku hamil, bagaimana?"
"Bagaimana apanya? aku sudah bilang padamu jangan sampai hamil kan?"
Sarah membuka matanya, dia mengenali suara itu.
***
Bersambung...
Harusnya kau rehat sejenak, ambil waktu sebanyak mungkin, itu yg kau butuhkan untuk saat ini..
Bukan ujug² memutuskan untuk mengundurkan diri..
Meninggalkan Ratih, wanita yang sangat kau cintai..
Sampai hati bila kau memilih pergi meninggalkan Rafa, anak biologis mu sendiri..
Setiap kesalahan masih bisa di perbaiki..
Namun penyesalan akan kau ingat sampai mati..
Bila kau menyia²kan kesempatan untuk mendapatkan Ratih kembali..
Ben, moga bisa kau fikirkan hal ini.. 😊
Sarah mu itu sudah cinta buta..
Hingga tak mampu menggunakan logika nya..
Hanya mengandalkan perasaan, yg membuat nya terlihat bodoh di mata pria..
Bagai 💩, begitu jatuh ke sungai, langsung nganyut mengikuti arus air nya..
Meskipun itu membahayakan dirinya..
Asalkan ganteng, dan di manfaatkan doang tak masalah baginya.. 😁
Kalau gak kepo, berarti tetangga introvert namanya..
Kalau gak ingin di sapa, ya tinggal di kuburan saja kalian berdua..
Kan sepi tuh di sana.. 🤭
Memberikan ide pada Fandi untuk menjual Sarah pada lelaki buaya..
Yakin cuma jadi teman minum & cium² saja..?
Sepertinya tidak, pasti Sarah di suruh melayani nya juga.. 🤭
Kira² apa yang terjadi di bab selanjutnya yaa..?
Yukk ahh., Kita lanjutkan baca bab berikutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Mereka harus banyak mengalah..
Harus minta maaf, walaupun pada wanita nya tak ada salah..
Agar amarah wanita tak makin parah..
Sebab ego wanita tak bisa di balas dengan amarah..
Cukup dengar omelan nya, minta maaf, peluk dia dan jangan kembali kamu berbuat ulah.. 😁
Udah lah lu mokondo.. Hidup sudah nyaman, justru main perempuan..
Itu kan Wong Edyan namanya..
Sekarang jadi penyesalan.. Terlambat.. ! 😏
Orang seperti mu pun tak layak untuk di pertahankan Ratih..
Karena selain gak becus dalam pekerjaan, lu juga gak tipe lelaki yg gak bisa di andalkan.. Jadi, sudah sepantasnya kau di campakkan..🤣🤣
Rafa anak Ratih bukan anakmu 🤭