SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANGKAT TANGAN
Sakti sampai rumah menjelang dhuhur, rumahnya sepi dan mobil Sasa tidak ada digarasi. Sakti pun langsung mengirim pesan kepada sang istri, tanpa menjawab pesan Sasa tadi malam.
Kamu di mana? Sakti menunggu balasan pun dengan menunaikan sholat dhuhur terlebih dulu, dan menata oleh-oleh yang dibawa dari piknik. Sang mama membawakan Sakti jamur kancing, dan jamur kuping, wortel serta brokoli, tak lupa strawberry yang besar dan manis, serta melon oranye yang wangi dan manis. Sakti menghela nafas berat, melihat oleh-oleh yang disiapkan mamanya untuk Sakti dan Sasa, secara tidak langsung mama Sakti mulai menaruh perhatian pada Sasa, sebagai calon menantunya. Sakti sadar kalau mama berusaha adil pada Iswa dan Sasa.
"Maaf, Ma. Sakti belum bisa membimbing Sasa sebaik Iswa," ujar Sakti sembari mencuci stawberry dan memotong melon tersebut lalu dimasukkan ke dalam lemari es. Melihat ponselnya lagi, masih tak ada kabar dari sang istri, justru ia mendapat pesan dari Mutiara.
Di mana kamu Sakti? Aku baru saja selesai diskusi dengan istri kamu. Tentu saja pesan Mutiara membuat Sakti bingung, karena jadwal konsultasi mereka masih minggu depan, apa mungkin Sasa yang inisiatif konsul pada Mutiara di luar jadwal. Entahlah.
Di rumah. Sasa masih sama kamu? Begitu Sakti membalas pesan Mutiara, dan tak lama Mutiara menelepon Sakti.
"Dia sepertinya kekeh ingin pisah, Sak. Aku mencoba membantu untuk bertahan lagi, memperbaiki lagi, sepertinya dia enggan."
Terdengar Sakti menghela nafas berat, "Aku juga sudah capek, Ti. Rasanya berat banget, usahaku untuk meyakinkan Sasa bahwa keluargaku bisa baik sama dia. Kemudian hubunganku dengan Iswa hanya sebatas ipar saja. Aku berkali-kali bilang, aku tak mungkin mengambil posisi Kaisar karena aku tahu Iswa hanya cinta sama Kaisar, Ti. Semakin hari aku juga muak dengan sikap Sasa yang ingin dimengerti tapi gak mau mengerti keadaan aku."
"Iya, Sak. Aku tahu. Latar belakang Sasa yang sejak dulu dipaksa harus hidup mandiri tentu tak mau dikendalikan orang lain, termasuk kamu. Dia saja bisa hidup sendiri, tanpa ada yang kekang, begitu istilahnya. Cuma kembali lagi kepada kalian bagaimana menjalani pernikahan ini. Sekarang aku tanya kamu masih cinta sama Sasa?"
Sakti terdiam. Cinta? Sejak putus dengan Andin dulu, Sakti bingung mengartikan cinta itu seperti apa. Bersama Sasa saja diawali dengan kerja bareng, menilai kinerjanya dan termasuk tubuh Sasa hingga dia kelewat batas sebelum menikah. Tapi soal cinta yang membuat hati berdebar, ingin bertemu dan takut kehilangan sepertinya Sakti sudah tidak merasakan itu? Setiap masuk rumah, Sakti selalu berat dan berpikir jangan sampai bertengkar.
Mungkin karena keseringan bertengkar, memudarkan rasa yang awalnya menggebu menjadi biasa saja. "Sakti?" tegur Mutiara.
"Hem? Cinta ya? Gimana ya, Ti. Aku sudah tidak merasakan semangat bila di dekat Sasa, hambar saja!" ucap Sakti tanpa tahu bahwa Sasa mendengarnya.
Sasa terpaku di belakang tembok sekat antara dapur dan ruang tengah. Sasa datang dan niatnya ingin ke dapur ingin meletakkan roti dan aneka dimsum. Ternyata langkahnya terhenti setelah mendengar pengakuan sang suami. Ia tersenyum kecut. Semakin sakit saat Sakti membandingkan dengan keluarga lagi.
"Sejak aku kehilangan Kaisar, aku berpikir kok aku tega ya menjauh dari keluarga demi membela Sasa saat itu. Padahal selama ini yang menemaniku keluarga, tapi aku berusaha menjaga perasaan Sasa. Aku juga berharap Sasa dekat dengan keluargaku, tapi dia selalu tak mau. Sampai aku berpikir sikapnya Sasa seolah menyuruhku memilih dirinya atau keluargaku."
Air mata spontan turun di pipi Sasa. Semakin jelas kalau Sakti sudah tak berharap banyak padanya. Sasa masih berdiri saja di situ ingin tahu perasaan Sakti lebih dalam, Sasa yakin yang meneleponnya sekarang adalah Mutiara.
"Kalau dengan Iswa?" tanya Mutiara.
"Iswa? Dia hanya adik iparku, Ti. Gak lebih, dan aku dari dulu gak ada niatan untuk merebut Iswa dari Kaisar. Apalagi saat ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Iswa tidak membuka hati untuk pria lain, termasuk untukku. Ya kali, aku memaksa dia, gak mungkin dan aku juga gak mau. Emang Sasa saja yang berlebihan menanggapi kehadiran Iswa dalam keluargaku."
Sasa menggeleng kuat, di belakang dirinya Sakti bisa selancar ini memberikan komentar, tapi saat berhadapan dengannya Sakti seolah diam, dan tidak terjadi apa-apa. Sasa tidak tahu apa yang diucapkan Mutiara, yang jelas Sakti hanya bilang.
"Iya makasih sarannya, Ti. Akan aku usahakan, tapi kalau dia kekeh ingin pisah, aku juga gak mau mengekangnya lagi. Kasihan kalau dia terlalu overthinking, dan kemungkinan aku akan mengabulkan permintaannya," ucap Sakti yang membuat Sasa bertekad hari ini sudah ada keputusan untuk pernikahannya.
Sampai Mutiara mengakhiri teleponnya, Sakti tak sadar kalau Sasa mendengar semua pembicaraannya. Sasa pun mengusap air matanya dan langsung masuk dapur begitu saja. Tanpa menyapa langsung ambil piring begitu saja.
"Begitu sikap kamu sama suami, tanpa salam tak perlu menyapa, langsung ngeloyor begitu saja!" sindir Sakti tak suka dengan sikap Sasa yang semakin cuek begini.
"Aku hanya mengimbangi sikap kamu, kalau kamu cuek ya aku bakal cuek, gitu aja kok repot!" balas Sasa jutek.
"Mengimbangi? Kalau kamu mau mengimbangi sikapku, harusnya kamu juga mengimbangi usahaku buat mendekatkan kamu dengan keluargaku!" Sakti serasa punya kekuatan untuk membahas kelanjutan pernikahannya, sesuai saran Mutiara, harus segera dikomunikasikan agar overthinking Sasa mereda. Namun, solusi Mutiara dijalankan Sakti dengan nada yang tak enak, sehingga membuat Sasa semakin menyolot.
"Keluarga keluarga terus! Kenapa sih kamu menuntut aku harus beradaptasi dengan keluarga kamu. Kita menikah gak perlu keluarga juga bisa kan?"
"Hidup kamu yang tanpa keluarga memang gampang ngomong kayak gitu, tapi tidak dengan aku. Bagiku aku bisa sukses begini karena orang tuaku, dan kamu tidak bisa merasakannya!" kesalahan Sakti fatal, ucapannya seolah menunjukkan bahwa hidup Sasa salah karena tak punya keluarga yang harmonis.
"Kamu terlalu egois dan keras kepala, karena kamu merasa mampu hidup sendiri!" lanjut Sakti semakin membuat Sasa memejamkan mata, terlalu sakit mendengar ucapan suami sendiri. Orang yang diharapkan Sasa bisa menopang hidupnya, menciptakan kebahagiaan yang tak pernah diperoleh Sasa justru ikut menyumbang sakit hati Sasa.
"Memang lebih baik kita pisah. Sudah tidak ada harapan lagi untuk memperbaiki pernikahan ini," ujar Sasa sembari menatap Sakti tajam.
"Oke, akan aku kabulkan permintaan kamu sejak dulu yang ingin pisah sama aku. Kita sepakati siapa yang akan mendaftarkan gugatan itu?" tantang Sakti, Sasa menggelengkan kepala sepertinya ia tak siap juga kalau dibuang Sakti secepat ini, tak menyangka kalau permintaan pisah yang selama ini dilontarkan akhirnya disetujui Sakti.
"Kita pisah rumah, kalau sampai bulan depan kamu masih ngotot ingin bercerai, maka aku yang akan mendaftarkan gugatannya!" ucap Sakti langsung pergi begitu saja membiarkan Sasa sendiri. Ia akan pulang ke rumah orang tuanya. Capek.
eh kok g enak y manggil nya