Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Arlan Mahendra benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Surat gugatan cerai yang tergeletak di meja kerjanya seolah-olah menjadi bom waktu yang siap meluluhlantakkan sisa-sisa kewarasannya.
Sejak menerima panggilan sidang itu, fokusnya di kantor hancur total. Ia membatalkan pertemuan dengan klien, mengabaikan laporan dari tim keuangan, dan lebih banyak menghabiskan waktu di bar pribadi ruang kerjanya.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat Hana. Bukan Hana yang dulu menunduk patuh sambil menyodorkan dasi, melainkan Hana yang berdiri di podium Gavriel Corp dengan tatapan tajam dan penuh kuasa.
Perasaan kehilangan itu kini bermutasi menjadi obsesi yang berbahaya. Ia mulai melakukan berbagai cara untuk mencegat langkah hukum Hana.
"Cari tahu siapa pengacara Hana!" perintah Arlan pada Dani melalui telepon dengan suara serak. "Sogok dia, tekan dia, atau lakukan apapun supaya berkas itu tidak sampai ke meja hakim. Aku tidak akan membiarkan perceraian ini terjadi!"
Namun, jawaban Dani di seberang sana justru menambah luka di harga dirinya. "Ar, pengacara Hana adalah tim legal terbaik dari firma hukum yang berafiliasi dengan Gavriel. Mereka tidak bisa disuap, dan mereka punya bukti kuat soal perselingkuhanmu. Strategi terbaik kita sekarang adalah mediasi, Ar. Bukan konfrontasi."
"Persetan dengan mediasi! Dia harus kembali ke rumah ini!" bentak Arlan sebelum membanting ponselnya ke atas meja.
~~
Kegelisahan Arlan tidak berhenti di kantor. Malam itu, saat ia pulang ke rumah, suasana terasa begitu dingin meski lampu-lampu mewah menyala terang.
Ibu Mira sudah masuk ke kamarnya lebih awal, menyisakan Maura yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Maura sudah menyiapkan senyum manis, mencoba meredakan ketegangan yang menyelimuti suaminya. Ia tahu Arlan sedang stres, dan ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi pendamping yang lebih menyenangkan daripada Hana.
"Mas, kamu sudah pulang? Aku sudah minta Bi Inah masak sup iga kesukaanmu. Makan ya? Aku temani," ucap Maura lembut sambil mendekati Arlan yang baru saja melempar jasnya sembarangan ke sofa.
Arlan tidak menatap Maura. Matanya menyisir ruang keluarga, lalu ia bergumam tanpa sadar, "Hana... di mana vas bunga lili yang biasanya ada di pojok itu? Kenapa ruangan ini jadi terasa sangat asing?"
Gerakan tangan Maura yang hendak menyentuh lengan Arlan terhenti di udara. Wajahnya berubah kaku. "Mas... bunga lili itu sudah aku ganti dengan mawar merah dua minggu lalu. Hana sudah tidak ada di sini, Mas. Berhenti mencari barang-barang yang dia urus."
Arlan seolah tidak mendengar. Ia berjalan menuju dapur, membuka lemari penyimpanan vitamin. "Hana biasanya menaruh vitamin lambungku di rak kedua sebelah kanan. Kenapa sekarang semuanya berantakan?"
"Mas Arlan!" suara Maura meninggi, mulai kehilangan kesabaran. "Aku yang menata ulang semuanya supaya lebih modern! Berhenti menyebut namanya!"
Arlan berbalik, menatap Maura dengan pandangan kosong yang mengerikan. "Kau tidak mengerti, Maura. Hana tahu segalanya tentang aku. Kau bahkan tidak tahu kapan aku butuh air putih hangat di pagi hari tanpa harus diminta."
Puncaknya terjadi saat makan malam. Keheningan yang janggal menyelimuti meja makan. Arlan hanya mengaduk-aduk makanannya dengan wajah muram.
Pikirannya melayang pada momen makan malam mereka bersama Adrian semalam, bagaimana Hana tampak begitu dilindungi dan dihargai oleh pria lain.
"Mas, besok kita ada jadwal cek kandungan ke dokter. Kamu bisa kan mengantar aku?" tanya Maura mencoba mencari perhatian.
Arlan mendesah pendek, matanya masih terpaku pada piringnya. "Hana dulu selalu pergi sendiri kalau periksa kesehatan, dia tidak pernah menuntutku hal-hal kecil seperti ini. Dia tahu aku sibuk."
Braaak ...!
Maura menggebrak meja makan dengan kedua tangannya. Ia berdiri dengan napas memburu, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Cukup, Mas Arlan! Cukup!" teriak Maura histeris. "Aku sudah muak! Sejak aku masuk ke rumah ini, yang kudengar hanyalah 'Hana begini, Hana begitu'. Aku ini istrimu! Aku sedang mengandung anakmu! Kenapa setiap detik yang kau bahas hanyalah wanita mandul yang sudah mencampakkanmu itu?!"
Arlan mendongak, matanya berkilat marah karena Maura menyebut Hana mandul. "Jaga bicaramu, Maura!"
"Kenapa?! Itu kenyataannya kan?!" Maura melangkah mendekati Arlan dengan emosi yang meledak-ledak. "Kau terus-menerus memikirkannya, kau memuja-mujanya sekarang setelah dia pergi dengan pria lain. Kau memperlakukan aku seolah aku ini sampah yang hanya numpang di rumahmu!"
Maura menunjuk ke arah pintu utama. "Kalau kau memang sebegitu terobsesinya pada Hana, cari dia! Kejar dia di bawah kaki Adrian Gavriel! Tapi jangan harap aku akan tetap di sini!"
"Maura, duduk!" perintah Arlan.
"Tidak! Aku bersumpah, Mas," ucap Maura dengan nada bergetar namun penuh ancaman. "Sekali lagi kau menyebut nama Hana saat kau bersamaku, atau sekali lagi kau membandingkan aku dengan dia... aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan membawa anak ini pergi dan kau tidak akan pernah melihat kami lagi! Biarkan kau sendirian membusuk di rumah ini dengan bayang-bayang Hana yang bahkan tidak mau melihat wajahmu lagi!"
Arlan terdiam. Ancaman Maura soal anak adalah satu-satunya hal yang bisa menahannya saat ini. Namun di dalam lubuk hatinya, sebuah kebenaran pahit mulai muncul, ia tidak merindukan Hana sebagai istri, ia merindukan kenyamanan yang Hana berikan.
Dan ia membenci kenyataan bahwa kenyamanan itu kini telah berpindah tangan ke musuh bebuyutannya.
Maura berlari menaiki tangga sambil terisak keras, meninggalkan Arlan sendirian di ruang makan yang dingin. Arlan menuangkan segelas whisky, menenggaknya hingga tandas, lalu berbisik pelan pada kegelapan di depannya.
"Kau tidak akan bisa pergi begitu saja, Hana. Jika aku tidak bisa memilikimu, tidak akan ada orang lain yang boleh memilikimu. Termasuk Adrian."
Di tempat lain, di apartemennya yang tenang, Hana sedang memeriksa berkas sidang bersama Adrian. Ia tidak tahu bahwa kegilaan mantan suaminya kini telah mencapai puncaknya, dan sebuah rencana licik sedang disusun Arlan untuk menjatuhkannya di sidang pertama nanti.
...----------------...
Next Episode ....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.