Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Herman
"To.... tolong... Ja...ngan apa-apakan aku, Aning. Bu...bukan aku otak di balik semua ini!" Suara Herman bergetar hebat, kontras dengan penampilannya yang biasanya mengintimidasi. Selama ini, Herman adalah penguasa jalanan Desa Kalung Ganu. Tubuhnya yang tegap dibungkus jaket kulit usang, dengan bekas luka di pelipis yang menjadi simbol keberaniannya dalam berbagai bentrokan antar-pemuda.
Di desa itu, tatapan matanya yang gahar sanggup membungkam nyali siapapun yang berani berpapasan dengannya. Ia dikenal sebagai preman yang tidak punya rasa takut, sosok yang lebih memilih adu jotos daripada bicara. Namun malam ini, di depan sosok Aning, aura beringas itu luruh tak bersisa.
Dari kejauhan Aning terlihat berdiri. Dia tak berwujud hantu seram. Tapi, dia berwujud sebagai sosoknya yang cantik. Seperti saat dia masih hidup dan bernafas sebagai manusia. Namun, penampakan itu justru membuat lutut Herman lemas hingga ia tersungkur ke tanah. Napasnya memburu, tersengal-sengal di sela isak tangis yang memalukan bagi pria sepertinya. Harga dirinya sebagai pemuda paling ditakuti di desa seolah menguap, berganti dengan insting bertahan hidup yang menyedihkan. Ia terus merangkak mundur, mencoba menjauh dari bayang-bayang Aning yang kini terasa jauh lebih mengancam daripada senjata tajam mana pun yang pernah ia hadapi.
"Tolong... Lepaskan aku." Ucapnya dengan tubuh gemetar.
Arwah Aning yang tadinya diam, kini berubah menyunggingkan senyum menyeramkan. Sepersekian detik kemudian. Aning sudah tepat di depan wajah Herman.
"Terlambat! Nyawa bayar nyawa! Hutangmu harus kau lunasi!" Ujar Aning
Senyum cantik di bibir Aning perlahan melebar, melampaui batas wajar hingga sudut mulutnya seolah robek menyentuh telinga.
Dalam sekejap mata, keindahan itu luruh layaknya kulit yang mengelupas paksa. Wajah ayunya berubah menjadi pemandangan paling mengerikan yang pernah dilihat Herman. Kulit wajah Aning kini dipenuhi bekas sayatan dalam yang masih menganga, persis seperti saat jasadnya ditemukan.
Cairan hitam kental merembes dari luka-luka itu, membawa aroma busuk bangkai yang menyengat hingga membuat Herman mual.
Yang paling mengerikan, dari bekas sayatan yang membusuk itu, keluar belatung putih yang menggeliat, jatuh satu per satu.
Herman, si preman pemberani, anak jalanan yang biasanya tak gentar menghadapi siapapun, katanya, kini benar-benar kehilangan sisa harga dirinya. Matanya melotot, tubuhnya kaku, dan rasa dingin yang luar biasa menjalar dari selangkangannya. Cairan hangat merembes membasahi celana jinsnya, ia terkencing di celana karena ketakutan yang teramat sangat. Nyalinya hancur berkeping-keping.
"A...ampun Aning. Ampuni aku.." rintih Herman, suaranya tercekik di pangkal tenggorokan. Namun, permohonan itu hanya dibalas dengan lengkingan tawa dari Aning.
"Terlambat!!!" jerit arwah Aning. Suaranya bergema, membawa hawa dingin yang membekukan darah. Dengan gerakan secepat kilat, tangan pucat Aning mencengkeram leher Herman. Kuku-kukunya yang hitam dan tajam amblas masuk ke dalam daging, mengoyak kulit leher sang preman hingga darah segar menyembur.
Tubuh tegap Herman terangkat ke udara seolah tak berbobot. Ia meronta-ronta, kakinya menendang angin dalam keputusasaan yang sia-sia. Matanya melotot hampir keluar, menatap ngeri pada belatung yang mulai merayap dari tangan Aning ke dalam luka di lehernya sendiri.
Krek!!!
Bunyi patahan tulang yang mengerikan memecah kesunyian malam. Aning tidak hanya memutar, tapi memulas leher Herman hingga kepala pria itu menghadap ke punggung dengan sudut yang mustahil. Herman meregang nyawa dalam posisi yang sangat mengerikan, matanya yang membeku menatap lurus ke arah dosa-dosa yang ia tinggalkan di belakang, tanpa sedikit pun pengampunan dari Aning.
"Ayo cepat! Sepertinya suara tadi dari pematang sawah!" seru Jaka lantang. Cahaya senter di tangannya membelah kegelapan malam, menyorot liar ke arah rimbunnya padi yang bergoyang tertiup angin. Udin dan Pak Warsito berlari kencang di belakangnya.
Pak Warsito, yang usianya tak lagi muda, tampak kepayahan. Dadanya terasa sesak, napasnya tersengal-sengal mencoba mengimbangi langkah lebar kedua pemuda itu. Firasat buruk menggelayuti pikirannya saat bau busuk bangkai tiba-tiba menyengat indra penciuman mereka. Langkah Jaka mendadak terhenti, senternya terpaku pada satu titik di depan sana.
"Pak, sepertinya di depan ada orang yang terbaring!" ujar Jaka. Tangannya mengarahkan sorot senter tepat ke sebuah gundukan gelap di antara batang padi yang rebah.
Pak Warsito, Jaka dan Udin mendekat. Alangkah kagetnya mereka saat mendapat jika orang yang terbaring di tanah itu dengan kondisi yang tidak wajar.
Pak Warsito, yang paling tua diantara mereka memberanikan diri mendekat untuk membalikkan tubuh itu, agar wajahnya terlihat.
Krek...
Saat membalik tubuh itu bunyi gesekan tulang yang patah terdengar jelas saat tubuh itu terlentang. Jaka dan Udin seketika memekik tertahan. Di bawah sorotan senter yang bergoyang liar, terpampanglah wajah Herman, sang preman gahar yang kini pucat pasi dengan mata melotot tanpa nyawa.
Udin yang berada di baris paling depan seketika kehilangan tenaga. Matanya membelalak ngeri melihat wajah Herman yang membiru. Lututnya melemas, gemetar hebat hingga ia jatuh terduduk di tanah yang becek.
"Astaghfirullah..." Jaka bergumam lirih, suaranya bergetar hebat saat cahaya senternya menyapu leher Herman yang terpilin layaknya kain diperas. otot-otot leher yang mencuat dan tulang yang patah menembus kulit menjadi bukti kekejaman yang tak terbayangkan.
Sementara itu, Pak Warsito hanya terpaku membisu. Tak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulut tuanya, namun rahangnya mengeras dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa takut dan keterkejutan.
Tiba-tiba, angin malam berembus pelan, membawa aroma busuk yang menusuk di jasad Herman.
Membuat mereka semakin heran. Kematian Herman sepertinya baru beberapa menit lalu. Tapi kenapa mayatnya sudah berbau busuk yang menyengat.
"Udin.. cepat, kabari para pria yang lain. Dan minta mereka menghubungi polisi, aku dan Jaka akan menunggu disini." Ucap Pak Warsito setelah dia sadar dari keterkejutannya.
"Ba... baik, Pak," jawab Udin terbata-bata. Tanpa menunggu perintah lagi, dia langsung berbalik dan lari tunggang langgang menembus gelapnya pematang sawah. Meski kakinya gemetar hebat dan berkali-kali nyaris tersandung akar serta tanah becek, ketakutan yang mencekam memberinya kekuatan untuk terus berlari sekencang mungkin agar cepat bisa mengabari warga yang lain.
Di tengah kegelapan pematang sawah yang hanya diterangi sorot senter yang meredup, Jaka berdiri mematung. Matanya sebisa mungkin menghindari jasad Herman yang kepalanya terpilin ke belakang, namun bayangan mengerikan itu seolah melekat di matanya.
"Pak.. apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Jaka yang tak bisa mencerna kejadian itu dengan benar.
Pak Warsito menghela napas berat, karena dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Jaka hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Sorot senternya kini tak sengaja menyinari bekas cairan di celana Herman, si preman yang bongkak, tewas dalam kondisi yang menghancurkan martabatnya. Bekas air kencing yang membasahi celana jins mayat itu menjadi saksi bisu betapa hancurnya mental sang preman sebelum nyawanya direnggut paksa