NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Coba Coba Dekati

Jakarta pagi itu tampak berbeda. Matahari bersinar tanpa amarah, dan meski jalanan tetap macet, kemacetannya seperti napas biasa kota—bukan serangan. Dewa mengantar ibu dian seperti biasa ke kampus dengan motor bututnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia mendengar tawa kecil dari boncengannya.

"Jakarta ini, Bu," kata Dewa sambil menahan motor di lampu merah Monas. "Macetnya kayak penyakit kronis. Nggak ada obatnya, cuma bisa dikelola."

Dian tertawa pelan di balik helem muncul begitu saja—seperti air yang menemukan celah di bebatuan kering.

"Kamu ini," katanya ketika motor berhenti di parkiran fakultas. "Bisa aja."

" Ya Bu, maunya orang orang di kota Jakarta pergi ke kantor naik sepeda atau andong."

"Apa lagi sih, Ga, itu sama aja kembali ke zaman batu."

Dewa ikut tersenyum. "Yang penting Ibu bisa diantar walau naik sepeda motor butut."

"Gak pa - pa, Ga, mau naik apa pun juga saya senang" Ia melepas helmnya. Rambutnya berantakan tertiup angin pagi, tapi wajahnya—Dewa memperhatikan—terlihat lebih ringan. Seperti beban bertahun-tahun mulai mengelupas sedikit demi sedikit.

Namun sebelum berbalik, Dian menatapnya dalam, menembus lapisan biasa-biasa saja.

"Dewa… surat balasan untuk Arif sudah saya kirim tadi pagi."

Dewa menegang, tangannya berhenti sejenak mematikan kunci kontak"Oh… gitu, Bu."

Ia mengangguk kecil. "Lewat pos. Biar formal." Ia tersenyum tipis, tapi ada sesuatu di matanya—kelegaan yang ditutupi ketegangan. "Saya hanya menulis… terima kasih atas tawarannya. Tapi saya nggak butuh bantuan. Dan saya meminta dia berhenti menghubungi"

Laki laki itu hanya diam, dua perasaan bertabrakan seperti gelombang yang tidak saling mengenal di dadanya. Lega—karena Dian benar-benar memilih. Takut—karena ia tahu, orang seperti Arif tidak terbiasa dengan kata "tidak."

"Bu… Ibu yakin?" tanyanya pelan, suaranya hampir tenggelam di antara deru motor yang lewat.

Dian menghela napas panjang. Matanya menatap gedung fakultas di depan, seolah-olah melihat sesuatu yang jauh di balik dinding beton itu. "Sudah lima belas tahun, Dewa."

Suasana hening sejenak, sebuah mobil melintas, membawa kebisingan yang tiba-tiba terasa asing.

"Cukup," kata Dian. Satu kata yang berat, mengandung keputusasaan dan pembebasan dalam waktu yang sama.

Ia berbalik. "Jam sepuluh ke ruangan saya, ada berkas yang harus kamu urutkan."

Dewa mengangguk. "Iya, Bu."

Perempuan itu berjalan masuk, langkahnya lebih cepat dari biasanya, seolah-olah mengejar sesuatu atau melarikan diri dari sesuatu.

Dewa masih berdiri di parkiran menatap punggungnya yang semakin mengecil.

Entah kenapa, hatinya tidak tenang mendengar dentuman jauh sebelum badai benar-benar tiba.

---

Pukul 10.00

Ruangan Dian berbau kertas dan kopi dingin. Dewa mengetuk pintu lebih pelan dari biasanya—seolah-olah takut membangunkan singa tidur.

"Masuk."

Ia duduk di balik meja kerja dengan sebuah amplop cokelat tebal, bukan surat—berkas. Tapi cara dia memegangnya, seolah amplop itu bisa meledak

"Ini, Dewa." Ia menyodorkannya. "Berkas akreditasi prodi. Tolong urutkan sesuai tahun."

"Siap, Bu."

Tapi ia tidak melepas. Jari-jarinya masih menahan sudut amplop, dan matanya—Dewa melihatnya sekarang—menatapnya mencari-cari.

"Dewa…"

"Iya, Bu?"

"Kamu nggak nanya apa-apa soal surat balasan saya"

Laki laki itu terdiam bisa saja bertanya, tapi ada batas yang tidak boleh diinjak, garis tipis antara kepedulian dan mengusik.

"Saya nggak mau ikut campur urusan pribadi Ibu," jawabnya hati-hati, setiap kata dipertimbangkan.

Dian tersenyum tipis seperti mengenali sesuatu. "Kamu selalu bilang begitu, tapi kamu selalu ada."

Dewa salah tingkah. Jantungnya berdegup lebih cepat. "P… pekerjaan dulu, Bu?"

Ia menunjuk kursi di depan meja. "Duduk lah ."

Kursi terasa hangat, seolah-olah baru saja ditinggalkan seseorang

"Saya mengirim surat itu tadi pagi," katanya pelan turun satu oktaf. "Isinya… saya minta dia berhenti." Ia menarik napas, dan Dewa melihat bahunya naik-turun dengan beban yang tidak terlihat. "Saya sudah move on."

Dewa tidak berkata apa-apa karena tidak ada kata yang cukup.

"Dia mungkin marah atau kecewa." Ia menatap keluar jendela. Langit Jakarta terlihat abu-abu seperti lukisan yang belum selesai. "Tapi aku nggak peduli, aku nggak mau lagi hidup di masa lalu."

Dewa melihat seorang wanita yang selama ini ia kenal sebagai dosen tegas, berjarak, kini terbuka seperti buku yang siap dibaca.

"Bu… itu keputusan yang berani," ia benar-benar memikirkannya.

"Berani?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena banyak orang lebih memilih lari dari masa lalu. Tapi Ibu… memilih menghadapinya."

Mata perempuan itu melebar sedikit, baru saja melihat sesuatu yang tidak pernah disadarinya sebelumnya."Dewa… kamu tahu nggak… kamu itu—" Ia berhenti. Bibirnya masih terbuka, kata-kata tergantung di ujung lidah.

Tapi ia menahannya, sesuatu melintas di wajahnya—keraguan, mungkin, atau kesadaran akan waktu dan tempat.

"Bu?"

Ia menggeleng, cepat, hampir panik. "Nggak apa-apa." suaranya kembali normal—terlalu normal. "Kerja dulu."

Dewa mengangguk, sepanjang mengurutkan berkas-berkas itu, tangan bergerak mekanis, pikirannya terus kembali ke satu pertanyaan:

Apa yang tadi hampir dikatakan Ibu Dian?

---

Pukul 13.00

Kantin kampus bising seperti biasa. Meja mereka—Dewa, Roby, Rina, Joko, dan Budi—terlihat seperti rapat darurat yang tidak diakui universitas.

Rina meletakkan botol air membuka diskusi. "Oke, tim. Update terkini: surat sudah terkirim. Sekarang kita tunggu reaksi."

Budi mengunyah ayam goreng ekspresi lelah sebelum perang dimulai. "Reaksi kayak gimana?"

Rani mengangkat bahu. "Entah. Tapi kita harus siap."

"Siap gimana? Kita cuma mahasiswa," Joko mengernyit, suaranya terdengar lebih kecil dari biasanya di tengah keramaian kantin.

Rina menunjuk mereka satu-satu, jarinya seperti pena yang mencoret nama-nama di daftar. "Kita bisa pantau! Lapor! Support!"

Budi tertawa, tapi tidak ada suara yang keluar

Roby yang sejak tadi diam—menatap piring seolah-olah ada jawaban di sana—akhirnya bicara. "Gue mikirnya begini…"

Semua menoleh.

"Arif itu tipe menurut gue orang yang nggak suka kalah," lanjut Roby menusuk. "Lima belas tahun lalu dia ninggalin Ibu Dian. Sekarang dia balik kepalanya mungkin… Ibu pasti masih nunggu."

Rina mengangguk, lambat. "Terus?"

"Terus dia ditolak membuat orang kalap."

Meja mendadak sunyi. Suara kantin—tawa, benturan piring, teriakan penjual datang dari dunia lain

"Maksud lo… dia bisa ngapa-ngapain?"tanya Rina pelan.

Roby mengangkat bahu. "Gue nggak tahu." Ia berhenti, mencari kata-kata yang tepat. "Tapi orang yang kehilangan miliknya… bisa saja melakukan hal bodoh."

Joko langsung mengangkat ponselnya, layarnya menyala terang di wajahnya. "Gue siap."

Budi mengerutkan dahi. "Siap apa?"

"Gue instal aplikasi keamanan."

"Aplikasi apa?"

"Buat rekam kalau ada apa-apa."

Budi tertawa, tapi kali ini lebih pendek, lebih cepat. "Lo jadi agen rahasia, Jo?"

Joko mengangkat dagu, tapi Dewa melihat tangannya sedikit gemetar. "Bukan. Tapi lebih baik sedia payung sebelum hujan."

Rina menepuk meja, bunyi yang terlalu keras. "Joko bijak."

"Iya. Gue tahu."

Tapi Dewa melihatnya—keraguan di sudut senyumannya, ketakutan yang ditutupi dengan lelucon.

---

Pukul 15.00

Taman kampus sepi. Dewa duduk di bangku yang sama tempat ia pernah menemukan perempuan itu menangis menemukan sisa-sisa tangisan yang tidak diakui. Angin sore bertiup pelan, membawa bau tanah basah hujan.

Ia masih memikirkan kata-kata Roby. Arif bisa kalap. Lima belas tahun bukan waktu yang bisa dihapus dengan satu surat.

Ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal. Dewa menatap layar, dan sesuatu di perutnya mengetat.

Ia ragu. Tiga dering. Empat.

Lalu mengangkatnya.

"Halo?"

"Halo, Dewa."

Suara itu—dingin, terkontrol, berbahaya. Dewa langsung mengenalnya, seperti mengenal bau sebelum badai.

"Pak Arif?"

"Kamu kaget, ya?" Tawa kecil, tapi tidak ada sukacita di sana hanya pengamatan.

Dewa diam. Tubuhnya menegang, siap untuk sesuatu yang tidak ia mengerti.

"Gimana kabar?" lanjutnya santai, terlalu santai. "Masih setia jagain Dian?"

Dewa menelan ludah. "Ada perlu apa, Pak?"

Ia tertawa lagi, dan kali ini Dewa mendengarnya—kemerduan palsu yang melapisi sesuatu yang tajam. "Kamu tahu, Dewa… aku sudah lima belas tahun kenal dengan Dian."

Ia berhenti, membiarkan angka itu menggantung di udara.

"Lima belas tahun." Suaranya turun, menjadi bisikan yang hampir akrab. "Kamu baru beberapa minggu."

Dewa menggenggam ponselnya lebih erat, sampai jari-jarinya memutih.

"Aku tahu apa yang dia suka. Apa yang dia benci." Arif berhenti sejenak, dan Dewa bisa mendengarnya bergerak—mungkin berjalan, mungkin menunggu. "Aku tahu cara membuat dia bahagia."

Dewa akhirnya menjawab, suaranya lebih keras dari yang ia inginkan. "Lalu, Pak?"

"Lalu…"

Nada suara Arif berubah. Seperti kain yang tiba-tiba sobek, atau es yang retak. Tajam. Berbahaya.

"Kamu pikir kamu bisa menang? Hanya dengan anter jemput?"

Dewa mengepalkan tangan kosongnya. "Pak, saya nggak—"

"Kamu nggak usah bohong, aku lihat, aku tahu."

Beberapa detik hening. Dewa bisa mendengar detak jantungnya sendiri, atau mungkin itu suara kota yang tiba-tiba terdiam.

Lalu laki laki itu berkata pelan, dan setiap kata terasa seperti pukulan—"Tapi aku juga tahu sesuatu yang kamu sembunyikan."

Dewa membeku darahnya seperti berhenti. Dunia menyempit menjadi satu kata, satu kesalahan, satu rahasia yang ia pikir aman. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya kering, pikirannya kosong.

"Kamu pikir aku bodoh?" lanjutnya, seperti suara—kemenangan.

Dewa merasa tubuhnya lemas seperti tali yang tiba-tiba dipotong, jaring robek.

"Jadi dengar baik-baik, Nak." Nada suaranya dingin seperti pisau yang baru diasah. Setiap kata terpisah, jelas, tak terbantahkan.

"Kamu mundur, Jauh dari Dian. Atau aku...

Klik.

Telpon terputus terlalu keras di telinga Dewa.

Ponsel hampir jatuh dari tangannya menatap layar yang sudah hitam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

Arif tahu?

Dan sekarang, Dewa tidak punya apa-apa.

---

Pukul 17.00

Parkiran kampus mulai ramai dengan motor mahasiswa pulang. Dewa menunggu, bersandar di motornya, tapi pikirannya berlari ke segala arah—ke Bandung, ke masa lalu, ke kehancuran yang mungkin datang.

Arif tahu. Tiga kata yang menggema di kepalanya seperti dentang lonceng.

Pintu gedung terbuka. Dian keluar dengan langkah lebih cepat dari biasanya, wajahnya cerah—terlalu cerah, seperti seseorang yang baru saja mendapat kabar baik setelah lama tertekan.

"Dewa!" Ia melambai kecil, dan senyumnya—Dewa melihatnya dengan rasa sakit—terbuka, polos, percaya.

"Ada kabar baik!"

Dewa berusaha tersenyum. Otot-otot wajahnya menolak, tapi ia memaksa. "Apa, Bu?"

"Proposal penelitian saya diterima!" Ia berhenti tepat di depannya, matanya berbinar. "Yang ditolak tahun lalu, saya revisi berkali-kali… akhirnya lolos!"

Dewa mencoba terlihat senang. "Wah… selamat, Bu."

Tapi Dian langsung menyadarinya. Seperti radar yang tiba-tiba menangkap sinyal asing, matanya menyempit. "Kamu kenapa? Pucat."

Ia menggeleng cepat, terlalu cepat. "Nggak apa-apa, Bu. Mungkin cuma kurang tidur."

Dian menatapnya beberapa detik, curiga, tapi juga khawatir—Dewa melihat kedua emosi itu berperang di wajahnya.

Tapi ia tidak memaksa. "Pulang yuk." Ia tersenyum, tapi senyum itu lebih kecil sekarang, lebih hati-hati. "Saya traktir makan."

Dewa mengangguk. Namun sepanjang perjalanan pulang—melalui jalan yang sama, macet yang sama, tapi dunia yang sudah berbeda—ia hampir tidak bicara sama sekali.

Karena bagaimana bisa ia bicara, ketika semua yang ingin ia katakan adalah kebohongan yang akan segera terbongkar?

---

Pukul 19.00

Apartemen Anggrek terlihat sama—taman yang rapi, lampu yang hangat, pintu yang familiar. Dian turun dari motor, melepas helm dengan gerakan yang sudah menjadi rutinitas.

"Dewa."

"Iya, Bu?"

"Kamu yakin nggak apa-apa?"

Dewa mengangguk. Satu gerakan kepala yang terasa seperti pengkhianatan. "Iya, Bu. Santai."

Perempuan itu masih tidak sepenuhnya percaya—Dewa melihatnya di sudut matanya, keraguan yang belum terjawab. "Kalau ada apa-apa… kamu cerita ya."

Dewa tersenyum tipis. Satu senyum lagi untuk koleksi kebohongannya. "Iya, Bu."

Ia masuk. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang final.

Dewa masih berdiri di sana. Menatap pintu yang sudah tertutup, membayangkan apa yang ada di baliknya—kehangatan yang tidak lagi menjadi haknya, kepercayaan yang akan segera hancur.

Lalu ia membuka ponselnya. Chat dengan Roby. Jari-jarinya gemetar sedikit saat mengetik.

> Dewa: By… gue di ujung tanduk.

Balasan datang cepat. Terlalu cepat, seolah-olah Roby sudah menunggu.

> Roby: Ada apa, bro?

Dewa mengetik perlahan. Setiap huruf terasa berat.

> Dewa: Arif sepertinya tahu.

Beberapa detik. Kemudian—

> Roby: …

GILA.

Dewa menatap layar. Tiga titik-titik yang berarti segalanya, dan satu kata yang tidak cukup.

Karena yang Roby tidak tahu—yang tidak bisa diketik dalam chat—adalah bahwa ini bukan lagi soal menang atau kalah. Ini soal kehilangan segalanya.

---

1
D_wiwied
sayang Dewa apa kekayaannya?? dasar cewek licik bin matre
D_wiwied
loe sendiri msh perawan ga Sha,, bertanya dg nada selembut dering hp nokia jadul 🤭🤭
D_wiwied
Si tepung bumbu ini tipe oportunis, deketin Dewa lg krn tau kalo Dewa anak org kaya.. nyesel kan kau sekarang sha, sukuriiiin 😆🤣
ALWINDO BM
yes
Ddie: terimakasih sobatku 🙏
total 1 replies
D_wiwied
jauh banget ya jarak antara apartemen dg kampus, berangkat jam 6 pagi nyampe kampus jam 7.30 ga pegal tu pulang pergi tiap hari 🤭😆😁
Ddie: Itulah mba Wid ...kampus ibu Dian itu di planet mars, tapi demi ayang biby ...jarak tidak terasa hehe
Trims mba Wid koreksinya...emang benar...satu jam setengah...kalau author mungkin udah capek duluan 😄😄🙏
total 1 replies
D_wiwied
yg masih jd tanda tanya, kenapa bisa tiba-tiba sekonyong-konyong Sasha tepung bumbu pindah ke kampusnya Dewa, siapa yg nyuruh.. apakah pak dekan ato si mantan 🤔🤔
D_wiwied: kakk.. mlh ngajak berteka teki 😁
total 2 replies
D_wiwied
rasanya spt belum ditembak tp udah ditolak duluan ya Wa 🤭😆
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja
Ddie: Dewa takut kalau rahasia cincin nya tertukar mba..apa yng terjadi kalau Ibu dosen tahu cincin itu untuk Sasha
total 3 replies
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!