NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Pagi itu, Los Angeles diselimuti kabut tipis yang malas, seolah-olah semesta mendukung suasana hati Leonor Kaia yang berantakan. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 08.45 pagi. Dia benar-benar terlambat. Setelah begadang hingga jam 4 pagi untuk menyelesaikan sketsa anatomi tekstil yang rumit, Leonor baru tertidur saat fajar menyingsing.

Di dalam bus kota yang pengap dan berguncang, Leonor tidak tampak seperti gadis manis yang mengenakan dress pemberian Aurora kemarin. Hari ini, sisi pemberontaknya mengambil alih.

Dia mengenakan kaos crop hitam ketat yang memperlihatkan sedikit garis perutnya yang rata, dipadukan dengan celana cargo lebar berwarna abu-abu yang menggantung rendah di pinggul. Rambut hitam panjangnya yang biasanya tertata rapi kini dibiarkan acak-acakan, hanya dicepol asal dengan beberapa helai yang jatuh membingkai wajahnya yang pucat namun terlihat tajam.

Lingkaran hitam tipis di bawah matanya tidak disembunyikan dengan concealer. Justru, itu menambah kesan aku tidak peduli yang sangat kuat. Leonor duduk di kursi belakang bus, menyumbat telinganya dengan earphone, memejamkan mata, dan sama sekali tidak peduli pada pandangan orang-orang di sekitarnya.

Saat bus berhenti di halte depan kampus, Leonor turun dengan langkah malas namun angkuh. Dia tidak berlari meskipun kelas sudah dimulai lima belas menit yang lalu. Tas kanvas besar yang berisi peralatan desainnya disampirkan di bahu dengan ceroboh.

Di gerbang kampus, parade mobil mewah para pewaris baru saja selesai. Biasanya, Leonor akan menunduk atau berjalan cepat menghindari tatapan mereka. Tapi hari ini, dia berjalan tepat di tengah jalur utama dengan wajah datar.

Di kejauhan, di depan gedung fakultas bisnis yang megah, kelompok "The Untouchables" sedang berkumpul. Ada Ethan yang sedang bersandar di mobilnya, dan tentu saja, Edgar Castiel Martinez. Pria itu sedang menyesap kopi dari cangkir kertas mahal, tampak seperti model katalog dengan kemeja putih yang disetrika sempurna.

Kelompok itu menyadari kehadiran Leonor. Sosoknya yang mencolok dengan pakaian grunge dan aura dingin itu sulit untuk diabaikan.

"Lihat itu, si desainer miskin sepertinya habis mabuk semalam," bisik salah satu teman Ethan dengan tawa meremehkan.

Leonor melewati mereka. Dia tidak menoleh. Dia tidak melirik ke arah Lamborghini hitam Edgar. Dia tidak mencari keberadaan Ethan. Matanya tertuju lurus ke depan, seolah-olah kerumunan orang kaya itu hanyalah sekumpulan tiang listrik yang tidak bernyawa.

Edgar Martinez merasa ada yang aneh. Biasanya, dia adalah matahari, semua orang akan berputar mengelilinginya, entah itu karena kagum atau takut. Tapi gadis ini, Leonor—berjalan melewatinya seolah-olah dia adalah partikel debu yang tidak terlihat.

Ego Edgar terusik. Dia mengingat sumpah gila yang dibisikkan Leonor kemarin.

"Hey, Leonor!" suara Edgar menggelegar, menghentikan langkah beberapa mahasiswa di sekitar mereka.

Leonor tidak berhenti. Dia terus berjalan.

Edgar mendengus, lalu sedikit berlari kecil untuk menyusulnya. Dia berjalan di samping Leonor, menyesuaikan langkah kakinya yang panjang dengan langkah malas gadis itu.

"Apa kau tidak mendengar suaraku?" tanya Edgar dengan nada menuntut.

Leonor akhirnya berhenti. Dia melepas satu earphone-nya, menoleh perlahan dengan kelopak mata yang turun setengah, menatap Edgar dengan tatapan paling bosan yang pernah Edgar lihat seumur hidupnya.

"Aku mendengar gonggongan, tapi aku tidak tahu itu kau," jawab Leonor singkat.

Teman-teman Edgar yang menonton dari jauh menarik napas serentak. Ethan tampak pucat melihat keberanian kakaknya.

Edgar tertawa kecil, tawa yang meremehkan namun penuh rasa penasaran.

Dia memperhatikan penampilan Leonor yang berantakan hari ini. Tatapannya jatuh pada perut Leonor yang sedikit terekspos, lalu naik ke rambutnya yang acak-acakan.

"Penampilan yang menarik untuk seseorang yang bersumpah akan membuatku bertekuk lutut," Edgar mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan yang provokatif. "Jadi, bagaimana? Apa kau sudah memikirkan cara untuk membuatku mencintaimu hari ini? Apa tidur jam 4 pagimu itu bagian dari rencana rayuanmu?"

Leonor menatap Edgar dalam-dalam. Di matanya, pria ini tidak lagi terlihat seperti dewa yang ditakuti. Dia hanya terlihat seperti seorang pria dewasa yang haus akan validasi karena terlalu banyak uang dan terlalu sedikit tantangan dalam hidup.

Leonor menarik napas panjang, lalu mengembuskannya tepat di wajah Edgar.

"Dasar alay," ucap Leonor datar.

Edgar tertegun. Senyum miring di wajahnya membeku. "Apa kau bilang?"

"Alay," ulang Leonor, kali ini dengan penekanan yang lebih jelas.

"Kau terlalu banyak gaya, Edgar. Kau pikir dunia ini berputar di sekitar kancing kemejamu? Kau pikir setiap wanita yang bernapas di kampus ini sedang menyusun strategi untuk mendapatkan perhatianmu?"

Leonor memasang kembali earphone-nya.

"Aku begadang karena aku punya karya yang harus diselesaikan. Sesuatu yang nyata, bukan sekadar memindahkan angka di layar komputer seperti yang kau lakukan. Jadi, tolong menyingkirlah. Kau menghalangi jalanku menuju masa depan yang tidak melibatkan namamu."

Tanpa menunggu reaksi, Leonor kembali berjalan. Dia meninggalkan Edgar yang berdiri mematung di tengah koridor.

Di belakang mereka, tawa teman-teman Edgar yang tadinya riuh tiba-tiba senyap. Mereka tidak pernah melihat Edgar Martinez dikatai alay atau diabaikan secara total. Kata-kata Leonor tadi tidak terdengar seperti teriakan marah, tapi terdengar seperti pernyataan fakta yang sangat merendahkan.

Edgar mengepalkan tangannya di samping tubuh. Alay? Dia? Pewaris tunggal MTZ Group? Pria paling diinginkan di kota ini baru saja disebut norak dan berlebihan oleh seorang gadis tanpa marga yang memakai baju crop dan celana gombrang?

Rasa sakit hati yang aneh mulai menyusup ke dalam dada Edgar. Itu bukan rasa sakit hati karena cinta, tapi karena egonya yang setinggi langit baru saja ditusuk oleh jarum kecil milik Leonor.

Leonor berjalan menjauh, tidak sekalipun menoleh ke belakang. Dia merasakan detak jantungnya yang cepat, namun ada kepuasan yang luar biasa. Dia menyadari satu hal: cara terbaik untuk menghancurkan orang seperti Edgar bukanlah dengan menangis atau berteriak, melainkan dengan menganggapnya tidak ada.

Saat dia masuk ke ruang kelas desainnya yang tenang, Leonor duduk di pojok ruangan. Dia meletakkan tasnya dan bersandar. Dia tahu, mulai hari ini, permainan sebenarnya telah dimulai. Dia telah melempar umpan berupa pengabaian, dan dia tahu pria sekompetitif Edgar Martinez tidak akan membiarkan penghinaan ini berlalu begitu saja.

"Tertawalah selagi bisa, Edgar," gumam Leonor sambil membuka buku sketsanya. "Karena sebentar lagi, kau yang akan mengejarku hanya untuk bertanya kenapa aku tidak memandangmu."

Di luar, Edgar masih berdiri di tempat yang sama, menatap punggung Leonor yang menghilang di balik pintu gedung desain. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Edgar Martinez tidak merasa seperti sang penguasa. Dia merasa seperti seorang penonton yang baru saja diusir dari pertunjukannya sendiri.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ica Warnita
aku sukak ini penulisan karakter alur dan nama nama toko sesuai klop. mantap👍👍👍
Nasi Goreng
Luar biasa
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!