Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sendiri lagi
Malam itu apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di ruang tengah, Arka menata kopernya dengan rapi. Semua sudah siap—pakaian, berkas kerja, laptop. Dua jam lagi penerbangannya akan berangkat. Gerakannya tenang, terukur, seperti seseorang yang terbiasa pergi tanpa perlu banyak perasaan ikut campur. Setidaknya… itu yang selalu ia yakini.
Sementara itu, di kamar seberang, Lara mondar-mandir di depan pintu. Langkahnya kecil, gelisah. Ia berhenti, menarik napas, lalu berjalan lagi. Dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas—atau mungkin sebabnya terlalu jelas.
Ia tahu Arka akan pergi. Dan Perasaan itu kembali,rasa takut dan gelisah,serta cemas yang bercampur jadi satu.
Lara memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri. Ini hanya perjalanan dinas, bukan perpisahan. Arka akan kembali. Ia akan kembali. Lara mengulang kalimat itu di kepalanya seperti mantra.
“Lara.”
Suara Arka memanggilnya dari luar kamar.
Lara tersentak kecil, lalu membuka pintu. Arka sudah berdiri di sana, rapi dengan outfit terbangnya—sederhana tapi memancarkan wibawa. Di sampingnya sebuah koper ukuran sedang, siap dibawa pergi.
“Paman mau berangkat sekarang?” tanya Lara pelan.
Arka mengangguk. “Iya. Supaya nggak terburu-buru.”
Lara melangkah mendekat. Ada jeda singkat sebelum ia berkata, “Hati-hati di jalan, Paman.”
Arka mengangkat tangannya, mengusap kepala Lara dengan lembut—gerakan yang akhir-akhir ini terasa lebih sering ia lakukan, seolah tanpa sadar.
“Kamu juga. Jangan suka keluyuran nggak jelas,” katanya, setengah menegur, setengah khawatir.
Lara mengangguk kecil. “Iya.”
Namun Arka menangkap sesuatu di sorot mata Lara. Tatapan itu terlalu familiar. Ia pernah melihatnya dulu—bertahun-tahun lalu, saat ia memutuskan pergi dan meninggalkan Lara kecil dengan janji yang belum tentu bisa ditepati.
Dadanya mengencang.Ia sebenarnya tidak tega.
Arka berbalik, meraih gagang pintu. Tangannya baru saja menyentuh handel ketika tiba-tiba—
Langkah kaki kecil berlari menghampirinya.Seketika Lara memeluknya dari belakang.
Tubuh Arka menegang seketika.
“Paman…” suara Lara bergetar, nyaris seperti bisikan yang tertahan, “cepat kembali.”
Kalimat itu sederhana.
Pelukan itu singkat.
Namun rasanya seperti cambuk yang menghantam tepat ke jantung Arka.
Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menahan gelombang perasaan yang mendadak naik. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menumpangkan satu tangannya di atas lengan Lara—bukan untuk menepis, tapi untuk menenangkan.
“Iya,” jawabnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri. “Aku pasti kembali.”
Saat Lara akhirnya melepaskan pelukannya, Arka melangkah keluar dengan langkah yang sama seperti sebelumnya—tenang,dan terkontrol.
Lara masih berdiri di sana beberapa detik, menatap daun pintu berwarna cokelat itu tanpa benar-benar melihat. Hening. Terlalu hening. Padahal apartemen itu tidak pernah berubah ukuran, tapi entah kenapa sekarang terasa jauh lebih luas, lebih kosong.
“Sendiri lagi…” gumamnya lirih.
Ia melangkah masuk, lalu duduk di sofa tanpa menyalakan televisi atau lampu tambahan. Sunyi itu merambat pelan, seperti kenangan lama yang kembali mengetuk tanpa izin. Lara menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Axel:
Lagi ngapain?
Lara menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
Lara:
Lagi di apartemen. Sendirian. Paman lagi keluar kota.
Balasan Axel datang lebih cepat dari yang ia kira.
Axel:
Mau keluar bentar? Biar nggak bengong.
Lara menggigit bibirnya pelan. Tawaran itu menghangatkan, tapi bayangan Arka yang berpesan agar ia tidak keluyuran—langsung muncul di kepalanya.
Lara:
Nggak deh… aku udah janji nggak ke mana-mana.
Beberapa detik hening di layar, lalu…
Axel:
Kalau aku temenin aja?
Lara berpikir sejenak. Ia tidak ingin sendirian, tapi juga tidak ingin melanggar batas yang sudah ia buat sendiri. Akhirnya ia mengetik pelan.
Lara:
Boleh… tapi cuma di taman apartemen ya. Aku nggak enak kalau ngundang siapa pun pas paman nggak ada.
Axel:
Oke. Tunggu aku.
Lara menatap pesan itu lama, lalu meletakkan ponselnya. Ia berganti jaket tipis, merapikan rambutnya sekadarnya, lalu kembali melirik pintu apartemen sekali lagi sebelum keluar.
Lampu taman apartemen menyala temaram. Udara malam tidak terlalu dingin, tapi cukup membuat Lara menarik jaketnya sedikit lebih rapat. Ia duduk di bangku taman, menatap kolam kecil di depannya.
Tak lama kemudian, Axel muncul dengan langkah santai. Begitu melihat Lara, wajahnya langsung merekah.
“Lama nunggu?” tanyanya.
Lara menggeleng. “Baru sebentar.”
Axel duduk di sebelahnya, menjaga jarak yang sopan. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Mereka sempat terdiam, menikmati suara air dan angin malam.
“Aneh ya,” Axel akhirnya bersuara, “padahal cuma taman, tapi rasanya lebih tenang.”
Lara mengangguk pelan. “Iya… lebih enak daripada di dalam.”
Axel melirik sekilas. Lara terlihat lebih pendiam dari biasanya, sorot matanya tidak sepenuhnya kosong, tapi juga tidak benar-benar cerah.
“Pamanmu lama perginya?” tanyanya hati-hati.
“Belum tahu,” jawab Lara jujur. “Katanya cepat, tapi… aku nggak pernah tahu seberapa ‘cepat’ versinya dia.”
Axel tersenyum kecil. “Kelihatannya dia perhatian banget sama kamu.”
Lara tersenyum tipis. “Akhir-akhir ini, iya.”
Axel tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya duduk menemani, sesekali melempar candaan ringan, cerita kampus, hal-hal sepele yang biasanya membuat Lara tertawa kecil. Dan pelan-pelan, bahu Lara yang tadi tegang mulai rileks.
“Makasih ya,” ucap Lara tiba-tiba.
Axel menoleh. “Buat apa?”
“Udah datang.”
Axel tersenyum, kali ini lebih lembut. “Kadang nemenin itu nggak harus ngapa-ngapain.”
Lara terdiam, lalu mengangguk. Saat itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Mereka duduk berdampingan di bawah lampu taman, dua orang dengan perasaan yang belum berani disebut apa-apa—satu sedang mencari rasa aman, satu lagi perlahan mulai jatuh tanpa sadar.
Axel sempat terdiam, lalu pandangannya bergeser ke seberang jalan. Lampu sebuah toserba kecil menyala terang, kontras dengan taman yang temaram.
“Eh,” ucapnya sambil menunjuk dagunya ke arah sana, “di sana ada toserba. Mau beli sesuatu nggak? Biar ada teman ngemil.”
Lara mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum kecil. “Boleh. Asal nggak lama.”
Axel berdiri lebih dulu. “Tenang, aku nggak bakal nyulik.”
Lara terkekeh pelan dan ikut bangkit. Mereka menyeberang dengan langkah santai, tanpa sadar berjalan sejajar seperti sudah terbiasa.
Di dalam toserba, Axel mendorong keranjang kecil sambil celingukan. “Kamu tipe ngemil manis atau asin?”
“Manis… tapi kadang pengin asin,” jawab Lara jujur.
Axel mengangguk sok serius. “Oke, berarti kita ambil dua-duanya.”
Mereka berhenti di rak cemilan. Axel mengambil biskuit cokelat, lalu menoleh. “Ini kamu banget.”
“Kok kamu tahu?” Lara menatapnya heran.
Axel mengangkat bahu. “Feeling.”
Lara mendengus, lalu membalas dengan mengambil keripik pedas. “Kalau ini, kamu.”
Axel tertawa. “Kenapa?”
“Soalnya sok santai, tapi pedes kalau disentil.”
Axel terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya tertawa lebih lepas. “Oke, aku terima.”
Mereka juga mengambil minuman kaleng dan permen kecil, lalu membayar tanpa banyak bicara, tapi suasananya terasa… nyaman.
Di depan toserba memang tersedia beberapa bangku panjang. Mereka duduk berdampingan, membuka cemilan masing-masing. Lampu neon toko memantulkan cahaya ke wajah Lara yang kini terlihat lebih hidup.
Axel menggigit biskuitnya. “Aneh ya, ngobrol nggak jelas gini malah enak.”
“Iya,” jawab Lara sambil mengunyah pelan. “Kayak… nggak perlu mikir.”
Axel melirik Lara. Tawanya kecil, senyumnya lebih sering muncul. Tidak ada raut cemas seperti tadi.
“Kamu kelihatan lebih rileks sekarang,” ucap Axel tanpa sadar.
Lara berhenti mengunyah sejenak, lalu tersenyum tipis. “Mungkin karena nggak sendirian.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Axel terdiam sebentar. Dadanya menghangat, ada sesuatu yang bergerak pelan di sana—bukan ledakan, tapi perlahan tumbuh.
Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal absurd: dosen killer, meme aneh, jajanan yang rasanya zonk, sampai tebak-tebakan receh yang tidak jelas siapa pemenangnya. Sesekali tawa Lara pecah tanpa beban.
Dan tanpa Lara sadari, untuk beberapa saat… nama Arka tidak lagi memenuhi kepalanya.
Di dalam kabin pesawat yang lampunya mulai diredupkan, Arka menyandarkan punggungnya ke kursi. Sabuk pengaman sudah terpasang, ponselnya berada di genggaman, layar masih gelap—belum diaktifkan ke mode pesawat.
Pikirannya tidak tenang.
“Sekarang dia lagi ngapain ya…”
Arka menghela napas pelan. Ia membayangkan Lara duduk sendirian, mungkin memeluk lututnya di sofa, atau mondar-mandir tanpa tujuan seperti kebiasaannya saat gelisah. Ia tahu betul ekspresi itu—ekspresi yang sama saat Lara kecil menunggu di depan pintu dengan mata berbinar tapi rapuh.
Tangannya refleks membuka ponsel, ibu jarinya sempat menggantung di atas nama Lara.
Tapi ia mengurungkan niatnya.
“Aku baru pergi sebentar,” gumamnya lirih.
Namun kalimat itu terdengar seperti pembelaan kosong, bahkan bagi dirinya sendiri.
Arka menutup mata, mencoba beristirahat, tapi justru rasa tidak nyaman makin menekan dadanya. Ada kekhawatiran yang tidak bisa ia jelaskan—
Tak lama kemudian suara pramugari terdengar, mengingatkan penumpang untuk mematikan ponsel.
Arka menatap layar sekali lagi, lalu kemudian mengalihkan ponselnya ke mode terbang.
“Aku harap kamu baik-baik saja,” bisiknya pelan, seolah Lara bisa mendengarnya.