Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Isyarat Di Sepertiga Malam
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di setiap sudut rumah. Setelah membereskan meja makan dengan gerakan yang lambat dan membersihkan dapur hingga mengilap, Haniyah melangkah menuju kamar dengan hati yang diselimuti keraguan. Ia membuka pintu secara perlahan, melihat Haris sudah berbaring di tempat tidur dalam posisi membelakangi pintu. Suaminya tampak sudah tertidur, namun Haniyah tahu ada kegelisahan yang menggantung di udara. Nampaknya, Haris benar-benar marah atas permintaannya di meja makan tadi.
Haniyah mematikan lampu utama, menyisakan cahaya temaram dari lampu nakas. Ia membaringkan tubuhnya tepat di samping Haris, lalu dengan gerakan ragu, ia memeluk punggung lebar suaminya. Ia merapatkan wajahnya ke punggung Haris, menghirup aroma maskulin yang selalu menjadi candunya.
"Mas, maafkan Niyah. Niyah tidak bermaksud ingin membuat Mas marah. Niyah hanya merasa takut karena Mama selalu menuntut ingin memiliki cucu," bisik Haniyah dengan suara yang pecah.
Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya tumpah, membasahi kain baju tidur yang dikenakan suaminya. Haniyah terisak kecil, merasa menjadi istri yang sangat buruk karena telah melukai hati suaminya yang begitu baik. Tiba-tiba, tubuh Haris bergerak. Pria itu ternyata belum tidur. Ia membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
Haris menatap mata sembap istrinya, lalu jemarinya bergerak lembut menghapus sisa air mata di pipi Haniyah. Ia mengecup dahi Haniyah dengan penuh kasih sayang, sebuah ciuman yang sangat lama dan menenangkan.
"Mas tidak marah, Hani. Mas hanya sedih karena kamu memikirkan hal itu sendirian," ucap Haris dengan nada rendah yang sangat teduh. "Dengarkan Mas. Belum adanya anak di antara kita itu bukan karena kamu yang salah, bukan karena Mas yang salah, tapi karena Allah ingin kita menikmati masa berdua lebih lama lagi. Mungkin Allah tahu kalau kita punya anak nanti, kamu akan lebih menyayangi anak itu daripada Mas, jadi Dia memberiku waktu untuk bermanja-manja dulu denganmu."
Haniyah sedikit tersenyum mendengar candaan suaminya, meski hatinya masih terasa berat.
"Jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan Mama. Yang menjalankan rumah tangga ini adalah kita, yang menanggung nasib adalah Mas, bukan Mama. Jadi, cukup dengarkan Mas saja, mengerti?" lanjut Haris sambil mengelus pipi istrinya.
Haniyah mengangguk pelan dalam dekapan Haris.
"Sekarang, daripada kita bersedih, mari kita ambil wudhu. Kita sholat bersama agar hatimu lebih tenang," ajak Haris.
Mereka pun bangkit dan menghadap Sang Khalik dalam kesunyian malam. Haris sempat ingin mencumbui istrinya setelah sholat untuk mencairkan suasana, namun ia melihat binar di mata Haniyah masih meredup. Istrinya tampak sangat tidak bersemangat. Sebagai suami yang peka, Haris tidak ingin memaksakan keadaan. Ia akhirnya hanya memeluk Haniyah erat dan mengajaknya tidur.
Di sepertiga malam, Haniyah kembali terbangun. Hatinya masih terasa ganjil. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Di atas sajadah, ia kembali bersujud, mengadu pada pemilik nyawa. Ia teringat dengan jelas ancaman ibu mertuanya tempo hari.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Kalimat itu terngiang-ngiang seperti kutukan. Haniyah menangis dalam sujud terakhirnya. Suara tangisnya tertahan, hanya bahunya yang naik turun karena menahan sesak. Ia merasa berada di persimpangan jalan yang mustahil. Haruskah ia tetap tinggal dan melihat Haris berdosa karena membangkang ibunya, atau ia pergi agar Haris bisa memenuhi keinginan wanita yang telah melahirkannya?
Zikirnya terhenti saat ia mendengar suara langkah kaki. Haris terbangun dan melihat istrinya masih bersimpuh di atas sajadah. Tanpa banyak bicara, Haris masuk ke kamar mandi dan ikut melaksanakan sholat tahajjud di dibelakang istrinya. Setelah salam, Haris segera merapat dan memeluk tubuh Haniyah yang terasa begitu rapuh.
"Kenapa menangis lagi, Sayang?" tanya Haris lembut.
"Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa memberikan keturunan untukmu," jawab Haniyah dengan suara serak.
Haris memegang pundak Haniyah, memaksanya untuk menatap matanya. "Hani, jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Semuanya sudah ada waktunya. Jangan menangis karena takdir Allah, Sayang. Aku memilikimu saja sudah lebih dari cukup bagi dunia dan akhiratku. Anak adalah titipan, dan jika Allah belum menitipkannya, itu bukan berarti kamu gagal. Kamu adalah bidadariku, dengan atau tanpa tangisan bayi di rumah ini."
Hati Haniyah terasa seperti disiram air dingin yang sangat sejuk. Ia merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Haris yang tidak pernah menuntut. Namun, rasa syukur itu justru memperkuat niatnya untuk berkorban. Ia merasa Haris terlalu berharga untuk hidup dalam tekanan ibunya terus-menerus.
Setelah sholat subuh berjamaah, Haniyah menyuruh Haris untuk istirahat sejenak. "Mas tidur lagi saja sebentar. Mas pasti lelah. Nanti kalau sarapan sudah siap, Niyah bangunkan."
Haris mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya. Haniyah pun bergegas ke dapur. Ia memasak sarapan pagi itu dengan penuh perasaan, seolah-olah itu adalah hidangan terakhir yang ia siapkan untuk suaminya. Setelah semuanya siap di meja makan, ia membangunkan Haris dengan lembut.
Mereka sarapan bersama dalam suasana yang tampak jauh lebih tenang dari malam sebelumnya. Haris bercerita tentang pekerjaannya di kantor hari ini, sementara Haniyah mendengarkan dengan senyum yang dipaksakan. Setelah selesai, Haris berpamitan untuk berangkat kerja. Haniyah mengantarnya sampai ke depan rumah, mencium punggung tangan suaminya dengan sangat khidmat dan lama.
Ia berdiri di teras, menyaksikan mobil Haris perlahan menghilang dari pandangan. Begitu mobil itu tak lagi terlihat, pertahanan Haniyah runtuh. Ia segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponselnya dan mencari sebuah nama di daftar kontak. Ratih, sahabatnya yang bekerja sebagai seorang pengacara.
Panggilan itu tersambung pada nada ketiga.
"Halo, Ratih?" ucap Haniyah dengan suara yang dijaga agar tetap stabil.
"Iya, Hani? Tumben sekali telepon pagi-pagi. Ada apa?" sahut Ratih dari seberang sana dengan nada ceria.
Haniyah menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya yang seolah tersayat-sayat. "Ratih, aku butuh bantuanmu. Bisakah kamu membuatkan dokumen gugatan cerai untukku?"
Hening sesaat di seberang sana. Ratih seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa? Cerai? Hani, kamu bercanda, kan? Kamu dan Haris itu pasangan yang paling romantis yang aku kenal. Ada masalah apa?" tanya Ratih dengan nada terkejut dan penuh selidik.
"Aku tidak bercanda, Ratih. Aku harus melakukan ini. Tolong jangan tanya alasannya sekarang. Aku hanya butuh dokumen itu secepatnya sebelum aku berubah pikiran," jawab Haniyah dengan suara yang mulai bergetar kembali.
"Hani, pikirkan baik-baik. Cerai itu bukan perkara main-main. Kamu sangat mencintai Haris, aku tahu itu!" Ratih mencoba menasihati.
"Justru karena aku mencintainya, Ratih. Karena aku sangat mencintainya, aku harus melepaskannya agar dia bisa memiliki masa depan yang lebih baik daripada bersamaku," bisik Haniyah sebelum akhirnya ia mematikan sambungan telepon itu.
Haniyah terduduk lemas di sofa ruang tamu. Keputusannya sudah bulat. Ia akan pergi, meninggalkan segala kemanisan yang diberikan Haris, demi memberikan apa yang disebut ibunya sebagai "masa depan".
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪