Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Dompet yang Masih Ada
Aku bangun pagi dengan kepala masih cenat-cenut. Capek dari malam kemarin belum hilang sama sekali. Rasanya seperti otot-otot leher dan bahu menahan beban invisible yang nggak kelihatan, tapi terus menekan. Mata masih berat, tapi aku harus bergerak. Semua tanggung jawab menunggu.
Aku liat dompetku di tas motor. Napas aku sedikit lega. Masih ada. Dompet yang kemarin sempat bikin panik karena ketinggalan. Satu beban kecil hilang, tapi rasanya tetap campur aduk. Capek, greget, bingung. Semua numpuk.
Tara datang lebih dulu, nyalain motornya. Aku cuma duduk sebentar, tarik napas dalam-dalam. Rasanya mau meledak, tapi aku tahan. Kalau aku meledak sekarang, nggak bakal ada yang ngerti. Aku sadar itu. Aku harus jalan lagi, harus kelar semua tugas malam ini. Kami jalan pelan ke sekolah, semua terasa lambat.
Motor malam tetap bikin telinga panas karena suara mesin kecil dan angin yang nyerang muka. Aku pegang tas erat, takut dompet ketinggalan lagi. Rasanya greget banget. Capek fisik masih numpuk, kepala cenat-cenut, tapi aku harus konsen.
Sesampainya di sekolah, aku langsung masuk ke ruang penyimpanan. Dompet aku buka, liat uang dan kartu. Semua ada. Napas aku panjang banget keluar. Ada sedikit lega, tapi capek mental nggak hilang. Aku tetap harus fokus, semua harus kelar.
Aku liat Tara lagi nyusun barang-barang dari toko malam kemarin. Dia sibuk tapi santai. Aku nggak bisa santai. Rasanya aneh. Semua orang bisa santai, tapi aku nggak. Semua tanggung jawab rasanya jatuh ke aku. Aku tarik napas, tangan masih pegal karena narik tas motor tadi, kaki capek karena duduk lama di motor, kepala cenat-cenut nggak hilang.
“Eh, Naya. Semua beres, kan?” Tara nanya sambil liat aku yang masih bengong. Aku cuma angguk. Aku nggak bisa ngomong panjang.
Rasanya capek banget, tapi aku harus jalan lagi. Aku ambil snack dan minuman yang kemarin kita beli. Rasanya kayak menang kecil, tapi masih ada greget yang nempel di dada.
Aku nyusun semua barang di rak. Tenda mini, snack, minuman. Semua harus kelar malam ini. Rasanya kayak muter-muter tanpa henti, tapi aku tahan. Capek fisik, capek mental, greget, bingung. Semua bercampur. Tapi aku nggak bisa mundur. Semua harus kelar.
Setelah semuanya kelar, aku duduk sebentar di tangga ruang penyimpanan. Tarik napas dalam-dalam. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek. Tapi ada sedikit lega karena dompet masih ada. Rasanya kayak satu hal kecil berhasil, tapi semua tanggung jawab masih numpuk.
Aku liat jam. Masih terlalu pagi untuk pulang. Aku memutuskan buat bantu Tara rapihin barang-barang kecil lain. Rasanya kayak beban mental makin berat, tapi aku tahan.
Semua harus kelar. Aku nggak bisa santai. Semua orang bisa santai, tapi aku nggak.Tara nyerahin beberapa barang ke aku. Aku pegang, tapi tangan masih pegal. Kepala cenat-cenut makin terasa.
Rasanya pengin nangis, tapi aku tahan. Aku nggak boleh nangis sekarang. Semua harus kelar. Aku harus jalan lagi.
Aku liat ke arah luar jendela. Lampu jalan, orang-orang yang mulai keluar rumah, motor yang lewat. Rasanya aneh. Semua bisa jalan santai, tapi aku nggak. Semua beban kayak numpuk di pundak aku. Aku tarik napas panjang, mencoba ngerasain lega, tapi greget tetap ada.
Setelah beberapa menit, aku duduk lagi di kursi. Napas aku berat. Tangan pegal, kaki capek, kepala cenat-cenut, greget nggak hilang.
Rasanya kayak semua orang bisa santai, tapi aku nggak. Semua tanggung jawab jatuh ke aku. Rasanya pengin marah, tapi aku tahan. Aku cuma duduk, ngerasain semua capek sendiri.
Tara pamit sebentar, mau urus sesuatu. Aku duduk sendiri. Rasanya sepi, tapi nggak tenang. Capek fisik, capek mental, greget, bingung. Semua bercampur jadi satu.
Rasanya kayak kepala aku mau meledak. Aku tarik napas dalam-dalam, mencoba nenangin diri, tapi rasanya nggak bisa. Aku liat dompet lagi. Masih ada. Rasanya kayak satu hal kecil berhasil.
Tapi kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget, bingung—semua masih ada. Rasanya kayak menangis pengin meledak, tapi aku tahan. Aku cuma duduk, ngerasain semua capek sendiri.
Setelah beberapa lama, Tara balik. Dia liat aku duduk bengong. “Capek banget, ya?” katanya pelan.
Aku cuma angguk. Aku nggak bisa ngomong panjang. Rasanya capek mental lebih berat daripada capek fisik. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget nggak hilang.
Kami mulai beresin terakhir barang-barang kecil, memastikan semua snack, minuman, tenda, peralatan siap. Aku fokus, tangan pegal, kepala cenat-cenut, tapi harus kelar.
Greget di dada tetap ada. Semua harus selesai malam ini. Aku nggak bisa mundur. Semua orang bisa santai, tapi aku nggak. Setelah semuanya kelar, aku duduk di tangga lagi. Napas panjang.
Rasanya kayak habis perang. Kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget tetap nempel. Tapi satu hal lega: dompet masih ada. Rasanya kayak menang kecil di tengah kekacauan besar.
Aku liat Tara lagi. Dia tersenyum tipis. Aku balas senyum, tapi senyum aku nggak hangat. Rasanya capek mental masih berat, kepala cenat-cenut, tangan pegal, kaki capek, greget nggak hilang.
Tapi aku tahu, besok semua bakal mulai lagi. Semua tanggung jawab masih nunggu. Aku tarik napas panjang, nyiapin diri buat pulang.
Capek fisik, capek mental, greget, bingung—semua bercampur. Tapi aku harus jalan. Semua harus kelar. Semua tanggung jawab masih jatuh ke aku.
Aku keluar dari sekolah, lampu jalan malam nyala pelan. Jalan sepi, tapi rasanya kayak semua orang bisa santai, aku nggak. Capek mental, greget, bingung. Semua bercampur.
Aku duduk di motor, tarik napas panjang, nyalain mesin, dan mulai jalan pelan pulang.
Malam itu, aku sadar satu hal: capek mental lebih berat daripada capek fisik. Greget tetap nempel di dada. Bingung nggak hilang. Tapi semua harus jalan. Semua harus kelar. Dan aku harus ngerasain semua sendiri. Sampai rumah, aku jatuh di kasur. Mata berat, tangan pegal, kaki capek, kepala cenat-cenut.
Tapi ada sedikit lega karena dompet masih ada. Rasanya kayak satu hal kecil berhasil. Tapi capek mental nggak hilang. Greget nggak hilang. Bingung nggak hilang. Tapi aku tahu, besok semua bakal mulai lagi.
Aku tarik selimut, duduk sebentar, ngerasain semua capek, greget, dan bingung. Aku tahu, ini belum berakhir. Semua tanggung jawab masih di pundak aku.
Tapi malam itu, aku tidur dengan satu hal: dompet masih ada, dan aku harus jalan lagi besok, menghadapi capek, greget, bingung, semua sendiri.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭