Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Getir di Ujung Jari
Malam di bulan suci ini seharusnya menjadi pelipur lara bagi setiap jiwa yang dahaga, namun bagi Bayu, kegelapan di sudut teras masjid itu terasa lebih pekat daripada malam-malam penuh maksiat di Jakarta. Ia berdiri mematung di area remang yang tidak terjangkau lampu merkuri, hanya ditemani cahaya dari layar ponselnya yang menyala terang benderang.
Layar itu menampilkan deretan angka dan instruksi teknis dari Rian yang tampak begitu menggoda untuk dieksekusi sekarang juga. Tawaran seratus juta itu bukan lagi sekadar angka di atas kertas digital, melainkan sebuah godaan yang mewujud menjadi jembatan instan untuk keluar dari kubangan penderitaan.
Ibu jari Bayu bergerak naik dan turun dengan ritme yang tidak beraturan di atas tombol "Terima". Satu ketukan ringan saja sebenarnya sanggup mengangkat beban di pundaknya, namun ia tahu harga yang dibayar adalah sisa-sisa nurani yang ia miliki.
Pikirannya melayang pada Haikal yang sedang bertaruh nyawa di panti asuhan tanpa kepastian biaya operasi. Ia membayangkan betapa mudahnya semua air mata Nayla mengering jika ia mengirimkan bukti transfer uang seratus juta itu malam ini.
Bayu memejamkan mata sejenak untuk meredam gemuruh di dadanya yang kian menyesakkan. Ingatannya kembali ke halaman samping rumahnya sore tadi, saat matahari sedang garang-garangnya membakar kulit.
Ia teringat jelas bagaimana ibunya sedang memeras pakaian kotor milik tetangga dengan tangan yang gemetar hebat karena kelelahan luar biasa. Suara napas ibunya yang berat dan batuknya yang kering seolah bergema kembali di telinganya, menyayat ulu hati yang paling dalam.
Uang seratus juta itu bisa membelikan ibunya mesin cuci terbaik dan menyediakan pengobatan paling mahal untuk paru-parunya yang ringkih. Harta itu sanggup menjamin masa tua ibunya yang tenang tanpa perlu lagi menyentuh papan gilesan kayu yang kasar itu.
Namun, saat jarinya hampir menyentuh layar yang dingin, sebuah kesadaran menghantamnya dengan telak hingga ia tersentak. Ibunya tak akan pernah mau menerima kesembuhan atau kemewahan yang dibayar dengan pengkhianatan terhadap prinsip kejujuran yang beliau ajarkan.
Tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar kembali, memunculkan notifikasi pesan singkat dari Rian yang nampak tidak sabaran. "Gue tunggu keputusan lo sampe malem ini aja, Bay. Kalau nggak ada jawaban, gue cari orang lain sekarang juga," tulis Rian tanpa basa-basi.
Bayu menatap pesan itu dengan napas yang memburu, merasa seolah waktu sedang mengepungnya dari segala penjuru. Ia tahu Rian tidak main-main dan kesempatan emas untuk mendapatkan uang sebanyak itu tidak akan datang dua kali dalam hidupnya yang hancur.
Tap.
Bayu mematikan layar ponselnya secara mendadak saat telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendekat dari arah pintu utama masjid. Suara sandal yang bergesekan dengan lantai semen itu terdengar sangat mantap dan berirama, membuyarkan segala rencana jahatnya.
Dengan gerakan cepat yang sedikit kikuk, ia memasukkan ponsel ke kantong celana yang sudah mulai robek jahitannya di bagian pinggir. Ia bisa merasakan ujung ponselnya menyembul dari lubang kain yang rapuh itu, sebuah simbol betapa hancurnya hidup yang sedang ia tutupi.
Ia menarik napas panjang berkali-kali, mencoba mengatur ritme jantungnya agar tidak terlihat sedang dilanda kepanikan yang hebat. Bayu membalikkan badannya perlahan, memaksakan sebuah ekspresi tenang yang sebenarnya sangat sulit untuk ia bentuk saat ini.
Dari arah cahaya temaram lampu masjid yang berwarna kuning pucat, ia melihat sosok yang paling tidak ingin ia temui. Fahmi berjalan keluar dari ruang utama masjid dengan langkah yang nampak berat namun tetap terlihat sangat bersahaja.
Wajah Fahmi nampak sangat letih dengan kantung mata yang menghitam, namun matanya tetap memancarkan ketenangan yang membuat Bayu merasa semakin kerdil. Di tangan kanannya, Fahmi menjinjing sebuah tas kecil transparan yang berisi beberapa botol sirup obat dan bungkusan puyer putih.
"Eh, Bayu? Lo belum balik, Yu?" tanya Fahmi dengan suara yang lembut tanpa ada nada kecurigaan sedikit pun.
Bahkan seolah sikap Bayu yang tersinggung dengan tawarannya di kafe kemarin siang sama sekali tidak pernah terjadi dalam ingatan Fahmi. Kebaikan yang ditunjukkan Fahmi justru terasa seperti garam yang ditaburkan di atas luka batin Bayu yang masih menganga lebar.
Bayu berdehem pelan, mencoba mengeluarkan suara yang tidak bergetar agar rahasianya tetap terkunci rapat di dalam dada. "Iya, Mi. Lagi ... lagi cari angin aja di sini. Di dalem agak gerah, jadi gue keluar bentar."
Fahmi mengangguk pelan sembari melangkah mendekat ke arah Bayu yang masih berdiri mematung di sudut gelap teras. Ia meletakkan tas kecil berisi obat-obatan itu di atas pembatas semen teras masjid yang permukaannya sudah agak kasar.
"Iya, malem ini emang agak beda udaranya, mungkin karena berkah Ramadan yang makin berasa," ujar Fahmi sambil menyeka keringat di dahinya. "Kayaknya mau hujan lagi. Ini gue baru ambil obat buat Haikal dan beberapa anak panti yang mulai ketularan batuk."
Bayu melirik tas kecil berisi obat-obatan itu dengan tatapan yang sangat kompleks dan penuh rasa bersalah.
“Dokter Heru bilang, Haikal harus dijaga banget kondisinya sampe besok pagi agar operasinya bisa berjalan lancar tanpa hambatan medis,”sambung Fahmi menjelaskan.
Obat-obatan itu nampak sederhana, namun Bayu tahu Fahmi membelinya dengan sisa uang yang jujur di tengah krisis perusahaannya. Nilai obat itu jauh lebih berharga daripada seratus juta dari Rian yang sedang berteriak-teriak minta diterima di dalam saku celananya.
"Haikal ... beneran bakal dioperasi besok?" tanya Bayu, mencoba mengalihkan kegelisahan hatinya sendiri yang sedang berperang hebat.
Ia menatap wajah Fahmi yang kini nampak berdoa dalam diam, berharap keajaiban datang untuk menyelamatkan nyawa anak yatim tersebut. Bayu merasa genggaman ponsel di kantongnya semakin memberat, seolah benda itu menuntut jawaban akhir dari dilema moral yang sedang ia hadapi.
Fahmi menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh menembus kegelapan langit desa yang tak berbintang malam itu. "Insya Allah, Bay. Dokter Heru udah kasih lampu hijau, asalkan kondisi fisiknya stabil sampai fajar nanti."
Bayu hanya terdiam, merasai denyut jantungnya sendiri yang seolah beradu cepat dengan detak jarum jam di menara masjid. Ia merasa seperti seorang pengkhianat yang sedang berdiri di hadapan seorang santo, merasa kotor hingga ke sumsum tulang.
"Gue tadi baru aja selesai salat hajat, Bay. Benar-benar minta supaya ada jalan buat Haikal besok pagi," lanjut Fahmi pelan.
Suara Fahmi yang tenang justru terdengar seperti guntur yang menggelegar di telinga Bayu, meruntuhkan sisa-sisa pembenaran atas niat buruknya. Bagaimana mungkin ia tega memikirkan uang haram di saat sahabatnya sedang bersujud memohon bantuan pada Sang Pencipta?
Ponsel di saku celana Bayu kembali bergetar pelan, sebuah pertanda bahwa waktu yang diberikan oleh Rian sudah hampir habis. Bayu tahu bahwa di ujung sana, Rian mungkin sedang bersiap memberikan proyek itu kepada orang lain yang lebih tidak punya urusan dengan nurani.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰