Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Gudang Tua
Bab 14 — Gudang Tua
Hujan turun deras malam itu. Jalanan licin, lampu jalan banyak yang mati. Alvaro memacu motor ke kawasan gudang tua di pinggir kota. Pesan yang ia terima satu jam lalu masih terngiang.
Kalau mau gadis itu hidup, datang sendirian.
Ia berhenti di depan gudang besar berkarat. Pintu besinya sedikit terbuka. Dari dalam terlihat cahaya lampu kuning redup.
Alvaro menarik napas, lalu masuk.
Lantai semen basah oleh rembesan air hujan. Bau besi dan debu menusuk hidung. Di tengah ruangan ada kursi yang diikat ke lantai.
Alisha duduk di sana. Tangannya terikat ke belakang. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat.
“Kak Alvaro…” suaranya lemah.
Alvaro melangkah cepat. “Aku di sini. Kamu nggak apa-apa?”
Sebelum ia mendekat, tepuk tangan pelan terdengar dari sudut ruangan.
Bram Santoso keluar dari bayangan. Jaket hitam, wajah santai seperti sedang menonton pertunjukan.
“Romantis sekali,” katanya ringan. “Datang juga akhirnya.”
Alvaro menatapnya tajam. “Lepasin dia.”
“Tenang dulu. Kita ngobrol.”
“Ngobrol apa? Ini penculikan.”
Bram tersenyum tipis. “Kata-kata kamu besar sekali. Padahal cuma anak sopir.”
Alvaro tidak terpancing. “Masalah kamu sama siapa? Sama aku? Jangan bawa Alisha.”
Bram berjalan mendekat ke Alisha. Tangannya menyentuh dagu gadis itu, memaksa menengadah.
“Masalahku bukan sama kamu,” ucapnya. “Masalahku sama keluarga Mahendra.”
Alisha berusaha menjauh. “Saya nggak tahu apa-apa.”
“Justru itu,” jawab Bram.
Alvaro maju satu langkah. “Bram, cukup.”
Bram menoleh. Wajahnya berubah lebih serius. “Kamu tahu nggak kenapa aku benci keluarga itu?”
“Aku nggak peduli.”
“Kamu harus peduli. Ayahku pernah punya perusahaan. Kerja sama dengan Mahendra. Lalu apa yang terjadi? Perusahaannya diambil, sahamnya habis, dia ditinggal. Tekanan datang dari mana-mana. Dia nggak kuat.”
Alvaro terdiam sejenak. “Itu urusan bisnis.”
“Urusan bisnis yang bikin orang bunuh diri,” potong Bram. “Aku lihat sendiri ayahku hancur.”
Hujan makin deras di luar. Suara air memukul atap seng.
Alisha menangis pelan. “Itu bukan salah saya…”
Bram tertawa pendek. “Bukan salahmu? Kamu tahu siapa kamu sebenarnya?”
Alvaro mengerutkan kening. “Jangan mulai omong kosong.”
“Lima belas tahun lalu di rumah sakit. Ada dua bayi lahir hampir bersamaan. Satu dari keluarga Mahendra. Satu dari keluarga biasa.”
Alvaro merasa jantungnya berdetak lebih keras.
Bram melanjutkan, “Bayi itu ditukar.”
Alisha langsung menggeleng. “Bohong.”
“Kamu yakin?” Bram mengeluarkan map tipis dari tasnya. “Aku punya bukti. Dokter yang jaga malam itu sudah mengaku.”
Alvaro mencoba tetap tenang. “Apa maksud kamu?”
“Maksudku sederhana. Gadis yang duduk di situ adalah pewaris asli keluarga Mahendra.”
Ruangan terasa hening beberapa detik.
Alisha menatap Alvaro dengan mata basah. “Apa dia cuma mau mainin kita?”
Alvaro menjawab tanpa melihat Bram. “Jangan percaya.”
Bram mendekat lagi. “Kamu pikir keluarga Mahendra begitu baik? Mereka bahkan nggak tahu darah siapa yang mereka besarkan.”
“Kamu mau apa sebenarnya?” tanya Alvaro.
“Balas. Aku mau mereka kehilangan semuanya.”
Langkah kaki terdengar dari belakang. Beberapa pria keluar dari sisi gudang. Tubuh besar, wajah keras.
Alvaro melirik cepat. “Serius mau keroyokan?”
Bram mengangkat bahu. “Kamu datang sendirian. Itu keputusan kamu.”
“Lepasin Alisha. Kita selesaikan berdua.”
Bram tersenyum. “Kamu terlalu percaya diri.”
Ia memberi isyarat kecil.
Anak buahnya maju.
Alvaro bergerak lebih dulu. Ia menghantam pria terdekat sampai terjatuh. Satu pukulan mengenai pipinya. Ia membalas dengan siku ke perut lawan.
Dua orang menyerang dari samping. Ia menangkis satu, tapi pukulan lain mengenai bahunya. Rasa sakit menjalar. Ia tetap berdiri.
Alisha menjerit, “Berhenti! Tolong!”
Bram hanya menonton.
Alvaro berhasil menjatuhkan dua orang lagi. Jumlah mereka terlalu banyak. Seseorang memukul bagian belakang kepalanya. Pandangannya sempat berkunang.
Ia jatuh berlutut.
Darah menetes dari sudut bibirnya.
Bram mendekat. “Kamu keras kepala.”
Alvaro terengah. “Kalau mau bunuh, bunuh aku. Jangan sentuh dia.”
Bram menarik napas panjang. “Kalau aku bunuh kamu, siapa yang jaga dia nanti?”
Kalimat itu membuat Alvaro menatapnya dengan bingung.
Tiba-tiba suara kaca pecah dari sisi gudang.
“POLISI! JANGAN BERGERAK!”
Sirene terdengar mendekat.
Semua orang panik.
Bram memaki pelan. “Siapa yang bocor?”
Anak buahnya berlarian. Beberapa mencoba kabur lewat pintu belakang.
Alvaro memanfaatkan situasi. Ia bangkit, berlari ke arah Alisha. Tangannya berusaha membuka tali pengikat.
Belum sempat selesai, Bram sudah menarik kerah Alisha dan menodongkan pistol ke pelipisnya.
“Berhenti!” teriaknya.
Polisi masuk dari pintu depan. Senjata terangkat.
“Turunkan senjata!”
Bram mundur pelan sambil menyeret Alisha. “Jangan dekat. Kalau aku ditembak, dia kena duluan.”
Alvaro berdiri dengan napas berat. “Bram, jangan makin jauh.”
“Diam.”
Hujan masuk dari pintu yang terbuka lebar. Lantai makin licin.
Seorang polisi mencoba bergerak ke samping.
Bram melihatnya. Ia menembak ke arah lampu gantung. Ruangan mendadak gelap. Hanya cahaya dari luar yang masuk samar.
Kekacauan terjadi.
Alvaro menerjang ke arah Bram saat fokusnya terpecah. Mereka jatuh berguling. Pistol terlepas dan meluncur di lantai.
Alisha merangkak menjauh.
Bram memukul wajah Alvaro keras. Alvaro membalas dengan pukulan ke rahangnya. Keduanya sama-sama terengah.
Suara polisi semakin dekat.
Bram mendorong Alvaro, lalu berlari ke arah pintu belakang. Salah satu anak buahnya sudah membuka akses ke gang sempit.
“Kejar!” teriak polisi
Beberapa petugas berlari keluar.
Alvaro mencoba bangkit mengejar, tapi tubuhnya goyah. Ia hampir jatuh lagi.
Seorang polisi membantu Alisha berdiri dan membuka sisa ikatan.
“Kamu aman sekarang,” kata polisi itu.
Alisha langsung mencari Alvaro. “Kak, kamu berdarah.”
“Cuma lecet,” jawabnya pelan.
Suara tembakan terdengar dari kejauhan. Lalu hening.
Seorang petugas kembali dengan wajah tegang. “Dia lolos. Motor sudah disiapkan di belakang.”
Alvaro memejamkan mata sebentar. “Dia pasti sudah rencanakan jalur kabur.”
Polisi mengangguk. “Kami akan kejar. Kalian ikut kami ke kantor buat keterangan.”
Alisha memegang lengan Alvaro. Tangannya masih gemetar. “Yang dia bilang tadi… soal bayi ditukar…”
Alvaro menatapnya. Wajahnya masih keras, tapi ada kebingungan di matanya. “Sekarang bukan itu yang penting.”
“Tapi kalau itu benar?”
“Kita cek sendiri. Jangan percaya kata dia mentah-mentah.”
Alisha menunduk. “Aku takut.”
“Aku juga.”
Mereka berjalan keluar gudang. Hujan masih turun deras. Lampu mobil polisi berkedip merah biru.
Salah satu petugas mendekat ke Alvaro. “Kamu yang telepon?”
Alvaro menggeleng. “Bukan.”
Petugas itu terlihat heran. “Kami dapat laporan anonim. Lokasi persis. Tanpa itu mungkin terlambat.”
Alvaro saling pandang dengan Alisha.
“Siapa yang tahu kita di sini?” bisik Alisha.
Alvaro mengingat pesan yang ia terima. Nomor tidak dikenal. Ia belum sempat melacak.
Di kejauhan, di balik gelapnya gang sempit, seseorang berdiri di bawah payung hitam. Wajahnya tidak terlihat jelas. Ia memandangi mobil polisi yang mulai bergerak.
Tangannya mematikan layar ponsel.
Mobil polisi membawa Alvaro dan Alisha menjauh dari gudang tua itu.
Alisha bersandar lemah. “Ini belum selesai, ya?”
Alvaro menatap keluar jendela. Air hujan mengaburkan pandangan.
“Belum.”
Di tempat lain, suara mesin motor melaju kencang membelah malam. Bram menahan rasa sakit di lengannya yang terluka ringan. Wajahnya kotor oleh lumpur dan hujan.
Ia menyeringai tipis.
“Baru mulai.”
#Bersambung 😊