Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iambic Pentameter
Sagara menghambur dari ruangan observasi ke ruangan terapi yang terpisah pintu penghubung. Ia melambatkan langkahnya menjadi perlahan ketika mendekati Kavi.
Baskara dan Suci mengekor di belakang Sagara. Ingin melihat langsung Kavi tanpa sekat kaca.
Sagara letakkan lututnya di atas matras dengan hati-hati. Ia khawatir membuat Kavi terkejut atau terganggu. Membuat sang anak kembali menarik diri.
Kavi menatap Aditi. Ia tampak terpaku pada wanita muda yang bersimpuh di depannya. Kesan tenang terlihat di wajah anak berusia 4 tahun itu.
Netra Sagara berkaca-kaca. Merasa Kavi dalam keadaan tenang, ia rengkuh sang putra dari samping.
Tak disangka, Kavi berputar dan merengkuh leher Sagara. Kavi meremas bagian bahu kaus Sagara. Sagara memejamkan mata. Ujung matanya basah.
Aditi menatap nanar pemandangan di hadapannya. Ia tak menduga ia bisa membuat Kavi "hadir" di antara mereka. Air matanya menetes.
"Diti.... Terima kasih..." Getar belum hilang dari pita suara Sagara. Aditi mengangguk lemah.
Baskara belum juga bisa melepaskan netranya dari Aditi. Begitu banyak perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Bahagia, haru, bangga dan tentunya, kagum.
Baskara bersyukur mengikuti intuisinya untuk mengajak Aditi bergabung dengan AIC. Aditi bagaikan pendobrak kebuntuan jalan timnya selama ini.
Bukan menggunakan stimulus sesuai teori terapi. Entah metode apa yang digunakan Aditi, sepertinya itu ritme suara. Aditi bagaikan memiliki faktor X dalam kasus Kavi.
Suci memandangi adegan mengharukan di atas matras. Sesuatu yang tak pernah ia duga. Di satu sisi ia juga merasakan bahagia atas respons yang akhirnya muncul dari Kavi.
Sesuatu yang ditunggu-tunggu setelah sekian bulan waktu terapi. Setelah sekian banyak metode dan media yang sudah dicoba.
Di sisi lain, hati Suci menolak bahwa ini semua adalah peran dari wanita muda, yang memiliki pengetahuan teknis mengenai terapi, nol besar.
Suci merasa dikerdilkan. Segala teori dan praktik dengan jam terbang tinggi yang dimilikinya dikalahkan begitu saja.
Dan kekalahan terbesarnya adalah harapannya terhadap Baskara yang semakin terkubur. Lihatlah betapa binar bangga terlihat di mata Baskara.
Bangga bercampur kagum. Suci benci karena semua itu terlalu nyata.
*
*
"Diti, pulang kita makan dulu yuk!"
"Hah? Kalo nggak mau, nggak boleh nebeng ya?"
Baskara terkekeh. "Kalau nggak mau, pulangnya aku ongkosin ojol."
"Oh ya udah, nggak apa-apa. Makasih, Mas." Aditi tersenyum.
"Dih, gitu amat! Mestinya kamu mohon-mohon, jangan Mas! Ajak aku, gitu." Baskara mencibir. Aditi tertawa.
"Hahaha, iya ih... Siap, anak buah mah ikut aja apa kata bos." Senyum Aditi melebar, namun lebih lebar lagi senyum Baskara.
"Ya udah, yuk jalan! Udah jam setengah 6," ajak Baskara.
Di tengah jalan menuju lobi, Baskara dan Aditi berpapasan dengan Suci. Suci mempercepat langkahnya. Tak ingin berjalan bersamaan.
"Ci, kirain udah balik dari tadi." Suci yang sedang melakukan absensi dengan kartu akses, membuang wajah ketika mendengar suara Baskara.
"Gue kira lo yang udah balik duluan." Suci berusaha menetralkan suaranya.
Baskara tersenyum. "Ati-ati di jalan ya Ci." Suci hanya tersenyum kecil.
Suci gegas masuk ke dalam mobilnya. Ia segera keluar dari parkiran. Berpikir untuk mencari hiburan demi ketenangan hatinya.
"Mau makan di mana?" tanya Baskara ketika mobil mulai berjalan di jalan raya.
"Terserah, bebas. Namanya aku dibayarin, ya ikut aja. Eh, ini aku dibayarin kan?" Aditi meringis.
Baskara tersenyum. "Nggak lah."
"Hah? Duh Mas, maaf laen waktu aja ya makan-makannya. Mas kan tau aku belum gajian, huhuhu..."
Baskara terkekeh. "Ya pasti aku bayarin lah Diti. Tanggung jawab lah aku."
"Duh, berat banget pake bawa tanggung jawab segala." Baskara tertawa mendengar candaan Aditi.
"Kita makan di sini aja ya. Di mall gini enak. Kita bisa solat Magrib dulu, baru makan." Baskara menarik rem tangan. Aditi mengangguk setuju.
Baskara dan Aditi segera menuju musala mall karena waktu Magrib telah tiba. Saat melipat mukena, Aditi terkejut dengan penampakan Miss Jutek, Suci.
Sang supervisor tampak sedang mengenakan mukena. Tak menyadari keberadaan Aditi.
Aditi menghampiri Baskara yang sudah menunggunya di bangku panjang. "Mas, ada Kak Suci. Ajakin yuk, nggak enak udah liat, masa cuek aja."
Baskara tercenung sejenak kemudian mengangguk. "Ya udah, kita tunggu dia beres."
Aditi duduk berjarak dengan Baskara, menunggu sang supervisor selesai menunaikan tanggung jawabnya. Sekitar 10 menit wajah Suci terlihat.
"Kak Suci!" Aditi memanggil sambil melambaikan tangan. Suci menoleh. Ia terperangah dengan keberadaan dua manusia yang ia hindari.
Aditi menghampiri Suci. "Kak, ngapain di sini?"
Suci menjawab sambil membuang muka. "Mau nonton."
"Sendirian?" tanya Aditi. Suci mengangguk.
"Nonton jam berapa? Ikut kita yuk, makan," ajak Aditi.
Suci melirik ke arah Baskara. Yang dilirik terlihat menghampiri. "Lo lagi janjian ama orang, Ci?"
Suci menatap Baskara. "Nggak, mau nonton aja."
"Jam berapa? Mau gabung nggak? Gue sama Diti mau makan. Itung-itung kita sukuran Kavi tadi pagi."
Suci menundukkan kepala. Memandang ujung sepatunya. "Ya udah. Tapi jam 8 gue nonton ya," pungkas Suci akhirnya.
Ketiganya memilih restoran ramen. Aditi memesan spicy miso ramen. Baskara memilih shoyu ramen. Suci membeli dry ramen. Mereka mulai menikmati menu mereka masing-masing.
"Diti, kamu tuh tadi pake metode ritme suara ya, sama Kavi?" tanya Baskara. Suci memasang kuping ingin mendengar jawaban si pandai bicara.
Aditi menelan suapannya. Ia mengambil tisu dan mengelap hidung. Kuah pedas panas membuat hidungnya perlu dibersihkan.
"Iya Mas. Abis aku kan bingung tadi. Semua teori terapi yang cuma seuprit itu udah nggak ada yang aku inget. Ingetnya sama iambic pentameter.
Itukan kaya ritme suara yang identik sama detak jantung. Aku mikirnya itu bisa bikin Kavi tenang, aman gitu. Itu kan hal mendasar dari terapi anak ABK?
Terus ritmenya yang teratur, aku pikir bakal bikin Kavi nggak susah buat tertarik dan ngikutin." Aditi menyelesaikan uraian dengan menipiskan bibirnya.
Senyum lebar tercetak di wajah Baskara. "Keren kamu Diti, bisa kepikiran ke sana. Belajar iambic pentameter dari kuliah kamu ya?"
"Hahaha, iya. Nggak sia-sia ya jadi anak buah Shakespeare. Ilmu sastra kepake juga akhirnya." Aditi tersenyum bangga.
"Kamu jangan jumawa ya Diti. Nganggep kamu doang yang pake metode ritme suara buat terapi," ketus Suci.
Dih, sapa juga? Ngadi-ngadi banget Miss Jutek.
Baskara menggelengkan kepala mendengar ucapan sahabatnya. Mulutnya memang pantas diikat dengan 2 karet gelang. Pedas.
"Maksudnya Suci gini Dit, ada teknik terapi yang disebut Rythmic Speech Training. Itu emang metode yang umumnya dipake buat terapi wicara.
Teknik ini juga pake ritme yang sama kayak detak jantung dan langkah kaki. Mirip iambic pentameter kamu itu.
Aditi mengangguk mendengar penjelasan Baskara. "Udah pernah dicoba ama Kavi, Mas?"
"Pernah kan ya Ci?" Baskara bertanya pada Suci. Sang supervisor mengangguk.
"Anak kayak Kavi itu punya sensorik pendengaran yang sensitif banget. Akhirnya kita coba teknik itu. Tapi ya kamu tau hasilnya. Gagal.
Objektif terapi untuk Kavi itu perilaku, jadi kita tekenin ke teknik perilaku. Makanya kita belum coba lagi teknik ritme suara," ujar Suci.
"Menurut lo kenapa si Diti bisa berhasil Ci?" tanya Baskara.
"Menurut gue... Karna ilmu sastra yang dia punya sih. Emang ketukan ritmenya laen ama Mbak Heni.
Ya, faktor X si Diti, Bas. Sesuatu yang nggak dipunya sama terapis kita." Suci meneguk es teh lemonnya.
"Kamu bisa konsisten pakai itu buat terapi selanjutnya?"
Aditi terdiam mendengar pertanyaan Suci. "Insyaa Allah Kak. Aku bakal coba semampu aku, semaksimal yang aku bisa."
"Diti, aku kan udah bilang tadi siang, nanti kamu bakal pegang Kavi. Karna keberhasilan kamu bikin Kavi ngerespon tadi pagi.
Kamu cuma pegang dia. Selain karena kamu masih baru, masih banyak yang harus dipelajarin, ini juga permintaan Gara. Kamu siap?"
Aditi menipiskan bibir kemudian mengangguk. "Insyaa Allah Mas."
"Jadwal terapi Kavi, kapan Ci?" tanya Baskara.
"Gue buat seminggu 3 kali. Biar nggak over stimulasi tapi ingatan Kavi tetep nempel. Setiap Senin, Rabu, Jum'at, jam 9. Mulai Senin besok," jawab Suci.
"Nah, Diti. Siap ya, Senin besok? Siapin yang baik. Aku sih percaya kamu bisa. Tanpa persiapan kayak tadi aja bisa, apalagi pake persiapan." Baskara tersenyum pada Aditi.
Aditi tersenyum kemudian menunduk, menyuap ramennya kembali. Matanya menerawang.
"Dit, nanti aku mau kamu bikin deskripsi rencana terapi apa yang bakal kamu terapin ke Kavi. Lesson plan buat Kavi.
Kamu... bolehlah pake metode ritmis yang kamu punya itu. Kita coba ke Kavi.
Siapa tau nanti bisa jadi alternatif metode kalau ada complex case semacam Kavi. Bisa kamu?" Suci menatap tajam Aditi.
"Buat kapan Kak?" tanya Aditi.
"Besok lah. Kan terapi Kavi dimulai Senin. Kalau dikumpulin Senin, kapan aku evaluasinya?"
Suci memiringkan wajah saat menatap Aditi. Baskara melipat bibir, ikut menatap Aditi.
Ya Allah Miss Jutek, kudu disebor kuah ramen! Tau gitu nggak gue ajak ikutan makan tadi!