Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audit
Pagi itu, apartemen Bagas masih beraroma terasi goreng karena Ibu nekat membuat sambal dadak untuk sarapan. Di tengah suasana rumah yang hangat itu, ponsel Bagas bergetar hebat. Sebuah pesan singkat dari sekretaris Mr. Khan membuat suhu tubuh Bagas mendadak dingin: “Bagas, tim auditor dari Frankfurt sudah sampai di lobi. Mereka dipimpin oleh Klaus Volker. Mereka minta akses penuh ke data finansial divisi Eropa Tengah sekarang juga.”
Klaus Volker. Nama itu membuat Bagas menggeritkan gigi. Klaus adalah mentor sekaligus kawan dekat Marco, pria yang karirnya hancur karena kejujuran Bagas. Kedatangan Klaus yang mendadak, tepat saat Bagas sedang cuti menemani orang tuanya, jelas bukan sebuah kebetulan. Ini adalah upaya sabotase.
"Gas, kok bengong? Ayo dimakan sambalnya, mumpung masih hangat," panggil Ibu dari meja makan.
Bagas mencoba tersenyum sealami mungkin. "Ibu, Bapak, sepertinya Bagas harus ke kantor sebentar. Ada tamu penting dari Jerman. Bapak sama Ibu santai saja dulu di sini ya Nanti siang sopir jemput buat jalan-jalan ke Dubai Frame."
"Tamu Jerman? Wah, jangan lupa dikasih rengginang yang tadi, Gas. Biar dia tahu makanan orang hebat," ujar Bapak sambil terkekeh.
Bagas berangkat ke kantor dengan jantung yang berdegup kencang. Sesampainya di lantai 15, ia melihat seorang pria berambut pirang cepak dengan tatapan sedingin es sedang menggeledah berkas di mejanya. Itu Klaus Volker.
"Mr. Pratama," ujar Klaus tanpa berdiri. "Saya menemukan beberapa ketidak konsistenan dalam laporan logistik minggu lalu. Anda tampak terlalu sibuk 'berwisata' sampai lupa bahwa uang perusahaan sedang dipertaruhkan di sini."
Bagas menarik kursi, duduk dengan tenang tepat di hadapan Klaus. "Mr. Volker, saya sedang dalam masa cuti resmi yang disetujui Mr. Khan. Namun, karena Anda datang jauh-jauh dari Frankfurt hanya untuk mencari 'kesalahan', silakan tunjukkan bagian mana yang menurut Anda tidak konsisten."
Klaus menyeringai. Ia mengeluarkan sebuah dokumen. "Ini. Pengadaan armada tambahan di pelabuhan Jebel Ali bulan lalu. Anda menggunakan jasa perusahaan lokal bernama 'Al-Fayed Transport'. Tidak ada tender terbuka. Ini pelanggaran berat prosedur GLA."
Bagas tersenyum tipis. Ia sudah menduga ini yang akan diserang. Klaus mencoba menggunakan kacamata birokrasi Eropa untuk menghakimi tindakan darurat di lapangan.
"Mr. Volker, saat itu terjadi krisis yang ditinggalkan oleh rekan Anda, Marco. Jika saya menunggu tender selama tiga minggu, perusahaan akan rugi sepuluh kali lipat dari nilai kontrak ini. Saya menggunakan wewenang Emergency Procurement yang sudah disahkan oleh Mr. Khan secara tertulis," jawab Bagas sambil menyodorkan tabletnya yang berisi tanda tangan digital sang CEO.
Klaus tampak terpojok, namun ia belum selesai. "Tetap saja, hubungan pribadi Anda dengan pemilik transportasi tersebut sangat mencurigakan. Kami menerima laporan bahwa Anda sering menerima ' 'bingkisan' dari mereka."
Bagas tertawa kecil. Bingkisan? Ia teringat para sopir truk yang mengiriminya kurma dan susu unta sebagai tanda terima kasih karena Bagas tidak pernah memotong uang jalan mereka.
"Jika yang Anda maksud adalah kurma senilai sepuluh Dirham, silakan catat itu sebagai gratifikasi," sindir Bagas. "Tapi sebelum Anda melangkah lebih jauh, saya sarankan Anda memeriksa laporan audit internal Marco yang baru saja saya lengkapi. Saya menemukan jejak aliran dana ke rekening luar negeri yang
Namanya sangat mirip dengan nama belakang Anda, Mr. Volker."
Wajah Klaus yang tadi putih pucat mendadak berubah menjadi merah padam. Skakmat. Bagas tidak hanya bertahan, ia menyerang balik dengan data yang ia kumpulkan selama lembur diam-diam di malam hari.
Perdebatan itu terhenti saat pintu ruangan terbuka. Mr. Khan masuk bersama... Ibu dan Bapak.
"Bagas! Bapak kamu maksa mau lihat kantor kamu. Katanya mau ngecek AC di sini juga," ujar Mr. Khan sambil tertawa ramah. Ternyata, sopir Bagas salah mengerti instruksi dan malah membawa orang tua Bagas ke kantor.
Ibu masuk dengan tas anyamannya, dan tanpa ragu mendekati meja tempat Bagas dan Klaus sedang bersitegang. Ibu melihat Klaus yang tampak stres, lalu merogoh tasnya.
"Nih, Mas Bule. Jangan galak-galak sama anak saya. Makan dulu ini, namanya rengginang. Biar kepalanya nggak panas,"
Ujar Ibu sambil menyodorkan sebungkus kerupuk putih itu tepat di depan hidung Klaus.
Klaus melongo. Pria Jerman yang kaku itu tidak tahu harus bereaksi apa. Mr. Khan tertawa terbahak-bahak. "Klaus, this is the secret of Bagas's strength. Indonesian hospitality. Makanlah, itu enak."
Dalam suasana yang tiba-tiba menjadi cair dan absurd tersebut, Klaus kehilangan momentum untuk menjatuhkan Bagas. Ia terpaksa mengunyah rengginang itu dengan wajah bingung, sementara Bapak sibuk bertanya pada Mr. Khan apakah tagihan listrik gedung ini mahal atau tidak.
Sore itu, Klaus Volker menarik semua tuduhannya dan memilih kembali ke Frankfurt lebih awal. Ia menyadari bahwa Bagas Pratama bukan hanya dilindungi oleh data yang akurat, tapi juga oleh "benteng" doa dan ketulusan keluarga yang tidak bisa ditembus oleh intrik korporat mana pun.
Setelah semua orang pergi, Bagas memeluk Ibu dan Bapak di tengah ruangan kantornya yang mewah.
"Makasih ya, Bu. Rengginang Ibu baru saja menyelamatkan karir Bagas," bisik Bagas.
"Lho, beneran? Padahal Ibu cuma kasihan, mukanya si Mas Bule tadi kayak orang belum sarapan sebulan," jawab Ibu polos.
Bagas menatap ke luar jendela, ke arah Burj Khalifa. Ia menyadari bahwa dalam hidup, kepintaran teknis memang perlu, tapi terkadang kepolosan dan kebaikan hatilah yang menjadi senjata pamungkas paling mematikan.
Kini, rintangan Klaus sudah lewat. Langkah Bagas menuju Paris minggu depan semakin mantap. Namun, ada satu hal yang Bagas lupakan Di Paris nanti, ia akan bertemu dengan seseorang yang memegang kunci rahasia tentang siapa sebenarnya ayah kandung Bagas sebuah rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh Ibu dan Bapak.