Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : HARI YANG SANGAT KHUSUS
Sinar matahari pagi sudah mulai menyinari setiap sudut halaman belakang rumah sakit ketika Lia mulai menyortir cucian yang akan dicuci hari ini. Udara masih segar dengan sedikit embun yang menempel pada daun pepohonan di sekitar bak cuci besar. Dia mengambil deterjen dari wadah plastik yang sudah biasa digunakan, kemudian mulai mencuci pakaian pasien dengan hati-hati – setiap kain yang dicuci selalu diperiksa dengan teliti agar tidak ada noda yang tertinggal.
“Lia, kamu bisa istirahat sebentar ya sebelum kerja sore,” ucap Pak Joko dengan suara yang khas, sambil membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Kamu kerja terus dari pagi sampai sekarang, kan badanmu pasti capek.”
Lia mengangguk dengan senyum lembut, menyimpan buku catatan kecil yang selalu ada di mejanya – setiap halaman berisi nama dan cerita tentang anak-anak yang pernah dia rawat selama bertahun-tahun bekerja di rumah sakit. Di halaman terakhir buku itu, terdapat catatan khusus tentang Adit yang sudah hilang sejak delapan tahun yang lalu: berat badan saat lahir 1,8 kilogram, panjang badan 45 sentimeter, dan bintik merah berbentuk hati kecil di bagian punggung kanannya yang tidak akan pernah dia lupakan.
“Saya selalu berdoa bisa ketemu dia lagi, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil melihat foto kecil yang selalu ada di mejanya. “Setiap hari saya melihatnya, rasanya seperti dia masih ada di dekat saya saja.”
Pak Joko mengangguk dengan pengertian yang dalam. Dia sudah mengenal Lia sejak lama dan tahu betapa sulitnya perjuangan yang dia jalani sendirian setelah kehilangan suaminya dan harus merawat tiga anak sendirian. “Kamu sudah kuat, Lia. Cinta yang kamu berikan pada anak-anakmu tidak akan pernah hilang, bahkan kalau mereka harus hidup di tempat yang berbeda.”
Setelah menyelesaikan cucian pagi, Lia mengambil tasnya yang sudah siap dan mulai berjalan pulang ke kontrakan milik Bu Warsih. Di jalan pulang, dia menyapa setiap orang yang sudah kenal dengannya – pedagang sayur yang selalu memberi dia sayuran segar, tukang becak yang sering menawarkan tumpangan, hingga ibu-ibu di kontrakan yang selalu ramah padanya.
“Sampai jumpa, Lia! Besok kita masak sama-sama ya,” teriak salah satu ibu di kontrakan dengan senyum hangat.
“Baik saja, Bu! Saya tunggu ya,” jawab Lia dengan senyum hangat sebelum melanjutkan jalan pulang.
Ketika sampai di kontrakan, Mal dan Rini sudah menunggu di depan pintu dengan wajah ceria. Mereka berlari ke arah Lia dengan tangan penuh dengan gambar dan buku tulis yang sudah mereka isi dengan cerita tentang kakak lelaki mereka yang hilang:
“Bu, kita sudah gambar kakak kita ya,” ucap Mal dengan suara ceria, menunjukkan gambar tiga anak yang sedang bermain bersama dengan senyum lebar. “Ini Kak Adit, kan Bu?”
Lia meraih kedua anaknya dengan pelukan erat. “Ya sayang, itu kakak kamu yang selalu kita cari. Kita semua keluarga, walau harus hidup di tempat yang berbeda.”
“Bu, kapan kita bisa ketemu Kak Adit ya?” tanya Rini dengan suara lembut, mata penuh dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
“Kita akan ketemu dia suatu hari nanti, sayang,” jawab Lia dengan lembut, mengelus kepala anaknya dengan penuh kasih. “Yang penting kita selalu cinta satu sama lain, ya?”
“Ya Bu!” jawab kedua anaknya dengan suara serempak, mata penuh dengan harapan yang kuat.
Di sudut kamar kontrakan, foto kecil tiga bayi yang tertidur berdampingan tetap terpampang jelas – sebuah bukti bahwa cinta keluarga tidak akan pernah padam meskipun harus hidup terpisah. Udara sore mulai sejuk dengan hembusan angin dari halaman belakang kontrakan, membawa aroma bunga yang tumbuh di halaman belakang. Lia melihat sekelilingnya – rumah kontrakan yang penuh dengan cinta dari tetangga baik hati, anak-anak yang selalu ceria, dan foto kecil yang selalu ada di mejanya yang menjadi bukti bahwa cinta yang diberikan tidak akan pernah hilang.