NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. JANGAN TANYAKAN SOAL KELUARGA

Malam itu, suasana di penthouse terasa sedikit berbeda. Tidak ada ketegangan yang meledak-ledak atau aroma kemarahan yang biasanya menyelimuti ruangan. Dipta duduk di sofa ruang tengah, menyesap wiskinya sambil memperhatikan Keyla yang baru saja selesai mandi. Rambut basah gadis itu menebarkan aroma sampo bunga yang lembut, memenuhi indra penciuman Dipta dan entah mengapa, membuat hatinya sedikit melunak.

"Kau terlihat lebih tenang hari ini," ujar Dipta, suaranya rendah namun tidak mengintimidasi.

Keyla mengeringkan rambutnya dengan handuk, matanya menatap Dipta melalui pantulan cermin. Bayangan percakapannya dengan Rendy di perpustakaan tadi sore masih membekas, memberikan sedikit rasa "kemanusiaan" yang sempat hilang. Ia merasa sedikit bersalah, bukan karena mencintai Rendy—karena ia tahu itu mustahil—tapi karena ia menyadari betapa ia merindukan hal-hal sederhana.

"Dipta," panggil Keyla pelan.

"Hmm?"

"Aku... aku lapar. Tapi aku tidak ingin makan masakan koki atau pergi ke restoran hotel yang kaku itu," ucap Keyla sambil berbalik menghadap suaminya.

Dipta mengangkat sebelah alisnya. "Lalu kau mau makan di mana? Aku bisa memesankan apa pun dari restoran mana pun di kota ini."

"Aku ingin pecel lele. Di pinggir jalan. Yang pakai tenda kaki lima," jawab Keyla dengan keberanian yang mendadak muncul.

Dipta tertegun, lalu tawa pendek yang skeptis keluar dari bibirnya. "Kau bercanda? Pecel lele kaki lima? Di pinggir jalan yang penuh debu dan asap kendaraan? Tidak, Keyla. Itu tidak higienis dan sama sekali bukan tempat yang pantas untuk kita."

"Tolong sekali saja, Dipta," Keyla melangkah mendekat, berdiri tepat di depan pria itu. "Kau selalu memaksaku mengikuti duniamu yang mewah dan menyesakkan. Sekali saja, bawalah aku ke duniaku. Aku ingin makan di tempat di mana orang-orang tertawa lepas tanpa harus peduli dengan etiket meja makan yang membosankan."

Dipta menatap mata Keyla. Ada binar permohonan yang jujur di sana, sesuatu yang jauh lebih efektif daripada teriakan atau tangisan. Dipta menghela napas panjang, meletakkan gelas wiskinya. "Kau benar-benar tahu cara mengujiku, bukan? Baik. Tapi kita tidak akan berlama-lama di sana."

**

Mobil mewah Dipta berhenti di pinggir jalan yang ramai. Sosok Dipta yang mengenakan kemeja sutra mahal tampak sangat kontras saat ia keluar dari mobil dan melangkah masuk ke bawah tenda pecel lele yang berasap. Orang-orang di sekitar menatap mereka dengan heran—terutama pada Dipta yang terlihat seperti pangeran yang salah mendarat di pasar kaget.

Dipta membersihkan kursi plastik itu dengan sapu tangan mahalnya berkali-kali sebelum duduk, wajahnya menunjukkan ekspresi geli sekaligus jijik. Namun, melihat Keyla yang tampak bersemangat memesan lele goreng dan sambal, Dipta hanya bisa terdiam.

"Cobalah, Dipta. Ini tidak akan membunuhmu," ujar Keyla sambil menyodorkan sepotong daging lele yang sudah dicocol sambal ke arah mulut Dipta.

Dipta ragu sejenak, namun akhirnya ia membuka mulutnya. Rasa pedas, gurih, dan bumbu rempah yang kuat meledak di lidahnya. Ia terdiam, mengunyah perlahan. "Rasanya... tidak seburuk yang kubayangkan," gumamnya, yang membuat Keyla tertawa kecil.

Di tengah riuhnya suara penggorengan dan klakson kendaraan, Keyla merasa suasana ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya. Sesuatu yang membuatnya merasa seperti orang asing dalam hidup pria yang menikahinya.

"Dipta," panggil Keyla, suaranya sedikit tertutup suara pengamen yang lewat.

"Ya?"

"Kita sudah menikah beberapa waktu. Tapi... kenapa kau tidak pernah membawaku bertemu mertuaku? Atau keluargamu yang lain? Apakah mereka tidak tahu kalau kau sudah menikah?"

Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Dipta terhenti. Ekspresi wajahnya yang tadi sedikit rileks seketika berubah menjadi kaku dan dingin. Ia menatap piringnya dengan pandangan yang kosong, seolah-olah pertanyaan Keyla baru saja membuka sebuah kotak pandora yang selama ini ia segel rapat.

Dipta teringat akan masa kecilnya. Tentang ayahnya yang otoriter dan ibunya yang memilih pergi karena tidak tahan dengan tekanan keluarga besar Mahendra. Tentang perceraian yang berdarah-darah dan bagaimana ia dibesarkan sebagai "mesin" bisnis tanpa kehangatan keluarga.

"Keluargaku... bukan tipe keluarga yang sering mengadakan makan malam bersama," jawab Dipta dengan suara yang sangat datar.

"Tapi ibumu? Ayahmu? Setidaknya aku harus memberi hormat, bukan?" lanjut Keyla penasaran.

Dipta menoleh, menatap Keyla dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada luka lama yang terpancar di sana, namun segera tertutup oleh keangkuhan. "Ibuku tinggal di tempat yang jauh. Dia tidak suka keramaian, dan dia tidak terlalu peduli dengan urusan bisnis atau pernikahanku. Ayahku... dia adalah alasan kenapa aku menjadi seperti ini. Dan aku tidak ingin kau bertemu dengannya."

"Kenapa?"

"Cukup, Keyla," potong Dipta tajam, namun suaranya tidak membentak. "Saat kau libur semester nanti, aku akan membawamu ke tempat ibuku. Hanya dia yang perlu kau temui. Selebihnya, mereka tidak penting bagimu."

Dipta tidak memberikan kesempatan bagi Keyla untuk bertanya lebih lanjut. Ia segera mengalihkan pembicaraan, kembali ke zona nyamannya: kendali.

"Bagaimana kuliahmu tadi? Tidak ada gangguan dari pria-pria tidak berguna itu lagi, kan?" tanya Dipta, matanya menyipit penuh selidik.

Keyla sedikit tersentak, teringat cokelat dari Rendy yang ia simpan di tasnya. "Tidak ada. Semuanya biasa saja. Aku hanya fokus di perpustakaan hari ini."

Dipta mengamati wajah Keyla sejenak, mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, Keyla sudah belajar cara memasang topeng di depan suaminya.

"Bagus. Karena aku sudah menyiapkan jadwal tambahan untukmu. Mulai minggu depan, setelah kuliah, kau akan mulai belajar bahasa Prancis dengan tutor pribadi di rumah. Sebagai Nyonya Mahendra, kau akan sering menemaniku ke pertemuan internasional. Kau harus terlihat cerdas, bukan hanya cantik."

Keyla mendesah pelan. Rantai itu kembali mengetat. "Aku sudah punya banyak tugas kuliah, Dipta."

"Dan aku adalah suamimu yang membiayai semua itu. Jadi, kau akan mengikuti jadwal yang kubuat," sahut Dipta sambil berdiri. Ia meletakkan beberapa lembar uang seratus ribuan di meja tanpa meminta kembalian. "Ayo pulang. Udara di sini mulai membuatku pusing."

**

Sesampainya di penthouse, Dipta tidak langsung melepaskan Keyla. Begitu pintu kamar tertutup, Dipta menarik Keyla ke dalam pelukannya dari belakang. Kali ini, sentuhannya tidak sekasar biasanya. Ia membenamkan wajahnya di leher Keyla, menghirup aroma gadis itu yang menenangkan sarafnya setelah hari yang panjang.

"Jangan pernah tanyakan soal keluargaku lagi, Keyla," bisik Dipta parau. "Cukup kau tahu bahwa di dunia ini, kau hanya butuh aku. Dan aku hanya butuh kau untuk tetap di sisiku."

Keyla terdiam, merasakan detak jantung Dipta yang stabil di punggungnya. Ia menyadari bahwa di balik segala kekasaran dan obsesinya, Dipta adalah pria yang sangat kesepian—seorang pria yang membangun kerajaannya untuk menutupi kehampaan hatinya.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!