NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Lawang Gede

Hujan di Arcapura bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan tirai kelabu yang seolah sengaja diturunkan untuk menyembunyikan dosa-dosa kota. Elara Senja merapatkan jaket parka usangnya yang sudah basah kuyup, menundukkan kepala saat melewati deretan ruko tua di Distrik Lawang Gede yang mulai meredupkan lampu-lampunya. Aroma aspal basah bercampur dengan bau sampah yang membusuk dari selokan terbuka menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.

Langkah kakinya cepat namun tidak teratur, sepatu ketsnya mencipratkan genangan air keruh setiap kali ia memaksakan diri untuk terus bergerak. Ia tidak berani menoleh ke belakang, meskipun tengkuknya terasa dingin seakan ada mata tak kasat mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Rasa takut itu bukan sekadar paranoia; itu adalah insting bertahan hidup yang terasah tajam setelah apa yang ia saksikan di lantai dasar rumah sakit.

"Jangan berhenti, Elara. Jangan berhenti atau kau akan berakhir di meja otopsi itu lagi," bisiknya pada diri sendiri dengan suara gemetar.

Suara sirine samar terdengar membelah gemuruh petir yang memantul di dinding pegunungan karst yang mengelilingi kota ini. Elara tersentak, jantungnya berdegup kencang seirama dengan kilat yang menyambar langit, menerangi siluet gedung-gedung pencakar langit yang tampak seperti nisan raksasa. Ia segera berbelok tajam ke sebuah gang sempit di antara dua bangunan peninggalan kolonial yang dindingnya ditumbuhi lumut tebal.

Gang itu gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya neon berkedip dari papan reklame sebuah tempat pijat refleksi yang sudah tutup. Elara menyandarkan punggungnya ke dinding bata yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Tangannya meraba saku bagian dalam jaketnya, memastikan benda kecil berbahan logam itu masih ada di sana—sebuah flashdisk yang berisi rekaman CCTV dari Kamar Jenazah RSU Cakra Buana.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari mulut gang, berat dan berirama, berbeda dengan langkah orang yang sekadar berlari mencari tempat berteduh. Elara menahan napas, matanya membelalak menatap bayangan panjang yang terlempar ke dinding gang oleh lampu jalan. Sosok itu berhenti sejenak, seolah sedang mengendus keberadaan mangsanya di tengah derasnya hujan.

"Aku tahu kau di sana, Nona Senja," suara itu berat, namun terdengar sangat sopan dan tenang, sebuah kontradiksi yang mengerikan.

Itu bukan suara polisi atau petugas keamanan rumah sakit, melainkan suara seseorang yang terbiasa melakukan pekerjaan kotor dengan rapi. Elara mengenali intonasi itu; itu adalah suara salah satu orang suruhan Dr. Arisandi yang sempat ia dengar berdebat di lorong basement. Tanpa berpikir dua kali, Elara berbalik dan berlari semakin dalam ke perut gang yang berliku, mengabaikan rasa perih di kakinya yang lecet.

Ia keluar di sisi lain gang yang bermuara di bantaran Sungai Cihitam, sungai yang membelah kota Arcapura menjadi dua bagian: kawasan elit dan kawasan kumuh. Di seberang jembatan gantung yang reyot, sebuah gubuk kayu dengan lampu kuning yang hangat terlihat berdiri menyendiri di antara pepohonan bambu. Itu adalah satu-satunya tempat yang terlintas di benaknya saat ini, satu-satunya tempat di mana logika dan mistis bisa duduk berdampingan tanpa saling menghakimi.

Elara berlari menyeberangi jembatan gantung yang bergoyang hebat diterpa angin malam. Kayu-kayu jembatan berderit ngeri di bawah kakinya, seolah memprotes beban yang dibawanya. Sesampainya di seberang, ia langsung menggedor pintu kayu jati yang kokoh itu dengan sisa tenaganya.

"Pak Darto! Pak Darto, tolong buka! Ini Elara!" teriaknya seraya menoleh ke belakang, memastikan pengejarnya belum mencapai jembatan.

Pintu terbuka perlahan, disertai bunyi engsel yang berkarat, menampilkan sosok pria tua dengan rambut memutih dan sarung yang melilit pinggangnya. Aroma kemenyan dan rokok klobot langsung menyergap indra penciuman Elara begitu pintu terbuka lebar. Pak Darto menatapnya dengan mata tajam yang seolah bisa menembus kulit hingga ke tulang, tidak tampak terkejut sedikitpun dengan kedatangannya.

"Masuklah, Nak. Bau kematian menempel pekat di punggungmu," ucap Pak Darto datar, lalu menarik lengan Elara masuk dan segera mengunci pintu dengan palang kayu tebal.

Di dalam, ruangan itu dipenuhi dengan barang-barang antik; keris, topeng kayu, dan tumpukan buku-buku medis tua yang sudah menguning. Sebuah perpaduan aneh antara dukun kampung dan akademisi yang terlupakan. Elara merosot duduk di lantai kayu, membiarkan air hujan dari bajunya menggenangi lantai, sementara Pak Darto mengambilkan handuk kering dan segelas teh hangat.

"Mereka mengejarku, Pak. Dr. Arisandi... dia bukan dokter biasa. Ada sesuatu di bawah sana, di Level 4," kata Elara dengan napas yang masih memburu, tangannya gemetar saat menerima gelas teh.

Pak Darto duduk di kursi goyang rotannya, menyalakan rokok klobotnya hingga bara merah menyala di ujungnya. Asap mengepul, membentuk pola-pola abstrak di udara sebelum menghilang ditelan kegelapan ruangan. Ia menatap Elara lamat-lamat, seolah sedang menimbang apakah gadis di depannya ini cukup kuat untuk mendengar kebenaran.

"Level 4 bukan tempat untuk manusia hidup, Elara. RSU Cakra Buana tidak dibangun di atas tanah kosong. Rumah sakit itu dibangun di atas 'Pasar Setan' lama yang digusur paksa oleh pemerintah kolonial seabad lalu," jelas Pak Darto, suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan.

Elara mengeluarkan flashdisk dari sakunya dan meletakkannya di atas meja kecil di antara mereka. Benda kecil itu tampak tidak berbahaya, namun isinya bisa meruntuhkan reputasi medis seluruh kota, atau justru mengundang bahaya yang jauh lebih besar dari sekadar tuntutan hukum.

"Aku punya buktinya, Pak. Rekaman CCTV itu... menunjukkan Dr. Arisandi melakukan ritual pada jenazah tanpa identitas. Dia tidak mengobati mereka, dia... dia memberi makan sesuatu," ujar Elara, suaranya tercekat di tenggorokan saat mengingat kembali pemandangan mengerikan itu.

Pak Darto mematikan rokoknya di asbak, ekspresinya berubah menjadi sangat serius. Ia condong ke depan, menatap flashdisk itu dengan pandangan waspada, seakan benda itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

"Itu bukan sekadar ritual, itu adalah pembayaran sewa," jawab Pak Darto dengan nada rendah.

"Pembayaran sewa? Apa maksud Bapak?" tanya Elara bingung, rasa takutnya perlahan berganti dengan rasa ingin tahu yang mendesak.

"Setiap sepuluh tahun, fondasi rumah sakit itu retak bukan karena gempa atau usia bangunan. Tanah itu menagih janji. Dr. Arisandi dan pendahulunya hanyalah juru kunci yang memastikan 'pemilik tanah' tetap kenyang agar tidak memakan pasien yang masih hidup," Pak Darto berdiri, berjalan menuju lemari kaca dan mengambil sebuah peta tua kota Arcapura.

Ia membentangkan peta itu di lantai. Elara bisa melihat garis-garis merah yang ditarik menghubungkan beberapa titik di kota, membentuk sebuah pola pentagram yang tidak sempurna. RSU Cakra Buana berada tepat di pusat salah satu sudutnya.

"Kau baru saja mencuri daftar menu mereka, Elara. Sekarang, kau bukan lagi saksi mata. Kau adalah target utama, baik bagi manusia maupun bagi mereka yang tak terlihat," lanjut Pak Darto sambil menunjuk titik lokasi rumah sakit.

Suara guntur meledak lagi di luar, kali ini terdengar jauh lebih dekat, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah Pak Darto. Lampu ruangan berkedip-kedip sebelum akhirnya mati total, menyisakan mereka dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh kilatan petir dari celah ventilasi.

"Mereka sudah di sini," bisik Pak Darto, tangannya meraih sebuah belati kecil dari balik pinggangnya.

Elara bangkit berdiri, adrenalin kembali membanjiri pembuluh darahnya. Ia sadar, malam ini belum berakhir. Arcapura tidak akan membiarkannya tidur dengan tenang, dan hujan di luar sana tidak akan cukup untuk membasuh teror yang baru saja dimulai.

1
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!