Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Lukman tatap dalam-dalam wajah damai Keira yang masih terlelap. Semakin ia tatap, semakin pula wajahnya memiring, senyumnya penuh rasa ingin tahu, makhluk menggemaskan itu terbuat dari apa.
Satu jemari Lukman sibuk menoel noel pipi Keira. Seolah mendapat mainan baru, Lukman kembali menoel hidung sang keponakan, lalu berpindah pada pipi sebelah kiri.
Hana sedikit menahan cemas. Padahal, bayi itu bukan putrinya. Tapi, ia merasa takut saja, membuang pikiran negatif dari pikiranya, mengingat banyaknya kasus pedofil yang sudah merambah.
"Lucu 'kan, Den?" goda kembali Bik Inem.
Dengan senyum polosnya, Lukman mengangguk. "Iya, Bik! Buat kaya gini gimana ya?" begitu tersadar dengan kalimatnya, Lukman menutup mulutnya sendiri. Wajahnya memerah, menatap Hana sekilas kembali tersenyum sopan.
Bik Inem bahkan sampai menimpuk dahinya sendiri. Pria disampingnya itu bukan lagi sosok bocah kecil yang setiap hari menarik-narik ujung roknya. Tapi, Lukman sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Namun sikapnya masih sama, selalu jenaka.
Tiba-tiba saja,
Oek....! Oek.....!!!
Keira terbangun, akibat tidurnya terusik. Hana maju paling dekat. Ada guratan kesal, namun pria itu putra majikannya. Hana dilema, dan langsung menenangkan kembali, sambil mengusap lembut paha Keira.
"Cup... Bobok lagi, ya sayang... Keira anak manis deh," ucap kecil Hana, tak lepas dari pandangan Lukman.
Begitu tersadar, rasa bersalahnya muncul. Wajahnya menahan gelisah, sebab muka wanita disebrang itu bagaikan induk kucing yang siap menerkam.
"Keira... Maafin Om, ya.... Duh, udah dong nangisnya. Nanti Om belikan boneka deh. Mau ya?" Lukman berbicara, seolah kini Keira tengah menatapnya begitu tajam.
Hana tersenyum kikuk. Rupanya, adik Bosnya itu sangat berbeda jauh dari Ayah Keira. Danish si paling dingin muka tembok. Sementara Lukman, meskipun anti wanita, tapi dia memiliki sisi hangat.
*
Pukul 15.15 wib.
Keira sudah wangi dengan bedak dan aroma minyak telon yang menguar. Bayi 2 bulan itu semakin bertambah manis mengenakan dress tanpa lengan bewarna pastel, serasi dengan pita yang membingkai kepalanya.
"Mas Lukman mau gendong?" tanya Hana ketika berbalik. Ia baru saja selesai mengemasi bodycare milik Keira ke salam pouch.
Lukman sejak tadi berdiri antusias, menatap bagaimana Hana yang sangat berhati-hati dalam mengurus keponakannya.
Ditengah senyum merekah, Lukman menggelengkan kepala lemah. "Saya masih takut! Nanti gimana kalau jatuh?" tanyanya konyol.
Hana terkekeh tanpa suara. Ia angkat tubuh Keira dalam gendongannya. Lalu kembali menatap Lukman. "Nggak bakal jatuh, karena Keira belum bisa apa-apa. Biar Mas Lukman nggak takut, coba aja gendongnya sama duduk."
Lukman menggaruk kepalanya kecil. Wajahnya masih ragu, namun tubuhnya langsung duduk seolah tersihir kalimat Hana.
"Tangan Mas Lukan mengadah rendah," perintah Hana sambil menimang.
Lukman mendongak kecil, "Kaya gini?" posisi yang begitu kaku, namum ada keinginan untuk belajar.
"Nah, betul! Mas Lukman tenang dulu, ya... Jangan gerak! Sebentar, saya posisikan kepala Keira." Hana mendekat, sangat dekat hingga tiba-tiba saja Lukman mendongak.
Hana sudah meletakan Keira pada kedua tangan Lukman. Mendapat tatapan mejuling seperti itu, membuat Lukman tercekat, sangat kesulitan menelan ludah.
"Padahal, aku anti wanita. Tapi... Kenapa tubuhku menerima saja. Sedangkan, posisi kita sedekat itu?" sambil menunggu Hana membenarkan posisi Keira pada gendongannya, Lukman terasa mati kutu.
Baru saja Hana menarik tubuhnya,
Ehem!
Deheman pria dari arah pintu membuat fokus ketiga orang itu teralihkan.
Melihat putranya menggendong sang keponakan, membuat kedua mata Bu Ana hampir lepas tak percaya. "Lukman... Ini benar kamu?" pekiknya sambil mendekat.
Bik Inem menahan tawanya. Semetara Lukman masih tetap sama, menunjukan deretan gigi rapinya.
"Awas aja kalau sampai Keira jatuh... Ku gantung di alun-alun Yogja!" seru Danish menatap dingin adiknya, lalu berhenti di depan meja, tatapanya penuh waspada.
Hana yang mencoba menyibukan diri, kini tampak memasukan barang-barang seperti tisu basah, sisir rambut, begitu handuk bayi milik Keira kedalam tas.
"Mah... Ternyata makhluk ini sangat lucu," tawa Lukman pecah, sementara wajahnya polos tanpa dosa. Ia memang sengaja ingin menggoda kakanya, sebab sudah lama tidak melihat si kutub itu marah.
Danish sudah meruncingkan matanya. "Enak aja makhluk-makhluk... Kamu pikir nggak susah apa buatnya?"
"Emang susah, Mas? Kaya gimana? Ada buku panduannya nggak?" goda Lukman kembali.
Bugh!
Danish melayangkan timpukan bantal sofa pada bahu adiknya. Matanya meruncing tajam. "Intinya itu satu, cepetan nikah!" tandasnya.
Lukman berdesis, napasnya berhembus panjang. Sambil menatap Keira yang sejak tadi terkekeh, ia menjawab, "Aku nggak mau nikah, tapi pingin punya anak aja gitu. Mah...." wajah Lukman sudah mendongak.
"Ih, amit-amit... Nggak ya, Lukman! Sia-sia dong Mamah sunatin kamu waktu kecil. Lagian, punya aset sebegitu tampanya masak nggak di gunakan," balas Bu Ana mendesah dalam.
Sementara Hana, wanita cantik itu ikut merasa tenang di tengah-tengah keluarga sang Majikan. Meskipun Bosnya sendiri begitu dingin, namun setidaknya masih ada anggota keluarga lain yang memberinya sikap hangat. Lukman salah satunya. Meskipun masih agak kaku.
"Hana...." Bu Ana berjalan mendekat. Lenganya merengkuh pundak Hana sejenak, lalu pandanganya jatuh pada putra kedua yang masih asik menoel-noel wajah Keira. "Lukman... Kamu udah kenalan belum sama Hana? Dia....."
"Mah...." Danish menatap Mamahnya dengan ekspresi waspada. "Hana sudah Danish kontrak menjadi Ibu susu Keira. Jadi, nggak usah pake dikenal-kenalin sama tu anak!" nadanya kesal.
Hana mengedarkan mata kesana kemari bak orang kebingungan.
"Mah, udah lanjutin aja! Mamah mau bilang apa tadi," timpal Lukman menjulurkan lidah kearah Kakaknya.
Danish mulai meradang. Entah mengapa, ia merasa tidak terima posisi Hana terancam sekarang. "Mah... Ayolah! Carikan saja perjaka tua itu wanita lain!"
Bu Ana hanya mampu menghela napas lemah. Ia turunkan lenganya dari bahu Hana, merasa lelah sendiri menghadapi kedua putranya.
"Sebentar-sebentar...." Danish menyipitkan mata kearah Lukman, "Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa?" Lukman juga tak kalah penasaran.
Danish kembali melanjutkan. "Kamu menyimpang, ya? Makanya alergi dengan wanita?" tuduhnya sambil menggoda.
"Mah...." rengek Lukman mengadukan itu kepada Ibunya.
Hana yang melihat itu terkekeh, benar-benar tak ada bosanya melihat kedekatan adik kakak bak Tom and Jerry.
"Danish, kamu ini ngomong apa sih?" Bu Ana melototkan mata. Tapi tak lama itu juga sedikit berpikir. "Eh eh, tapi iya sih? Kamu nggak nyimpang 'kan sayang?"
Lukman semakin merengek kencang, hingga membuat tawa Keira pecah. Namun tak lama itu, tawanya berubah menjadi tangisan.
"Eh, eh... Sayang... Cup cup... Keira jangan nangis lagi, ya...." Hana bersiap, dari arah samping, mengusap kepala Keira dalam posisi menunduk.
Danish yang melihat itu, kini langsung bangkit. Ia mengambil alih gendongan Keira dari tangan Lukman. "Loh... Kok di ambil sih?" Lukman sampai tersentak.
Barulah, setelah itu Danish memberikan putrinya kepada Hana. Pria itu hanya diam, hawanya dingin, namun entah mengapa setiap kali Hana dekat dengan adiknya, ia merasa tak terima.
Ceklek!
Suster datang dengan sopan. "Permisi Pak Danish, saya hanya memberitahukan kalau pasien sudah di bolehkan pulang.
Bu Ana bangkit, mengulas senyum tegas, "Baik, terimakasih Sus...."