Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Pulih Tapi Lapar
Kalimat itu menusuk jauh—bukan untuk melukai, melainkan menyadarkannya akan segala perjuangan yang telah ia jalani: berhari-hari tanpa makanan, tanpa seteguk air yang layak, tanpa tempat untuk sekadar merebahkan tubuh. Bahkan lebih dari itu—ia telah melewati cobaan yang lebih berat, bertahan meski dunia terus mendorongnya jatuh.
Sekarang Gerard sadar. Tanpa disadari, ia telah melalui semuanya. Ia tetap berusaha, meski tahu jalannya mustahil. Lalu, mengapa aku harus menangis seperti ini? Aku masih bisa… Hanya…
Tekad dan keberanian mulai kembali membara. Tapi keraguan segera menyusup. Selama ini ia berjuang dengan tubuh yang masih bisa bergerak, pikiran yang jernih, mata yang masih melihat. Sekarang? Semuanya tak berfungsi. Suaranya hilang, pandangan gelap. Ini ujian terberat—ketika alat untuk bertarung direnggut darinya.
Sudahlah. Tidak apa. Mungkin lebih baik seperti ini—mati tanpa harus melihat atau berbicara lagi. Bahkan, andai ingatanku pun hilang… agar akhir ini lebih damai…
Monolog dalam hatinya terasa berat, tapi itu satu-satunya akhir yang ia yakini masih dapat diraih. Penderitaan ini terlalu besar, terlalu dalam—hanya menyisakan secuil harapan yang hampir padam.
Namun di balik itu, sesuatu masih tak mau menyerah.
[Mati? Apa yang Anda bicarakan?]
Suara itu kembali hadir, memenuhi kekosongan pikirannya. Gerard masih asing, dan lebih asing lagi dengan nada optimisnya. Tentu saja! Dalam keadaan seperti ini, lebih baik aku mati! Aku tak tahu di mana, tak tahu keadaan tubuhku, bahkan tak bisa minta tolong!
Itu bukan keputusasaan—itu realita. Tapi justru karena itulah, sesuatu di dalamnya tak merasa puas.
[Saya di sini. Tak perlu khawatir.]
Tanpa menunggu respons, suara itu melanjutkan dengan sesuatu yang tak ia pahami. Gerard hanya bisa pasrah, hampir berharap suara itu bisa mengakhiri segalanya dengan cepat.
[Menganalisis kondisi tubuh…]
[Hasil ditemukan:]
[Lumpuh — 5 jam]
[Buta — 15 jam]
[Bisu — 14 jam]
[Patah Tulang (Parah) — 5 jam]
[Luka Kecil (Normal) — 5 jam]
Mendengar deretan analisis yang tak masuk akal itu, tubuh Gerard membeku. Pikirannya tak sanggup mencerna. Informasi itu justru membuat ketakutannya semakin nyata. Tapi suara itu belum berakhir.
[Pemulihan Dimulai…]
[Diperlukan waktu: 1 jam.]
[Progres: 1%…]
Gerard tak memahami apa yang dilakukan oleh suara itu. Ia hanya bisa menyerah, terbaring pasrah, merasakan sesuatu yang terasa seperti ilusi mengalir perlahan di seluruh tubuhnya—menghapus satu per satu rasa nyeri yang selama ini menusuk.
Apakah ini juga tak nyata? Mungkin. Tapi ia tak lagi berharap banyak. Rasa nyaman yang mendadak itu berhasil merenggangkan ketegangannya. Ia tersenyum kecil, matanya yang tak lagi bisa melihat pun terpejam dengan lemas.
Siapapun kau… terima kasih.
Bisiknya yang terakhir itu melayang, sebelum ia membiarkan semua yang terjadi terus berlangsung.
*•*•*
Waktu bergerak, perlahan tapi pasti. Meski sulit dipercaya, pemulihan itu nyata. Rasa sakitnya menghilang sepenuhnya, bahkan di tengah proses, ia bisa merasakan tubuhnya bergerak—melepaskan tali, duduk, bersandar pada sesuatu yang tak ia kenal.
Lututnya mulai bisa digerakkan, tangannya terasa lebih ringan, dadanya terisi kembali oleh napas yang mantap. Dan akhirnya…
“A… A? A!” Gerard mencoba bersuara setelah suara itu memastikan pita suaranya telah pulih. Ekspresinya berubah dari ragu, lalu terkejut, sebelum akhirnya pecah menjadi tawa lega. Tangannya terangkat tinggi, seolah meraih langit yang tak bisa ia lihat. “Wuhuu!”
Tak ada lagi keraguan. Sekarang ia percaya sepenuhnya pada kemampuan pemulihan yang sedang berjalan. Dengan patuh ia menunggu, seperti anak kecil menunggu hadiah yang dijanjikan. Kakinya yang sudah dapat digerakkan menyentak-nyentak kecil, menyuarakan sukacita yang tak terbendung.
“Take your time~” ucapnya riang, pada suara asing yang masih berdengung di kepalanya.
Kepercayaan penuh telah ia berikan. Sekarang tinggal penantian, detik demi detik yang bergulir dengan tenang. Perlahan-lahan, tubuhnya kembali utuh, lebih segar dan bertenaga daripada sebelumnya. Hingga akhirnya, sebuah sorot cahaya lembut merambat masuk saat kelopak matanya terbuka perlahan. Butuh beberapa saat untuk menyesuaikan diri, seperti bangun dari tidur yang sangat panjang.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit malam yang gelap, dengan bulan sabit menggantung jelas di antara taburan bintang. Lalu, pandangannya turun perlahan, menyapu pemandangan di sekelilingnya.
“Di… di mana ini?”
Kalimat itu mewakili seluruh keanehan yang ia rasakan. Sekarang ia bisa melihat dengan jelas—dirinya berada di tengah hutan. Entah di koordinat mana, tapi ia duduk di tepian sungai kecil yang mengalir tenang.
Pepohonan tinggi menjulang, yang pendek merunduk, akar-akar bergerombol muncul dari tanah. Gerard duduk di atas tanah basah yang ditumbuhi lumut dan rumput pendek. Meski ini pertama kalinya ia berada di alam liar, ada rasa… nyaman yang mendalam.
Ini tidak seperti jalanan. Tidak ada yang memandangku aneh, menjauhi, atau mengusirku. Ini… alam. Mereka menerimaku apa adanya.
Perasaan tenang itu, seperti selimut keamanan, menyelimutinya. Gerard bersandar lebih dalam ke batang pohon di belakangnya, tersenyum kecil dengan mata terpejam. Namun, suara itu kembali terdengar—kali ini dengan nuansa yang berbeda.
[Pemulihan selesai.]
Hanya sebuah pemberitahuan singkat. Tapi itu berarti tubuh Gerard telah pulih sepenuhnya, siap digunakan kembali. Saat ia mencoba bangkit, sesuatu terasa lain—tubuhnya terasa lebih ringan, lebih kuat. Bahkan, ada satu hal yang langsung ia sadari: Tubuhku tidak lagi kerempeng… Ini tubuhku yang dulu!
Bentuknya lebih berisi, tangan terasa kokoh, otot-ototnya padat dan berisi. Dengan semangat, ia membalikkan badan, lalu menjatuhkan diri sedikit ke depan untuk melihat bayangannya yang samar di permukaan air sungai. Di sana, wajahnya tampak segar, tanpa luka atau lebam sedikit pun. Lega menyelimutinya.
“Ini benar-benar ajaib… Terima kasih!” ucapnya, ditujukan pada suara asing yang telah membantunya sejauh ini.
[Sama-sama.]
Gerard masih bersemangat dengan perubahan tubuhnya, tetapi tiba-tiba sesuatu terlintas dalam benaknya. Ia berdiri kaku, tangan meraba bagian belakang kepalanya. Ingatan samar kembali—benturan keras, rasa pusing, lalu gelap. Tapi siapa pelakunya? Tak ada yang jelas. Yang tersisa hanya sensasi lapar yang menggerogoti.
Grruurh~
Perutnya kembali bergemuruh. Tubuhnya mungkin sudah pulih, tapi rasa lapar tak serta-merta hilang. Dan di tengah hutan seperti ini, mencari makanan jauh lebih sulit daripada di jalanan kota.
“Duh…” ia mengelus perutnya. Rasanya belum separah sebelumnya, tapi tetap mengganggu. “Harus cari makan ke mana ya? Di sini… sulit.”
Saat matanya menyapu sekeliling, mencari petunjuk, sesuatu muncul. Bukan sekadar suara—tapi sebuah panel samar berwarna biru, melayang tepat di hadapannya. Di atasnya terpampang tulisan singkat namun mengguncang:
[Tantangan: Bertahan Semalam]
[Hadiah: 100 juta rupiah + unit rumah]
[Status: Sedang berlangsung…]
Mata Gerard terbelalak. Mulutnya terbuka sedikit, napasnya tertahan. Ini tidak mungkin nyata… Kan?