Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Fitnah Mereka.
"Kau tidak boleh membawa cucuku!"
Deg.
Rania tersentak, spontan dia menghempaskan tangan Martha sampai cekalan wanita paruh baya itu terlepas.
"Aku ibunya, aku punya hak untuk membawa anakku sendiri!" ujar Rania dengan tajam, dadanya mulai bergerak naik turun karna napas yang memburu.
Martha melotot tajam. "Dafa adalah cucuku, cucu pertama keluarga ini. Jadi kau tidak boleh sembarangan membawanya pergi." katanya geram.
Rania tersenyum sinis, merasa benar-benar tidak habis pikir. Ternyata bukan hanya Rangga saja yang gila, tapi orangtuanya juga. Dia benar-benar menyesal karena telah masuk ke dalam keluarga mereka yang sangat tidak waras.
"Terserah kalian semua mau ngomong apa, yang jelas aku adalah ibu Dafa, ibu kandungnya. Tidak ada siapapun yang lebih berhak dariku," ucapnya tegas.
Martha mengepalkan kedua tangannya dengan erat, merasa emosi dan tidak terima. Dia tidak bisa membiarkan Rania membawa cucunya, membawa keturunan keluarga Sanjaya.
"Tidak! Dia adalah putra keluarga ini, kau tidak berhak membawanya pergi!" tolak Martha.
Rania menggertakkan giginya penuh emosi. Tanpa membalas ucapan Martha, dia langsung berbalik dan berjalan cepat untuk meninggalkan tempat itu membuat Martha langsung berteriak marah.
"Berhenti, kau! Jangan bawa cucuku!" teriak Martha membuat para pembantu bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"A-ada apa, Nyonya?" tanya salah satu pembantu.
"Cepat kejar Rania, jangan biarkan dia membawa cucuku pergi!" perintah Martha, dia lalu bergegas mengejar Rania dengan diikuti oleh pembantunya.
Rania semakin mempercepat langkah kakinya saat melihat apa yang Martha lakukan, sementara Dafa tampak memeluk sang mama dengan erat.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mama akan selalu bersamamu," ucap Rania, dia semakin mengeratkan pelukannya saat tubuh Dafa gemetar takut.
Rania terus berlari dengan napas tersengal-sengal, hingga akhirnya berhasil sampai ke gerbang membuat security yang tadi menyapanya terlonjak kaget.
"A-ada apa, Nyonya?" tanya security itu saat melihat Rania berlari sambil menggendong Dafa.
Belum sempat Rania menjawab, tiba-tiba terdengar suara teriakan Martha. "Tangkap wanita itu, Agung!" perintahnya sambil menunjuk ke arah Rania, tentu saja hal itu membuat security itu tersentak kaget.
Rania yang sempat berhenti, kembali melangkahkan kakinya untuk segera pergi. Namun, security itu mencekal tangannya dan menahan mereka tepat di depan gerbang.
"Lepaskan aku, Pak. Aku mohon biarkan kami pergi," ucap Rania, kedua matanya memerah dengan berkaca-kaca.
Agung tertegun saat melihat raut wajah Rania, dia yang akan melepaskan tangan wanita itu kalah cepat dengan salah satu pembantu yang telah berhasil mendekat.
"Lepaskan aku!" teriak Rania saat tangannya dipegang erat oleh salah satu pembantu di rumah itu, membuat Dafa mulai menangis, bingung oleh ketegangan yang tak ia pahami. Tangisan kecil itu justru membuat hati Rania terasa semakin hancur.
"Jangan melakukan hal bodoh, Rania. Cepat bawa Dafa masuk!" bentak Martha, dia lalu menyuruh para pembantu dan security untuk menyeret Rania masuk ke dalam rumahnya.
Rania menggeleng keras. "Tidak, aku tidak mau!" teriaknya, dia menarik-narik tangannya yang sedang ditarik paksa oleh mereka, membuat tangisan Dafa semakin menguat.
"Mama... Mama... "
Tangisan Dafa membuat beberapa orang yang sedang melintas di tempat itu mulai memperhatikan, apalagi saat melihat Rania yang ditarik paksa oleh beberapa orang membuat siapa saja yang melihatnya langsung mendekat.
"Lepaskan aku! Biarkan aku dan Dafa pergi!" teriak Rania dengan histeris, apalagi saat Dafa diambil paksa oleh Martha. Dia berusaha untuk mempertahankannya, tetapi kedua tangannya dipegang kuat oleh para pembantu.
"Huhuhu, Mama, Mama." Dafa memberontak saat digendong paksa oleh Martha, membuat wanita paruh baya itu kewalahan dan menyuruh Agung untuk menggendongnya.
"Tidak, lepaskan anakku! Berikan anakku padaku!" teriak Rania kembali dengan menggila. Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pegangan mereka, tapi tidak berhasil. Kedua pergelangan tangannya bahkan sudah memerah dan bengkak.
Martha menghela napas lelah. "Hentikan, Rania. Jangan membuat masalah seperti ini!" katanya tajam, apalagi saat ini sudah banyak orang yang memperhatikan mereka.
"Aku mohon jangan lakukan ini, Ma. Berikan Dafa padaku, biarkan kami pergi," pinta Rania dengan menghiba, suaranya serak, wajahnya sembab, penampilannya acak-acakan, tubuhnya gemetar menahan sakit, hancur, dan rasa takut berpisah dengan putranya.
"Cukup, Rania. Jangan-"
"Ada apa ini, Nyonya?"
Ucapan Martha terhenti saat salah satu warga mendekati mereka dan menanyakan apa yang sedang terjadi di tempat itu, terlihat yang lain juga mendekat dan penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ah, tidak ada apa-apa. Hanya masalah kecil saja," jawab Martha sambil tersenyum, lalu dia melirik ke arah para pembantunya dan memberi kode pada mereka agar segera membawa Rania dan Dafa masuk ke dalam rumah.
"Tidak, lepaskan aku!" teriak Rania kembali. "Aku mohon tolong aku, mereka ingin memisahkan aku dan putraku." katanya sambil melihat ke arah orang-orang yang sedang berkumpul di tempat itu, berharap mereka mau membantunya.
Martha menggertakkan giginya, merasa geram melihat tingkah Rania. "Jangan lagi membuat keributan, Rania. Ayo, kita masuk!" ajaknya lembut.
Beberapa orang mulai berbisik-bisik melihat apa yang sedang terjadi, tentu saja hal itu membuat emosi Martha semakin memuncak.
"Aku mohon tolong aku dan putraku, kami cuma ingin pergi dari sini," ucap Rania kembali dengan terisak, membuat semua orang yang ada di sana menatap iba.
"Kenapa Anda melakukan itu pada menantu Anda sendiri, Nyonya?" tanya salah satu dari mereka, membuat wajah Martha memucat.
"Ti-tidak, ini tidak seperti yang dia bilang," jawab Martha gugup. "Ada sedikit masalah dalam rumah tangga putraku, jadi Rania marah dan ingin pergi, padahal hanya salah paham saja." tambahnya.
"Tapi biar bagaimana pun, dia adalah ibu kandung dari cucu Anda, jadi Anda tidak boleh memisahkan mereka," sambung mereka.
Rania sedikit merasa lega karena mendapat pembelaan dari orang-orang, kemudian dia kembali memohon bantuan mereka agar bisa segera pergi dari tempat itu, membuat Martha kebingungan dan mulai kehabisan akal.
"Ada apa ini? Apa istriku membuat masalah lagi?" ucap Rangga yang baru saja sampai ke tempat itu membuat Martha bernapas lega, sementara Rania tampak memucat saat melihat kedatangan suaminya.
"Ah, Tuan Rangga sudah datang," ujar mereka semua.
"Maaf karna telah membuat keributan." Rangga menundukkan kepalanya. "Saya tidak tau kalau istri saya akan mengamuk seperti ini, kalau tau saya pasti tidak membiarkannya keluar." ucapnya dengan sedih.
Semua orang tampak saling pandang mendengar ucapan Rangga, sementara Rania langsung menggelengkan kepala dengan tangis tertahan.
"Beberapa hari ini keadaan istri saya sangat buruk, karna itu kami terpaksa memisahkannya dari Dafa. Kami tidak mau dia kembali menyakiti Dafa, dia bahkan sampai mengancam untuk membunuhku dan putranya juga."
Semua orang tampak sangat terkejut mendengar penjelasan Rangga, sementara Rania menatap suaminya itu dengan tidak percaya. Bagaimana Rangga bisa memfitnahnya sekejam ini?
"Bohong! Semua itu bohong!" teriak Rania dengan histeris. "Semua yang mereka katakan bohong! Bukan aku yang salah, tapi dia. Dia yang-"
"Cukup, Sayang. Tolong jangan membuat masalah lagi, aku mohon kasihanilah suamimu dan putramu ini."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda