NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Begitu pintu kaca perpustakaan universitas yang kedap suara itu tertutup di belakangnya, sosok Dewi Marmer yang dingin itu seketika runtuh. Cheryl Alton bergegas menuju deretan rak buku paling pojok yang sepi, lalu meledak dalam tawa yang sudah ia tahan sejak di selasar tadi.

"Hahahaha! Ya Tuhan! Wajahnya... kalian harus lihat wajahnya!" Cheryl tertawa sampai badannya membungkuk, tangannya memegangi perut yang terasa kaku karena menahan tawa.

Ia tertawa hingga air mata menetes di sudut matanya. Bayangan Daven yang mematung dengan tangan yang menggantung di udara setelah ia tepis benar-benar adalah sebuah kemenangan besar. Si Kapten Basket yang angkuh, si Pangeran Es yang selama bertahun-tahun menjadikannya sasaran cubitan, akhirnya mati kutu di tangannya.

Ini adalah prank yang sudah Cheryl rancang sejak ia masih di Brooklyn. Selama tiga tahun tanpa kabar, Cheryl bukannya tidak ingat pada Daven. Justru sebaliknya, ia menghabiskan malam-malamnya memikirkan bagaimana cara membalas dendam pada pria yang selalu membuat pipinya merah. Ia berlatih di depan cermin, belajar bagaimana cara menatap dengan dingin, bagaimana cara berbicara dengan nada formal yang menyebalkan, dan bagaimana cara bersikap seolah-olah ia telah melupakan segalanya.

"Rasakan itu, Daven Teldford! Siapa yang sekarang punya kendali?" bisiknya sambil menyeka air mata sisa tawanya.

Cheryl memang berubah secara fisik. Masa-masa sulit di Brooklyn membuatnya belajar untuk lebih disiplin menjaga diri. Olahraga dan gaya hidup sehat telah memahat wajahnya menjadi lebih dewasa dan anggun. Ia bukan lagi gadis kecil dengan pita kuning yang berantakan. Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, Cheryl tetaplah Cheryl.

Baru saja ia ingin merayakan kemenangannya, Cheryl tiba-tiba terdiam. Ia merogoh tasnya yang terlihat sangat rapi itu.

"Tunggu... di mana kartu perpustakaanku?" gumamnya panik. Ia mulai membongkar tasnya yang tadi tertata rapi. Dalam hitungan detik, isinya sudah berantakan. "Tadi aku menaruhnya di sini... atau di saku jaket? Atau tertinggal di pendaftaran?"

Sifat pelupanya tidak pernah pergi. Ia hanya belajar menyembunyikannya dengan sangat baik di depan umum. Cheryl mulai mengacak-acak rambutnya sendiri yang tadi lurus sempurna.

"Aduh, Cherie! Jangan sampai kau kehilangan kartu itu di hari pertama!" ia mengomeli dirinya sendiri sambil terus membongkar tas. Sifat cerobohnya masih mendarah daging, seolah-olah semua keanggunan tadi hanyalah kostum yang bisa ia lepas pasang.

Sambil sibuk mencari kartunya , yang ternyata ia selipkan di sela-sela bukunya sendiri, pikiran Cheryl melayang kembali pada sosok pria yang baru saja ia temui.

"Tapi... kenapa dia jadi makin ganteng?" Cheryl bergumam pelan, wajahnya merona tanpa ada yang melihat. "Dulu dia sudah tampan, tapi sekarang... badannya jauh lebih tegap. Matanya juga lebih tajam. Dan aura dinginnya itu... hiii, bikin merinding tapi juga bikin penasaran."

Ia menyandarkan punggungnya di rak buku, memeluk bukunya dengan erat. "Apa dia sudah punya kekasih? Dengan wajah seperti itu, pasti ada antrean mahasiswi dari sini sampai ke Times Square yang mau jadi pacarnya. Tapi... tadi dia kelihatan kaget sekali saat melihatku. Apa dia benar-benar mencari ku selama ini?"

Ada sedikit rasa bersalah di hati Cheryl saat mengingat tatapan kecewa di mata Daven tadi. Namun, rasa puas karena berhasil membalas dendam jauh lebih besar. Ia ingin Daven merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan tidak dianggap, agar pria itu tahu bahwa Cheryl bukan lagi bakpao yang bisa ia permainkan sesuka hati.

Di sudut lain perpustakaan, Daven masih belum beranjak dari posisinya semula. Ia benar-benar terpukul. Ia tidak tahu bahwa di balik rak buku bernomor 700, gadis yang ia pikir telah berubah menjadi monster dingin itu sedang sibuk mencari pulpennya yang jatuh ke bawah lemari.

"Sial, pulpen kesayanganku!" Cheryl berlutut di lantai, mencoba menggapai pulpen di bawah rak. Jubah hitamnya yang elegan kini terseret di lantai, dan keanggunannya hilang total berganti dengan keriwehan khas Cheryl Alton.

Jika Daven melihatnya sekarang, pria itu pasti akan langsung tahu bahwa drama ini hanyalah akting kelas tinggi. Cheryl tetaplah gadis yang butuh diawasi setiap detiknya. Gadis yang butuh diingatkan bahwa ia meninggalkan dompetnya di kursi taman, atau bahwa ia memakai kaus kaki yang berbeda warna karena terburu-buru.

Cheryl berhasil mengambil pulpennya, lalu berdiri dan merapikan kembali pakaiannya. Ia menarik napas panjang, kembali memasang wajah dingin dan datar yang ia pelajari.

"Oke, Cherie. Pertahankan wajah ini. Jangan sampai kau tersenyum kalau bertemu dia lagi. Biarkan dia penasaran. Biarkan si Teldford itu menderita sedikit lagi," ucapnya pada bayangan dirinya di kaca jendela perpustakaan.

Ia berjalan keluar dari perpustakaan dengan gaya yang sangat anggun, menyapa pustakawan dengan nada formal, seolah-olah ia adalah mahasiswi paling teratur di seluruh universitas. Namun, begitu ia sampai di luar, ia baru menyadari satu hal yang membuatnya ingin berteriak.

"Aduh... kelasku di gedung mana ya? Aku lupa mencatat ruangannya!"

Cheryl berdiri di tengah jalan, tampak bingung dan mulai celingukan. Ia tidak sadar bahwa di kejauhan, Daven sedang memperhatikannya dengan mata yang menyipit curiga. Daven mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Sosok yang tadi sangat dingin, kini tampak sedikit... goyah?

Daven mulai berjalan perlahan mengikuti Cheryl. Insting riweh Teldford-nya mulai bangkit kembali. Ia mencium ada aroma akting di sini, dan Daven tidak akan membiarkan Cheryl memenangkan permainan ini begitu saja.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!