NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukum Iri Hati

Waktu di Hutan Kabut Kematian tidak dihitung dengan terbit dan tenggelamnya matahari. Di sini, waktu diukur dengan seberapa banyak lapisan kemanusiaan yang terkelupas dari kulit seseorang, dan seberapa tebal lapisan iblis yang tumbuh menggantikannya.

Satu bulan.

Tiga puluh hari dalam neraka lembap ini telah mengubah Lu Daimeng menjadi sesuatu yang lain.

Dia duduk di tepi sungai berarus deras yang airnya berwarna keruh kehitaman. Posturnya santai, satu kaki ditekuk menopang lengan, sementara tangan kirinya memegang paha Kelinci Iblis yang baru saja dibakar di atas api kecil. Asap tipis mengepul, membawa aroma daging gosong yang bercampur dengan feromon maskulin yang kuat.

Penampilannya telah berubah drastis.

Kain sutra mahal Keluarga Lu yang dulu dia kenakan kini hanya tinggal secarik kain perca kusam yang melilit pinggangnya, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka terhadap elemen hutan.

Otot-ototnya telah tumbuh dan memadat—akibat latihan fisik dan konsumsi daging kelinci beast yanh brutal. Bukan otot binaragawan yang bengkak, melainkan otot liat seorang pemburu yang kelaparan. Perutnya membentuk deretan abdominal yang keras seperti batu kali, dadanya bidang, dan kulitnya yang dulu pucat kini berwarna cokelat tembaga, penuh dengan goresan luka kecil yang mengering.

Rambut hitamnya tumbuh panjang dan liar, jatuh berantakan menutupi sebagian wajah dan punggungnya yang lebar. Di balik kotoran yang menempel, wajahnya memiliki ketampanan yang tajam, gelap, dan berbahaya.

Lu Daimeng menggigit daging alot di tangannya. Rahangnya bergerak merobek serat otot itu dengan efisiensi yang tenang. Dia tidak lagi merasa jijik. Tubuh fananya perlahan beradaptasi, mengubah protein monster menjadi tenaga murni untuk bertahan hidup.

Dia meletakkan tulang daging itu, lalu menatap tangan kanannya.

Tangan itu tidak mulus. Tangan itu mengerikan.

Dua minggu yang lalu, di tengah malam yang sunyi, Lu Daimeng melakukan hal gila. Tanduk besi yang menancap di tangannya mulai membusuk di bagian pinggir, menyebabkan infeksi.

Dengan gigi terkatup dan sepotong kayu di mulutnya, dia mencabut tanduk itu secara paksa. Sendirian. Tanpa obat bius.

Darah mengucur deras malam itu. Dia hampir mati karena syok dan demam. Namun, berkat konsumsi daging kelinci iblis yang gila-gilaan, tubuhnya bertahan.

Kini, lubang di telapak tangannya telah menutup. Tapi itu bukan penyembuhan ajaib. Jaringan parut berwarna merah muda dan ungu terlihat jelas di tengah telapak tangannya, kasar dan berkerut. Jari-jarinya masih kaku, belum pulih sepenuhnya, namun sudah bisa menggenggam.

"Masih lemah," bisiknya, mengepalkan tangan kanannya perlahan. Rasa nyeri hantu masih terasa. "Tapi cukup untuk memegang senjata (tanduk kelinci yang telah di modif olehnya)."

Di sampingnya, tergeletak tanduk besi hitam sepanjang 30 sentimeter yang telah dia asah ujungnya di batu sungai. Itu adalah tanduk yang pernah menembus tangannya. Kini, itu adalah belatinya.

BOOOOM!

Getaran tanah menghentikan lamunannya. Burung-burung gagak iblis beterbangan dari tajuk pohon di kejauhan, menjeritkan peringatan kematian.

Mata Lu Daimeng menyipit. Dia menoleh perlahan ke arah timur.

Gelombang kejut angin menyapu kabut, membawa serta bau ozon yang tajam—bau Qi yang terbakar. Itu bukan suara alam. Itu adalah suara bentrokan energi yang bertabrakan.

"Pertarungan Kultivator," gumamnya.

Tanpa membuang waktu, dia memungut tanduk besinya, menyelipkannya di balik kain pinggang. Dia bergerak. Bukan dengan kecepatan kilat, tapi dengan langkah senyap seorang predator yang tahu cara menyatu dengan semak belukar.

Satu 100 meter dari sana, hutan telah hancur.

Pohon-pohon tumbang, tanah hangus membentuk kawah selebar sepuluh meter. Di tengah kekacauan itu, pertempuran telah berakhir.

Seorang pria berjubah hitam tergeletak tanpa kepala. Aura hijau beracun perlahan memudar dari mayatnya. Seorang Kultivator Iblis tingkat rendah.

Dan sang pemenang berdiri terhuyung-huyung lima langkah darinya.

Seorang Kultivator Pedang muda. Jubah putihnya yang bersulam awan biru—tanda murid inti Sekte Awan Biru—kini basah kuyup oleh darah. Lengan kirinya putus dari bahu, menyisakan tunggul daging yang mengerikan. Darah yang keluar tidak merah murni, melainkan bercampur nanah hijau. Racun mayat.

"Sialan..." Kultivator itu mengumpat, wajah tampannya pucat pasi. "Sampah iblis... berani melukaiku..."

Dia menjatuhkan pedangnya karena tidak kuat lagi memegangnya, lalu segera duduk bersila dengan panik. Dia menelan sebutir pil, mencoba menyalurkan sisa Qi-nya untuk memblokir racun yang merambat cepat ke jantungnya.

Lu Daimeng mengamati dari balik batu granit besar, sepuluh meter dari lokasi. Jantungnya berdegup kencang—respon biologis normal saat melihat bahaya. Tapi pikirannya dingin.

Dia sekarat. Fokusnya terpecah. Tapi dia masih Kultivator. Satu jari darinya bisa membunuhku.

Lu Daimeng merasakan gejolak aneh di perutnya. Bukan lapar.

Itu adalah Hukum Iri Hati.

Dia melihat bagaimana cahaya Qi berpendar di tubuh pria itu, melindunginya dari racun. Dia melihat betapa "spesialnya" pria itu. Pria itu memiliki jalan kultivasi yang menolak Lu Daimeng selama 17 tahun.

Kenapa dia bisa menggunakan Qi? bisik suara gelap di kepala Lu Daimeng. Kenapa dia boleh memiliki kekuatan itu, sementara aku harus memakan daging mentah untuk mendapat kekuatan palsu ini?

Lu Daimeng membuat keputusan.

Dia melangkah keluar dari persembunyiannya. Dia sengaja membuat langkah kakinya terdengar berat dan panik.

Krak! (Suara ranting patah yang disengaja).

Kultivator itu membuka mata seketika. Tatapannya tajam, penuh niat membunuh. Namun saat melihat sosok Lu Daimeng—seorang pemuda setengah telanjang, kotor, dan jelas-jelas manusia biasa tanpa energi spiritual—kewaspadaannya berubah menjadi penghinaan.

"Manusia fana?" desis kultivator itu, darah hitam menetes dari bibirnya. "Bagaimana serangga bisa masuk sedalam ini?"

Lu Daimeng memasang wajah ketakutan. Dia membiarkan bahunya turun, terlihat gemetar. Akting yang sempurna dari seorang korban.

"T-Tuan Abadi..." suara Lu Daimeng terbata-bata. "S-saya tersesat... Saya mendengar suara ledakan... Tolong saya..."

"Enyahlah!" bentak kultivator itu. "Jangan ganggu pemurnianku! Pergi sebelum aku memenggalmu!"

Kultivator itu tidak punya waktu. Racunnya menyebar. Dia mengangkat tangan kanannya, melepaskan gelombang kejut Qi murni—untuk mengusir lalat yang mengganggu.

BAM!

Lu Daimeng bisa melihat serangan itu datang. Tapi dia tidak bisa menghindarinya. Kecepatan serangan Qi terlalu cepat untuk dihindari oleh tubuh manusia biasa.

Tubuhnya terhantam keras. Dia terlempar lima meter ke belakang, menabrak batang pohon dengan suara buk yang menyakitkan.

"Ughhh!"

Tulang rusuknya berderak. Darah segar menyembur dari mulutnya. Sakitnya luar biasa, membuat pandangannya berkunang-kunang.

Lu Daimeng jatuh merosot ke tanah. Dia memejamkan mata, menahan napas.

Dia pura-pura pingsan. Atau mati.

Khoeggh!!

Kultivator itu memuntahkan seteguk darah karena penggunaan energi yang telah mencapai batas, lalu mengusap darah dimulutnya.

Kultivator itu mendengus, "Sampah lemah," lalu kembali memejamkan mata. Dia tidak peduli apakah serangga itu mati atau tidak. Kesombongannya membuatnya yakin bahwa satu serangan itu sudah cukup untuk membuatnya 'takut'.

Satu menit berlalu. Hening.

Hutan kembali sunyi, hanya ada suara napas berat kultivator itu yang sedang bertarung melawan racun di dalam darahnya. Keringat dingin membanjiri wajahnya. Pertahanan fisiknya terhadap dunia luar berada di titik nol.

Di bawah pohon, mata Lu Daimeng terbuka sedikit.

Dia memuntahkan gumpalan darah di tanah tanpa suara. Sakit di dadanya nyata. Dia manusia biasa, pukulan tadi hampir meremukkan paruparunya. Tapi tekad dendamnya lebih keras dari tulangnya.

Dia bangkit perlahan. Sangat pelan.

Tidak ada lagi akting ketakutan. Wajahnya kembali dingin, datar, dan apatis.

Dia mengambil tanduk kelinci dari balik kain pinggangnya. Menggenggamnya erat dengan tangan kanannya yang masih memiliki bekas luka.

Lu Daimeng melangkah mendekat. Kakinya yang telanjang tidak menimbulkan suara di atas tanah hangus.

Dia berdiri tepat di hadapan kultivator yang sedang bermeditasi itu. Dia bisa melihat kelopak mata pria itu bergetar menahan sakit racun.

Lu Daimeng tersenyum. Senyum yang tenang, namun mematikan.

Tanpa peringatan. Tanpa teriakan perang. Tanpa ragu.

Dia menghujamkan tanduk besi itu.

Bukan ke jantung.

Tapi ke perut bagian bawah. Ke titik di mana para kultivator menyimpan kesombongan mereka.

JLEB!

Mata kultivator itu terbuka lebar, pupilnya mengecil hingga seukuran jarum.

"Ghhhk!"

Jeritannya tertahan. Qi yang sedang dikumpulkannya untuk melawan racun tiba-tiba meledak dari dalam karena wadahnya—Dantiannya—telah bocor fisik.

Lu Daimeng memutar tanduk itu di dalam perut kultivator itu dengan brutal.

Krek.

Bunyi sesuatu yang pecah. Fondasi kultivasi yang telah dibangun bertahun-tahun, hancur dalam sedetik oleh tangan manusia biasa.

"K-kau..." Kultivator itu menatap Lu Daimeng dengan tatapan takut. Dia mencoba mengangkat tangannya, tapi tenaganya hilang. Dia lumpuh.

Lu Daimeng mencabut tanduk itu, darah menyembur membasahi wajah dan dada Lu Daimeng. Dia kemudian menendang dada kultivator itu hingga terlentang.

Pria itu terbatuk darah, menatap Lu Daimeng dengan ketidakpercayaan. "Iblis... kau iblis..."

Lu Daimeng berjongkok di atas dada pria itu. Dia menekan lehernya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memainkan tanduk berdarah itu di depan mata sang kultivator.

"Iblis?" Lu Daimeng tertawa kecil. Suaranya rendah, rasional, dan sangat dingin. "Kalian para kultivator selalu menyebut apa yang menakutkan bagi kalian sebagai iblis. Itu sebutan yang malas."

Lu Daimeng mendekatkan wajahnya.

"Kenapa bajingan seperti kalian bisa punya meridian yang sempurna," bisik Lu Daimeng, nada suaranya penuh dengan racun Iri Hati. "Kalian punya sekte. Kalian bisa terbang. Kenapa langit begitu tidak adil."

Lu Daimeng menggoreskan ujung tanduk itu di pipi sang kultivator, membuat luka tipis.

"Sementara Aku? Aku adalah sampah yang bahkan dibuang ayahku sendiri. Aku manusia cacat yang tidak bisa menyerap Qi. Aku harus makan daging mentah untuk bertahan hidup disini."

"T-tolong..." Kultivator itu menangis. Rasa sakit fisik akibat Dantian yang hancur membuatnya ingin mati saja.

"Jangan menangis," kata Lu Daimeng lembut. "Lihat ironinya. Kultivator muda dari Sekte Awan Biru, dikalahkan oleh sampah tak berguna hanya dengan sebatang tulang."

"K-kau tidak akan lolos..."

"Sssttt." Lu Daimeng meletakkan jari telunjuknya yang kasar di bibir pria itu. "Simpan napasmu. Kau tahu tingkatan kultivasi, kan? Pembentukan Qi, Jiwa, Roh, Kuno, Saint, Petaka Dunia..."

Mata Lu Daimeng menerawang, seolah melihat sesuatu yang jauh yang tak akan pernah bisa dia capai dengan cara normal.

"Kau punya tiket untuk mendaki tangga itu. Dan kau membuangnya karena kesombonganmu. Sekarang, tiket itu hangus."

Lu Daimeng mengangkat tanduk kelinci itu tinggi-tinggi dengan kedua tangan.

"Aku membenci kalian," bisiknya. "Aku membenci keberuntungan kalian."

JLEB.

Dia menghujamkan tanduk itu tepat ke jantung. Dia menekannya perlahan, membiarkan berat badannya mendorong besi itu menembus tulang dada, merasakan setiap detak terakhir jantung pria itu berjuang melawan kematian.

Tubuh kultivator itu mengejang hebat, lalu diam selamanya.

Lu Daimeng menarik napas panjang, menghirup bau amis darah yang segar.

Dia tidak merasa bersalah. Dia merasa adil.

Dia segera bekerja. Dia mencuri barang-barang pria kultivator iblis dan kultivator yang dibunuhnya tersebut. Menyimpan kedua cincin mereka, karena sekarang dia tidak bisa membuka cincin tersebut jadi lebih baik disimpan.

Dia menyeret kedua mayat itu ke cekungan batu di dalam Gua-nya. Dia menyayat arteri di leher dan pergelangan tangan mayat itu, membiarkan darahnya mengalir keluar dan tertampung di cekungan batu alami itu.

Darah seorang kultivator pembentukan Qi. Merah, kental, dan berkilau samar.

Lu Daimeng tahu dia tidak bisa menyerap energi ini seperti kultivator iblis. Dia manusia biasa. Tapi dia tahu darah ini kaya nutrisi.

Dia menelanjangi dirinya sendiri, lalu masuk ke dalam cekungan darah itu.

Dia meminum seteguk besar darah itu.

"Arghhh!"

Dia berteriak.

Rasanya seperti menelan bara api. Perut manusianya bergejolak, ususnya terasa terbakar. Energi kasar dalam darah itu merusak organ dalamnya sebelum diserap secara paksa oleh tubuhnya yang perlahan bermutasi.

Dia memuntahkan sedikit darah itu kembali, bercampur dengan darahnya sendiri.

"Sakit..." desisnya, tubuhnya gemetar hebat, kulitnya memerah seperti udang rebus. "Tapi rasa sakit ini... lebih baik daripada rasa lemah."

Dia membalurkan sisa darah itu ke seluruh tubuhnya, ke rambutnya yang panjang, ke wajahnya. Dia ingin bau kultivator ini menempel padanya. Bau Qi murni, bau darah segar.

Dia berendam di air yang telah bercampur darah kedua kultivator itu semalaman, sambil menahan rasa sakit yang membakar kulitnya.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!