Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan kedua untuk Hana
Mentari pagi bersinar cerah di langit Jakarta, seolah ikut merestui suasana di kediaman mewah keluarga Sutoyo. Taman belakang yang luas telah disulap menjadi area akad nikah yang sakral dengan dominasi warna putih bersih. Wangi bunga mawar putih segar semerbak memenuhi udara, menghiasi setiap sudut pelaminan dan deretan kursi tamu yang terbatas. Hanya kerabat dekat, sahabat, dan rekan bisnis tepercaya yang hadir dalam prosesi tertutup ini.
Tama sudah duduk di hadapan meja akad dengan wajah tegang namun penuh wibawa. Di depannya, Pak Sutoyo menatap calon menantunya itu dengan sorot mata tegas sekaligus haru. Tak lama, penghulu memberikan instruksi agar mempelai wanita dihadirkan.
Saat pintu menuju taman dibuka, suasana mendadak hening. Hana muncul dalam balutan kebaya putih panjang yang anggun, dihiasi payet kristal yang berkilau lembut diterpa cahaya matahari. Rambutnya tersembunyi rapi di balik hijab dan kain lace putih yang menjuntai cantik. El Barack berjalan di samping ibunya, menggandeng tangan Hana dengan setelan jas kecil yang serasi. Di belakang mereka, Bude Minah dan Rahma mendampingi dengan raut wajah penuh syukur.
Tama yang melihat Hana berjalan mendekat seolah kehilangan napas. Ia menatap Hana tanpa berkedip, mengagumi kecantikan luar biasa wanita yang sebentar lagi akan sah menjadi tanggung jawabnya itu.
"Hana, jangan gugup ya," bisik Rahma perlahan di telinga Hana. "Ingat, sebentar lagi kau akan mendapatkan kebahagiaanmu. Aku tidak menyangka kau berjodoh dengan Mas Tama!"
"Iya, Nduk," timpal Bude Minah dengan suara rendah. "Bude doakan semoga kau bahagia dengan Nak Tama. Meskipun Tama memiliki masa kelam atas perbuatan ibunya dulu, dia pria yang tulus mencintaimu. Jangan hukum dia atas dosa ibunya."
Hana hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi yang berlebihan. El yang merasakan tangan ibunya dingin, menggenggamnya lebih erat. "Bunda, semoga Bunda bahagia," ucap bocah itu tulus.
Hana tersenyum tipis ke arah putranya, namun di dalam hati ia berbisik dengan getir,
'Maafkan Bunda, El... Bude, Rahma... Maaf karena pernikahan ini hanyalah hitam di atas kertas. Tak ada cinta yang menjadi landasannya, hanya tameng untuk melindungimu, El."
Kini Hana telah duduk bersanding di samping Tama. Tama menoleh perlahan, menyunggingkan senyum paling tulus yang pernah ia miliki.
"Kamu sudah siap, Hana?" tanya Tama lembut.
"Siap, Mas," jawab Hana singkat.
Pak Sutoyo menjabat tangan Tama. Setelah khotbah nikah usai, suasana menjadi begitu sunyi. Pak Sutoyo mengucapkan kalimat ijab dengan suara mantap, dan Tama menyambutnya tanpa keraguan sedikit pun.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hana Zakiyah binti Sutoyo Pradipta dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" ucap Tama dengan satu tarikan napas, lantang dan lugas.
"Sah!" teriak para saksi.
Tepat saat kata "sah" bergema, di ambang pintu masuk taman, Cakra berdiri mematung bersama kedua orang tuanya. Langkahnya terhenti, jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kalimat yang meresmikan Hana menjadi istri pria lain. Air mata jatuh tanpa bisa ia bendung lagi. Ia kalah telak. Kesempatannya untuk membina kembali rumah tangga dengan Hana kini telah terkubur di bawah janji suci Tama.
Di sampingnya, Nyonya Inggit berdiri dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Matanya menyisir kediaman Sutoyo yang jauh lebih megah dari yang ia bayangkan. Ia menatap Hana yang kini bersanding dengan seorang perwira tinggi, didampingi oleh Sutoyo yang merupakan orang terpandang.
'Kenapa jadi seperti ini? Ternyata Hana putri orang kaya... Ternyata dia anak seorang Jenderal. Tahu begitu, dari dulu aku restui saja pernikahan Cakra dan Hana. Bodohnya aku!' batin Inggit penuh penyesalan yang terlambat.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Rasa sakit hati yang ia tanam di hati Hana telah tumbuh menjadi tembok raksasa yang tak akan pernah bisa ia robohkan lagi.
Hana mencium punggung tangan suaminya dengan khidmat, sebuah simbol awal dari kehidupan baru yang ia bangun sebagai perlindungan. Tama, dengan binar mata yang tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya, mengecup kening Hana dengan sangat tulus, sebuah kecupan yang seolah menjanjikan bahwa mulai detik ini, tak akan ada lagi air mata yang jatuh karena dihina.
Setelah prosesi sakral itu usai, keduanya naik ke pelaminan yang megah. Satu per satu tamu undangan memberikan ucapan selamat. Di barisan undangan, Cakra melangkah dengan sangat pelan, seolah setiap langkahnya terasa seberat beban yang menghimpit dadanya.
El, yang berdiri di sisi pelaminan, melihat sosok sang ayah bersama kakek dan neneknya. Bocah itu menoleh pada Hana, meminta izin lewat tatapan matanya. Hana mengangguk pelan, memberikan izin. Saat itulah, mata Hana bertemu dengan mata Cakra. Hana menatapnya dalam-dalam, tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang dingin. Ia ingin Cakra menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa wanita yang dulu ia buang, kini telah bertahta di tempat yang jauh lebih tinggi dan terhormat.
"Ayah!" teriak El sembari berlari.
Cakra berlutut, menyambut pelukan putranya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. "El, putraku... Maafkan Ayah ya, Ayah sudah bertindak bodoh padamu kemarin," bisik Cakra lirih, suaranya pecah oleh emosi.
"Tidak apa-apa Ayah, El kangen sama Ayah!" jawab El polos, membuat hati Cakra semakin tersayat.
Di sisi lain, Pak Sutoyo yang biasanya menatap Cakra dengan tatapan membunuh, kini tampak lebih ramah namun tetap berwibawa. Ia merasa misi pembalasan dendamnya telah tercapai secara elegan. Cakra kini tak lebih dari seorang penonton dalam kebahagiaan putrinya.
Sambil menggendong El, Cakra melangkah menuju pelaminan. Nyonya Inggit mengekor di belakang dengan wajah yang tak lagi angkuh, ia hanya bisa menatap takjub pada kemewahan dan pengaruh keluarga Sutoyo yang selama ini ia remehkan.
"Cakra, kamu harus kuat, Nak!" bisik Pak Ardi menenangkan putranya. "Ini bukanlah akhir dari segalanya. Ingat bahwa Hana masih mau membantu perusahaan kita yang di ambang kehancuran. Buang semua masalah masa lalu."
Cakra mengangguk patuh. "Papah tenang saja. Meskipun rasanya begitu sakit menerima kenyataan ini, aku belajar untuk ikhlas. Masih ada El yang menjadi penyemangat hidupku. Walau bagaimanapun, ia adalah darah dagingku, anak yang selama ini aku dambakan."
Pak Ardi menepuk bahu putranya. "Betul sekali, Nak. Sekarang pikirkanlah masa depan El. Jadilah orang tua yang baik dan bijak untuknya."
Tibalah giliran Cakra berdiri tepat di hadapan kedua mempelai. Suasana yang tadinya tegang mendadak melunak saat melihat El berada di gendongan Cakra.
"Selamat, Hana... Tama," ucap Cakra dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meski tatapannya tak bisa berbohong. Ia menjabat tangan Tama, pria yang kini menjadi pelindung resmi bagi wanita yang ia cintai. "Jaga Hana dan El dengan baik. Aku menitipkan mereka padamu."
Tama menyambut jabat tangan itu dengan tegas namun tanpa permusuhan. "Terima kasih, Cakra. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri."
Hana hanya menatap datar, namun dalam hati ia merasa sebuah beban berat telah terangkat. Kini, perannya sebagai istri Wiratama Yuda telah dimulai, dan bayang-bayang Ardiwinata tak lagi memiliki kuasa atas dirinya.
Bersambung...
salam laros mania