NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Sepuluh

Malam itu, di dalam mes yang tenang dengan aroma maskulin yang minimalis, Pak Han duduk di tepi tempat tidur. Kemejanya sudah ditanggalkan, menyisakan kaos dalam putih yang membalut tubuh tegapnya. Di tangannya bukan laporan proyek, melainkan kartu nama Pak Bram yang tadi siang ia amankan dengan kasar.

Satu sentakan kecil, dan kartu itu robek menjadi dua.

"Berani-beraninya dia menatap Felicia seperti itu," gumamnya dengan suara rendah yang berbahaya.

Ia menghela napas, menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Bayangan wajah Felicia mulai menyerbu. Sebenarnya, sejak awal gadis itu menginjakkan kaki di kantor cabang sebagai staf biasa, Han sudah memperhatikannya.

Felicia itu, berisik. Agak ceroboh. Dan masih terlihat seperti anak kecil di matanya yang sudah kenyang dengan asam garam dunia bisnis.

Tapi anak kecil itu punya tawa yang paling tulus yang pernah ia dengar. Dan hari ini, saat ia melihat Felicia dengan penampilan yang berbeda, Han merasa seperti dipukul kenyataan telak bahwa Felicia bukan lagi anak kecil. Dia wanita yang sangat cantik.

Ia mengacak rambutnya kesal saat mengingat kejadian di lift tadi. Ia berdiri mematung di sudut lift, namun otaknya bekerja lebih cepat dari mesin lift tersebut. Ia bisa mencium aroma parfum Felicia—floral yang manis, sangat kontras dengan aromanya sendiri.

Dia cantik banget hari ini. Sialan.

Ia melirik Felicia dari sudut matanya. Gadis itu tampak bingung, mungkin takut karena ia diam saja sejak di restoran. Saat lift mulai bergerak turun, dorongan itu muncul lagi. Dorongan yang sudah ia tekan habis-habisan selama berbulan-bulan.

Maju satu langkah saja, James. Dia sudah ada di sana. Di depanmu.

Ia melangkah maju, memojokkan Felicia. Ia melihat mata gadis itu membulat, lalu perlahan menutup. Bulu matanya yang lentik bergetar. Han bisa melihat detak jantung Felicia yang berpacu di urat lehernya yang jenjang.

Tinggal sedikit lagi. Cukup miringkan kepala, dan aku bisa merasakan bibir yang sedari tadi mengganggu fokusku itu.

Jari-jarinya mengepal kuat di samping tubuhnya. Suara di kepalanya berteriak "Bilang ke dia! Bilang kalau dia milikmu! Bilang kalau tidak ada laki-laki lain yang boleh melihatnya seperti itu!"

Tapi kemudian, realita menyentak dirinya. Jabatannya sebagai Manajer muncul seperti sirine peringatan. Harga dirinya, profesionalitasnya, dan tembok tinggi yang ia bangun bertahun-tahun menahan napasnya. Ia tidak boleh terlihat lemah.

Maka, ia menarik napas tajam dan memilih kalimat paling kaku yang bisa ia pikirkan.

"Lipstik kamu..." bisiknya, sengaja membuat suaranya terdengar ketus untuk menutupi getaran gairah yang hampir pecah.

Begitu pintu lift terbuka, Han melangkah keluar dengan kaki yang terasa berat. Ia memaki dirinya sendiri dalam hati.

Kembali ke kamar mes, Han mengambil ponselnya. Dengan jemari yang sedikit ragu, ia mengetik pesan singkat.

Besok pakai warna navy. Dan jangan pakai lipstik yang tadi. Ganti warna lain.

Ia menekan tombol kirim, lalu melempar ponselnya ke kasur. Ia harus memastikan besok Felicia tidak menarik perhatian siapa pun.

"Cuma asisten, James. Dia cuma asisten," bisiknya pada kegelapan kamar, mencoba membohongi dirinya sendiri untuk kesekian kalinya.

...***...

Keesokan paginya, Pak Han datang dengan aura yang lebih dingin dari mesin pendingin ruangan di ruang server. Dia sudah memantapkan hati: Profesionalitas adalah harga mati. Tidak ada lagi aksi pojok-pojokan di lift, tidak ada lagi bisikan-bisikan di telinga.

Ia duduk di kursinya, memasang kacamata, dan fokus pada dokumen di depannya. Saat pintu diketuk, ia bahkan tidak mendongak.

"Masuk," ucapnya singkat dan datar.

Felicia masuk dengan langkah ragu. Sesuai instruksi, dia memakai blus navy yang elegan. Namun, begitu Han memberanikan diri melirik sekilas untuk memastikan 'ganti wanya lipstik-nya' sudah ditaati, dunianya serasa berhenti berputar.

Felicia memang tidak memakai lipstik merah atau peach yang segar. Dia memakai warna nude-brown dengan tekstur glossy yang sangat lembap. Di mata orang awam, itu mungkin terlihat "pucat", tapi di mata Han yang sedang berusaha menahan diri, bibir Felicia malah terlihat seperti permen karamel yang mengkilap dan... sangat kenyal.

Sialan. Ini malah lebih parah dari yang kemarin, maki Han dalam hati.

"Pak, ini laporan yang Bapak minta semalam," suara Felicia memecah keheningan.

Han langsung membuang muka, menatap layar monitornya yang sebenarnya cuma menampilkan wallpaper Windows. "Ya, taruh di sana. Hari ini, jadwal kamu akan sangat padat. Saya ingin kamu merapikan semua arsip fisik dari tahun 2022 di gudang bawah, setelah itu rekap semua vendor yang belum memperbarui kontrak."

Felicia melongo. "Gudang bawah, Pak? Kan debunya tebel banget, saya pake baju bagus begini..."

"Kamu asisten saya, Felicia. Bukan model yang mau pemotretan," potong Han tanpa melihat lawan bicaranya sedikit pun.

Tangannya pura-pura mengetik sesuatu dengan kecepatan tinggi, padahal dia cuma mengetik random di kolom pencarian Google. "Cepat kerjakan. Saya tidak mau melihat kamu santai-santai seharian ini."

Felicia cemberut. Bibir glossy-nya mengerucut, dan itu membuat Han hampir saja meremas pulpennya sampai patah. "Baik, Pak. Permisi."

Begitu pintu tertutup, Han langsung melepas kacamatanya dan menyandarkan kepala ke kursi. Ia memijat pangkal hidungnya. "Apa-apaan warna lipstik itu? Dia sengaja mau nyiksa saya?"

Sepanjang hari, Han benar-benar menjalankan rencananya. Setiap kali Felicia kembali ke ruangannya dengan napas tersengal karena habis naik-turun tangga dari gudang, Han langsung memberinya tugas baru.

"Selesai, Pak. Ini rekap vendornya," ucap Felicia sore itu, rambutnya sudah agak berantakan dan ada noda debu tipis di bahunya.

"Bagus. Sekarang kamu scan dan kirimkan semua berkas ini ke tim pusat. Pastikan resolusinya tinggi," Han bicara sambil menatap tumpukan kertas, bukan menatap Felicia.

"Pak, Bapak kok dari tadi nggak berani lihat saya sih?" celetuk Felicia tiba-tiba, menumpu kedua tangannya di meja kerja Han. "Apa gara-gara lipstik saya? Katanya suruh pucat, ini udah pucat banget lho Pak sampai Mbak Maria nanya saya sakit apa enggak."

Han membeku. Aroma floral yang bercampur sedikit bau debu mulai memenuhi radius kerjanya. Felicia mencondongkan tubuh, mencoba mencari kontak mata dengan bosnya.

"Lihat saya dulu, Pak. Udah bener belum? Takutnya Bapak masih nggak fokus gara-gara lipstik saya lagi."

Han menarik napas panjang, lalu mendongak dengan tatapan paling dingin yang bisa ia buat, meski jantungnya sudah berantakan.

"Felicia, kerjakan tugasmu. Atau saya tambahkan rekapitulasi inventaris laboratorium untuk kamu selesaikan malam ini juga."

"Astaga, galak banget!" Felicia langsung mundur, menghentakkan kakinya kesal lalu keluar ruangan dengan bibir yang makin mengerucut lucu.

Begitu Felicia menghilang, Han langsung meraih botol air mineral dan meminumnya sampai habis. "Tahan, James. Tahan. Sedikit lagi jam pulang," bisiknya pada diri sendiri, sambil mencoba melupakan bayangan bibir mengkilap yang tadi hampir saja membuatnya kehilangan akal sehat.

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!