Nayla Safira Hanin adalah siswi jenius yang lebih suka tidur di atap sekolah daripada di kelas. Namun di balik hijabnya, ia adalah petarung jalanan tak terkalahkan yang sanggup melumpuhkan lawan dalam hitungan detik. Kebebasannya terenggut saat dosa masa lalu sang ayah terungkap: setahun lalu, ayahnya tak sengaja menabrak istri seorang konglomerat hingga tewas.
Keluarga Hasyim datang bukan untuk meminta ganti rugi uang, melainkan "hutang nyawa". Nayla dipaksa menikah dengan Adnan Hasyim, pria dingin yang membenci keluarga Nayla sedalam cintanya pada mendiang istrinya. Adnan hanya butuh pengasuh untuk putrinya, Adiva, yang berhenti bicara sejak kecelakaan tragis itu.
Kini, Nayla terjebak sebagai istri dari pria yang menganggapnya beban sekaligus musuh. Adnan tak menyadari bahwa istri "kecil" yang tengil ini adalah satu-satunya pelindung yang akan mempertaruhkan nyawa saat musuh bisnis mulai mengincar keluarganya. Mampukah kepalan tangan Nayla meruntuhkan tembok kebencian Adnan,?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH SINGGAH MYMA
Malam di kediaman Hasyim terasa begitu sunyi, seolah atmosfer rumah itu ikut kehilangan energi bersama tumbangnya sang penghuni baru. Di atas ranjang berukuran king size, Nayla terbaring dengan napas yang masih terdengar berat. Keberaniannya menghajar tiga preman di gang siang tadi ternyata harus dibayar mahal; tubuhnya yang belum pulih benar dari flu kembali drop. Keringat dingin sesekali membasahi pelipisnya, membuat wajah yang biasanya penuh gairah hidup itu nampak kuyu.
Adnan duduk di tepi ranjang, memerhatikan wajah istrinya dengan perasaan yang tak menentu. Ada rasa sesak yang aneh saat melihat "singa kecilnya" yang biasanya sangat berisik dengan celotehan tengilnya kini tak berdaya. Ia merasa gagal melindungi gadis yang seharusnya ia jaga, meskipun pernikahan ini berawal dari sebuah tuntutan.
"Papa, Diva mau tidur sama Myma," sebuah suara kecil memecah lamunan Adnan.
Adnan menoleh, mendapati Adiva sudah berdiri di ambang pintu sambil memeluk bantal kecilnya. "Diva, Myma sedang sakit. Tidur sama Papa saja di kamar sebelah, ya?"
Adiva menggeleng kuat, bibirnya mengerucut persis seperti ekspresi Nayla saat sedang protes. "Nggak mau! Myma butuh Diva. Diva mau peluk Myma biar Myma cepat sembuh!"
Adnan menghela napas panjang. Sifat keras kepala putrinya kini benar-benar duplikat dari Nayla. "Tapi nanti Diva ketularan, Sayang."
"Diva kuat! Kayak Myma!" tantang bocah itu sambil merangsek masuk dan langsung naik ke atas ranjang, menyelinap di bawah selimut di sisi kiri Nayla.
Adnan hanya bisa mematung. Ia tidak mungkin membiarkan anak kecil dan orang sakit tidur tanpa pengawasan. Akhirnya, dengan keraguan yang amat besar, Adnan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sisi kanan Nayla. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, ia tidur di satu ranjang yang sama dengan seorang wanita, wanita yang statusnya adalah istri sahnya.
Cahaya fajar belum benar-benar menyingsing saat Nayla perlahan membuka matanya. Ia merasa tubuhnya begitu berat, seolah terhimpit oleh dua guling raksasa. Namun, saat kesadarannya pulih, matanya membelalak. Di perutnya, ada dua tangan yang melingkar erat dari arah kiri dan kanan. Di sebelah kirinya, Adiva tidur mendengkur halus, sementara di sebelah kanannya, wajah tegas Adnan nampak sangat dekat hingga Nayla bisa merasakan embusan napas suaminya.
Nayla berdehem pelan, mencoba melepaskan diri namun pegangan keduanya begitu kuat. Insting jahilnya mendadak bangkit melampaui rasa lemasnya.
"SAHUURRR! SAHURRR! BANGUN WOY, KEBAKARAAANN!" teriak Nayla tepat di telinga Adnan.
Adnan tersentak kaget, ia nyaris jatuh dari ranjang jika tangannya tidak refleks berpegangan pada pinggiran kasur. Ia menoleh dengan mata merah karena mengantuk. "Nayla! Kamu gila ya? Ini masih gelap!"
"Lho, justru karena gelap itu tandanya waktu subuh sebentar lagi habis, Pak Es!" sahut Nayla sambil bangkit duduk dan merapikan jilbab instannya yang sudah miring ke mana-mana.
"Tidur lagi, Nayla. Kamu itu baru saja demam," perintah Adnan sambil menarik kembali selimutnya.
Nayla menepis tangan Adnan. Ia menatap suaminya dengan tatapan serius yang dibuat-buat. "Pak Es, kata guru ngaji saya, suami yang baik itu bukan yang cuma pinter cari duit, tapi yang bisa jadi imam buat istrinya sampai ke surga. Hubby saya ini suami yang baik, bukan? Kalau memang baik, ayo cepat wudhu. Jangan jadi 'setan tidur' di waktu subuh."
Adnan terenyuh. Kalimat itu menghujam jantungnya. Ia teringat mendiang istrinya dulu; wanita itu sangat lembut, namun tidak pernah seberani ini membangunkannya untuk sholat subuh. Dulu, Adnan sering terlewat waktu subuh karena istrinya tidak tega membangunkannya yang kelelahan bekerja. Tapi Nayla berbeda. Gadis ini peduli pada "akhirat"-nya dengan cara yang paling menyebalkan sekaligus mengagumkan.
"Bawel sekali mulutmu," gumam Adnan, namun ia bangkit juga. Sebelum beranjak ke kamar mandi, ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Nayla. "Sudah tidak panas. Pantas saja mulut beomu sudah berisik lagi."
Adnan pun berwudhu. Pagi itu, di dalam kamar yang luas tersebut, Adnan berdiri di depan menjadi imam. Nayla dan Adiva, yang sudah bangun karena kegaduhan tadi, menjadi makmum di belakang. Saat Adnan melantunkan ayat-ayat suci, ada getaran hebat yang merambat di dadanya. Perasaan damai yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa rumahnya kini bukan sekadar bangunan mewah, tapi sebuah tempat tinggal yang memiliki "ruh".
Siang harinya, Adnan menyuruh Nayla bersiap. Ia tidak mengatakan ke mana, hanya menyuruh Nayla memakai baju yang nyaman. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Nayla tidak berhenti bertanya.
"Hubby, kita mau ke mana sih? Jangan bilang mau dibawa ke dokter suntik ya? Saya sudah sehat, sumpah!" tanya Nayla curiga.
"Diam dan lihat saja nanti," jawab Adnan singkat sambil fokus menyetir.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah bangunan dua lantai yang nampak masih baru dengan cat berwarna krem yang cerah. Di bagian depan, terdapat papan nama kayu yang bertuliskan: "RUMAH SINGAH MYMA".
Mata Nayla berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah Adnan yang hanya menatap lurus ke depan dengan gaya kaku andalannya. "Ini..."
"Turunlah. Mereka sudah menunggumu," ucap Adnan pelan.
Begitu pintu mobil dibuka, belasan anak pemulung yang kemarin ditolong Nayla berlari menyambutnya. Mereka tidak lagi nampak kotor; wajah mereka bersih dan ceria. Masing-masing dari mereka membawa setangkai mawar putih dan menyerahkannya pada Nayla satu per satu.
"Terima kasih, Kak Myma! Terima kasih sudah kasih kami rumah!" seru mereka serempak.
Nayla memeluk anak-anak itu dengan haru. Ia tidak menyangka permintaannya kemarin benar-benar diwujudkan oleh suaminya dalam waktu sesingkat itu. Nayla menghampiri Adnan yang berdiri agak jauh sambil memegangi Adiva.
"Makasih ya, Hubby. Hubby ternyata lebih keren dari pahlawan di komik," bisik Nayla tulus.
Namun, sifat tak puas Nayla muncul lagi. Ia merangkul lengan Adnan dan memasang wajah memohon. "Tapi pak, bangunan saja nggak cukup. Mereka butuh pendidikan. Bapak bisa nggak kasih mereka guru? Buat belajar baca, tulis, sama berhitung?"
Adnan mengernyit. "Saya sudah memikirkan itu, Nayla. Saya akan cari relawan."
"Nggak perlu cari jauh-jauh! Saya yang bakal ajarkan mereka mengaji setiap sore pulang sekolah. Tapi Hubby harus sediakan guru buat pelajaran sekolahnya," tawar Nayla penuh semangat.
Adnan menatap istrinya dengan ragu. "Kamu sedang ujian akhir, Nayla. Kamu sendiri butuh belajar."
"Belajar yang paling baik itu dengan mengajar, Pak Es! Please... boleh ya? Diva juga bisa ikut belajar bareng mereka biar makin pinter sosialisasi," rengek Nayla lagi sambil menggoyang-goyangkan lengan Adnan.
Adnan menatap Adiva, dan putrinya itu mengangguk semangat sambil tersenyum lebar. Akhirnya, benteng pertahanan Adnan runtuh. "Baiklah. Saya akan kontrak guru profesional untuk pelajaran umum. Tapi kalau nilaimu turun, aktivitas mengajimu saya hentikan. Deal?"
"DEAL! Bapak emang Hubby paling the best sedunia!" teriak Nayla sambil melompat kegirangan.
Adnan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku istrinya. Namun di dalam hati, ia sangat bersyukur. Nayla tidak hanya membawa suara kembali ke mulut Adiva, tapi juga membawa makna kembali ke dalam hidup Adnan yang selama ini kosong.
kuueeeereeeeennnnn..........🌹🔥🔥🔥🔥🔥