Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: RENCANA BESAR DIMULAI
#
Tiga hari kemudian. Gudang kosong di area pelabuhan lama. Cat dinding udah pada ngelupas. Bau karat dan air laut menguar kuat. Lampu bohlam redup bergoyang pelan ditiup angin yang masuk dari celah dinding.
Tapi malam ini... gudang itu jadi markas perang.
Sepuluh orang berkumpul. Duduk di kursi-kursi plastik yang udah pada retak. Di tengah, meja kayu besar. Di atasnya, laptop Maya yang terbuka. Proyektor kecil menyorot ke dinding, menampilkan peta digital kota.
Bayu berdiri di depan. Tangannya di pinggang. Matanya menatap satu per satu orang di hadapannya.
Tekong. Wahyu. Sari. Budi yang wajahnya masih babak belur tapi udah bisa jalan. Rizki yang udah nggak pakai kacamata tebal lagi, ganti ke lensa kontak biar kelihatan lebih garang. Maya yang duduk di samping laptop, jari-jarinya siap menari di keyboard.
Dan empat orang baru.
Pertama, Joni. Pria kurus tinggi. Bekas narapidana pembunuhan. Keluar penjara sebulan lalu. Nggak ada yang mau kasih kerja. Desperate. Berbahaya.
Kedua, Lina. Wanita bertubuh kekar. Mantan atlet tinju. Dipecat karena doping. Sekarang jadi debt collector brutal. Terkenal sadis sama penghutang cewek.
Ketiga, Dedi. Pria gemuk pendek. Ahli peledak. Pernah kerja di tambang. Dipecat karena nyolong dinamit. Sekarang jual bahan peledak ilegal.
Keempat, Agus. Pemuda muda. Baru dua puluh tahun. Tapi udah bunuh lima orang. Psikopat. Senyum terus meski lagi bunuh orang. Creepy.
"Dengar baik-baik," kata Bayu dengan suara keras. Semua orang langsung diam. "Gue kumpulin kalian bukan buat main-main. Gue kumpulin kalian buat... perang."
Dia jalan pelan di depan mereka.
"Perang lawan siapa?" tanya Joni dengan suara serak.
"Keluarga Samudera."
Hening.
Lina bersiul pelan. "Gila. Lu serius mau lawan konglomerat paling kuat di kota ini?"
"Gue nggak mau. Gue harus."
Dedi mengangkat tangan. "Apa untungnya buat kita?"
"Uang. Banyak. Setiap misi, kalian dapet minimal dua puluh juta per orang. Kalau misi besar... lima puluh juta."
Mata mereka semua berbinar.
Agus tersenyum lebar. Creepy banget. "Gue suka uang. Dan gue suka... bunuh orang. Jadi... perfect."
Bayu menatapnya serius. "Ini bukan permainan. Kalau kalian gagal, kalian mati. Kalau kalian khianat... gue yang bunuh kalian."
Nggak ada yang ketawa. Mereka semua tau... Bayu serius.
"Sekarang..." Bayu ngangguk ke Maya. "Jelasin."
Maya berdiri. Jalan ke depan proyektor. Layar berubah. Menampilkan struktur organisasi.
Di puncak, foto Valerie. Di bawahnya, bercabang ke berbagai nama. Komisaris Hartawan. Hakim Santoso. Direktur Sinta. Dimas sang pengacara. Dan puluhan nama lain.
"Ini kerajaan Valerie Samudera," kata Maya sambil nunjuk layar. "Dia nggak cuma punya uang dari Samudera Group. Dia punya bisnis gelap. Narkoba. Judi. Pelacuran. Properti ilegal. Semua menghasilkan miliaran tiap bulan."
Layar berubah. Menampilkan lima belas titik merah di peta kota.
"Ini semua aset vital Valerie. Lima belas target. Kalau kita hancurin semua... dia bangkrut. Dia kehilangan kekuasaan. Dan dia... jatuh."
Wahyu mengangkat tangan. "Lima belas target dalam waktu berapa lama?"
"Sebulan," jawab Bayu.
"SEBULAN?!" teriak Budi. "Lu gila?! Itu hampir satu target setiap dua hari!"
"Makanya gue rekrut kalian. Biar cepet."
Maya klik remote. Layar zoom ke target pertama.
"Target pertama. Perusahaan cangkang bernama Jaya Abadi Sentosa. Ini perusahaan fiktif yang Valerie pakai buat cuci uang narkoba. Kantor mereka di Jalan Sudirman. Lima lantai. Penjagaan minimal karena mereka pikir nggak ada yang tau."
"Apa yang kita lakuin?" tanya Sari.
"Bakar," jawab Maya singkat. "Tapi sebelum bakar... kita ambil semua dokumen fisik mereka. Hard copy transaksi. Bukti transfer. Semua."
Rizki angkat tangan. "Data digital?"
"Gue udah copy semua. Tapi fisik tetep penting buat bukti pengadilan nanti."
Bayu mengangguk. "Target dua?"
Maya klik lagi. Layar berubah.
"Rumah judi ilegal di daerah Kelapa Gading. Omzet dua miliar per bulan. Dijaga sepuluh orang bersenjata. Tamu-tamunya orang kaya semua. Pejabat. Pengusaha. Artis."
"Kita apain?" tanya Lina.
"Rampok. Ambil semua uang kas. Lalu... foto semua tamu yang lagi judi. Sebar fotonya ke media."
Lina menyeringai. "Jahat. Gue suka."
Target demi target dijelaskan. Satu per satu. Gudang narkoba. Apartemen pelacuran mewah. Pabrik ekstasi di pinggiran kota. Restoran yang jadi tempat money laundering. Hotel yang jadi markas perdagangan manusia.
Semua ada.
Semua vital.
Semua... harus dihancurkan.
Sejam kemudian, presentasi selesai. Layar mati.
Maya duduk lagi. Napasnya sedikit ngos-ngosan karena kebanyakan ngomong.
Bayu berdiri di depan lagi. Menatap semua orang.
"Jadi... kalian paham sekarang? Ini bukan job biasa. Ini... perang total."
Joni berdiri. "Gue ikut. Tapi gue mau jaminan. Kalau gue mati... keluarga gue dapet uang."
"Berapa yang lu mau?"
"Seratus juta."
"Deal. Tapi lu harus kerja keras."
Joni mengangguk. Duduk lagi.
Lina berdiri. "Gue juga ikut. Tapi gue mau... bonus kalau gue bunuh lebih dari target."
Bayu tersenyum tipis. "Sepuluh juta per kepala tambahan."
"Deal."
Dedi berdiri. "Gue butuh bahan peledak. Banyak. Lu kasih dana?"
"Berapa?"
"Lima puluh juta buat beli bahan."
"Oke. Tapi lu yang tanggung jawab. Kalau meledak duluan sebelum waktunya... itu bukan tanggung jawab gue."
Dedi nyengir. "Tenang. Gue profesional."
Agus berdiri. Senyumnya makin lebar. "Gue... gue cuma pengen bunuh orang. Itu aja. Bayaran nomor dua."
Bayu menatapnya lama. Ada sesuatu yang salah sama Agus. Tapi... dia butuh orang kayak dia.
"Oke. Tapi lu ikut aturan. Nggak boleh bunuh sembarangan. Cuma target yang gue kasih."
Agus mengangguk. "Oke, Bos."
Bayu menatap semua orang. "Mulai besok... kita bergerak. Target pertama: Jaya Abadi Sentosa. Kita serang malam. Ambil dokumen. Bakar kantor. Nggak ada yang hidup."
"Siapa yang turun?" tanya Tekong.
"Lu. Wahyu. Lina. Joni. Empat orang cukup."
"Yang lain?"
"Sari dan Budi jaga perimeter. Rizki dan Maya support dari jauh. Dedi siapkan bom waktu buat gedung sebelah sebagai distraksi. Agus... lu standby. Kalau ada yang lolos, lu bunuh."
Semua orang mengangguk.
"Pertanyaan terakhir?" tanya Bayu.
Nggak ada yang angkat tangan.
"Bagus. Istirahat. Besok kita mulai."
Satu per satu mereka berdiri. Keluar gudang. Kembali ke kehidupan masing-masing.
Yang tersisa cuma Bayu, Maya, dan Tekong.
"Lu yakin sama mereka?" tanya Tekong pelan.
"Nggak. Tapi gue nggak punya pilihan."
Maya menutup laptopnya. "Agus... dia berbahaya. Bukan buat musuh. Tapi buat kita."
"Gue tau. Makanya gue jaga dia ketat."
Tiba-tiba... suara sistem muncul di kepala Bayu.
**[MISI RANTAI TERDETEKSI]**
**[HANCURKAN KERAJAAN VALERIE SAMUDERA]**
**[TARGET: 15 ASET VITAL]**
**[BATAS WAKTU: 30 HARI]**
**[HADIAH: KEMAMPUAN TERAKHIR + 10.000 POIN + AKSES KE JARINGAN GELAP INTERNASIONAL]**
**[KEGAGALAN: KEMATIAN PERMANEN + SEMUA ANGGOTA TIM MATI]**
Bayu membaca pesan itu dengan serius.
Kemampuan terakhir.
Jaringan gelap internasional.
Tapi... risikonya... semua anggota tim mati kalau gagal.
"Ada apa?" tanya Maya melihat ekspresi Bayu yang berubah.
"Nggak ada. Cuma... mikir."
Tekong menepuk bahunya. "Lu udah jauh, Bayu. Nggak ada jalan balik."
"Gue tau."
Bayu menatap keluar jendela gudang. Malam gelap. Bintang tertutup awan.
Besok... perang dimulai.
Perang yang akan tentukan... hidup atau mati.
Menang... atau kalah total.
"Valerie..." bisik Bayu pelan. "Lu pikir lu aman di mansion mewah lu. Tapi badai... udah dateng."
Dan malam itu...
Bayu nggak tidur.
Dia duduk sendirian. Menatap peta digital di laptop.
Lima belas target.
Satu per satu... akan jatuh.
Sampai Valerie... kehilangan segalanya.
Seperti Kenzo dulu kehilangan segalanya.
"Ini... buat lu, Kenzo," bisik Bayu sambil menutup matanya.
Dan di kegelapan...
Dia lihat bayangan Kenzo kecil. Tersenyum sedih.
"Terima kasih..."
Lalu menghilang.
Bayu membuka matanya.
Air mata mengalir tanpa sadar.
Tapi dia usap cepat.
"Nggak ada waktu buat nangis."
Dia buka laptop. Mulai planning detail untuk besok.
Karena besok...
Semuanya berubah.