Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20.Persahabatan teman sekamar.
Yun melihat Yun lan dalam bahaya bergegas menolongnya.
Ia lalu meletakkan embernya kasar ke tanah.
Dalam dua langkah cepat, ia sudah berada di belakang Qiao.
Tangannya mencengkeram bahu Qiao dan pakaian Yun Lan sekaligus.
“Cepat selesaikan!” suaranya rendah tapi penuh tekanan.
Yun Lan mengerahkan tenaga lagi.
Wajahnya memerah.
Pembuluh di lehernya menonjol.
“Shi! Dorong Xin dari bawah!”
Shi, dengan sisa tenaga, mendorong pinggang Xin ke atas.
Han ikut membantu.
Sedikit.
Sedikit lagi.
Xin akhirnya berhasil naik setengah badan ke jalur.
Yun Lan menarik keras.
Qiao ikut menarik Yun Lan.
Yun menahan mereka berdua dari belakang.
Dengan satu tarikan besar—
Xin terlempar ke atas jalur, jatuh telentang dengan napas kacau.
Shi dan Han langsung kehilangan tumpuan.
Tubuh mereka terseret turun.
“Pegang!” teriak Yun Lan.
Tangannya masih mencengkeram lengan Shi.
Han memegangi kaki Shi.
Beratnya luar biasa.
Yun Lan hampir tertarik ikut turun.
Qiao menjerit, menarik sabuk Yun Lan sekuat mungkin.
Tangan Yun Lan gemetar.
Bukan karena takut.
Karena berat.
Karena beban dua tubuh yang menggantung di ujung jarinya terasa seperti hendak merobek sendi bahunya.
Dirinya sebenarnya bisa dengan mudah mengangkat mereka, tapi lebih baik membatasi kekuatan yang dimilikinya agar tidak mengundang perhatian.
“Pegang!” teriaknya lagi, suaranya mulai serak.
Shi terengah, kakinya menendang kosong di udara. Han memegangi betis Shi dengan satu tangan, tangan satunya mencoba meraih tepian jalur yang terlalu jauh.
Yun berdiri tepat di belakang mereka, kedua kakinya menancap kuat di tanah seperti paku besi.
Tangannya mencengkeram sabuk Yun Lan.
Otot lengannya menegang.
Rahangnya mengeras.
“Jangan lepaskan,” katanya pelan. Tenang. Dalam. Tapi tegas seperti perintah perang.
Qiao masih memegangi sabuk Yun Lan juga, wajahnya sudah pucat karena panik.
“Shi! Naikkan lututmu!” teriak Yun Lan.
“Aku— aku tak bisa!”
“Bisa!” bentaknya.
Han, dengan napas kacau, berusaha mendorong dari bawah. Kakinya mencari pijakan di dinding tanah yang rapuh.
Tanahnya rontok.
Mereka bertiga turun satu jengkal lagi.
Qiao menjerit.
Yun Lan hampir terseret.
Dan di detik itu, Yun bergerak.
Bukan menarik.
Tapi turun satu langkah, mengubah sudut tarikan.
Tubuh Yun Lan yang tadinya tertarik ke depan, kini tertahan oleh gaya Yun dari belakang.
Stabil.
Kuat.
“Sekarang!” perintah Yun.
Yun Lan tidak berpikir.
Ia menarik.
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana.
Shi menjerit keras sambil mendorong tubuhnya sendiri ke atas.
Han ikut menendang dinding tanah, lututnya akhirnya menemukan celah.
Qiao menahan napas.
Yun mengencangkan genggamannya.
Dan—
Dengan satu tarikan besar yang terasa seperti merobek waktu—
Shi terlempar ke atas jalur.
Han ikut terseret naik, berguling ke samping.
Yun Lan jatuh terduduk, terengah.
Yun melepaskan sabuknya perlahan.
Sunyi.
Hanya suara napas yang tidak beraturan.
Xin masih terbaring telentang.
Shi terbatuk-batuk.
Han menatap langit kosong.
Qiao duduk dengan tangan gemetar.
Yun Lan menunduk, kedua tangannya masih terasa panas.Tapi itu tidak masalah untuk Yun lan, karena baginya tubuh mereka seperti mengangkat kapas.
Yun lan hanya berpura-pura memunculkan ekspresi kesakitan, kelelahan sama seperti mereka.
Dan Yun berdiri diam di belakang mereka, dadanya naik turun pelan.
Lalu—
Shi tertawa.
Pelan.
Lemah.
Tapi jelas.
Han ikut tertawa.
Xin menutup wajahnya dengan tangan, tertawa tanpa suara.
Qiao terduduk sambil tertawa dan hampir menangis bersamaan.
Yun Lan memandang mereka, lalu tertawa juga.
Bukan tawa keras.
Tapi tawa lega.
Tawa yang keluar karena mereka masih hidup.
Yun memalingkan wajah, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Enam prajurit muda itu duduk di tanah jalur sempit di lereng bukit, tertawa seperti anak-anak yang baru lolos dari kematian kecil.
Beberapa saat kemudian, Xin bangkit perlahan.
Ia duduk.
Menatap Yun Lan.
Lalu menatap Yun.
Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan di wajahnya.
Tidak ada keras kepala.
Tidak ada nada tinggi.
Hanya… rasa terima kasih yang polos.
Xin menunduk.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Shi ikut menunduk.
“Kalau kalian tidak ada… kami sudah jatuh.”
Han mengangguk cepat.
Qiao menepuk bahu Yun Lan pelan. “Kau gila. Tapi… terima kasih.”
Yun Lan mengibaskan tangan, masih terengah.
“Tidak masalah,kita kan teman.”
Mereka tertawa lagi.
Xin menoleh ke Yun.
Dan dengan canggung, ia berkata, “Kau juga. Terima kasih.”
Yun hanya mengangguk singkat. “Lain kali,hati-hati untung kami tidak jauh dari kalian.”
Xin tidak membantah.
Untuk pertama kalinya.
Mereka turun dari bukit dengan langkah pelan.
Tubuh pegal.
Baju kotor tanah.
Tangan lecet.
Wajah penuh debu.
Dan senyum yang tidak bisa hilang.
Begitu sampai di lapangan kamp, Komandan Zhou sudah berdiri menunggu dengan tangan di belakang punggung.
Wajahnya datar.
Matanya tajam.
Ia memandang keenamnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Kalian semua,” katanya tenang, “gagal menjalankan misi.”
Tidak ada yang membantah.
Karena memang benar.
Misi mereka adalah menyelesaikan jalur dengan membawa ember di pundak mereka yang masih terisi ember.
Tanpa ada yang jatuh.
Tanpa saling membantu.
Tanpa melanggar prosedur.
Dan yang terjadi?
Tiga orang hampir jatuh ke jurang.
Empat orang melanggar formasi.
Seluruh tim berantakan.
Komandan Zhou mengangguk pelan.
“Hukuman.”
Enam orang itu langsung berdiri lebih tegak.
“Minggu ini, kalian bertugas membersihkan kandang ternak dan toilet belakang barak.”
Sunyi.
Qiao memejamkan mata.
Shi menelan ludah.
Han terlihat ingin pingsan.
Xin tampak seperti baru saja dijatuhi hukuman mati.
Yun Lan menoleh pelan ke Yun.
Yun menatap lurus ke depan.
Wajahnya tidak berubah.
Tapi sudut matanya seperti… tahu persis apa yang akan terjadi.
Toilet belakang barak.
Toilet zaman kuno.
Yang bahkan prajurit senior pun menghindarinya jika bisa.
Dan kandang ternak.
Yang baunya bisa menempel di kulit sampai tiga hari.
“Laksanakan,” kata Komandan Zhou singkat.
Sore itu, mereka berenam berdiri di depan kandang ternak dengan ember, sekop kayu, dan kain lap.
Bau menyambut mereka seperti tamparan.
Qiao mundur satu langkah.
“Ini… kenapa tidak ada keringanan?,” gumamnya.
Shi menutup hidung.
Han terlihat pucat.
Xin berdiri kaku.
Yun Lan memandangi kandang itu dengan wajah datar.
Yun berdiri di sampingnya.
Belum ada yang bergerak.
Lalu Xin melangkah maju.
Ia mengambil sekop.
Berbalik.
Menatap Yun,Yun Lan dan Qiao.
“Kalian jangan ikut.”
Yun Lan mengangkat alis. “Apa?”
Sahut Qiao dengan senyum bahagia, “Benarkah ketua?. ”
Respon Yun hanya diam, tanpa ekspresi.
“Kalian dihukum karena kami,” kata Xin tegas. “Kalau tidak menolong kami, kalian tidak akan kena hukuman.”
Shi mengangguk cepat. “Benar. Ini tanggung jawab kami.”
Han ikut berkata, “Kalian istirahat saja.”
Qiao bahkan mendorong Yun Lan pelan menjauh. “Duduk sana. Jangan macam-macam.”
Yun Lan berkedip.
Lalu menoleh ke Yun.
Yun hanya menyilangkan tangan, tampak tidak keberatan.
Mereka bertiga duduk santai, mengawasi yang lain bekerja.
Xin mulai bekerja.
Shi ikut.
Han menyusul.
Tiga orang itu membersihkan kandang dengan wajah serius.
Beberapa menit pertama diisi dengan keluhan pelan.
Lalu—
Tiba-tiba Shi berseru, “Han! Kau malah menambah kotoran, bukan membersihkan!”
“Aku tidak sengaja!”
Xin menggeleng.
Suara mereka mulai ramai.
Mulai ringan.
Mulai tidak terasa seperti hukuman.
Yun Lan duduk di pagar kayu, memandangi mereka dengan senyum tipis.
Yun berdiri di sampingnya.
“Kau tidak mau membantu?” tanya Yun pelan.
Yun Lan menggeleng. “Kau gila!,aku sudah menolong mereka lalu kenapa juga aku harus ikut.”
“Benar juga kata Li, biarkan mereka balas budi pada kita. ”
Di dalam kandang, Xin berhenti sejenak, menoleh.
“Yun Lan! Jangan bergerak dari sana!”
Yun Lan tertawa.
Beberapa saat kemudian, mereka pindah ke toilet belakang barak.
Yang keadaannya jauh lebih… mengerikan.
Bau yang bahkan membuat Yun Lan mengernyit.
Qiao langsung menutup wajah dengan kain.
Shi terlihat seperti ingin menangis.
Han sudah pasrah.
Xin menarik napas dalam. “Ayo selesaikan cepat.”
Mereka bekerja.
Membersihkan.
Menguras.
Menyiram.
Menyikat.
Dan di tengah pekerjaan paling menjijikkan itu…
Tawa justru makin sering terdengar.
Qiao terpeleset.
Shi hampir muntah tapi malah tertawa.
Han menyiram air terlalu keras sampai mengenai Xin.
Xin membalas menyiram.
Mereka saling mengejek.
Saling menertawakan.
Dan entah sejak kapan, hukuman itu berubah menjadi sesuatu yang… menyatukan.
Yun Lan berdiri jauh, menyaksikan.
Ia menyadari sesuatu.
Xin tidak lagi memerintah.
Shi tidak lagi merasa paling hebat.
Han tidak lagi menghina.
Qiao tidak lagi mengejek.
Mereka bergerak seperti satu tim.
Tanpa sadar.
Tanpa paksaan.
Yun menatap pemandangan itu dengan mata tenang.
“Komandan Zhou tahu,” katanya pelan.
“Tahu apa?”
“Bahwa hukuman ini bukan tentang kotoran.”
Yun Lan tersenyum kecil.
“Ini tentang mereka belajar jadi tim.”
Dan di tengah bau menyengat, ember air kotor, dan tawa yang tidak berhenti—
Enam prajurit muda itu, tanpa sadar, mulai berubah.
Bukan karena latihan.
Bukan karena perintah.
Tapi karena mereka hampir kehilangan satu sama lain di lereng bukit tadi.
Dan karena dua orang yang tidak ragu menarik mereka kembali.
Saat matahari mulai turun, pekerjaan selesai.
Mereka semua basah.
Kotor.
Lelah.
Tapi wajah mereka ringan.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di kamp itu—
Mereka bukan lagi enam orang yang kebetulan ditempatkan bersama.
Mereka adalah satu tim.