Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 ~ Sidang Perceraian
Sidang pertama benar-benar membuat Raina gugup. Bahkan sejak dari dia berangkat dari rumah, tangannya sudah gemetar dengan keringat dingin. Pertama kalinya dia masuk ke ruang pengadilan dan itu untuk mengurus sidang perceraiannya. Ketika sebuah gugatan cerai dari Marvin di bacakan, dan Raina hanya diam mendengarkan.
Setelah ini semuanya akan berakhir, meja hijau hakim menjadi saksi berakhirnya pernikahan ini. Raina harus siap tentang apa yang akan terjadi, dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk saat menyetujui untuk menjadi seorang pengantin pengganti. Dan sekarang dia juga harus menerima ketika dia harus diceraikan di usia pernikahan satu bulan lebih satu minggu. Sangat singkat, bahkan rasanya tidak akan ada yang lebih singkat dari ini usia pernikahan.
Sidang berjalan lancar, masih perlu dua kali lagi pertemuan untuk sidang selanjutnya. Raina keluar dari ruangan dengan menghembuskan napas lega, sejak di dalam tadi dia merasa gugup setengah mati.
"Raina, untuk sidang selanjutnya adalah pembacaan pembagian harta" ucap Bayu.
Raina hanya mengangguk saja, melihat Marvin yang berdiri di belakang Bayu dengan sebuah ponsel di tangannya. Kacamata hitam yang dia pakai membuat Raina tidak sempat melihat bagaimana ekspresinya yang sebenarnya dengan sidang perceraian ini.
Tidak perlu melihat ekspresinya, aku tahu kalau dia mungkin lega karena sebentar lagi tidak akan terikat dengan pernikahan ini lagi.
Mereka pulang masing-masing, ketika sampai di parkiran Raina mendapatkan telepon dari Ayahnya. Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu Ayahnya terus menghubunginya, tapi Raina mengabaikan karena dia tahu apa yang akan di bahas olehnya. Dan kali ini sepertinya sudah tidak bisa mengabaikan lagi.
"Ha-hallo Pa"
"Kenapa kau baru menerima panggilan dariku? Heh, anak sialan, kenapa bisa kau diceraikan oleh Marvin dalam waktu singkat seperti ini. Apa yang sudah kau lakukan?"
Raina menghela napas pelan, sudah menduga apa yang ingin Papa bicarakan dengannya. Perceraian ini tentu akan membuat orang tuanya sangat marah, mereka menyimpan harapan besar pada Amira sebelumnya, lalu karena kecelakaan yang merenggut nyawa Amira, maka sekarang berharap Raina benar-benar bisa menggantikan Amira untuk menjadi istrinya Marvi. Tapi sayangnya, pernikahan ini hanya bertahan satu bulan lebih, dan itu sudah cukup membuktikan jika Raina tidak pernah bisa menggantikan Amira.
"Maaf Pa, tapi ini sudah menjadi keputusan kami berdua"
"Keputusan kau bilang?! Hey Raina, bahkan jika Marvin memaksamu untuk menandatangani surat gugatan cerai, jangan kau tanda tangani, kau hanya membuatku malu saja. Dasar tidak pernah berguna!"
Raina memejamkan mata dengan hembusan napas panjang. Rasanya cukup sesak berulang kali mendengar kalimat menyakitkan dari Ayahnya sendiri. Namun, seolah sudah terbiasa, dia masih mampu tersenyum saat hatinya berdenyut sakit penuh sesak.
"Pa, kita tidak bisa memaksa keputusan seseorang. Kak Marvin memang sudah ingin menceraikan aku, jadi tidak bisa aku memaksa untuk bertahan lagi"
"Tapi kau tahu jika harapan menikah dengan keluarganya adalah hal baik. Perusahaan kita sedang di ambang kehancuran, Raina! Bagaimana bisa kita mendapatkan bantuan, jika kau saja malah diceraikan. Benar-benar tidak berguna"
Sekali lagi hembusan napas panjang itu terdengar. Raina juga mencoba menahan diri untuk tetap sabar menghadapi Ayahnya ini. "Papa tenang saja, tentang Perusahaan yang membutuhkan dana, akan segera Papa dapatkan. Tunggu saja"
"Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong hanya untuk membuatku senang 'kan?"
"Tidak Pa, semuanya akan segera selesai. Perusahaan Papa juga akan kembali membaik"
Raina langsung memutus sambungan telepon, air matanya luruh setelah dia menahannya sejak tadi. Kaki seperti tidak mampu menopang lagi beban yang terlalu berat dia jalani. Raina berpegangan pada motornya, namun dia tetap tidak bisa menahan tubuhnya, jatuhnya ke atas tanah. Tangisannya pecah, dadanya sesak tak bisa dibiarkan.
"Kenapa aku Ya Tuhan? Kenapa aku? Apa aku bisa sekuat itu untuk bertahan dalam semua ini?"
Akhirnya pertanyaan itu kembali muncul, berpikir kenapa Tuhan memberinya sebuah beban seberat ini, sementara dirinya saja tidak sanggup menjalani. Raina merasa dirinya tidak akan begitu kuat untuk terus menjalani kehidupan ini.
Sebuah mobil yang hampir keluar dari gerbang kantor pengadilan, namun terhenti ketika melihat seorang gadis yang bersimpuh di tanah dekat motornya. Bahunya terlihat bergetar menandakan dia sedang menangis.
"Dia kenapa?"
Bayu menoleh pada Marvin yang duduk di sampingnya, lalu Bayu juga melihat ke arah pandang Marvin. Melihat Raina yang sepertinya menangis sendirian di parkiran motor.
"Kau masih bertanya kenapa, Vin? Semuanya terlalu berat untuk tubuh rapuh itu. Tentu dia merasa sangat terluka dengan semua in, termasuk perceraian yang terjadi"
"Tapi kenapa harus seperti itu? Bukankah dia sudah mendapatkan kompensasi yang tidak sedikit dariku? Seharusnya itu cukup untuk menjamin kehidupannya. Lagi pula yang dia inginkan memang hanya uang 'kan? Kenapa harus bersikap seolah sangat tersakiti oleh perceraian ini"
Bayu menghembuskan napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak meninju wajah sahabatnya ini. "Suatu saat jika kau tahu kebenarannya, semoga kau tidak menyesal ya, Vin"
Marvin langsung menoleh pada Bayu, menatapnya dengan satu alis terangkat seolah penuh tanya apa maksud dari ucapan Bayu barusan.
"Tunggu sebentar, aku akan menemuinya"
Bayu menatap Marvin dengan kening berkerut bingung. Baru saja pria itu berkata seolah dia tidak akan pernah peduli pada Raina yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya. Tapi, kenapa dia turun dan menghampiri gadis itu ketika melihatnya sedang menangis seperti ini.
"Aku rasa kau hanya belum menyadari perasaanmu sendiri, Vin"
Raina masih menangis, tidak peduli jika memang akan ada orang yang melihatnya. Kali ini benar-benar lelah dan tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya. Isak tangisnya terdengar begitu memilukan. Memendam sebuah luka yang tidak bisa di ungkapkan.
Sepasang sepatu hitam mengkilap yang berada di depannya, membuat Raina perlahan mendongak dan tertegun melihat Marvin berdiri di depannya dengan tegap dan tatapan dingin seperti biasanya.
"Kenapa kau menangis disini? Apa kau masih belum ikhlas dengan perceraian ini?"
Raina tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan. Marvin berjongkok di depannya, menatap Raina dengan lekat dan penuh kebingungan dengan sikap gadis ini.
"Kau tidak perlu merasa sedih, karena sejak awal pernikahan ini memang tidak di inginkan. Kau hanya pengganti Amira"
Raina mengangguk lagi, kali ini memberanikan diri mendongak dan menatap Marvin. "Ya, aku memang hanya pengganti Kak Amira. Tapi, kenapa semua orang harus menganggap aku mengambil keuntungan dari perginya Kak Amira. Kalian semua tidak pernah tahu seberapa berarti Kak Amira untukku. Jika boleh memilih, aku tidak akan pernah mau menggantikan Kak Amira. Karena aku ingin kak Amira selamat dan tetap hidup bersamaku. Hiks.."
Raina memegang jas Marvin, mencengkramnya erat dengan tangisan dia yang semakin pecah. "Aku juga tidak pernah mau semua ini terjadi. Tapi kenapa semua orang menyalahkanku? Hiks..."
Marvin terdiam dengan wajah yang tertegun, membiarkan Raina memukul dadanya dan mencengkram jasnya berkali-kali.
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,