NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Kedatangan Aditya

Pagi itu, rumah Kiara terasa terlalu tenang. Terlalu tenang untuk ukuran rumah yang sebentar lagi akan kedatangan seseorang yang sudah dicap oleh otaknya sebagai sumber masalah.

Kiara duduk di meja makan dengan hoodie dan rambut masih sedikit berantakan. Rafa mengunyah roti sambil memainkan ponsel. Bu Rina sibuk di dapur. Pak Rahmat sudah berangkat kerja.

Sky melayang malas di dekat kipas angin, membiarkan tubuh transparannya ditembus angin.

“Kamu tegang,” komentar Sky.

“Ini namanya bersiap menghadapi bencana,” jawab Kiara datar.

“Kamu lebay.”

“Kamu belum kenal Aditya versi serumah.”

Sky tersenyum. “Aku suka orang yang bikin hidup rame.”

“Aku nggak.”

Bel rumah berbunyi.

Kiara langsung menutup mata sesaat. “Itu dia.”

Bu Rina menyahut dari dapur, “Rafa, bukain pintu!”

Rafa meloncat turun dari kursi, berlari ke pintu depan. Begitu pintu terbuka, suara yang terlalu percaya diri langsung memenuhi rumah.

“WOY! Rumahnya masih sama ya!”

Suara itu diikuti oleh suara roda koper yang diseret masuk.

Kiara membuka mata.

Dan benar saja.

Aditya berdiri di ambang pintu.

Tinggi. Bahu lebar. Rambut sedikit acak tapi dengan gaya yang jelas disengaja. Jaket hitam, kaus putih, dan senyum khas yang terlihat seperti senyum orang yang tahu dirinya menarik dan tidak merasa perlu merendah.

“Kecil!” seru Aditya begitu melihat Kiara. “Eh, maksud gue… Kiara.”

Kiara menghela napas. “Halo juga, Kak.”

Aditya tertawa. “Wih, dingin banget. Masih ingat aku, kan?”

“Sulit lupa,” jawab Kiara singkat.

Sky mendekat, mengamati Aditya dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Oh. Ini dia sumber masalah.”

Aditya menaruh koper di ruang tamu dan merentangkan tangan. “Mana tante Rina? Mana om Rahmat?”

Bu Rina keluar dari dapur dengan senyum ramah. “Aditya! Kamu sampai juga.”

“Tentu dong, Tante.” Aditya langsung menyalami Bu Rina dengan sikap manis yang berbanding terbalik dengan reputasinya. “Terima kasih banyak ya sudah mau nerima aku.”

“Ah, anggap saja rumah sendiri,” jawab Bu Rina.

Rafa mendekat, menatap Aditya dengan mata berbinar. “Kak Aditya bawa motor gede lagi nggak?”

Aditya terkekeh. “Nanti kalau ada kesempatan.”

Rafa bersorak kecil.

Kiara memperhatikan dari jauh, tangan terlipat di dada. Dalam kepalanya, alarm kewaspadaan berbunyi terus-menerus.

Aditya menoleh ke Kiara. “Kamu kelihatan makin galak.”

“Aku cuma realistis,” jawab Kiara.

“Masih suka ngomong singkat-singkat, ya,” Aditya menyeringai. “Kangen juga aku sama gaya jutek kamu.”

“Aku nggak kangen,” balas Kiara cepat.

Sky menahan tawa. “Ini bakal seru.”

Aditya mulai membawa koper ke dalam. Rafa dengan sukarela membantunya, walau koper itu jelas lebih berat dari tubuh Rafa sendiri.

“Pelan-pelan, Rafa,” tegur Bu Rina.

“Biar aku bantu, Tante,” kata Aditya santai.

Saat mereka lewat di depan Kiara, Aditya berhenti sejenak.

“Eh, Kiara,” katanya. “Kamu masih ingat kejadian dulu?”

Kiara langsung menegang. “Kejadian apa?”

Aditya menggaruk tengkuk. “Yang di depan sekolah. Aku jemput kamu, terus ada drama.”

Sky langsung menajamkan perhatian.

Kiara menatap Aditya dingin. “Sulit lupa.”

Aditya menghela napas. “Aku minta maaf ya soal itu. Aku nggak nyangka bakal jadi sejauh itu.”

“Masalahnya bukan niat,” jawab Kiara. “Masalahnya efek.”

Aditya terdiam beberapa detik, lalu mengangguk. “Oke. Fair.”

Sky berbisik, “Setidaknya dia nggak menyangkal.”

“Jangan cepat simpati,” bisik Kiara balik.

Mereka masuk ke kamar Rafa.

Kamar itu langsung terasa lebih sempit dengan kehadiran koper besar Aditya.

Rafa menatap tempat tidurnya dengan ekspresi curiga. “Kak, kamu nggak ngorok, kan?”

Aditya tertawa. “Kadang.”

Rafa langsung menjerit kecil. “Ini bencana!”

Kiara yang berdiri di pintu hanya menggeleng pelan.

Sky melayang ke samping Kiara. “Aku suka Rafa. Dia jujur.”

“Dia terlalu jujur.”

Beberapa jam kemudian, suasana rumah mulai kembali normal, walau dengan energi baru yang lebih… bising.

Aditya sudah menguasai ruang tamu, duduk santai sambil memainkan ponsel, bercanda dengan Rafa, dan sesekali memanggil Bu Rina dengan nada manja.

Kiara memilih bersembunyi di kamarnya.

Ia duduk di meja belajar, membuka laptop, tapi pikirannya tidak fokus.

Sky berdiri di dekat jendela. “Kamu kelihatan defensif.”

“Aku nggak suka orang yang bikin masalah masuk ke hidupku tanpa izin,” jawab Kiara.

“Bukannya hidupmu sudah penuh masalah?” Sky menyeringai.

“Terima kasih atas pengingatnya.”

Sky menoleh ke luar jendela. “Tapi aku penasaran.”

“Penasaran apa?”

“Aditya itu…” Sky memiringkan kepala. “Energinya kuat.”

“Dalam arti menyebalkan?”

“Dalam arti… intens,” jawab Sky pelan. “Bukan jahat. Tapi bukan juga orang yang tenang.”

Kiara mendengus. “Itu versi halus dari ‘bikin ribet’.”

Sky tertawa kecil.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Tok. Tok.

“Kiara,” suara Aditya terdengar dari luar. “Boleh masuk?”

Kiara menutup mata sesaat. “Apa lagi?”

Ia membuka pintu.

Aditya berdiri di sana dengan ekspresi yang lebih serius dari sebelumnya. Tidak ada senyum sok keren. Tidak ada nada bercanda.

“Aku cuma mau bilang,” kata Aditya, “aku tahu dulu aku bikin kamu kena masalah. Dan aku beneran minta maaf. Aku nggak mau bikin rumah ini nggak nyaman buat kamu.”

Kiara menatapnya beberapa detik, mencoba membaca ketulusannya.

Sky berdiri di samping Kiara, memperhatikan dengan serius.

“Aku hargai itu,” kata Kiara akhirnya. “Tapi aku nggak janji kita bakal akur.”

Aditya tersenyum kecil. “Fair. Aku juga nggak janji bakal jadi anak baik.”

“Setidaknya jujur,” gumam Kiara.

Aditya melirik ke dalam kamar. “Kamu sendirian?”

Kiara refleks menoleh ke Sky, lalu kembali ke Aditya. “Iya.”

Sky menaruh tangannya di dada sendiri. Eskpresinya dramatis. “Sakit.”

Aditya mengangguk. “Oke. Kalau butuh apa-apa, bilang. Walau kamu jutek, kamu tetap sepupuku.”

Kiara tidak menjawab, tapi tidak menutup pintu dengan keras kali ini.

Setelah Aditya pergi, Kiara menghela napas panjang.

Sky tersenyum. “Dia nggak seburuk yang kamu pikir.”

“Jangan simpulkan terlalu cepat,” jawab Kiara. “Masalah biasanya baru kelihatan setelah beberapa hari.”

Sky tertawa. “Kamu benar-benar tipe yang selalu siap buat skenario terburuk.”

“Karena sering benar.”

Sky menatap Kiara dengan ekspresi lebih lembut. “Tapi sekarang kamu nggak sendirian.”

Kiara terdiam.

“Jangan salah paham,” lanjut Sky cepat. “Aku hantu, bukan bodyguard.”

“Sayang sekali,” jawab Kiara datar.

Sky tertawa.

Dan di luar kamar, suara Aditya dan Rafa kembali ramai.

Tawa. Suara langkah. Suara koper dibuka. Rumah yang kembali hidup.

Bagi Bu Rina dan Rafa, ini hanya kedatangan anggota keluarga.

Bagi Kiara-

Ini adalah kedatangan potensi kekacauan baru.

Dan entah kenapa, Sky merasa-

Kedatangan Aditya tidak hanya akan mengubah suasana rumah.

Tapi mungkin juga-

Akan ikut mengubah arah semua yang sedang terjadi.

Termasuk misteri tentang kematian Sky.

Termasuk dunia yang mulai terbuka untuk Kiara.

Dan mungkin-

Termasuk perasaan yang belum berani mereka akui.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!