Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Dino menginginkan Dara
...SELAMAT MEMBACA!...
Suara besi yang cukup keras memenuhi seisi bengkel. Para pekerja itu sibuk dengan tugasnya, memperbaiki mesin motor, atau mobil di sana. Tangan mereka menghitam karena oli, sesekali keringat menetes dari banyaknya energi digunakan.
Lelaki berwajah kusam itu menatap kosong ke depan, duduk di sudut bengkel sambil mengusap-usap tangan kotornya dengan kain. Dino tidak fokus, dia memutuskan berhenti sejenak. Ada yang aneh, dirasanya sejak tadi.
Wajah dan suara Dara terus melintas di otaknya, seolah memenuhi pikirannya. Dino jadi tidak nyaman untuk bergerak bebas, istrinya selalu datang. "Sialan," umpat Dino, membuang kain di tangan ke sembarang tempat.
Dia berdecak kesal, kemudian berdiri dari sana dan melangkah menuju ruangannya.
Siang yang panas, membuat keringat tubuh terus bercucuran. Dino mendudukkan tubuhnya di sofa, dia berada di dalam ruangannya yang ber-AC. Lalu, lelaki itu meneguk segelas air dingin hingga tenggorokan menjadi segar.
"Gue pulang aja, deh," ucapnya, setelah benar-benar yakin ia tidak akan bisa fokus dengan pekerjaannya.
Dino pun beranjak dari sana, mengambil jaket kesayangan yang berada di pojok sofa dan memakainya.
Beberapa pegawai yang tengah bekerja tidak sengaja melihat Dino, mereka pun berdiri dari sana dan menghampiri atasannya. "Bos, mau balik?" tanya seorang lelaki dengan kaos oblong berwarna hijau tua.
Dino mengangguk. "Badan gue kurang enak," ucapnya. Dia menepuk pundak lelaki itu, kemudian melenggang pergi.
Lelaki bernama Abu itu menatap kepergian Dino dengan bingung. Dia merasa, atasannya menjadi aneh akhir-akhir ini. Namun, Abu tidak berani banyak bicara kepada Dino yang selalu memasang wajah garang. Bahkan, Dino jarang mengeluarkan suara sejak pertama membuka bengkel.
Awalnya, bengkel ini adalah usaha milik Kakek Dino, yang diwariskan kepada Dino, cucunya. Bengkel tersebut tidak seramai sekarang, dulunya hanya bengkel kecil. Namun, Dino mengolahnya hingga menjadi tempat terkenal dan selalu ramai.
Sesampainya di rumah, Dino memindahkan barang-barangnya dari kamar kedua ke kamar pertama. Sudah satu minggu ini, dia tidak tidur sekamar dengan sang istri. Tentu saja, hal tersebut yang membuat hati Dino resah. Rasanya aneh.
Dino tertawa puas saat barang-barangnya kembali di kamar pertama. Dia merapikan pakaian di almari, yang juga terdapat milik Dara di sana. Tidak peduli, nantinya sang istri akan marah atau apapun.
Lelaki itu menganggukkan kepala, merasa bangga dengan apa yang baru saja dilakukan. Dino pun melenggang keluar dari kamar.
Siang yang panas, akan terasa membosankan bila tidak melakukan apa-apa. Dino mengambil sapu di dekat pintu rumah, kemudian menyapu lantai. Sekalian, untuk membujuk Dara jika marah.
Tidak hanya menyapu, Dino juga mengelap barang-barang yang mulai berdebu, seperti televisi, meja di ruang tengah, atau sebagainya.
Saat ini, Dino mengelap televisi yang berdebu dengan kain. Sesekali dia bersiul untuk menghibur diri. "Demi siapa gue ngelakuin ini," gumam Dino. "Kalau bukan karena Dara, gue gak akan rajin kayak gini."
Seumur hidup, Dino tidak pernah mempunyai niat untuk bersih-bersih, selain disuruh sang mama atau papa. Ini adalah kali pertama, seorang Dino menjadi rajin karena kemauan sendiri.
Lelah. Dino melepaskan sapu dari tangannya di sembarang tempat, kemudian dia membanting tubuhnya di sofa. Menarik napas dalam dan menghembuskan pelan. "Capek," keluhnya.
Dino melepaskan kaos oblong abu-abu itu dari tubuhnya, membuat dada bidangnya terekspos. Dia dibasahi keringat, gerah sekali hingga Dino mengipasi dirinya dengan tangan.
Tidak ada suara ataupun tanda-tanda keberadaan orang selain Dino. Namun, Dara tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menutupnya dengan kencang karena terkejut. Sontak membuat Dino berdiri dari sofa dan menatap Dara tajam.
Gadis itu tidak berkutik, mematung di tempat dan matanya membulat melihat Dino berpenampilan tanpa baju seperti itu. "No," cecar Dara. "Ng--ngapain?"
Sapu dan lap di lantai, Dino berkeringat tanpa mengenakan baju. Dara dibuat bingung dan berpikir keras soal itu. "Dino, kamu ngapain?" tanya Dara.
Dino bergeming. Pasalnya, dia malu karena ketahuan bersih-bersih. "Ah, gue---" Dino menggaruk tengkuk lehernya, seperti orang kikuk dan mati kutu. "Gue bersih-bersih, Ra," katanya.
Dara berkedip. Lebih terkejut karena jauh dari dugaannya, tetapi menjadi sedikit lega. "Oh, gi--gitu," gumam Dara, kemudian melangkah masuk ke kamar.
"Ra!" Suara Dino seakan tidak didengar oleh gadis itu. Dara menghilang di balik pintu. Dino mengacak-acak rambutnya frustrasi, dia pasti akan ketahuan sebelum menjelaskan.
Dara buru-buru pergi dari hadapan suaminya karena sudah tidak tahan. Pipinya merah padam dan panas. Dia duduk di kasur, memijat pelan keningnya, dan menetralkan napasnya yang memburu. "Aku kok deg-degan gini, sih?" gumam Dara sambil menekan sedikit dadanya dengan tangan.
Dia menggelengkan kepalanya, kemudian beranjak dari kasur menuju almari untuk mengambil baju ganti. Manik Dara melebar saat melihat baju yang bukan miliknya berada di sana. "Ba--baju Dino?" pekiknya. Sebab setahu Dara, dia sudah memindahkan pakaian Dino ke almari di kamar kedua.
Dara melangkah cepat keluar kamar, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Dino berada tepat di depan pintu. Netra keduanya saling bertemu dan menatap tajam. "Bajunya kenapa ada di almari aku?" tanya Dara, dengan nada ketus.
Dino mengigit bibirnya bawahnya, dia tidak bisa mengeluarkan suara melihat wajah marah sang istri. "I-itu gue---"
"Kenapa, No? Kenapa dipindahin lagi?" bentak Dara.
Dino tersentak kaget, sontak menunduk dan tidak berani menatap istrinya. Begitu juga dengan Dara, dia langsung merasa bersalah ketika melihat suaminya seperti itu.
"Gue ngerasa aneh waktu tidur sendiri, Ra. Gue kesepian," ucap Dino, lantas membuat Dara semakin merasa bersalah. "Gue mau tidur sama lo, Ra."
"Gue beneran janji, gak akan sentuh lo."
Dino menatap lamat wajah istrinya, terdapat kerutan kening pada Dara. "G-gue janji, Ra," kata Dino, benar-benar terdengar lembut dan tulus.
Gadis itu menghela napas panjang, benar-benar merasa bersalah. Dia menunduk sejenak. "Maaf, No. Aku gak pantes jadi istri kamu, ya?" Dino menarik kedua tangan Dara, mengenggamnya erat.
"Gak, Ra. Ini emang terlalu cepat buat lo. Maaf, seharusnya lo masih bisa nikmatin masa muda, bukannya malah nikah sama gue." Genggaman tangan Dino mengendur, dia menggaruk tengkuknya lehernya. "Gak apa-apa, deh. Lo bisa tidur sendiri di kamar itu. Tapi, gue mau lo jangan pernah ngomong kayak gitu lagi!" tutur Dino.
Dara menunduk dalam, dadanya sesak karena menahan tangis. Dirinya yang salah, seharusnya tidak egois dengan kepentingannya sendiri. "No," panggil Dara.
"Iya, Ra?"
"Malam ini, kita tidur bareng kayak sebelumnya."
Ucapan Dara bagai pelangi bagi Dino, mata lelaki itu berbinar-binar. "Ra?" Dara mengangguk pelan.
Senang sekali, Dino mengembangkan senyumnya secerah mentari pagi. Bibirnya tertarik seperti bulan sabit di malam yang indah. Dia benar-benar merasa cintanya untuk Dara telah bertambah dari sebelumnya.
Air hujan yang jatuh tanpa aba-aba, merusak momen romantis dua insan yang saling menatap itu. Dara langsung berlari keluar untuk mengangkat jemurannya. Dino pun menyusul dan membantu sang istri.
Hujan turun dengan derasnya, membasahi pepohonan dan tumbuhan lainnya. Matahari yang awalnya bersinar cerah, ditutupi oleh gumpalan awan hitam. Suara jatuhan air itu meramaikan, sehingga dunia terasa tidak dalam kesunyian.