NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Selasa pagi yang menyengat. Lapangan atletik SMA Nusantara penuh dengan debu yang beterbangan saat kelas 10 IPS 1 memulai jam olahraga mereka. Hari ini materinya adalah Tolak Peluru. Bagi sebagian siswa laki-laki, ini adalah ajang pamer kekuatan otot, tapi bagi Ayrania Johan, ini adalah mimpi buruk di siang bolong.

Ayra berdiri di dalam lingkaran semen, memegang bola besi yang beratnya terasa seperti beban hidup. Kulit tangannya yang putih kini sudah berlumur bedak kapur putih agar tidak licin. Di depannya, Pak Gunawan, guru olahraga yang disiplin, berdiri dengan peluit tergantung di lehernya.

"Ayo, Ayra! Fokus pada tumpuan kaki dan dorongan bahu, bukan dilempar pakai tangan seperti bola kasti!" seru Pak Gunawan.

Ayra menarik napas dalam. Ia memposisikan peluru di lekukan lehernya, mencoba mengingat teknik yang dijelaskan tadi. Ia mengambil ancang-ancang, memutar tubuhnya sedikit, dan... HUP!

Dug.

Bola besi itu jatuh tepat dua puluh sentimeter di depan ujung sepatu ketsnya. Bukannya melesat ke depan, peluru itu justru seperti enggan lepas dari gravitasi.

"Aduh..." keluh Ayra pelan. Teman-temannya di pinggir lapangan mulai berbisik-bisik. Beberapa ada yang kasihan, tapi ada juga yang menahan tawa melihat si Sekretaris OSIS yang sempurna ternyata sangat tidak berbakat dalam urusan melempar beban.

"Sekali lagi, Ayra! Jangan ragu!"

Ayra mencoba lagi. Kedua kali, bola itu hanya menggelinding sejauh satu meter. Ketiga kali, ia hampir menjatuhkan bola itu ke kakinya sendiri jika ia tidak cepat menghindar. Ayra mulai merasa malu. Keringat bercucuran di pelipisnya, dan tangannya mulai terasa pegal yang luar biasa.

Tiba-tiba, suasana lapangan yang tadinya riuh mendadak agak tenang. Dari arah gedung olahraga, kelas 11 IPS 2 baru saja menyelesaikan jam olahraga mereka. Dan tentu saja, di barisan depan ada Alano.

Alano berjalan santai sambil menenggak air mineral. Kaus olahraganya sudah basah kuyup, menempel di dada dan punggungnya yang kemarin habis diobati Ayra. Ia melihat Ayra yang sedang berdiri putus asa di tengah lingkaran tolak peluru.

Alano berhenti. Ia memperhatikan cara Ayra memegang bola yang salah total. Bukannya melanjutkan langkah ke kantin bersama teman-temannya, Alano justru memutar arah.

"Pak Gun, izin sebentar ya. Kasihan itu anak orang kalau kakinya kena peluru bisa absen sekolah sebulan," ucap Alano dengan nada jahil yang mulai kembali, meskipun suaranya masih terdengar agak berat.

Pak Gunawan tertawa. "Nah, ini dia ahlinya. Lan, ajarin adik sepupu kamu ini. Dia lebih jago bikin laporan daripada dorong besi."

Ayra menoleh dan mendapati Alano sudah berdiri tepat di belakangnya. "Lano? Ngapain di sini? Sana pergi, aku lagi ujian praktik!"

"Ujian praktik atau lagi latihan menjatuhkan bola ke kaki?" sindir Alano. Ia berjalan masuk ke dalam lingkaran tanpa mempedulikan protes Ayra. "Cara lo pegang salah, Ay. Sini."

Tanpa permisi, Alano berdiri di belakang Ayra. Ia melingkarkan lengannya dari belakang—posisi yang sangat dekat hingga Ayra bisa merasakan sisa panas tubuh Alano setelah olahraga. Alano memegang tangan kanan Ayra yang memegang peluru, mengoreksi posisi jari-jarinya.

"Jangan digenggam pake telapak tangan. Pake jari-jari, kasih rongga dikit," bisik Alano tepat di telinga Ayra.

Ayra menegang. Jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada saat ia mencoba melempar tadi. "Lano... banyak orang yang liat."

"Biarin aja. Fokus ke bolanya, bukan ke orangnya," sahut Alano tenang. Ia kemudian menekan sedikit bahu Ayra. "Bahu lo terlalu kaku. Santai aja. Pas lo dorong, gunain kekuatan dari kaki, bukan cuma tangan."

Alano membimbing gerakan Ayra secara perlahan. Ia mengarahkan tubuh Ayra untuk berputar, dan saat momentumnya tepat, ia berbisik, "Sekarang, dorong!"

WUSH!

Bola besi itu melesat jauh melampaui garis batas minimal nilai tuntas. Pak Gunawan meniup peluitnya dengan puas. "Nah! Gitu dong! Bagus, Ayra!"

Ayra bernapas lega, tapi ia segera melepaskan diri dari dekapan Alano. Wajahnya merah padam, lebih merah dari saat ia kepanasan tadi. "Makasih. Sekarang sana pergi!"

Alano tidak langsung pergi. Ia menatap Ayra yang sibuk menghindari kontak mata dengannya. "Punggung gue masih sakit, Ay. Gara-gara lo nggak bener ngasih salepnya semalem kayaknya."

Ayra mendongak, merasa bersalah lagi. "Masa sih? Perasaan udah bener kok."

Alano menyeringai tipis, lalu mendekat dan berbisik pelan sehingga hanya Ayra yang dengar. "Makanya, nanti sore ke rumah lagi. Obatin lagi sampe sembuh. Gue tunggu jam empat, jangan telat atau gue bakal panggil 'Ayang' pake toa sekolah besok pagi."

"Lano! Kamu—"

"Dah, Ayang! Semangat olahraganya!" seru Alano sambil berlari menjauh dengan tawa yang kembali pecah, melambaikan tangan ke arah teman-teman Ayra yang mulai menggoda mereka.

Ayra menghentakkan kakinya kesal, tapi di dalam hatinya, ada rasa lega yang aneh. Ia senang Alano sudah kembali ceria dan tidak bersikap acuh lagi padanya. Namun, ia juga bingung. Kenapa setiap kali Alano berada di dekatnya, ia merasa dunianya sedikit berantakan?

"Ay, kamu beneran nggak suka sama Kak Alano?" tanya Sinta yang tiba-tiba sudah di sampingnya. "Tadi itu... romantis banget tau nggak, kayak di drama Korea!"

"Nggak! Dia itu cuma sepupu yang nyebelin, Sin!" jawab Ayra tegas, meskipun tangannya masih terasa hangat bekas sentuhan Alano tadi.

Ayra tidak sadar, di kejauhan, Alano sempat berhenti dan menatapnya sekali lagi. Alano tahu Ayra masih membentengi diri dengan status "keluarga", tapi bagi Alano, setiap sentuhan kecil dan setiap momen ia bisa melindungi Ayra adalah langkah maju menuju hari di mana Ayra tidak akan bisa lagi mengelak dari perasaannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!