NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Han Feng melangkah masuk ke dalam kolam. Airnya panas mendidih, tapi kulit Tembaga Tua Han Feng bisa menahannya.

Han Feng memetik buah merah itu. Panasnya terasa menyengat di kulit tangan, seperti memegang arang membara.

"Pustaka Ilahi," panggil Han Feng dalam hati. "Analisis cara konsumsi terbaik."

[Saran: Telan bulat-bulat. Gunakan Sutra Hati Naga Purba untuk mengurung energi apinya di dalam perut, lalu alirkan perlahan ke seluruh tulang dan sumsum. Jangan biarkan energi itu bocor atau organ dalam Tuan akan terbakar menjadi abu.] [Tingkat Keberhasilan: 70%.] [Resiko: Kematian atau Cacat Permanen jika gagal menahan rasa sakit.]

"70 persen?" Han Feng tersenyum sinis. "Di kehidupanku yang lalu, aku sering bertaruh nyawa dengan peluang kurang dari 10 persen. Ini angka yang sangat bagus."

Han Feng duduk bersila di tepi kolam, di atas batu datar yang hangat. Dia meletakkan Pedang Meteor Hitam di pangkuannya.

Tanpa ragu, Han Feng melemparkan buah Teratai Api itu ke dalam mulutnya dan menelannya.

GLUK.

Detik pertama, tidak terasa apa-apa.

Detik kedua, perut Han Feng terasa hangat.

Detik ketiga... Neraka meledak di dalam tubuhnya.

"ARGGHHHH!!"

Han Feng tidak bisa menahan teriakan. Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba dan brutal. Rasanya seolah-olah Han Feng baru saja menelan satu sendok cairan besi leleh.

Energi api yang terkandung di dalam buah itu mengamuk, mencoba membakar lambung Han Feng, menerobos keluar melalui kulit, dan menghancurkan apa pun yang menghalanginya. Kulit Han Feng seketika berubah menjadi merah padam, uap panas mengepul dari pori-porinya. Pembuluh darah di leher dan dahinya menonjol seperti cacing biru yang hendak meledak.

"Sutra Hati Naga Purba! Tekan!"

Han Feng memusatkan seluruh kekuatan mentalnya. Di dalam lautan kesadarannya, bayangan Naga Purba meraung, menciptakan pusaran emas yang membungkus energi api liar itu di dalam perut Han Feng.

Pertarungan terjadi di dalam tubuh Han Feng. Energi api itu melawan, menolak untuk dijinakkan.

"Kau hanya sebuah buah! Aku adalah naga! Tunduk padaku!" batin Han Feng meraung.

Sutra Hati Naga Purba mulai menggiling energi api itu. Perlahan tapi pasti, energi liar itu dipecah menjadi ribuan aliran kecil yang lebih halus. Aliran ini kemudian dipaksa masuk menembus tulang-tulang Han Feng.

Inilah tahap selanjutnya dari Pembentukan Tubuh: Penyempurnaan Tulang.

Tulang Han Feng, yang sebelumnya sudah keras, kini dibakar ulang. Sumsum tulangnya mendidih, membuang sisa-sisa kotoran terakhir yang masih bersembunyi. Rasa sakitnya luar biasa—seperti ada ribuan semut api yang menggerogoti bagian dalam tulangnya.

Gigi Han Feng bergemeretak hingga gusi berdarah. Kuku jarinya menancap ke dalam batu tempatnya duduk hingga batu itu retak.

Satu jam... Dua jam...

Waktu kehilangan maknanya. Han Feng tenggelam dalam lautan penderitaan. Namun, di balik rasa sakit itu, kekuatan baru sedang lahir.

Tulang-tulang Han Feng perlahan berubah warna. Dari putih tulang biasa, menjadi putih berkilau seperti giok, dan akhirnya... muncul pola-pola merah samar di permukaannya. Pola api.

Tiba-tiba, Pustaka Ilahi bergetar hebat.

[Energi Api Ekstrem Terdeteksi.] [Syarat Terpenuhi.] [Membuka Segel Kedua Tubuh Dewa Naga Terlarang: GERBANG NAGA API.]

DUAR!

Ledakan energi kedua terjadi, kali ini bukan rasa sakit, melainkan gelombang kekuatan yang memabukkan.

Di dalam dantian Han Feng, sebuah pintu gerbang kuno yang tertutup rantai api imajiner perlahan terbuka sedikit. Dari celah pintu itu, keluar semburan Qi murni yang bersifat panas dan destruktif.

Tubuh Han Feng menyerap semuanya.

Kulitnya yang melepuh rontok seperti kulit ular yang berganti, digantikan oleh kulit baru yang mulus, putih, namun sekeras berlian. Otot-ototnya memadat lagi, menjadi lebih ramping namun mengandung daya ledak yang jauh lebih mengerikan.

Han Feng membuka mata.

Dua bola api kecil tampak menyala di pupil matanya sebelum meredup kembali menjadi hitam pekat.

Han Feng menghembuskan napas panjang. Napas itu begitu panas hingga udara di depannya berdistorsi.

[Kultivasi Meningkat Pesat!] [Melewati Tingkat 5... Tingkat 6... Tingkat 7...] [Tingkat Saat Ini: Pembentukan Tubuh Tingkat 9 (Puncak)!] [Atribut Baru: Resistensi Api Tinggi. Kekuatan Fisik: Kekuatan 50 Banteng.]

"Tingkat 9 Puncak..." Han Feng menatap kedua tangannya dengan takjub.

Dia melompati lima tingkatan sekaligus!

Ini adalah kegilaan. Biasanya, melompati tingkatan secepat ini akan membuat fondasi kultivasi tidak stabil. Tapi Sutra Hati Naga Purba dan Tubuh Dewa Naga adalah kombinasi curang yang mengubah energi berlebih menjadi kepadatan fisik, sehingga tidak ada efek samping. Fondasi Han Feng justru sekeras gunung batu.

Kekuatan 50 Banteng. Itu berarti satu pukulan Han Feng sekarang memiliki daya hancur setara dengan serangan penuh kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 2, tapi murni menggunakan fisik tanpa jeda waktu (cooldown).

Han Feng berdiri. Tubuhnya terasa ringan, seolah gravitasi tidak lagi berpengaruh padanya.

Dia mengambil Pedang Meteor Hitam. Sebelumnya, pedang itu terasa berat. Sekarang? Pedang 150 kg itu terasa seringan ranting kayu di tangannya.

"Terlalu ringan," keluh Han Feng. "Tapi ini cukup untuk turnamen nanti."

Han Feng menoleh ke arah tumpukan mayat murid Sekte Pedang Langit. Dengan jentikan jari, Han Feng mengirimkan gelombang udara panas yang masih tersisa di tubuhnya. Pakaian mayat-mayat itu terbakar, dan dalam sekejap api melalap mereka, menghapus jejak keberadaan mereka selamanya.

"Terima kasih atas 'sumbangan' kalian," kata Han Feng dingin.

Han Feng berjalan keluar dari gua. Di luar, hari sudah malam lagi. Bulan purnama bersinar terang di langit, menerangi Hutan Binatang Buas yang sunyi.

Han Feng menarik napas dalam-dalam, menghirup udara malam yang segar.

Tiga minggu lagi adalah Turnamen Keluarga Han. Han Lie, para tetua korup, dan semua orang yang pernah menghina pemilik tubuh asli ini... mereka tidak tahu apa yang sedang berjalan pulang menuju mereka.

"Aku datang," bisik Han Feng pada angin malam. "Dan aku akan membawa badai."

Han Feng melesat menembus hutan. Kecepatannya sekarang begitu tinggi hingga dia hanya terlihat seperti bayangan hitam yang melintas di antara pepohonan, meninggalkan jejak daun-daun yang terbakar hangus di belakangnya.

1
Gege
mantabbb...gass thorrr lagee
Bambang Purwanto
👍bagus sekali ceritanya
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!