NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 1 bagian 6

Hingga pada hari Sabtu Daniel dan Andre datang ke sekolah bersama Bima, dia adalah adik laki-laki ibu Andre. Ini hari libur jadi mereka tidak menggunakan seragam dan atas saran dari Bima, Hani dan Ilyas tidak dilibatkan. Semakin sedikit orang yang tahu kronologi kejadian maka semakin bagus. Kepala sekolah juga tidak ingin terlibat, dia hanya menyerahkan seluruh akses CCTV pada pengawas utama dan tidak menampakkan diri. Itu mempermudah segalanya, mereka punya seorang polisi sebagai senjata utama dan akses ke seluruh tempat. Kecuali ruang kepala sekolah tentu saja.

Meski tidak berpangkat tinggi, Bima adalah polisi yang bertanggungjawab. Ia bekerja di divisi kriminal sebagai kepala unti kasus dingin. Pekerjaan utamanya adalah menyelidiki ulang kasus-kasus serius yang belum terpecahkan dalam jangka panjang. Namun karena kekurangan SDM terkadang kepolisian juga menugaskannya untuk ikut serta dalam kasus berat yang tengah terjadi, meninjau langsung ke lapangan dan ikut dalam penyelidikan. Sebenarnya pekerjaannya sangat fleksibel untuk membantu unit lain yang kekurangan SDM.

Mereka datang ke ruang pengawasan yang penuh dengan monitor, hanya ada satu lampu kecil yang tidak terlalu terang diletakan di tengah ruangan dengan AC bersuhu 15⁰ dan tidak ada satu pun kursi yang tersedia. Meneliti satu persatu kamera adalah hal yang melelahkan apalagi jika itu dilakukan dengan berdiri.

“Tidak ada yang mencurigakan, satu-satunya hal yang ditemukan hanya kerusakan fisik pada kamera. Itu sulit diselidiki” ucap Bima setelah hampir 4 jam melihat monitor.

Andre menghela nafas dan Daniel terdiam. Mengabaikan petugas pengawas yang diam-diam menyeringai menang. Namun Daniel tahu ada kejadian yang mereka lewatkan di hari itu, yang pasti ia tidak tahu apa itu. Di tengah hari akhirnya mereka keluar dari ruang CCTV tanpa mendapatkan petunjuk, mereka pun melanjutkan penyelidikan ke pondok belakang sekolah. Bima memperlihatkan kartu anggota kepolisiannya pada satpam untuk mempermudah akses.

“Ada orang yang masuk dan keluar sebelum kita” ucap Daniel. Ia memperhatikan jejak kaki yang kini bertambah, ia ingat kemari sore jejak kakinya tidak sebanyak itu.

“Apa maksudmu?” tanya  Andre.

Daniel menunjukan jejak sepatu yang tertinggal di tanah.

“Ini jejak kaki lama yang tertinggal saat tanahnya basah, dan ini jejak kaki baru. Kemarin sore ketika aku melihat tempat ini tidak ada jejak kaki ini, dan jejaknya sangat identik” jawab Daniel.

Bima mengerti, ia langsung mengeluarkan kameranya dan mengambil foto. Ia tidak tahu ini penting atau tidak tapi mengantisipasi bukan hal yang salah. Tidak ada yang salah dengan pondok itu, masih dengan kelembapan udara dan suasana yang sama. Namun sekali lagi Daniel mengatakan pendapatnya,

“puntung rokoknya bertambah.”

Semua orang memperhatikan titik dimana Daniel menatap. Ada 3 puntung rokok tergeletak di sudut terdalam pondok. Satu diantaranya sudah tampak usang, namun 2 lainnya masih tampak baru. Bima dengan segera mengamankan barang tersebut. Ia melangkah dengan sembrono dan tanpa sengaja menginjak lantai papan yang tidak pas, membuatnya miring dan memperlihatkan celana tanah di bawahnya.

“Sepertinya kita perlu menggali” ucap Daniel. Ia mengabaikan tatapan Bima yang tampak mencurigainya, mungkin dalam hatinya tertanam bahwa dia lah yang harus menjadi tersangka jika benar ada mayat di tempat ini.

“Ndre tolong panggil satpam dan mintalah beberapa alat gali” perintah Bima.

Andre tidak mengerti, namun ia bergegas pergi. Dia kembali tidak lama kemudian dengan seorang satpam dan seperangkat sekop dan cangkul.

Satpam yang bingung itu hanya menurut ketika Bima menyuruhnya mendongkel satu persatu papan lantai. Bima turun sendiri untuk mengali tanah membiarkan Andre dan Daniel memperhatikan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengali, aroma busuk mulai tercium memenuhi ruangan. Setelah beberapa kali ayunan cangkul sebuah tangan muncul ke permukaan tanah. Sudah hampir membusuk namun masih dapat dikenali sebagai tangan wanita.

Satpam itu ketakutan, dia berteriak dengan terkejut.

“Bagaimana mungkin ada mayat disini?”

Tidak ada satu orang pun yang menjawab. Andre masih syok dan Bima mulai menghubungi rekan-rekannya. Ini bukan lagi kasus kesurupan atau pengrusakan, ini kasus pembunuhan. Ia tidak bisa bekerja sendiri. Ditambah orang yang menangani kasus ini bukan dirinya, kemungkinan besar dia dan anak-anak ini akan tertuduh jika tidak segera dilaporkan.

“Jadi arwah wanita ini yang menganggu Mitha. Untuk menyelamatkan Mitha kita perlu tahu siapa membunuhnya” gumam Daniel setelah lama diam.

Andre menatap temanya itu dengan pandangan yang tidak percaya. Dari mana ia tahu ada mayat di sana? Daniel adalah siswa baru dan dia sudah menumkan hal sebesar ini, ia yang siswa lama saja tidak pernah berkeliaran sampai ke halaman ini. Apa yang membuat Daniel tertarik dengan tempat ini?

Setengah jam kemudian beberapa petugas mengali kuburan dadakan itu, mengangkat jenazahnya dan mengirimnya ke rumah sakit untuk diotopsi. Tempat itu dipasang garis polisi, dan tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke dalamnya. Untuk mengantisipasi adanya kebocoran penyelidikan satpam dan beberapa saksi mata lainnya diminta untuk tutup mulut, dan tidak membicarakan permasalahan ini.

Senin pagi datang dengan begitu cepat dan Daniel siap tidak siap harus menghadapi hari ini. Ia benar-benar malas dengan segala rumor tentang Andre yang mulai menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk mengintimidasi banyak orang. Meski rumor kali ini cukup berbobot tapi tetap saja itu hanya rumor. Ia tidak habis pikir dengan siswa siswi yang katanya berprestasi di tempat ini, mengapa mereka masih percaya dengan gosip dan rumor.

Ia berpapasan dengan Ilyas di lobi utama. Mereka melihat seorang petugas kebersihan yang tengah membuang bunga sedap malam di kantor kepala sekolah dan menggantinya dengan bunga yang baru.  Ruang semungil dan sedingin itu dipenuhi aroma sedap malam, apa kepala sekolah tidak sesak atau ketakutan? Bunga sedap malam identik dengan hal-hal yang negatif, apalagi mengingat rumor mendiang kepala sekolah sebelumnya.

“Untuk apa bunga sedap malam?” tanya Daniel.

“Pengharum ruangan, ku dengar kepala sekolah adalah orang yang sangat menghindari hal-hal berbahan kimia, salah satunya adalah pengharum ruangan” jawab Ilyas.

Daniel mengangguk tanda mengerti, namun dia diam-diam mengamati benda apa saja yang ada di tempat sampah itu.

“Dia peduli pada kesehatan dan menghindari bahan kimia tapi mengapa merokok” celetuk Daniel begitu melihat bungkus rokok yang telah kosong di tempat sampah.

Ilyas mengangkat bahunya lemah dan tidak peduli. Mereka berpisah di ujung koridor, Ilyas harus membuka UKS sebelum upacara dimulai dan Daniel berjalan menuju kelas. Sekali lagi ia menjadi orang pertama yang sampai di kelas, dan ia tahu benar apa yang akan ia temui pagi ini.

Ya, arwah gadis itu masih duduk di bangku paling depan menatap kosong papan tulis. Kini ia dapat melihat dengan jelas wajahnya, tidak terlihat seperti siswi berabad-abad yang lalu, seragamnya tidak jauh berbeda dengan yang Hani pakai. Apa yang membuat arwah gadis ini tertahan di sekolah ini?.

Belum sempat ia mengamati dengan benar Hani sudah mendorongnya masuk ke kelas.

“Woy, Jagan menghalangi jalan. Tuan putri ini mau lewat” ucapnya sambil melenggang masuk. Daniel yang agak kesal pun menjawab,

“yah kamu mengejutkanku arwahnya jadi pergi.”

Hani segera berbalik dan menatap Daniel terkejut. Ada sedikit rasa takut dalam pandangannya.

“Ada arwah penasaran di kelas kita?”

“Ada, dan kamu tidak perlu takut karena kamu lah yang membuatnya takut” jawab Daniel. Kini ia yang berjalan pergi untuk duduk di bangkunya. Meninggalkan Hani yang masih terkejut tidak percaya.

Hani yang tidak ingin mempercayai Daniel akhirnya meletakan tasnya di mejanya, mengambil ponsel dan memilih sebuah foto dan memperlihatkan pada Daniel.

“Siapa yang jadi hantu?” tanya Hani.

Foto yang Hani tunjukan adalah foto sekelompok siswa yang diambil di depan lobi sekolah. 96 siswa dengan seorang pria paruh baya yang dikenal Daniel sebagai guru ekonomi. Daniel mengamati foto itu dengan seksama, memperhatikan satu demi satu siswi.

“Han, bagaimana jika tiba-tiba mataku juling?” tanya Daniel.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak lihat ada begitu banyak siswi dengan foto sekecil itu” geram Daniel.

“Cukup perhatikan satu persatu, dan jangan panggil aku ‘Han’ namaku Hani jangan setengah-setengah” sahut Hani. 

Daniel menghela nafas pasrah, dan memperhatikan satu persatu siswi di foto itu. Ia bisa menemukan Hani bersebelahan dengan Ida, dan beberapa siswi kelas mereka. Namun pandangnya tertuju pada satu siswa yang wajahnya sangat mirip dengan yang ia lihat sebelum Hani masuk.

“Yang ini” tunjuk Daniel.

Hani langsung lemas begitu melihat siapa orang yang ditunjuk Daniel. Saat Hani hampir menangis, Andre masuk bersama beberapa siswa.

“Woy kenapa ni? Daniel menolakmu?” tanya Andre berusaha bercanda. Namun Hani mengabaikannya, dia menceritakan apa yang baru saja terjadi dan terdiam.

“Itu Yuan, siswi yang ku ceritakan padamu tempo hari” ucap Andre setelah diam cukup lama.

Daniel ber’oh’ kecil. Dia tidak tahu harus berkata apa. Apalagi dengan semakin banyak siswa yang masuk dalam kelas. Bell masuk lah yang menyelamatkan Daniel dari rasa canggungnya. Ia tidak tahu mana yang membuatnya canggung, kalimat Andre yang menyiratkan tentang rasa suka Hani atau ia yang hampir membuatnya menangis.

Tidak ada yang aneh setelah kejadian tadi pagi. Tidak ada berita yang diumumkan pada saat upacara, namun peraturan tentang menjauhi halaman belakang kembali dipertegas. Tidak ada satu pun orang yang boleh memasuki halaman itu. Penjagaan diperketat, dan rumor kosong kembali beredar.

Hani tidak lagi menanyakan kenapa arwah Yuan tidak tenang. Sepertinya topik itu tidak lagi menarik baginya.Semuanya berjalan seperti biasa. Tentu saja biasa bagi mereka, penuh dengan tatapan ingin tahu, gosip dari mulut ke mulut dan tidak ketinggalan makian dari beberapa siswa yang menyukai Sora. Normal yang sangat menganggu.

Jam kosong kembali terjadi di 2 jam terakhir sebelum pulang, itu memberi mereka waktu untuk menceritakan kejadian kemarin kepada Ilyas dan Hani. Di taman halaman belakang mereka membahas semuanya. Sebenarnya hanya Andre yang bercerita, Daniel hanya diam memperhatikan kepala sekolah yang sedang berbicara pada satpam halaman belakang. Itu bukan satpam yang membantu mereka tempo hari itu adalah satpam lain.

“Jadi satpamnya memilih resign” gumam Daniel.

Andre yang mendengar hal itu segera mengalihkan perhatiannya ke pos satpam. Tempat mereka duduk adalah titik buta pos satpam, jadi tidak ada yang menyadari mereka disana. Kepala sekolah terlihat berbicara pelan dan mengangguk faham dengan laporan satpam itu, menyesap habis kopinya, membuang cangkir kertas itu ke keranjang sampah lalu melangkah pergi begitu saja.

“Ya mungkin takut atau diancam” sahut Ilyas.

“Tidak, itu anggota kepolisian. Semua satpam di halaman belakang untuk sementara diistirahatkan dan diganti oleh anggota kepolisian yang menyamar. Pelaku kejahatan selalu kembali ke tempat mereka meninggalkan jejak, dan kepolisian mengantisipasi itu” jelas Andre.

Semua orang mengangguk setuju,

“tumben mereka berfikir jernih” gumam Hani.

“Ya mungkin karena ini kasus besar, semua orang yang terlibat bisa naik pangkat” jawab Ilyas.

Daniel masih memperhatikan gerak gerik kepala sekolah, mencoba menyambungkan satu persatu kabel berantakan yang tersusun di kepalanya.

“Aku akan mengalihkan perhatian satpam itu, tolong amankan cangkir kopi yang dibuang oleh kepala sekolah jangan sentuh dengan tangan langsung, pastikan tidak ada sidik jari kalian tertinggal di cangkir itu dan kirimkan langsung ke Pak Bima” ucap Daniel sambil berdiri.

“Kau mencurigai kepala sekolah?” tanya Hani.

“Puntung rokok yang tertinggal di pondok itu sama dengan puntung rokok yang ada di ruang kepala sekolah, wajar saja jika aku mencurigainya” jawab Daniel sambil berlalu pergi, mengabaikan ke-tiga temannya yang hanya bisa menghela nafas pasrah.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!