NovelToon NovelToon
Hot Daddy Favorite

Hot Daddy Favorite

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Queenvyy27

***++++++++

" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.


Mari nantikan kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penuh Haru

 Keputusan nya untuk menikah dengan Dean memang tidak membuat diri nya bahagia, hanya sekedar ingin membalas Budi atas kebaikan Bu Dea pada dirinya. Karena semenjak almarhumah sang mama meninggal dunia, Bu Dea sering membantu rea, bahkan sesekali wanita paruh baya itu mengirimkan uang untuk Rea.

 " Terimakasih, ya Bu ." ucap Rea lirih diantara isak tangisnya. " Sejak kepergian almarhumah mama, ibu lah yang selalu ada untuk Rea, yang menggantikan mama menyayangi Rea dengan sepenuh hati."

 Bu Dea membalas pelukan itu dengan erat, usapan tangan lembut di punggung Rea, seolah menenangkan hati gadis muda itu, air mata Bu Dea pun jatuh tanpa bisa dia tahan, teringat janji lama yang kini telah benar benar dia tepati.

 " Rea janji Bu ." lanjut Rea dengan suara bergetar. " Walaupun Rea baru saja mengenal mas Dean, Rea akan berusaha jadii istri yang baik untuk mas Dean, dan berbakti kepada mas Dean dan ibu."

 Bu Dea mengusap pipi Rea yang basah dengan lembut dan menatapnya penuh kasih.

" Nak, ibu percaya kamu akan jadi istri yang baik, cinta bisa tumbuh seiring waktu, asal di jaga dengan tulus ibu hanya ingin kamu bahagia, itu saja ."

Bu Dea tersenyum hangat, namun sorot matanya menunjukan kesungguhan yang dalam, dia menggenggam tangan Rea erat, lalu berkata dengan suara penuh keyakinan.

" Kamu tengah saja Rea, pernikahan kalian akan segera di daftarkan sama Dean, semua urusan administratif dan surat surat pernikahan biar dia yang urus, ibu sudah siapkan semuanya ." ucap Bu Dea sembari mengelus puncak kepala Rea.

Sebenarnya Rea agak janggal dengan pengajuan pernikahan resmi nya di KUA, padahal dia sudah memberikan dokumen syarat syarat diri nya pada Dean, tadi katanya masih ada sesuatu yang harus di selesaikan maka nya pernikahan secara negara mereka masih belum resmi.

Rea menatap Bu Dea dengan mata yang masih sembab karena tangis haru, sementara wanita paruh baya itu melanjutkan perkataanya dengan lembut namun tegas.

" Rumah yang kalian akan tempati nanti juga sudah atas nama kamu Nak, semua surat suratnya nanti ibu akan berikan ke pada kamu sendiri, jadi kalau suatu hari nanti ." Bu Dea menatap wajah Rea dalam dalam.

" Kalau sampai dean berani mengkhianati kamu, kamu usir saja dari rumah itu, ibu rela, kalau memang anak ibu yang bersalah ." ucap Bu Dea mencoba meyakinkan Rea.

Rea tertegun mendengar ucapan itu, dada nya sesak oleh campuran haru dan rasa tak percaya, dia segera memeluk Bu Dea erat erat, air matanya kembali mengalir deras di pelukan Bu Dea.

" Kalau sampai Rea menemukan mas Dean selingkuh, Rea tidak akan mengusir mas Dean dari rumah, Rea akan langsung menjual rumah itu Bu dan membawa kabur uang nya." ucap Rea dengan nada bercanda nya sambil terisak.

Bu Dea tersenyum dan mengelus puncak kepala Rea dengan lembut, seperti ibu menyayangi putrinya sendiri.

" Ibu, setuju Nak, tapi ibu percaya Dean akan menjaga kamu dan tidak akan pernah mengkhianati kamu, tapi ibu juga pengen kamu tau, kamu punya tempat berpijak, kamu bukan orang lain di keluarga ini, kamu adalah anak ibu sama seperti Dean."

Rea mengangguk pelan, memeluk Bu Dea semakin erat.

" Terimakasih Bu, Rea gak akan pernah lupakan semua kebaikan ibu kepada Rea."

Rea menatap Bu Dea dengan sorot mata penuh ketegasan, meski air mata masih menetes di pipinya, suara lirih, namun setiap kata yang dia ucapkan jelas dan mantap di dengar.

" Iya Bu, Rea percaya sama ibu, tapi kalau suatu saat mas Dean menusuk Rea dari belakang, Rea tidak akan pernah bisa memaafkan nya Bu ." ucap Rea dengan menahan sesak di dada.

Bu Dea terdiam, pandangannya menelusuri wajah menantunya yang sangat masih muda itu, Namun sudah bisa berbicara dengan kedewasaan dan penuh luka itu.

" Walaupun dia anak ibu." lanjut Rea suaranya mulai bergetar lagi. " Rea tidak akan pernah rela di khianati, karena bagaimanapun juga, Rea sudah mempertaruhkan masa depan Rea sendiri demi menikahi mas Dean."

Rea menunduk jemarinya mengepal di pangkuan.

" Rea harus cuti kuliah Bu, bukan karena Rea menyerah, tapi karena Rea ingin menjadi menantu ibu, karena Rea ingin berbakti, ingin membalas kasih sayang ibu yang sudah menggantikan mama sejak dulu."

Bu Dea merasakan hati nya mencubit pelan, iya mengusap bahu Rea dengan lembut dan matanya mulai berkaca kaca.

" Nak ." ucap nya.

Namun Rea melanjutkan kali ini dengan nada penuh keyakinan meski matanya mulai basah kembali.

" Jadi nanti kalau mas Dean berbuat curang, jangan pernah hentikan Rea untuk pergi, ya Bu, biarkan Rea memilih jalan Rea sendiri."

Bu Dea menghela nafas panjang, lalu menggenggam tangan Rea erat erat.

" Ibu janji Nak, tapi ibu juga yakin Dean gak akan buat kamu sampai sejauh itu, dia mungkin belum tau cara mencintai kamu sekarang, tapi ibu yakin dia akan belajar."

Rea tersenyum kecil, senyum yang terasa pahit namun tulus dia menatap Bu Dea dengan mata sendu.

" Semoga ibu benar Bu, semoga mas Dean bisa jadi suami yang ibu dan Rea harapkan."

Waktu sudah menunjukan pukul 14:50 suasana rumah besar itu kini lenggang, tawa dan percakapan para tamu yang memenuhi udara ruangan kini telah menghilang, berganti dengan keheningan yang lembut, sisa sisa pesta pernikahan masih tampak di halaman, kursi teratur rapi, hiasan bunga mulai Melayu terkena panas siang dan aroma wangi melati masih tercium samar di udara.

Di kamar pengantin yang terhias indah, Rea duduk di tepi ranjang dengan gaun sederhana pengganti kebaya pengantinnya, rambut nya di biarkan terurai lurus, wajahnya masih menyisakan lelah, tapi juga haru, di depannya Dean, yang kini resmi jadii suaminya.

Dean sedang merapikan koper dan beberapa kotak kecil berisi barang barang pribadi mereka.

" Mas, kita jadi pindah sore ini." tanya Rea pelan, suaranya masih terdengar ragu ragu.

Dean menoleh, lalu tersenyum singkat ." iya Rea, sore ini kita langsung pindah ke rumah kita, semua sudah siap di sana ."

Rea menunduk, dalam hati dia sebenarnya ingin menuruti permintaan Bu dea, untuk tinggal beberapa malam di rumah itu dulu, sekedar menemani ibu mertua nya yang sejak pagi terlihat sibuk tetapi juga tak sanggup menyembunyikan raut sendu di wajah nya.

" Padahal ibu sempat bilang, pengen kita tinggal di sini dulu beberapa hari." ucap Rea, suaranya nyaris seperti bisikan.

Dean terdiam sejenak, lalu terdiam sejenak dan duduk di sampingnya, dia menggenggam tangan istri nya dengan lembut.

" Aku tau, sayang. tapi aku ingin kita memulai semuanya dari awal, di rumah kita sendiri, biar kamu bisa menyesuaikan diri pelan pelan tanpa merasa sungkan."

Rea menatap wajah suami nya, mencoba membaca ketulusan dari sorot matanya, dia mengangguk meski masih tampak ragu ragu.

" kalau memang itu keinginan mas, Rea ikut mas saja ."

Dean tersenyum lalu mengusap kepala istrinya dengan lembut, gerakan sederhana tapi penuh makna.

" Terimakasih sayang, aku janji rumah itu bukan cuma tempat tinggal, aku ingin menjadikan rumah itu dimana kamu bisa merasa bahagia."

Di luar kamar Bu Dea berdiri di depan pintu, yang setengah terbuka dan mendengar percakapan mereka tanpa berniat menguping, matanya berkaca kaca antara bahagia dan berat melepas anak dan menantunya pergi.

" Semoga mereka benar benar bisa saling membahagiakan." bisiknya lirih.

Sudah setahun ini Dean dan Rea saling mengenal. Semua berawal dari hu Dea, yang penuh perhitungan dan kasih sengaja mendekatkan mereka. Dia tau, di antara banyak gadis yang bisa menjadi pendamping putranya, hanya Rea putri dari almarhumah sabahat lamanya, yang benar benar cocok menjadi menantunya.

Padahal Bu Dea tau bahwa Dean memiliki seorang kekasih, bahkan Dean sempat mengajak wanita itu menemui Bu Dea. Namun melihat kelakuan, cara berpakaian dan juga sifat gadis itu Bu Dea menentang keras hubungan Dean dan kekasihnya. Bu Dea mendesak supaya Dean yang memutuskan gadis itu, sebelum hubungan Dean dan gadis itu semakin jauh.

Sejak kuliah memang Dean kuliah di jakarta dan bekerja di sana setelah lulus. kesibukannya membuat dia jarang sekali pulang ke rumah org tuanya.

Bu Dea sering merasa kesepian, apa lagi semenjak suaminya meninggal berapa tahun yang lalu, dia merindukan suasana rumah yang kembali hangat, dan diam diam berharap Rea menjadi menantunya.

Flashback satu tahun yang lalu

Suatu hari, saat Dean akhirnya pulang untuk menjenguk ibunya, Bu Dea menyampaikan niatnya.

" Nak, ibu kepengen kamu kenal sama Rea, anak sahabat lama ibu, ibu rasa dia gadis yang sangat baik." ucap Bu Dea dengan lembut.

Namun saat itu Dean hanya mendesah pelan sambil menatap wajah ibunya yang penuh lelah dan menua.

" Ibu, mau jodohin aku ya." tanya Dean datar.

Bu Dea tersenyum kecil.

" Bukan menjodohkan nak hanya mengenalkan saja, tapi kalo kamu cocok ibu akan merasa senang."

Dean sempat menolak, dia merasa belum siap menikah dengan orang yang belum dia kenal, apa lagi saat itu Dean sudah memiliki pacar, tapi demi menghormati ibunya akhirnya dia setuju hanya untuk sekedar berkenalan.

1
Fani Sugihwarni
labraklah usir mereka
D_wiwied
bye bye Dean selamat menikmati kesengsaraan mu sebentar lg 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!