NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Menjadi Ibu Susu Putra Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Ibu susu / Janda / Duda
Popularitas:26.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpura-pura mesra

Fajar baru saja menyingsing, menyisipkan cahaya kebiruan di sela-sela gorden kamar. Kamila, yang memang tidak benar-benar tidur nyenyak, sudah terjaga. Ia segera merapikan rambutnya dan mengenakan kembali hijab instannya dengan gerakan cekatan. Ia harus segera menemui Baby Zevan, naluri keibuannya sudah memanggil sejak matanya terbuka.

Tanpa suara, ia bergegas menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan kokoh mencekal pergelangan tangannya.

"Kamila, tunggu," suara berat Evan menghentikannya. Pria itu sudah terbangun, wajahnya tampak serius seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan terkait pembicaraan semalam yang tertunda.

"Ada apa, Tuan? Saya harus melihat baby Zevan," jawab Kamila cemas.

"Hanya sebentar, aku ingin bilang kalau..."

Belum sempat Evan menyelesaikan kalimatnya, Kamila yang terburu-buru kehilangan keseimbangan karena kakinya tersangkut karpet. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Dengan sigap, Evan menarik lengan Kamila, membuat wanita itu jatuh tepat ke dalam pelukannya.

Tepat pada detik yang sama, pintu kamar yang tidak terkunci rapat itu didorong kasar dari luar.

BRAKK!

Siska berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Rambutnya sedikit berantakan setelah nekat menerobos masuk melalui pintu belakang, sebuah akses rahasia yang sepertinya hanya diketahui oleh orang dalam yang bersekongkol dengannya. Wajahnya merah padam, matanya melotot tajam melihat pemandangan di depannya.

Evan dan Kamila membeku. Namun, Evan yang menyadari situasi ini dengan cepat mengubah taktik. Bukannya melepaskan Kamila, ia justru semakin mempererat pelukannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di perut Kamila dan menyandarkan kepalanya di tulang selangka istrinya itu, seolah mereka baru saja menikmati momen yang sangat intim.

"Ngapain kau pagi-pagi datang ke sini, Siska? Kau mengganggu saja," ujar Evan dengan suara serak khas orang bangun tidur yang dibuat-buat, namun terdengar sangat dingin.

Kamila membelalak. Tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dari sebelumnya, bukan karena cinta, melainkan karena syok yang luar biasa atas tindakan berani suaminya.

"Evan! Apa-apaan ini?!" jerit Siska histeris. Suaranya melengking memenuhi koridor lantai dua. "Kau... kau benar-benar menyentuh wanita kampung ini?!"

Evan mengabaikan makian Siska. Ia justru mengecup bahu Kamila sekilas, sebuah akting yang sangat meyakinkan lalu berbisik namun cukup keras agar Siska mendengarnya.

"Kamila sayang, setelah kau kembali menyusui Baby Zevan, cepatlah kembali ke kamar. Kita lanjutkan lagi apa yang kita mulai semalam. Aku masih merindukanmu."

Mendengar ucapan vulgar dan provokatif itu, bulu kuduk Kamila berdiri merinding. Ia ingin protes, ingin berteriak bahwa semalam mereka bahkan tidur saling membelakangi, namun lidahnya kelu. Ia tahu Evan sedang memasang tameng untuk melindunginya sekaligus mengusir Siska secara permanen.

"TIDAK MUNGKIN! INI PASTI MIMPI BURUK!" Siska menjerit frustrasi. Kepalanya seolah mengeluarkan asap karena amarah yang memuncak. Melihat kemesraan yang menurutnya menjijikkan itu, harga diri Siska hancur berkeping-keping.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Siska berbalik dan berlari meninggalkan Mansion Chendana dengan suara tangis yang tertahan. Suara langkah kakinya yang menghentak lantai terdengar menjauh hingga akhirnya hilang di telan sunyi.

Begitu suasana kembali sepi, Kamila langsung mendorong tubuh Evan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya dan wajah yang memerah hebat.

"Tuan! Apa yang Tuan katakan tadi itu... itu sangat memalukan!" seru Kamila dengan suara gemetar.

Evan hanya berdiri tegak, merapikan piyamanya yang sedikit kusut. Ekspresi wajahnya kembali datar, seolah kejadian barusan hanyalah sebuah negosiasi bisnis biasa.

"Hanya itu cara tercepat untuk membuatnya berhenti mengganggumu dan Zevan," jawab Evan tenang, meski sebenarnya ia pun merasa kikuk dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Setelah kepergian Siska yang penuh drama, suasana di lantai dua Mansion Chendana menjadi sangat tegang. Kamila masih berdiri mematung dengan wajah yang panas karena malu, sementara Evan sudah beralih ke mode serius. Matanya yang tajam menatap ke arah tangga belakang, tempat Siska muncul tadi.

"Tunggu di sini, Kamila. Jangan turun sampai aku memanggilmu," perintah Evan dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Evan melangkah cepat menuju ruang monitor CCTV di lantai bawah. Ia tahu, sistem keamanan kediaman Chendana tidak mungkin ditembus oleh orang luar seperti Siska tanpa bantuan dari dalam.

Evan memutar ulang rekaman satu jam terakhir. Matanya menyipit saat melihat siluet seseorang yang membuka kunci pintu servis di area dapur pada pukul 05.15 pagi. Orang itu mengenakan seragam pelayan, namun wajahnya sengaja ditutupi oleh kain lap saat melewati kamera.

"Panggil semua asisten rumah tangga dan staf keamanan ke ruang tengah. Sekarang!" titah Evan melalui interkom kepada kepala pelayan.

Beberapa menit kemudian, seluruh staf sudah berbaris dengan wajah pucat. Mereka tahu jika Tuan Besar mereka sudah mengeluarkan aura dingin seperti ini, berarti ada masalah besar.

Evan berjalan perlahan di depan barisan, langkah sepatunya berbunyi ritmis di atas lantai marmer, menciptakan teror mental bagi siapa pun yang merasa bersalah.

"Siska masuk melalui pintu belakang. Seseorang memberinya kunci duplikat dan mematikan alarm sensor gerak di area dapur," ujar Evan tenang, namun suaranya terdengar seperti belati. "Aku akan memberi satu kesempatan. Mengaku sekarang, atau aku akan memastikan kalian tidak akan pernah bisa bekerja di mana pun di negara ini."

Hening. Tidak ada yang berani bersuara sampai akhirnya Evan berhenti tepat di depan seorang asisten rumah tangga muda bernama Rani

"Rani, kenapa tanganmu gemetar?" tanya Evan dingin.

"S... saya... saya hanya takut, Tuan," jawab Rani terbata-bata.

"Begitukah?" Evan memberikan kode kepada kepala keamanan untuk memeriksa ponsel Rani.

Awalnya Rani menolak, namun ia tidak punya pilihan. Setelah diperiksa, ditemukan sebuah pesan singkat dan bukti transfer yang cukup besar masuk ke rekeningnya kemarin sore.

Isi pesan dari nomor tak dikenal: "Pastikan pintu belakang tidak terkunci setelah jam 5 pagi. Uang muka sudah kukirim."

"Jadi, kau yang menjual keamanan rumah ini hanya untuk beberapa juta rupiah?" suara Evan meninggi, membuat Rani langsung jatuh berlutut sambil menangis.

"Maafkan saya, Tuan! Nona Siska mengancam akan mencelakai adik saya jika saya tidak membantu! Saya terpaksa!" ratap Rani sambil bersujud di kaki Evan.

Evan menarik napas panjang, wajahnya tidak menunjukkan simpati sedikit pun. "Kau tidak hanya mengancam keamananku, tapi kau juga mengancam keamanan Baby Zevan. Itu adalah kesalahan yang tidak termaafkan."

Evan menoleh kepada kepala keamanan. "Serahkan dia ke pihak berwajib atas tuduhan percobaan pencurian dan pelanggaran privasi. Pastikan nomor pengirim itu dilacak, aku ingin bukti kuat untuk menyeret Siska juga ke ranah hukum."

Setelah Rani dibawa pergi, Evan kembali ke atas. Di sana, ia melihat Kamila sedang berdiri di depan pintu kamar bayi, memeluk Baby Zevan yang baru saja bangun. Melihat pemandangan itu, kemarahan Evan sedikit mereda.

Ia mendekat, lalu berhenti tepat di depan Kamila. "Penghianatnya sudah kutemukan. Kau aman sekarang," ucapnya lebih lembut.

Kamila menatap Evan dengan rasa syukur yang campur aduk. "Terima kasih, Tuan. Saya... saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika tadi Tuan tidak ada."

Evan terdiam sejenak, menatap Kamila dan Zevan bergantian. "Panggil aku Mas Evan jika kita hanya berdua atau dengan Zevan. Dan soal ucapan 'lanjutkan yang semalam' di depan Siska tadi..." Evan berdeham kikuk, "Jangan dimasukkan ke hati. Itu hanya gertakan."

Kamila menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang mendadak muncul. "Iya, T...Tuan... maksud saya, Mas Evan."

Bersambung...

1
suryani duriah
kamila cepat bgt narik kesimpulan nah cembokur khan😁tunggu penjelasan dulu say😁😁
Teh Euis Tea
sukurlah jaka sadar dan mudsh2an cepat sehat biar bisa jd saksi ratu demit masuk bui
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk 👍
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya jaka sadar dan bisa jdi saksi kejhtn siska
Lisa
Ciee..Evan udh mulai pdkt nih..😊
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: iya dong 🤣🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/🤗🤗🤗
total 1 replies
Nar Sih
hahaha😂😂iklan lewat dulu gais😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Juriah Juriah
sebagai pembaca novel menurut ku jln crita nya udh cukup bagus tulisannya juga rapi ga banyak typo nya trus tanda baca nya juga tepat penempatan nya sampai di episode ini masih enak di baca nya...buat kakak author tetap semangat untuk berkarya 💪🙏
Juriah Juriah: sama-sama kak🙏
total 2 replies
suryani duriah
gagal lagi😁😁
neny
apa itu panggilan di bawah alam kubur,,atau mungkin kah orang yg sdh dianggap siska mati akan mengganggu siska sampe ia mengakui perbuatan nya sendiri,,jd penasaran nich,,semangat terus kak othor💪😘
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
neny
oramg suruhan siska pasti itu,,lanjut kak,,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
neny
cinta rvan,,itu cintaa,,cinta mu pada jingga ada di ruang hati mu yg lain,,beda jg dengan cinta kamila,,ayo akui perasaan mu drpd tersiksa,,🤭lanjut kak🥰
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: siip kk, aku sudah up 3 Bab 🤗
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieee evan udah nyosor lg aj🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: jadi bebek dia kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
pasti si Siska.😡
Nar Sih
hahaha😂😂evan ,,kmu ada ,,sja pkai cerita tentang teman mu pdhl itu cerita diri mu sendiri yg mungkin udh jtuh cinta dgn kamila ,
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: betul kak, malu tuh dia 🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
kocak di evan, pake bilang temannya bilang aj aku yg mulai jatuh cinta dm istriku 🤣🤭
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: nah betul begitu 🤣🤣
total 1 replies
Cindy
lanjut kak
Iqlima Al Jazira
next thor..
kopi untuk mu👍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ani
lepas kendali juga gak apa apa kali Van lah yo wong halal kok..😄😄😄
Cindy
lanjut kak
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Good//Good//Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!