Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Keputusan Kiara
Tanpa basa-basi lagi, Sky langsung berbalik.
Tubuhnya bergerak cepat menembus ruang utama rumah Mbah Kromo, melewati dinding kayu yang dipenuhi ukiran dan jimat tanpa sedikit pun hambatan. Tidak ada keraguan dalam langkahnya, hanya satu pikiran yang berputar keras di kepalanya.
Tidak.
Ini tidak boleh terjadi.
Begitu keluar, Sky langsung kembali ke serambi tempat Kiara berada.
Kiara masih berdiri di tempat yang sama, sedikit menyamping, tangannya menyentuh tiang kayu. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tetap waspada. Aditya berdiri tak jauh darinya, baru saja selesai mengatakan kalimat penenang yang sebenarnya sama sekali tidak menenangkan.
Sky tidak membuang waktu.
Ia melangkah mendekat, terlalu dekat, insting protektifnya mendorongnya tanpa pikir panjang. Tangannya terulur, refleks ingin meraih pergelangan tangan Kiara dan menariknya menjauh dari rumah itu.
Namun jari-jarinya hanya menembus udara kosong.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada kehangatan.
Hanya dingin tipis yang bahkan Kiara tidak rasakan.
Sky terdiam sepersekian detik, lalu mengepalkan tangannya sendiri dengan frustrasi. Matanya menatap Kiara tajam, kali ini tanpa menahan kepanikan.
“Kiara,” suaranya rendah tapi mendesak. “Kita harus pergi. Sekarang.”
Kiara tersentak kecil.
Ia menoleh cepat ke arah Sky, alisnya mengerut. “Sky? Kamu kenapa?”
Nada panik Sky jelas terdengar, bahkan untuk Kiara yang sudah terbiasa dengan perubahan ekspresinya. Tapi Kiara juga langsung sadar. Aditya ada di sana.
Ia menelan ludah, berusaha mengendalikan wajah dan reaksinya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan diri untuk tidak langsung menanggapi.
Sky mendekat lagi, kali ini menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan pandangan Kiara. “Kamu dengar aku,” katanya cepat. “Kamu harus pergi dari tempat ini. Kalau bisa sekarang juga. Jangan tunggu apa pun.”
“Apa yang kamu maksud?” bisik Kiara pelan, hampir tanpa suara.
“Ini bukan tempat aman buatmu,” Sky menggeleng keras. “Mereka-”
Ia berhenti, matanya melirik Aditya sekilas, lalu kembali ke Kiara. “Pokoknya kamu harus pergi. Sebelum terlambat.”
Kiara mengernyit. Jantungnya berdegup cepat. Ada sesuatu dalam nada Sky yang berbeda dari sebelumnya. Bukan sekadar khawatir, ini ketakutan yang mentah.
Ia membuka mulut ingin bertanya lebih jauh, tapi menutupnya kembali.
Aditya.
Ia tidak boleh semakin mencurigainya.
Kiara hanya mengangguk kecil, lalu berpura-pura mengusap wajahnya, seolah hanya sedang pusing.
Sky makin frustrasi. “Kiara-”
Belum sempat Sky melanjutkan, Aditya yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Kiara akhirnya berdiri dan menghampiri.
“Ki,” panggilnya pelan tapi tegas. “Kamu kenapa lagi?”
Kiara menoleh cepat. “Hah?”
“Kamu kelihatan seperti dengar sesuatu,” lanjut Aditya, sorot matanya tajam tapi penuh khawatir. “Dan sekarang kamu kelihatan… panik.”
Kiara terdiam.
Ia bisa merasakan tatapan Sky padanya, mendesak, hampir memohon.
“Aku cuma-” Kiara menggigit bibirnya, mencoba menyusun alasan. “Aku… pengin udara.”
Aditya mengernyit. “Udara? Kita di luar.”
“Bukan itu maksudku,” Kiara mengusap tengkuknya gugup. “Aku cuma… nggak enak badan.”
Sky mendengus pelan. “Kamu buruk banget bohongnya.”
Kiara meliriknya tajam, nyaris refleks. “Diam.”
Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Aditya.
“Kiara,” suara Aditya kini lebih serius. “Kamu yakin nggak ada apa-apa?”
Sebelum Kiara sempat menjawab-
Krek.
Pintu kayu rumah itu terbuka.
Bunyi engselnya berderit panjang, memecah ketegangan yang sudah menumpuk di udara.
Kiara menoleh refleks.
Dari dalam, muncul sosok Mbah Kromo, berjalan pelan dengan tongkat kayu di tangan kanannya. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seolah semua yang terjadi di sekelilingnya hanyalah bagian dari alur yang sudah ia ketahui sejak awal.
Di belakangnya, Pak Arman keluar dengan langkah berat, wajahnya pucat, mata sembab. Om Hardi mengikuti, rahangnya mengeras, sorot matanya kalut.
Udara seolah berubah.
Lebih berat.
Lebih dingin.
Sky langsung berdiri tegak, tubuhnya refleks bergerak sedikit ke depan Kiara, meski ia tahu itu tidak akan banyak berarti secara fisik.
Tatapan Mbah Kromo langsung tertuju pada Kiara.
Tidak terkejut.
Tidak ragu.
Seolah sejak awal, ia memang sedang menunggu momen ini.
“Gadis itu,” ucap Mbah Kromo pelan, suaranya serak namun jelas. “Mendekatlah.”
Kiara membeku.
Pak Arman menatap Kiara dengan wajah penuh konflik. Ada harapan di sana, tapi juga rasa bersalah yang begitu besar hingga hampir membuatnya tidak sanggup menatap lama-lama.
“Om?” Kiara melirik Pak Arman bingung.
Aditya melangkah setengah langkah ke depan. “Maaf, Mbah,” katanya sopan tapi waspada. “Maksudnya apa?”
Mbah Kromo melirik Aditya sekilas, lalu kembali menatap Kiara. “Anak muda, ini bukan urusanmu.”
Aditya langsung tersinggung. “Dia keluarga saya.”
Sky mendesis pelan. “Hebat. Datang tepat waktu buat jadi penghalang.”
Kiara menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju satu langkah kecil. “Mbah… ada apa?”
Mbah Kromo tersenyum tipis. “Kamu punya jiwa yang masih bersih.”
Kalimat itu membuat Kiara merinding.
“Apa maksud Mbah?” tanyanya pelan.
“Kamu belum tercemar dunia ghaib,” lanjut Mbah Kromo. “Tapi kamu sudah bisa melihatnya.”
Sky membeku.
Kiara menegang. “Saya… tidak mengerti.”
“Tidak perlu pura-pura,” Mbah Kromo menggeleng. “Sejak kamu menginjakkan kaki di halaman ini, makhluk yang mengikutimu sudah gelisah.”
Sky melotot. “Dia tahu.”
“Dia tahu,” bisik Sky pada Kiara dengan suara rendah penuh kepanikan. “Kiara, jangan dengarkan dia. Kita pergi sekarang.”
Kiara menelan ludah. Dadanya sesak.
“Mbah,” Pak Arman akhirnya bersuara, suaranya serak. “Apa… apa benar hanya dia satu-satunya cara?”
Mbah Kromo mengangguk. “Tidak ada orang lain.”
Om Hardi mengepalkan tangannya. “Dia masih sangat muda.”
“Justru itu,” jawab Mbah Kromo. “Jiwanya belum tercemar. Fisik dan batinnya masih selaras.”
Aditya menggeleng keras. “Ini gila.”
“Mungkin bagi logikamu,” balas Mbah Kromo tenang. “Tapi tidak bagi dunia yang sekarang sudah ia lihat.”
Kiara merasa lututnya melemas.
Sky bergerak cepat, berdiri tepat di depan Kiara. “Tidak,” katanya tegas. “Dia tidak akan masuk ke alam itu.”
Mbah Kromo menatap Sky. Untuk sesaat, sorot matanya berubah, seolah benar-benar melihat keberadaan Sky.
“Kamu,” ucapnya pelan. “Arwah yang terikat.”
Sky membeku.
“Kamu tidak bisa melindunginya selamanya,” lanjut Mbah Kromo. “Ikatan kalian sudah terlalu dalam.”
Kiara menatap Sky dengan mata membesar. “Sky…”
Sky menoleh, matanya penuh ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Aku janji akan lindungi kamu. Tapi ini...ini bukan sesuatu yang bisa aku lawan sendiri.”
“Lalu kenapa kamu tadi menyuruh aku pergi?” suara Kiara bergetar.
“Karena kalau kamu tetap di sini,” Sky berbisik, “mereka akan memintamu melakukan hal yang tidak bisa kamu tarik kembali.”
Mbah Kromo melangkah mendekat satu langkah. “Gadis itu harus memilih.”
Kiara mengangkat wajahnya, menatap pria tua itu. “Memilih apa?”
“Pergi,” jawab Mbah Kromo. “Dan membiarkan anak itu mati perlahan.”
Pak Arman menunduk, air mata jatuh ke lantai kayu.
“Atau tinggal,” lanjut Mbah Kromo, “dan menjemput kembali sukma Bima.”
Hening.
Berat.
Mencekik.
Aditya menatap Kiara dengan mata membesar. “Ki… jangan dengarkan ini.”
Sky menggeleng keras. “Kamu tidak berutang apa pun pada mereka.”
Kiara menutup matanya.
Di benaknya, wajah Bima terlintas. Wajah pucat itu. Napas berat itu.
Ia membuka matanya kembali.
“Kalau aku setuju,” suara Kiara nyaris berbisik. “Apa yang terjadi padaku?”
Mbah Kromo menatapnya lama. “Tidak semua orang kembali dengan utuh.”
Sky langsung berkata, “Tidak.”
Kiara menoleh padanya. “Sky…”
“Jangan,” suaranya pecah. “Aku tidak bisa kehilanganmu.”
Kiara menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. Senyum yang membuat dada Sky terasa runtuh.
“Aku juga takut,” kata Kiara pelan. “Tapi aku tidak bisa pura-pura tidak tahu.”
Langit di atas rumah Mbah Kromo tampak lebih gelap dari sebelumnya.
Dan di titik itu,
tak ada lagi jalan mundur.