Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Gedung Tua Di Eropa
Di Eropa, Kai nyaris tidak mengenal kata istirahat.
Langit di luar jendela hotelnya masih gelap ketika ia sudah berdiri di depan meja kerja, menatap peta digital yang diproyeksikan ke dinding. Beberapa titik merah berkedip menandai wilayah kekuasaan, jalur distribusi, dan area yang kini diperebutkan. Di sampingnya, Gala berdiri dengan tablet di tangan, membaca laporan terbaru dari berbagai cabang.
“Pergerakan Viktor makin agresif,” ujar Gala dengan suara rendah tapi tegas. “Dua gudang kita di pinggiran Praha diserang semalam. Anak buah kita bisa menahan, tapi ini jelas bukan sekadar peringatan.”
Kai mengatupkan rahang. Tatapannya dingin, fokus, tanpa ragu. “Dia mulai panik. Itu bagus. Orang yang panik biasanya bikin kesalahan.”
Di ruangan itu juga ada beberapa orang kepercayaan Kai wajah-wajah keras yang terbiasa hidup di dunia bayangan. Mereka menunggu instruksi, tahu betul bahwa setiap keputusan Kai bisa mengubah peta kekuatan di Eropa Timur.
“Kita tidak akan terpancing,” lanjut Kai. “Kita tekan dari sisi bisnisnya dulu. Putus jalur suplai, kunci akses keuangan, dan buat sekutu-sekutunya ragu berdiri di pihaknya.”
Salah satu pria bertanya, “Kalau dia balas menyerang secara langsung?”
Kai mengangkat pandangan, sorot matanya tajam. “Kalau dia memilih itu… berarti dia sendiri yang mempercepat kejatuhannya.”
Gala menatap Kai sebentar, lalu mengangguk. Ia tahu, di balik ketenangan itu, Kai sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar kekhawatiran pada Yuki dan Ai. Tapi Kai tidak pernah membiarkan emosi mengaburkan strategi.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berpindah ke sebuah gedung tua yang disamarkan sebagai kantor logistik. Di dalamnya, layar-layar monitor menyala, menampilkan pergerakan kontainer, transaksi, dan komunikasi yang berhasil mereka sadap.
“Tim di Berlin sudah siap,” lapor Gala. “Begitu kamu beri lampu hijau, mereka akan ambil alih jaringan penghubung Viktor ke pelabuhan utara.”
Kai mengangguk pelan. “Lakukan. Tapi pastikan tidak ada korban yang tidak perlu. Kita di sini untuk melumpuhkan, bukan bikin kekacauan yang tak terkendali.”
Salah satu anak buah tersenyum tipis. “Seperti biasa, Bos.”
Malamnya, di sela-sela rapat dan panggilan terenkripsi, Kai akhirnya duduk sendiri di sudut ruangan. Ia membuka ponselnya, menatap foto Yuki dan Ai yang tersimpan di sana. Bayi kecil itu tersenyum lebar dalam gendongan Yuki, seolah dunia mereka baik-baik saja.
Kai menghela napas panjang.
“Bertahanlah… aku akan pastikan semua ini selesai,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Gala yang lewat melihat itu, tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya menepuk bahu Kai singkat sebuah isyarat bahwa mereka masih punya banyak pekerjaan malam itu.
Dan benar saja, tak lama kemudian, kabar baru masuk: salah satu sekutu Viktor mulai goyah dan ingin bernegosiasi. Kai berdiri lagi, wajahnya kembali dingin dan penuh perhitungan.
“Baik,” katanya tenang. “Kita mulai menutup lingkarannya.”
Di Eropa, permainan kekuasaan itu terus berjalan. Sementara jauh di rumah, Yuki dan Ai bersembunyi dalam perlindungan yang telah Kai siapkan, tanpa tahu bahwa setiap langkah yang diambil Kai di benua lain… semuanya dilakukan demi satu tujuan: memastikan mereka tetap aman, apa pun risikonya.
Kai sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di rumahnya.
Baginya, satu-satunya hal yang penting sekarang hanyalah satu: Yuki, Ai, dan kedua orang tuanya aman. Itu saja. Sistem perlindungan yang ia rancang bersama Ren, Niko, dan ayahnya adalah benteng yang nyaris mustahil ditembus. Tanpa kartu akses, tanpa kode khusus, tanpa otorisasi berlapis tidak ada siapa pun yang bisa menemukan ruang bawah tanah itu. Bahkan jika musuh berdiri tepat di atasnya, mereka tidak akan sadar apa pun.
Di Eropa, di sela-sela rapat, negosiasi gelap, dan pergerakan pasukan bayangan, Kai sering menenangkan dirinya dengan satu pikiran sederhana: mereka aman. Ia tidak tahu bahwa di rumah, Yuki-lah yang justru ikut menyusun rencana pengelabuan membuat rumah itu tampak kosong, berantakan, seperti ditinggalkan begitu saja.
Di matanya, Yuki hanya seorang perempuan lembut yang butuh dilindungi. Ia tak menyangka bahwa istrinya itu, perlahan, mulai belajar berani… bahkan ikut memikirkan cara bertahan.
Suatu malam di Eropa, Kai berdiri di depan jendela gedung tinggi, menatap lampu-lampu kota yang terasa dingin dan jauh. Gala menghampirinya, membawa laporan terbaru.
“Belum ada pergerakan mencurigakan ke arah rumah,” kata Gala.
Kai mengangguk singkat. “Bagus. Selama mereka tidak menemukan celah, Yuki dan yang lain aman.”
“Kalau ada pengkhianat dari dalam?” tanya Gala hati-hati.
Tatapan Kai mengeras. “Itu satu-satunya kemungkinan mereka bisa masuk. Dan kalau itu terjadi…” Ia berhenti sejenak, suaranya rendah dan dingin. “Aku sendiri yang akan membereskan.”
Gala paham betul arti kalimat itu.
Kai kembali menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan darurat dari Ren. Tidak ada sinyal bahaya dari Niko. Artinya, semua masih sesuai rencana. Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang.
“Bertahanlah sedikit lagi,” gumamnya. “Aku akan pastikan tidak ada yang bisa menyentuh kalian.”
Di rumah, jauh dari benua itu, Yuki mungkin sedang menggendong Ai di ruang bawah tanah yang aman, sementara di atas, rumah besar itu sengaja dibiarkan tampak seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Semua demi satu tujuan yang sama dengan yang ada di benak Kai: bertahan hidup, dan mengelabui musuh.
Kai tidak tahu detailnya. Dan mungkin, untuk saat ini, ia memang tidak perlu tahu. Yang ia yakini hanya satu selama tidak ada pengkhianat dari dalam, tak seorang pun akan pernah menemukan mereka.
Di sisi lain dunia, Ayah Kai tidak tinggal diam.
Begitu mendapat kabar bahwa situasi di Eropa mulai memanas dan Viktor tidak akan berhenti sampai benar-benar tumbang, pria tua itu langsung menggerakkan jaringannya sendiri. Bukan hanya sekadar dukungan biasa ia mengerahkan orang-orang lamanya, para veteran dunia gelap yang sudah puluhan tahun setia berdiri di belakang namanya.
Satu per satu pesan rahasia dikirim. Kode lama yang jarang dipakai kembali diaktifkan. Nama-nama yang sudah lama “menghilang” dari peta dunia bawah tanah mulai muncul lagi, bergerak senyap menuju titik-titik strategis di Eropa.
“Aku tidak akan membiarkan anakku bertarung sendirian,” ucap Ayah Kai pada Ren sebelum orang-orang itu berangkat. Suaranya tenang, tapi mengandung ketegasan yang membuat siapa pun yang mendengarnya paham: ini bukan sekadar urusan bisnis ini urusan keluarga.
Beberapa hari kemudian, Kai mulai merasakan perubahan di lapangan.
Jalur suplai yang sebelumnya sulit ditembus kini terbuka. Informasi tentang pergerakan Viktor datang lebih cepat dan lebih rapi. Beberapa markas kecil milik lawan tiba-tiba “menghilang” tanpa suara, seolah disapu tangan tak terlihat.
Gala mendekat sambil membawa tablet berisi laporan. “Ini… bukan orang-orang kita yang biasa.”
Kai membaca cepat, alisnya terangkat sedikit. Polanya rapi. Terlalu rapi.
“Ini gaya lama,” gumamnya pelan. “Gaya ayah.”
Seolah baru menyadari, Kai tersenyum tipis senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya saat sedang bekerja. “Jadi dia ikut turun tangan.”
“Sepertinya begitu,” jawab Gala. “Beberapa tim pendukung sudah tiba. Mereka tidak mencolok, tapi sangat efisien.”
Kai menatap peta digital di depan mereka. Titik-titik merah yang menandai wilayah Viktor perlahan berkurang. “Bagus. Berarti kita bisa mempersempit ruang geraknya lebih cepat.”
Namun di balik ketenangan suaranya, ada rasa hangat yang sulit ia jelaskan.
Ia mungkin seorang pria yang terbiasa berdiri sendiri di medan paling gelap, tapi mengetahui bahwa ayahnya mengirim bala bantuan… itu mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian. Bahwa di belakangnya, ada keluarga yang juga siap bertarung demi melindungi Yuki, Ai, dan semua yang mereka sayangi.
“Kalau ayah sudah ikut turun,” kata Kai pelan, matanya menyipit penuh fokus, “berarti permainan ini harus segera kita akhiri.”
Di saat yang sama, jauh dari Eropa, di ruang bawah tanah yang aman, Yuki mungkin sedang menimang Ai tanpa tahu bahwa di luar sana, bukan hanya Kai yang sedang berperang demi mereka tapi juga seorang ayah yang tidak mau melihat putranya berjalan sendirian di medan paling berbahaya.