Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagu yang Tak Pernah Sampai
🎶 “Bila… aku harus mencintai Dan berbagi hati itu hanya denganmu Namun bila ku harus tanpamu Akan tetap ku arungi hidup tanpa bercinta…” 🎶
🎶 “Hanya dirimu yang pernah Tenangkanku dalam pelukmu Saat ku menangis…” 🎶
Petikan gitarku terdengar pelan di kamar. Jari-jariku bergerak tanpa banyak pikir, seolah lagu itu sudah lama hafal di tubuhku. Aku menyanyikannya dengan suara yang tak sempurna, sedikit serak, sedikit lelah. Tapi justru di situlah semua rasa tumpah.
Aku merekamnya. Bukan untuk siapa-siapa.
Atau mungkin… aku berbohong pada diriku sendiri.
Video itu kuunggah sebagai reels. Tanpa caption panjang. Hanya lagu, wajahku, dan malam yang sunyi.
Selesai.
Aku meletakkan gitar, duduk diam, menatap lantai. Rasanya lega… tapi juga kosong. Seperti habis mengaku dosa, tapi belum dimaafkan.
Tak lama kemudian, ponselku bergetar.
DM dari Hana
“Kaaa… kamu baik-baik aja?
Kok lagunya galau gitu, ka…
Kamu nggak mau cerita apa-apa nih?
Kita kan jauh ka, anggap aja aku robot hehe.”
Aku tersenyum kecil.
Robot, katanya. Kalau dia robot, kenapa satu pesannya saja bisa membuat dadaku sesak?
Aku menatap layar lama. Jari-jariku menggantung di atas keyboard.
Haruskah aku jujur?
Atau tetap sembunyi di balik nada dan kata yang tak pernah kusebutkan namanya?
Dalam hati, aku ingin berkata:
“Han… lagu itu tentangmu.”
Tentang rasa yang datang tanpa izin.
Tentang rindu yang tak punya hak.
Tapi aku tahu, ada batas yang tak boleh kulewati.
kamu punya hidupnya sendiri.
Dan aku… hanya singgah di masa lalumu.
Akhirnya aku mengetik. Perlahan. Hati-hati.
“Hehe… aku baik kok.
Cuma lagi capek aja, Han.
Kadang musik jadi tempat cerita paling aman.”
Pesan itu terkirim. Aman. Netral. Tidak berbahaya.
Dan justru itu yang paling menyakitkan.
Aku menatap kembali videoku. Suaraku di sana terdengar jujur… lebih jujur dari semua DM yang pernah kukirim.
Mungkin memang begini caraku mencintai
menyimpan, bukan memiliki. mengungkapkan, tanpa berharap dimengerti.
Di luar sana, malam berjalan seperti biasa.
Dan di sini, aku kembali belajar satu hal yang paling sulit: Tidak semua rasa harus sampai ke orang yang dituju. Kadang, cukup didengar oleh lagu dan disimpan oleh hati. Lagu yang tak pernah sampai kepada pemiliknya.
Hana lalu membalasnya lagi
"oh kamu udah tertutup sekarang mungkin karna sekarang udah dewasa ya.. mungkin karna sekarang udah beda ya keadaan kita hehe.. tapi kalau kamu anggap aku robot pasti lega deh cerita ke aku karna curhatnya aman ga akan bocor kemana mana ka hahahaha"
Aku membaca pesan itu pelan-pelan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kalimatnya ringan, bahkan diselipkan tawa. Tapi entah kenapa, dadaku terasa penuh.
Tertutup sekarang…
Mungkin dia benar. Atau mungkin aku memang belajar menyimpan lebih rapib apa yang dulu terlalu mudah keluar.
Aku tersenyum kecil. Bukan karena lucu, tapi karena Hana masih sama hangat, tidak memaksa, tidak menghakimi. Dia menawarkan telinga, bukan pertanyaan yang menjerat.
Robot, katanya. Tempat aman untuk bercerita.
Kalau saja dia tahu… justru karena aman itulah aku takut bicara terlalu jauh.
Aku menatap layar lama. Jari-jariku diam di atas keyboard. Ada banyak kalimat di kepala, tapi tidak satu pun terasa pantas dikirim. Bukan karena aku tak percaya padanya, tapi karena aku tahu batas itu nyata. Dan aku tidak ingin menjadi alasan retaknya kebahagiaannya sekecil apa pun
.
Akhirnya aku memilih jalan yang paling aman. Bukan yang paling jujur, tapi yang paling tidak melukai.
“hehe iya kali ya… mungkin sekarang lebih sering mikir sebelum cerita 😅
tapi makasih ya, Han. Kadang tau ada temen yang mau denger aja udah cukup kok.”
Balasan itu sederhana. Terlalu sederhana, bahkan untuk perasaanku sendiri.
Tapi aku tahu, di titik ini, diam yang sopan lebih baik daripada jujur yang egois.
Aku mengunci layar ponsel, menyandarkan kepala ke kursi. Lagu tadi masih terngiang di telinga, tapi kini nadanya berubah bukan lagi tentang ingin memiliki, melainkan tentang belajar menahan.
Dan mungkin itulah bentuk kedewasaan yang sebenarnya.