Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Aku menolak membeli saham Harper.”
Ethan yang duduk di sofa,membiarkan Callum berjalan mendekat.Sementara itu Dion meletakkan teh ke atas meja.Teh tanpa tuan,sebab yang dibuatkan sudah pergi lebih dulu.
“Jadi,dia ingin menjual sahamnya pada kita? Saham lima puluh persen itu?” Manik cokelat pria paruh baya itu menatap sang putra yang mengangguk.
“Hm.Aku yakin Papa sudah dengar beritanya," kata Callum.
Tentu saja Ethan sudah mendengarnya.Berita sekecil apapun akan sampai ke telinganya berkat sang asisten.
Harper memang baru-baru ini mengeluarkan pernyataan.Saham perusahaannya akan dijual mengingat itu tidak lagi memberi untung.Bahkan hampir menurun drastis. Kalau dipaksakan untuk dikelola,bukan kemungkinan kalau Harper akan gulung tikar.
Satu-satunya jalan adalah meminta suntikan dana. Namun, di situasi sekarang ini,bagi George-yang ditunggangi Lauren,memilih berusaha melihat seberapa besar 'ketulusan sang besan'.
Mereka bisa saja memohon pada Callum untuk meminta suntikan dana. Tapi... ini soal harga diri. Bilang saja pada media, mereka menjual saham.Namun,Lauren pasti tau Callum tidak akan membeli sahamnya,justru memberi suntikan dana tersebut. Bukankah image menantu idaman akan tersebar dari bibirnya?
Sayang,semua rencana itu buyar.
Callum bukan lawan yang sebanding.Pria itu memang lebih muda dari Lauren,tapi dia tidak mungkin mengabulkan keinginan Harper semudah membalikkan telapak tangan.
Ingat? Julukan Callum adalah si Dewa Iblis!
“Lalu,apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Ethan.
Sejujurnya,kedatangannya ke sini untuk membahas hal serupa.George juga menemui Ethan.Meminta hal yang sama dengan permintaan Lauren,untuk menyelamatkan saham Harper.
“Papa masih tanya?" Callum memutar bola mata, malas.
“Tentu saja aku akan memaksa mereka.Menjual dengan harga murah."
Ah,kilat penuh tekad itu.
Ethan tidak perlu mengetes dua kali apa benar Callum itu anaknya. Sudah terlihat dari awal.Rupa,tingkah laku, bahkan cara berpikir mereka benar-benar serupa.Kejam dan manipulatif.
“Kamu memang putraku,Boy."Ethan mengatakannya sambil tersenyum bangga.Membuat Dion yang kala itu berdiri di samping Callum hanya bisa mendesah.Tidak bosnya,tidak tuan besarnya,sama-sama mengerikan.
Callum memasang raut datar.
“Kalau Mama dengar,disangka Papa meragukanku.”
Ethan terkekeh. Clara tidak akan melakukannya.Justru Ethan yakin, wanita itu akan menyeringai puas.Doa Clara yang ingin memiliki anak mirip Ethan,benar-benar terkabul.
“Oh ya,ngomong-ngomong soal Mamamu.Dia titip salam.”
Salam? Kening Callum mengerut.
Padahal baru tadi pagi Clara mencium pipi Callum dengan muka sumringah. Entah apa alasannya.Dan sekarang dia titip salam? Yang benar saja.
“Dia bilang,tidak usah pulang ke apartemen.Kamarmu masih cukup untuk dua orang." Ethan tidak tau apa maksud ucapan istrinya.Dia hanya sekadar menyampaikan.
“Dan Mamamu bertanya,apa dipeluk wanita lain rasanya sehangat dekapan Mama?”
Hah?
Spontan,wajah datar Callum berubah kaget. Dia paham ibunya sedang menggodanya.Hanya saja,kapan Clara melihat dirinya dan Delanay berpelukan? Apa semalam ibunya masuk ke kamar? Atau seseorang tidak sengaja memergoki mereka dan mengatakannya pada Clara?
Astaga! Pantas saja tadi Clara mengedipkan mata, ketika Callum hendak berangkat.Sekalian mengantar Delanay ke butik.
“Dasar,Mama,”gumam Callum sebal,namun tetap datar.
****
“Gimana rasanya menikah,Mbak?Enak nggak?”
“Pasti enak kan?”
“Apa Pak Callum yang hot di luar,hot juga di ranjang?"
“Hush,kamu itu! Kalau urusan ranjang,urusannya Mbak Delanay."
“Kan kepo Mbak No.”
Delanay tersenyum kaku. Di hari pertama dia masuk kerja-meski harusnya sekarang masih waktunya cuti,Delanay malah mendapat ucapan selamat dari para pegawai butik.
Bukan cuma ucapan selamat atas pernikahannya.Delanay juga diberondong pertanyaan-pertanyaan aneh seputar Callum.
“Mbak Del nggak mau cerita nih?”bujuk Nana lagi.
“Padahal kita udah penasaran dari kemarin lho," sambung Lira yang saat itu duduk di sebelah Delanay.Mereka sedang memotong bahan untuk pesanan gaun pernikahan.
“Kerja dulu.Ceritanya nanti."Cuma itu yang bisa Delanay katakan.
“Janji?” Nan dan Lira terus mengejar Delanay.
Sedangkan Dinda yang sejak tadi menjadi penyelamat Delanay hanya bisa menghela napas.Bertanya dalam hati. Kenapa bisa dia berteman dengan bocah-bocah kepo macam mereka?
“Iya.Janji.”
“Oke.”
Dan dalam sekejap ruangan di lantai dua itu menghening.Tinggal suara gunting dan kain yang terpotong,yang menjadi penghias suasana.
Sepertinya Nana dan Lira sedang bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan,secepat mungkin.
Ah,siap-siap saja Delanay ditagih untuk menceritakan a sampai Z.
Tapi jujur,Delanay sangat bersyukur.Dia memiliki teman-teman yang bisa menerima apa adanya. Meski tak jarang ada pegawai lain yang membenci Delanay,ketiga gadis di depannya itu tidak serta merta ikut memusuhi.Mereka bukan tipe yang me-judge orang dari cover-nya.
“Kalian udah selesai belum?”
Delanay dan yang lain kompak menoleh ke asal suara.
“Aak! Ada si imut-imut!” teriak Nana kegirangan. Gadis berkuncir kuda itu lantas melompat berdiri,lalu menghampiri Elara yang tengah menggendong Emily.Bayi mungil itu tampak tertawa saat pipinya diserang ciuman Nana.
“Bentar lagi,Bu." Akhirnya Dinda-lah yang menjawab.
Elara mengangguk paham.Dia kemudian masuk.Menerima pertolongan Nana untuk menurunkan Emily.
“Lo kok udah berangkat, Del?”tanya Elara begitu menyadari keberadaan Delanay.
Bukankah saat Elara pamit untuk pulang,mengambil berkas yang tertinggal,Delanay masih berada di rumah ibunya. Lalu kenapa sekarang wanita itu ada di sini?Jangan bilang....Mata Elara melebar saat membayangkan kemungkinan terburuk.
“Lo dikas-”
Ucapan Elara terpotong.Kepala Delanay yang menggeleng panik membuatnya sadar bahwa bukan hanya ada mereka berdua di sini.Hati-hati,tembok zaman sekarang pun ada telinganya. Ini bukan berarti mereka tidak percaya pada Nana,Lira,dan Dinda.Terkadang,orang di luar sana lebih berbahaya.
“Lo dikasih tau suruh istirahat,ngeyel ya?” lanjut Elara. Mengubah pertanyaannya.
“Gue emang udah pengen kerja,Elara.”Delanay tidak sepenuhnya berbohong.
“Di rumah juga mau ngapain coba? Yang ada bosen. Toh,Mas Callum hari ini juga ada jadwal penting yang nggak bisa ditinggal."
Oh,bagian terakhir hanya akal-akalan Delanay.Agar terlihat meyakinkan.
Elara sedikit berdeham,sebelum membuka baby chair untuk Emily.
“Kak Cal itu orangnya emang workholic. Tapi bisa-bisanya dia ninggalin istrinya kerja gitu aja?Dasar,nggak punya perasaan!"sungut adik Callum tersebut.
“Bukannya Bu Bos dulu juga gitu?”
Elara mendelik pada Lira yang mengungkit masa lalu. Itu sudah lama sekali. Di waktu dia baru menikah dengan Maxmilian dan harus ditinggal di hari kedua, lantaran sang suami justru harus mengurus tender ke Surabaya.
“Beda dong.Gue setengah hari langsung disusul Maxmilian.Lha kakak gue? Gue yakin tuh iblis nggak akan nyamperin Delanay."
Masalahnya ucapan Elara meleset. Tak sampai jam 12 siang, E Beauty digemparkan oleh kedatangan pria bersetelan rapi. Pria itu benar-benar tampan. Dengan tubuh ideal, wajah maksimal,hingga membuat semua orang nyaris terpaku,dia berdiri menghadap Delanay sambil mengulurkan tangan.
“Aku ingin mengajak istriku makan siang."
“M-makan siang?”
Bolehkah Delanay melongo di tempat? Sejak kapan Callum rela datang ke butik, hanya untuk mengajaknya makan siang? Ini mimpi atau apa? Bahkan Elara sampai membeku di tempat.
“Ayo,aku sudah reservasi restorannya."
Demi puncak Everest,Callum merangkul pinggang Delanay sepanjang jalan. Membuat yang lainnya heran.
mantap thor😂
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰
seruuu banget thor😄
callum kok dingin ky es balok banget sih