Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Pengkhianatan.
Di depan sana, di hadapan seorang penghulu, dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya duduk berdampingan. Mereka telah sah menjadi sepasang pengantin, mengenakan pakaian sederhana dengan wajah yang masih menyisakan lebam dan luka, mungkin karena sempat di keroyok massal.
Aulia berdiri kaku. Seluruh tubuhnya terasa dingin, kaki itu mendadak kehilangan tenaga. Tangisnya tak bersuara, namun bahunya bergetar hebat, menahan runtuh yang tak sanggup ia lepaskan.
“Mas…”
Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari bibirnya.
Pikirannya menolak menerima apa yang dilihat mata. Ia masih berharap ini sekadar kekeliruan, atau mungkin halusinasi akibat lelah dan cemas. Namun harapan itu runtuh ketika jemarinya mencubit pergelangan tangan sendiri. Rasa perih yang nyata mematahkan semua sangkalan.
“Aulia…”
“Kakak…”
Wajah dua orang di hadapannya pucat pasi. Adrian langsung berdiri, diikuti Arumi yang menunduk dalam, lalu melangkah mendekat ke arah ibunya yang masih berdiri di sisi Aulia dengan tatapan syok yang sama.
Aulia mundur setapak ke belakang, pelan. Kepalanya terus menggeleng, seolah menolak kenyataan yang kini berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu… kamu laki-laki brengsek itu, Mas. Kenapa? Kenapa harus kamu, Mas? Arghhh!” pekiknya histeris sambil menjambak rambutnya sendiri.
Aulia berbalik dan berlari keluar, tepat saat jaraknya dengan Adrian nyaris tinggal selangkah.
“Sayang, Lia…”
Mama Kania tersentak, lalu menyusul putri sulungnya setelah beberapa detik terdiam karena syok.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.
“Siapa bumil itu?”
“Kayaknya istri mempelai pria deh, lihat tadi histeris banget.”
“Sepertinya iya. Dia kakaknya Arumi.”
“Hah?”
“Jadi suaminya selingkuh sama adik iparnya sendiri?”
“Apa ini yang orang-orang bilang ipar itu maut?”
Tatapan aneh dan penuh penilaian diarahkan pada dua orang yang masih berdiri di dalam rumah ibu kos. Adrian sendiri tampak limbung, bingung antara menyusul istri pertamanya atau tetap bertahan di sana.
“Dasar pelakor!”
“Percuma kuliah tinggi, ujung-ujungnya rebut suami orang!”
“Perempuan nggak punya adab!”
Teriakan dan cacian itu menghantam Arumi tanpa ampun. Gadis itu semakin menunduk, tubuhnya gemetar, sementara dunia di sekelilingnya terasa semakin sempit.
...****************...
Hancur.
Itu satu-satunya kata yang mampu menggambarkan apa yang Aulia rasakan. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya bahwa suaminya tega berkhianat dengan cara sekeji itu.
“Apa ini alasannya kamu nggak pernah lagi menyentuhku, Mas?” gumamnya lirih, di sela napas yang tersengal. “Alasan takut menyakiti anak kita? Bulsit!”
Tawanya pecah, getir dan kosong. Tangannya menghantam dada sendiri, kuat, seolah ingin meredakan sesak yang kian menyesakkan napas.
“Nyatanya bukan karena kamu takut. Kamu memang nggak mau. Kamu lebih suka jajan di luar. Tapi kenapa harus Arumi, Mas?”
Pikirannya kacau. Penolakan demi penolakan selama hampir sembilan bulan sejak ia hamil kini membentuk jawaban yang terasa masuk akal, meski menyakitkan. Satu per satu potongan ingatan tentang kedekatan Adrian dan Arumi terangkai. Hal-hal yang dulu ia anggap wajar sebagai hubungan adik ipar dan kakak ipar, kini tampak berlebihan, bahkan memuakkan.
“Bodoh…” lirihnya.
“Bodoh kamu, Aulia…”
Langkahnya terus berlari tanpa arah. Jalanan Jakarta siang menjelang sore itu ramai, kendaraan berlalu-lalang, suara kota tak pernah berhenti. Namun semua itu tak lagi berarti apa-apa baginya.
Aulia berlari, menulikan pendengarannya sendiri, tenggelam dalam suara pikirannya yang terus berkicau, tanpa tahu ke mana kakinya akan membawanya.
Bahkan suara teriakan yang memanggil namanya dari belakang, oleh Jenar dan Mama Kania, tak lagi ia hiraukan. Semua terasa seperti angin lalu, melintas tanpa pernah benar-benar terdengar.
Kakinya yang sedikit membengkak akibat kehamilan tak ia rasakan perihnya, meski langkahnya semakin panjang dan tergesa. Tubuhnya terus bergerak, seolah hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan.
Hanya hatinya yang kian lama kian sakit. Seolah sebilah sembilu menghantam dada berulang kali, memukul Aulia tanpa jeda, tanpa ampun.
“Kenapa, Mas…” tangisnya makin pecah, tak kunjung reda.
Banyak pasang mata menatapnya, sebagian heran, sebagian iba. Namun semua itu seolah tak terlihat oleh Aulia. Wajahnya sembab, pandangannya kosong, dunia di sekitarnya tak lagi memiliki bentuk.
“Sayang… berhenti, Lia. Dengarkan Mama, sayang…” teriak Mama Kania dari belakang.
Wanita paruh baya itu pun hancur. Dadanya sesak menyaksikan putri sulung yang ia besarkan menangis tanpa pegangan, sementara putri kandungnya sendiri justru menjadi penyebab luka sebesar itu. Ia terjebak di posisi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, berdiri di antara rasa sayang dan rasa bersalah yang sama-sama menyesakkan.
“Aulia…”
Panggilan itu kembali meluncur, namun tetap tak digubris. Wanita di depan sana terus melangkah, bahkan tak menoleh sedikit pun.
Tak jauh di belakang mereka, Adrian ikut mengejar. Langkahnya tergesa, wajahnya panik, tetapi jaraknya terlalu jauh untuk sekadar menyentuh, apalagi menghentikan Aulia.
“Aulia, jangan!” teriak Mama Kania panik saat melihat wanita hamil itu melangkah ke tepi jalan raya yang padat oleh kendaraan.
“Kak Aulia, berhenti di situ! Jangan nyebrang dulu, Kak!” suara Jenar ikut menggema, nyaris tertelan deru mesin.
Aulia sudah berdiri di pinggir aspal. Tangannya terangkat, melambai ke arah kendaraan yang melaju, memberi isyarat agar mereka melambat, dan memberinya sedikit waktu untuk menyeberang.
Beberapa mobil memperlambat laju. Celah kecil itu terbuka. Merasa cukup aman, Aulia berlari ke tengah jalan untuk menyebrang biar sampai di sisi jalan lainnya.
Namun saat kakinya baru mencapai setengah jalan, dari arah kiri sebuah mobil melesat dengan kecepatan di atas rata-rata. Bunyi klakson terlambat, ban mencicit keras, tubuh Aulia membeku sesaat.
BRAKKK!!!
Tabrakan itu tak terhindarkan.
Tubuh Aulia terhempas dan terguling ke depan. Secara refleks, tangannya langsung memeluk perutnya yang membuncit. Kepalanya terbentur keras, darah mengalir, sementara nyeri hebat menghantam sekujur tubuhnya.
Air mata Aulia berderai tanpa suara.
Samar-samar, ia mendengar tangisan ibunya yang semakin mendekat. Ada pula suara seorang laki-laki, suara yang begitu ia kenal, suara yang justru menghancurkannya hari itu.
Dengan sisa kesadaran yang masih bertahan, Aulia menurunkan pandangannya ke arah perutnya. Tangannya bergerak mengelus pelan, seolah ingin menenangkan.
Lalu semuanya gelap.
tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian